
Cucu cukup terkejut dengan ucapan Jec, tawaran gajih yang menggiurkan pastinya untuk semua pekerja, tetapi resikonya yang sangat tinggi. Apalagi Cucu bisa nilai dari sepintas bagaimana watak tempramen seorang bos yang benama Deon itu.
"Tuan Deon itu sebenarnya orang yang baik, dan dia berubah sejak ditinggal meninggal oleh kakak dan papahnya secara bersamaan, dan hal itu mempengaruhi wataknya, kelihatan keras dan menyebalkan memang, tetapi Tuan Deon baik kok. Buktinya aku bekerja dengan dia sudah lebih dari sepuluh tahun, semenjak Tuan Irwan masih hidup saya sudah ikut dengan beliau, dan memang dia rada rese, tapi ya kayak tadi dia tetap nurut, hanya saja mulutnya terus mengucapkan kalimat-kalimat yang memancing keributan." Jec yang melihat keraguan didiri Cucu pun menjelaskan gimana sifat Deon aslinya.
"Cucu kembali berpikir dengan tawaran Jec, satu sisi dia sedang membutuhkan uang yang banyak, tetapi satu sisi lagi kenapa mesti bekerja dengan bos yang supar menyebalkan.
"Tawaran ini berlaku untuk sekali tawaran, dan Apabila kamu menolaknya itu tandanya tidak ada tawaran lain, dan pekerjaan ini akan saya tawarkan dengan yang lain," ucap Jec, yang tidak mau lama-lama menunggu jawaban dari Cucu.
"Kepastian gajih saya berapa? Agar saya bisa mempertimbangkanya," lirih Cucu, tidak mau dong dia mengambil pekerjaan yang beresiko, tetapi gajih kecil. Jec mengangguk paham dengan pertanyaan Cucu.
"Ok, saat ini gajih kamu berapa?" tanya Jec balik.
"Kepala bagian mengatakan gajih saya dua juta rupiah," balas Cucu tanpa mengurangi apa yang ia dengar dan tanpa menambahkan juga berapa uang yang akan menjadi gajihnya.
"Kalau gitu untuk menjadikan kamu asisten pribadi Tuan Deon untuk gajih awal aku buka dengan angka lima juta, apabila kerja kamu bagus, aku akan menambahnya lagi," balas Jec dengan yakin. Cucu sendiri masih diam kembali berpikir.
"Tapi apa tidak beresiko terjadi pelecehan seksual Tuan, mengingat saya perempuan sedangkan bos yang saya asuh adalah berjenis kelamin laki-laki, sangat rawan terjadi pelecehan bukan kalau kasusnya seperti ini?" Cucu mau tidak mau harus mengatakan yang mengganjal di hatinya dari pada dia bekerja dengan perasaan tidak tenang.
Jec tertawa cukup renyah. Sementara Cucu hanya diam saja, bukanya sudah menjadi kewajiban perempuan untuk melindungi dirinya, apalagi pada bos yang berduit harus benar-benar waspada.
"Kamu tenang saja Mbak Cucu, Tuan Deon tidak akan macam-macam dia bukan orang yang seperti itu dia orang baik kok, dan soal pergaulan dan seknya dia bisa menempatkan pada tempat yang aman," jawab Jec, dan seharusnya jawaban Jec itu sudah meyakinkan Cucu.
__ADS_1
"Baiklah kalau memang apa yang Anda katakan itu memang benar adanya saya akan mencoba menerima pekerjaan ini," balas Cucu dengan yakin, biarkanlah ia menghadapkan bos yang sangat menyebalkan setidaknya ia punya uang tambahan untuk melunasi hutang-hutangnya.
"Kalau gitu kamu ganti pakaian kamu dan jangan bikin Tuan Deon marah," lirih Jec, dan Cucu pun menyanggupinya.
(Sedikit kisah siapa Cucu)
Cucu adakah mantan perawat, di sebuah kelinik di pinggiran kota Jababeka, dia dipecat secara kurang hormat, hanya gara-gara ia menolong teman kerjanya yang sedang kesusahan karena mengurus ibunya yang sakit. Dia meminjamkan data dirinya, dan tanpa disadari oleh Cucu data diri yang ia pinjamkan digunakan untuk mengajukan pinjol (Pinjaman Online).
Yang bikin kasus meluas adalah orang itu tidak mengaju menerim uang dari pinjol, dan justru temanya itu menuduh balik bahwa yang meminjam adalah Cucu sendiri alhasil karena pembayaran tidak ada serta uang sudah habis dipakai entah oleh siapa. Kasus pun heboh dikalangan sahabat-sahabat, sampai Cucu diancam akan dilaporkan ke kantor polisi. Uang yang dipinjam adalah lima puluh juta, sedangkan Cucu sendiri adalah bukan orang yang kaya raya, ia hanya tinggal bersama sang nenek dan kakeknya, ibu dan ayahnya mengaku bekerja di Jakarta, tetapi tidak pernah pulang.
Karena kasus itu Cucu diwajibkan bayar pinjaman yang buanyak itu dan diancam akan dilaporkan pada polisi, tidak hanya itu karena kasusnya makin kemana-mana Cucu pun akhirnya dipecat karena diduga membikin malu tempatnya bekerja. Depkoletor itu beberapa kali datang ke tempat kerja Cucu, dan hubungan Cucu dengan temanya pun jadi merenggang.
********
"Apa Cucu itu juga bagian rencana kamu Jec?" tanya Deon begitu Jec kembali ke ruangan kerja bosnya. Jec mengernyitkan keningnya dengan sempurna.
"Maksud Anda apa Tuan, bahkan saya baru lihat gadis itu, dan barusan saya bertanya bahwa dia itu baru bekerja di sini, baru dua hari bekerja di kantor kami. Gimana dia bisa jadi bagian rencanaku. Tapi mungkin setelah ini saya akan mempertimbangkan ucapan Anda," balas Jec dengan percaya diri, bahkan jantung dan telinganya ia sudah sangat yakin kalau apa yang menjadi kepusanya suka atau tidak suka bosnya nanti, Cucu akan tetap menjadi teman kerjanya.
Deon langsung bersikap tegap dari duduknya yang sebelumnya menyandar pada sandaran kursi dengan memijit keningnya yang ada perbanya. "Apa maksud kamu, jangan macam-macam kamu Jec, aku paling tidak suka apabila kamu mengambil keputusan secara sepihak," lirih Deon, seolah laki-laki itu sudah tahu kemana arah bicara dari Jec itu.
"Mohon maaf Tuan, tetapi keputusan saya sudah final, Cucu akan menjadi asisten Anda," lirih Jec dengan suara yang sangat yakin.
__ADS_1
Braaakkkk... Deon kembali menggebrak meja kerjanya. "Kenapa kamu ambil keputusan sepenting ini, tetapi kamu tidak bisa katakan padaku tentang apa yang akan kamu lakukan. Apa kamu tidak menganggap aku sebagai atasan kamu. Lalu kamu mau ke mana kenapa mempersiapkan Cucu untuk menjadi asisten pribadiku?" tanya Deon dengan wajah yang memanas. Ia tahu kalau Jec pasti akan pergi sehingga dia mempersiapkan asisten pribadi untuk dirinya.
Glekkk... Jec menelan salivanya dengan kasar. Namun sesaat kemudian, dia terlihat tenang lagi, otaknya di putar untuk mencari jawaban apa.
"Maaf Tuan, untuk sementara saya memang masih ikut dan bekerja dengan Anda, tetapi kedepanya saya tidak tahu, mungkin saja saya akan pergi dengan kehidupan saya yang baru, mungkin buka usaha sendiri atau mungkin saya akan menemukan jodohnya dengan kata lain saya juga harus mengambil keputusan yang sangat bermanfaat untuk kedepanya. Rasanya saya akan makin kesusahan kalau saya tidak juga membuka orang lain untuk merawat Anda," balas Jec dengan wajah yang menunduk.
Besar harapan Jec kalau Deon akan mengerti keputusan apa yang diambil oleh Jec, dan dia juga tidak akan macam-macam dengan asisten baru karena memang Deon juga yang akan kesulitan kalau tidak ada asisten yang melayaninya.
"Tapi bukanya kalau kamu mau keluar harus ada izin dari aku? Tidak mungkin kamu pergi gitu saja tanpa adanya izin dariku," balas Deon, masih belum mau kalau Cucu menggantikan posisi Jec, apalagi asistenya perempuan itu sangat menodai matanya.
"Tapi seharusnya Anda mengiinkan saya untuk ke luar dari pekerjaan ini, karena bekerja ataupun tidak keputusanya ada pada saya, dan apabila saya berhenti nantinya tidak serta merta berhenti saya meninggalkan ini semua, tentu setelah saya memastikan ada penggantinya," balas Jec.
Deon pun nampak diam untuk beberapa saat. Memikirkan apa yang jadi keputusan Deon. "Kamu bilang barusan kalau wanita itu adalah anak baru di perusahaan ini, bagaimana dia ternyata bukan pekerja yang baik, dia hanya ingin uang yang besar sehingga ia mau menjadi pekerja dengan iming-imning janji gaji yang besar." Deon pasti sudah tahu menjadi asistennya pasti pekerjaanya menjadi lebih besar lagi.
"Saya memang belum tahu betul siapa dia, saya belum begitu paham dengan siapa Cucu sebenarnya, tetapi hati kecil saya mengatakan kalau Cucu adalah anak yang baik." Jec selalu menyakini apa yang ada di dalam tubuhnya termasuk keyakinanya terhadap Cucu.
Deon kembali terdiam, kali ini ia benar-benar diam, sekeras apapun dia menolak dan mengatakan kalau dia tidak suka dengan cara Jec, tetapi Deon juga bisa memaklumi apa yang dikatakan oleh Jec, dia tidak bisa menahan Jec untuk terus bersama dengan dirinya.
"Ini bukan salah satu cara kamu dan anak tengil itu atau justru laki-laki cacat itu untuk membuat aku dekat dengan perempuan, dan membuat aku melupakan Qari kan?" cecar Deon. Meskipun Jec menutupinya sampai rapih Deon akan tetap penasaran.
"Sekalipun saya berkata tidak, Anda akan terus menuduh saya, jadi lebih baik terserah Anda saja apakah akan mengakuinya hanya bawahan atau teman yang spesial, tetapi dari yang saya dengar kedatangannya murni untuk bekerja, bukan untuk merayu Anda." Jec menjawab dengan yakin.
__ADS_1
"Ok baiklah bawa dia kesini!!"