
Cucu sendiri terharu, karena terlalu bahagia ketika melihat rumah sang nenek yang tidak seperti dulu. Sekarang sudah jauh lebih baik, tidak mewah, tetapi cukup untuk kakek dan nenek Cucu tinggal. Tidak seperti dulu yang mana Cucu selalu tidak tenang karena takut kalau hujan melanda maka rumah sang Nenek akan roboh.
"Apa ini kamu yang merapihkan rumah Nenek dan Kakek?" tanya Cucu dengan mata berkaca-kaca.
"Apa ada orang baik lagi selain aku?" tanya balik Deon yang sudah pasti sebenarnya itu adalah jawaban yang mengandung menyombongkan dirinya.
"Ckkk... kenapa kalau jawab selalu tidak biasa saja, tanpa adanya kesombongan sih?" dengus Cucu, ada rasa kesal, tetapi tidak bisa memungkiri Cucu semakin jatuh hati dengan Deon karena sifatnya yang sebenarnya baik itu.
"Ayok mau turun atau malah mau nangis terus di dalam mobil?" tanya Deon yang justru melihat sang istri menangis di dalam mobil.
"Tunggu, aku sedang sedih, Deon. Ngomong-ngomong kapan kamu memperbaiki rumah Nenek?" tanya Cucu masih dengan tangannya, dia terlalu bahagia dengan apa yang terjadi dihadapan dirinya.
"Apa aku harus laporan padamu, Nyonya Deon yang bawel? Tapi asal kamu tahu saja selain aku tampan, kaya, baik, dan perkasa. Aku juga punya satu rahasia lagi," ucap Deon dengan setengah berbisik sontak saja Cucu langsung tersentak kaget. Dan tangisnya tertahan.
"Rahasia? Rahasia apa?" tanya Cucu wajahnya jadi tegang seperti orang yang sedang ditagih hutang.
"Aku adalah keturunan Bandung Bondowoso yang bisa meminta bantuan pada makhluk halus untuk mengerjakan perbaikan rumah nenek kamu dalam waktu satu malam. Kalau dahulu kala Bandung Bondowoso membangun candi Prambanan, dalam waktu satu malam, untuk membuktikan cintanya pada Ratu Roro Jonggrang, kalau aku untuk membuktikan cintaku pada kamu," balas Deon dengan serius, bahkan wajahnya tidak ada canda sedikit pun.
"Awww... Awww... Kenapa malah di cubit Cucu?" ringis Deon yang malah Cucu mencubit tubuhnya, tidak sakit, tetapi cenderung panas.
"Itu hukuman karena kamu yaang tukang bohong," dengus Cucu. "Ayok turun, dan bawa barang belanjaan yang di bagasi," balas Cucu dengan tanpa bersalah. Sedangkan Cucu baru membuka pintu mobil mewah sang suami. Pasangan yang tidak lagi muda muncul dengan wajah yang ceria.
"Cucu... Oh ya Tuhan, kamu kenapa baru datang. Kakek dan Nenek kangen banget."
Tanpa menunggu lama Cucu pun langsung menghambur ke dalam pelukan kakek dan neneknya sedangkan Deon. Saat ini yang sudah tobat pun mengikuti kata Cucu membawa buah dan aneka kue yang dibeli oleh Cucu untuk kakek dan neneknya.
"Nak Deon, kenapa mesti repot-repot. Stok makanan yang Nak Deon kirim kemarin juga masih banyak," ucap laki-laki yang sudah tidak lagi muda. Cucu pun kembali dibuat kagum ternyata sang suami diam-diam sering mengirimkan makanan untuk kakek dan neneknya.
__ADS_1
Eh, lebih tepatnya Deon baru melakukanya akhir-akhir ini.
"Tidak apa-apa Kek, Nek, kalau memang masih banyak bisa diberikan ke tetangga yang membutuhkan," balas Deon, dan Kakek pun membantu Deon untuk membawa barang-barang belanjaan yang cucunya bawa.
Lagi, Cucu terharu ketika masuk ke dalam rumah sang nenek dan kakeknya. Dari luar memang rumah ini tidak begitu banyak perubahan hanya bagian kusen yang keropos karena rayap, kini sudah diganti. Namun untuk bagian dalam, banyak yang Deon ganti terutama perabotan di rumah kakek dan nenek Cucu sembilan puluh persen baru termasuk mesin cuci, kompor dan pendingin ruangan, lemari pendingin makanan. Sofa dan tempat tidur pun masih terlihat baru. Malah ranjang Cucu masih terbungkus plastik yang tandanya memang masih baru bahkan menandakan kalau ranjang itu belum ada yang menidurinya.
"Kalian, mau makan dulu atau mau ngapain?" tanya Nenek, yang sudah siap akan masak untuk cucunya.
"Tidur! Cucu ke sini mau numpang tidur Nek," ucap Cucu dengan santai. Sontak saja kakek dan neneknya saling pandang berbeda dengan Deon yang sejak tadi duduk di sofa seperti Tuan muda pada biasanya, jarang nimbrung obrolan seperti itu.
"Oh, kalau kamu mau tidur. Tidurlah suami kamu sudah merapihkan kamar kamu dan sekarang jauh lebih nyaman," balas sang nenek dan Cucu pun tanpa membuang waktu lama langsung menuju kamar masa sekitarnya yang sekarang sudah di sulap menjadi ala-ala modern.
"Deon, kamu mau ikut tidur tidak?" tanya Cucu dengan polosnya memanggil Deon dengan nama saja, sontak saja sang nenek langsung mencubit cucunya.
"Awww.... Nek, kenapa di cubit?" protes Cucu yang bahkan tangannya terasa panas itu.
"Kenapa kamu panggil suami kamu dengan panggilan nama saja, itu namanya tidak sopan. Panggil dengan yang lebih sopan, surga itu ada diridho-nya suami kamu, kalau suami kamu tidak ridho kamu memanggil nama saja bisa celaka nanti kamu." Nenek pun langsung menasihati Cucunya sedangkan Deon hanya tersenyum jahil. Deon sendiri sih tidak masalah sang istri memanggil nama saja, karena Deon yakin nanti juga akan membiasakan sendiri dengan panggilan sayang seperti pada hubungan yang lainya.
"Jangan kebiasaan karena nanti malah jadi kebablasan. Panggil Mas, Bang atau panggilan yang lainnya yang lebih sopan, kalau orang lain tahu nanti Nenek dan Kakek kamu yang malu," balas sang Nenek lagi. Dan Cucu pun langsung meminta maaf dan berjanji akan membiasakan diri untuk memanggil dengan panggilan sayang.
"Ya udah sana kalian istirahat, pasti kalian kalau malam tidak bisa istirahat dengan nyenyak sekarang tidurlah. Nenek dan Kakek akan masak untuk makan sore kalian nanti."
Kini Cucu dan Deon pun sudah ada di kamar Cucu yang sepit, hanya ada ranjang lemari dan tempat Tv selebihnya tidak ada sekat atau barang yang berarti.
"Kamar sempit kaya gini kalau pengin gimana? Apa nanti kakek dan nenek kamu pakai penutup telinga, apalagi kamu itu kalau lagi main tidak bisa diem terus menjerit minta terus," racau Deon bahkan boko-ng saja belum duduk tapi mulut langsung nyerocos.
"Deon apa kamu sekarang sudah jatuh miskin, kenapa kalau pengin harus di sini yang sudah jelas akan kedengaran sampai dapur. Kamu kan kaya kita bisa sewa hotel dengan fasilitas terbaik," balas Cucu dengan santai dan tentunya dia melepas pakaiannya dan mengganti dengan daster.
__ADS_1
"Cu, apa kamu sudah lupa apa kata Nenek kamu, kamu harus membiasakan diri memanggil aku dengan sebutan cinta, bisa sayang atau malah sebutan yang lainya. Kalau kamu masih panggil Deon, Deon aku akan laporkan sama Nenek," ancam Deon kini laki-laki itu di rumah ini selalu di bela jadi di bisa besar kepala.
"Hist... kenapa kamu sekarang jadi menyebalkan seperti itu," dengus Cucu dan dia pun langsung berjalan mendekat ke arah Deon, sementara Deon yang sejak tadi duduk sembari melihat ponselnya kaget ketika melihat Cucu pakai daster.
"Cu, kamu pakai apa?" tanya Deon heran dan tentu dia tidak suka melihat sang Istri pakai daster yang bahkan warnanya sudah tidak cerah lagi alias buluk. Cucu melihat pakaiannya. Meneliti dengan seksama. Aku pakai daster kenapa emang?" tanya Cucu dengan polosnya.
"Ganti aku tidak suka kamu pakai itu seperti aku melihat asisten rumah tangga," balas Deon dengan menunjukkan wajah tidak sukanya. Kembali Cucu melihat pakaiannya yang menurut pandangan dia tidak ada masalahnya, bahkan dari sekian daster, daster yang dipakai Cucu saat ini adalah daster dengan kualitas terbaik. Yang lainnya ada jendela di bagian ketiak dan juga warnanya jauh lebih buluk dari yang Cucu pakai saat ini.
"Kenapa Deon, aku suka pakai daster dingin dan nyaman kalau mau tidur, lagian kita kan mau tidur siapa juga yang lihat kan mau tidur baju bolong juga aman-aman saja nggak ada yang lihat," balas Cucu tetap malas rasanya kalau harus ganti pakaian lagi.
"Yah mungkin menurut kamu seperti itu, tapi bagi aku justru kamu kalau mau tidur pakai-pakaian terbaik kamu karena ada aku yang harus kamu buat bahagia," balas Deon tetap dia tidak mau kalau Cucu pakai daster.
"Terus kalau aku tidak pakai daster aku pakai apa dong," balas Cucu dengan bingung.
"Apa kamu tidak ada pakaian yang jauh lebih bagus lagi?" tanya Deon.
Cukup lama Cucu diam untuk berpikir kira-kira apakah dia ada pakaian yang bagus lagi atau tida. Cucu menggeleng. "Tidak ada pakaian aku rata-rata seperti ini," balas Cucu dengan yakin.
"Kalau gitu buka, kamu jangan pakai baju hanya pakai dalam saja," balas Deon dengan yakin, sontak saja Cucu langsung melebarkan kedua bola matanya.
"Ini mah mau kamu, aku tidak mau. Kamu bahkan tadi pagi sudah menghukum aku dengan dua kali permainan," tolak Cucu dengan tatapan yang nyalang.
"Kalau gitu kita pulang. Tidak ada tidur di sini," balas Deon tidak kalau tegas. Cucu pun kembali melebarkan kedua bola matanya.
"Iya-iya, aku buka baju ini, tapi kamu nggak boleh macam-macam," ancam Cucu, dia sudah ngantuk dan bahkan sudah membayangkan kalau dia akan tidur dengan nyenyak tetapi malah Deon yang jahanam itu langsung membuatnya kesal.
"Iya santai ajah sih, kamu kan tahu kalau aku nggak pernah macam-macam paling juga macam- macam dan macam, pokoknya macamnya nggak cukup satu atau dua kali," balas Deon dengan mengerlingkan matanya serta memonyongkan bibirnya pada Cucu yang langsung mendapatkan tatapan tajam dari Cucu.
__ADS_1
Bersambung
...****************...