
"Lalu rencana kamu apa Sayang, apa kamu akan tetap bersembunyi seperti Momy dan membiarkan harta itu menjadi rebutan untuk orang-orang yang rakus?" tanya Iriana, wanita paruh baya itu ingin Doni muncul dan mengusai harta peninggalan suaminya itu, agar tidak menjadi rebutan orang-orang yang mengaku-ngaku menjadi kerabat atau bahkan anaknya, seperti Deon, meskipun dia ada hubungan darah dengan Irwan, tetapi dia tidak memiliki hak waris sesuai dengan hukum yang tertulistertulis yang menjadi acuan negara untuk membagi harta warisan.
Iriana melakukan itu bukan untuk memperkaya dirinya dan putranya, hanya saja agar tidak terjadi pertumpahan darah di antara keluarga Irwan hanya karena harta peninggalan suaminya itu.
"Doni malas sebenarnya Mih, terlebih Doni tidak mengusai ilmu bisnis seperti itu. Doni lebih suka mengabdikan diri sebagai dokter yang berhasil mengobati pasienya hingga sembuh, rasanya kepuasan itu akan datang dan sangat berbeda, lebih puas dan lebih bahagia," balas Doni.
"Kamu bisa tetap serahkan semuanya pada Deon dan kamu hanya menyelamatkan harta dan kepemimpinan itu dari tangan-tangan orang yang rakus yang ingin memgusai harta Papah kamu, kalau kamu tidak keluar. Momy yakin bakal banyak masalah selanjutnya untuk berebut harta itu dan Deon nanti malah nyawanya tidak aman. Kamu harus mengamankan nyawa dia juga. Bagaimanapun Deon adalah sodara satu ayah dengan kamu." Iriana tahu bagaimana dalam dunia bisnis itu, terlebih harta Irwan itu belum ada yang memiliki secara sah menurut hukum. Itu sebabnya Deon masih bersembunyi dan memimpin dengan bersembunyi-sembunyi, karena ia tahu nyawanya yang terancam juga.
Doni nampak berpikir keras. "Mungkin nanti Mom, Doni akan pikirkan lagi, tetapi tidak dalam waktu dekat ini, mungkin setelah masalah Deon yang mengancam Alzam selesai Doni akan pikirkan ulang, soal harta-harta itu. Doni lebih suka dengan profesi sebagai dokter bukan yang mengurus perusahaan, bukan bidang Doni."
"Momy tahu, tapi bagaimanapun kalau kamu tidak keluar orang-orang itu akan semakin rakus dan akan merasa kalau harta itu memang hanya milik Deon, dan mereka yang tahu sil-silah Deon, akan semakin menekan laki-laki itu dan membuat harta itu untuk rebutan," ujar Iriana, andai bukan untuk kebaikan semuanya Iriana pun sama dengan Doni tidak mau terlibat lagi dengan masa lalunya. Namun, seperti diawal misinya ini bukan sekedar harta yang ia ingin dapatkan tetapi menyelamatkan hartanya dari orang-orang yang rakus, dan setelah itu mau disumbangkan mungkin bisa jadi keputusan yang bisa dipertimbangkan untuk kedepannya.
"Iya Mom. Mohon dukunganya," balas Doni sembari memeluk ibunya yang telah merawatnya dengan penuh kasih menjadi ibu, ayah dan tulang punggunga bukan hal yang mudah, dan Iriana mampu membuktikanya bahwa semuanya bisa di lewatinya dengan baik, tanpa kekurangan kasih sayang sedikit pun.
*******
Pagi hari menyapa Deon dan Jec bangun tetap seperti baisanya meskipun masih mengantuk, hal itu karena ulah calon anak Deon yang selalu membuat jam tidur mereka acak-acakan.
"Pagi Tuan, hari ini mau makan apa?" tanya Jec sembari membuka gorden jendelanya.
"Aku ingin menemui Qari, Jec," ucap Deon yang bahkan matanya saja belum terbuka secara sempurna. Lagi-lagi Jec hanya bisa mematung dengan ocehan bosnya.
__ADS_1
"Tuan...." Jec tidak melanjutkan ucapannya karena Deon yang memotongnya.
"Aku semalam bermimpi ketemu dengan Qari, dan aku saat ini hanya ingin menemui dia Jec, aku janji tidak membuat gara-gara dengan kedatanganku," celoteh Deon sembari menyenderkan tubuhnya di sandaran ranjang tidurnya.
Jec membuang nafas kasar. "Apa Anda tidak ingin menemui Luson Tuan?" tanya Jec, berusaha mengalihkan obrolan dengan Deon. Baru bangun tidur belum sempat sarapan, tetapi Deon kembali berulah. Bahkan Luson tahanan dirinya sudah beberapa hari tidak dilihatnya.
"Jec, aku janji hanya melihat dia, rasanya aku ingin sekali melihat Qari, meskipun sedetik Jec." Deon tahu kalau Jec tidak menyukai caranya itu. Jec tidak suka dirinya terlibat secara terus menerus dengan Qari. Hal itu karena Qari sudah menikah. Serta Jec tahun kalau Qari hanya membuat hidup Deon makin kacau.
"Tuan, bukanya saya tidak mengizinkan, tetapi makin hari Anda itu makin membuat diri Anda tidak bisa lepas dari wanita itu. Coba Anda cari wanita lain Tuan, yang mungkin bisa mengalihkan pikiran Anda dari Qari," usul Jec, meskipun dia tahu kalau caranya tidak mungkin dengan mudah berhasil. Selain Deon yang memang sudah menyimpan perasaan, Deon juga sedang di hukum oleh anaknya yang kelakuanya semakin aneh, dan nyeleneh.
"Jec, ayo lah kali ini ajah, aku janji tidak akan macam-macam," balas Deon semakin membuat Jec tidak bisa berkutik lagi.
Sementara Jec memijat keningnya yang semakin berdenyut menanggapi kemauan Deon yang selalu menguji kesabaranya Jec. Ingin rasanya Jec segera terbebas dari ujian ini. Di mana itu tandanya Qri segera melahirkan agar anaknya tidak minta yang aneh-aneh lagi pada Deon, dan ujung pangkalnya Jec yang merasakan kesusahan itu.
"Ayok Jec aku sudah tidak sabar ingin melihat Qari," ucap Deon yang bahkan penampilanya saja sangat jauh dari biasanya. Jec tercengang dengan penampilan bosnya itu.
"Tuan, apa yang Anda lakukan? Ini bukan Anda, Tuan. Mana Tuan Deon yang penampilanya selalu rapih dan enak di pandang? Bahkan saya rasa masih mending penampilan saya dari pada Anda yang acak-acakan seperti ku..."
"Apa Jec 'ku' apa? Kenapa sekarang kamu itu bawel banget yah, selalu komplein semua yang aku lakukan bahkan aku bingung harus gimana sama kamu, semua yang aku inginkan kamu pasti menolaknya dan apa yang aku lakukan selalu salah di mata kamu. Mana Jec yang dulu?" dengus Deon dengan melenggang keluar kamar dengan penampilan yang semrawud.
Rambut yang biasanya selalu licin dengan minyak rambut kali ini hanya sisir biasa. Pakaian yang selalu rapih kini dibiarkan begitu bahkan kancing-kancinya tidak terpasang dengan benar, dan yang membikin Jec heran adalah lengan dari kemeja Deon yang di tekuk begitu saja. Berbeda sekali dengan Deon yang biasanya.
__ADS_1
"Tidak Tuan, lebih baik kita sarapan dulu dan langsung memenemui Qari," balas Jec tidak mau memperpanjangnya karena Jec tahu betul kalau berucap lagi pun Deon tidak akan menerimanya masukan dari dirinya.
"Tidak usah Jec, kita jalan langsung saja," tolak Deon, Jec yang sudah setengah duduk pun kembali mengangkat bokongnya untuk berdiri dan membuang nafas kasarnya.
"Wahai cacing yang ada di dalam perutku, sabar yah. Bos memang kadang sangat menyebalkan," desis Jec dalam hatinya.
Dengan langkah terpaksa Jec pun mengikuti apa kata Deon pergi dan beranjak langsung menuju rumah Qari yang harus di tempuh dengan waktu setengah jam. Demi kemauan bosnya Jec menahan lapar dan bermacet-macetan menyebrang wilayah demi melihat Qari.
Dari kejauhan mata Jec sudah sangat terganggu dengan pengemudi roda dua yang tidak bisa tenang, belok kanan belok kiri. Dan yang mengganggu pemandangan Jec adalah sang menumpang laki-laki di belakangnya yang dengan posesif memeluk pinggang sang wanitanya.
"Gila yah, pagi-pagi udah saling peluk-pelukan dan bikin sakit mata ajah yang liat," gerundel Jec mengomentarai sang pengendara motor tersebut. Enggak tahu kalau Jec adalah jomblo sejati.
"Apa Jec?" tanya Deon dengan kepo.
"Itu Tuan, pengendara motor depan, bawa motor sangat ngeri takut nabrak udah gitu yang di bonceng sepertinya ben-cong liat ajah cara boncengnya risih sekali. Pasangan aneh itu mah," jawab Jec sembari menunjuk pengemudi itu.
Mata Deon langsung melebar. "Menjijihkan sekali," balas Deon yang melihat kaum aneh itu.
"Tidak tahu malu," imbuh Jec dan dia yang menyupir di belakang pengemudi motor itu pun takut kalau dia akan oleng dan benaran menabrak pengendara yang lain.
"Pasti dia anak muda alay yang baru belajar naik motor dan gak ada SIM."
__ADS_1