
“Rei! Apakah Kamu yakin akan membalas dendam atas perbuatan mereka kepadamu?” tanya Aaric setelah Reisya selesai mendengarkan rekaman itu.
Reisya mengembalikan ponsel Aaric dan meletakkannya di atas meja.
Lalu Reisya menjawab, ”Aku tidak akan membalasnya Mas, karena jika itu terus dilakukan maka tidak akan pernah ada habisnya, Aku hanya ingin memberi pelajaran agar mereka mampu bersikap lebih baik lagi kedepannya.”
“Cukuplah Allah yang membalasnya..,” imbuh Reisya.
“Okey, jika seperti itu terserah kamu saja. Aku hanya ingin kamu baik – baik saja. Seperti hubungan kita, Aku mau kita kembali seperti semula karena Aku tidak ingin kehilangan Kamu, Sayang,” ujar Aaric menatap lekat sang pemlik hati.
“Tapi, Aku masih butuh waktu untuk meyakinkan hatiku kembali, Mas. Setelah apa yang kamu lakukan terhadapku,” tandas Reisya dengan mata berkaca – kaca.
“Aku tahu, sekali lagi Aku minta maaf sama Kamu karena Aku sudah keterlaluan. Beri Aku kesempatan untuk memperbaiki kesalahanku, Rei.. Kamu mau ‘kan maafin Aku?” pinta Aaric sembari menggenggam hangat tangan Reisya.
“Kenapa hati ini sakit jika aku menolaknya, haruskah Aku kembali lagi padanya?” lirih Reisya dalam hatinya.
Akhirnya Reisya pun menganggukkan kepalanya. Memberi kesempatan kedua untuk Aaric sebagai pembuktian cintanya pada Reisya.
“Beneran Kamu maafin Aku?” tanya Aaric. Reisya pun menganggukkan kepalanya sekali lagi.
“Terima kasih Sayang, Aku janji.. Aku tidak akan menyia – nyiakan kesempatan ini. Aku akan menjaga Kamu jauh lebih baik dari sebelumnya. Sekali lagi terima Kasih, I LOVE YOU so much, dear,” ungkap Aaric penuh haru.
Kini keduanya saling berpelukan meluahkan rasa yang selama ini saling menyakiti satu sama lain. Setelah keduanya berdamai dengan hati dan diri mereka masing – masing, akhirnya Aaric meminta Reisya untuk ikut kerumahnya, bertemu dengan sang Mommy.
“Kamu ikut Aku ketemu Mommy, ya?” pinta Aaric.
“Untuk apa Mas?” tanya Reisya.
“Aku akan membuktikan pada Mommy bahwa kamu tidak bersalah. Agar kesalahpahaman ini segera berakhir dan Mommy tidak akan terpedaya lagi oleh kata – kata Melinda si ratu drama,” sahut Aaric.
“Baiklah jika mau kamu seperti itu Mas, Aku ikut saja,” jawab Reisya.
Mereka pun segera beranjak dari rumah Reisya. Manaiki mobil yang melaju tenang setenang sang pemilik hati menuju kediaman Bu Kusuma.
__ADS_1
Setibanya di lokasi yang di tuju, Reisya sedikit ragu untuk ikut Aaric masuk setelah memarkirkan mobilnya.
“Sayang, ayo turun. Mommy pasti sudah menunggu di dalam,” ajak Aaric saat membukakan pintu mobilnya untuk Reisya.
“Tapi Mas.. Aku takut,” ucap Reisya dengan wajah cemas.
“Hei! Sayang.. apa Kamu lupa ada Aku yang akan melindungi dan juga membelamu, Sayang. So, don’t be afraid,” ucap Aaric meyakinkan hati Reisya.
Sambil menghembuskan nafas kuat akhirnya Reisya meyakinkan dirinya lalu turun dari mobil dan ikut mensejajari langkah Aaric sembari menggandeng tangannya erat.
“Assalamualaikum, Tante,” sapa Reisya saat bertemu dengan Bu Kusuma.
“Waalaikumsalam! Masih berani Kamu datang kerumah ini setelah apa yang Kamu lakukan dibelakang anak saya?!” sahut Bu Kusuma ketus.
Reisya hanya tertunduk, perasaan tak karuan dalam hati dan pikirannya.
“Mom, bisa kita duduk dulu?” pinta Aaric.
“Memangnya mau apalagi, mau membela diri.. mau bilang bahwa itu bukan Saya, begitu?” cibir Bu Kusuma.
“Hah?! Korban? Udah jelas – jelas dia mengkhianati Kamu, masih Kamu bilang Dia adalah korban?” cibir Bu Kusuma.
“Jika Mommy tidak percaya, nih Mommy boleh dengarkan sampai habis percakapan perempuan iblis itu sampai selesai. Dan yang perlu Mommy tahu, rekaman itu Aaric sendiri yang mengambilnya langsung,” tandas Aaric kepada sang Mommy sembari memutarkan rekaman yang ia dapatkan.
Ketiganya telihat sangat seksama mendengarkan percakapan Dona dan Melinda sambil sesekali Bu Kusuma melirik pada Reisya yang masih menundukkan kepalanya sambil menghapus jejak air matanya yang tiba – tiba saja mengalir di kedua pipi lembutnya.
“Sayang, Kamu harus kuat, ada Aku,” ucap Aaric lirih menguatkan Reisya sambil menggenggam erat tangan Reisya. Reisya pun mengangguk.
Bu Kusuma hanya diam setelah selesai mendengarkan hasil rekamannya, raut wajahnya kini berubah antara sedih, marah dan kecewa semuanya bersatu dalam hati dan pikirannya.
“Bagaimana, Mom? Apa Mommy masih menyalahkan Reisya?” tanya Aaric.
Bu Kusuma beranjak dari tempat duduknya dan berjalan perlahan bergeser pindah ke sebelah Reisya.
__ADS_1
“Rei! Maafin Tante, tidak seharusnya Tante percaya begitu saja dengan kata – kata Melinda waktu itu tanpa Tante mendengar ucapan dari Kamu. Maafin Tante, Sayang,” tutur Bu Kusuma sambil memeluk erat tubuh Reisya.
Kini keduanya saling berpelukan sambil meneteskan air mata.
“Ric, Mommy juga minta maaf sama Kamu, Nak. Mommy tidak percaya sama anak Mommy sendiri. Dan mulai hari ini, Reisya juga anak Mommy, jadi Mommy punya dua anak yang tampan dan cantik,” pungkas Bu Kusuma tersenyum manis.
“Nggak! Anak Mommy cuma satu, s e l a m a n y a. Titik!” seru Aaric.
Bu Kusuma dan Reisya sontak membulatkan kedua manik matanya berasamaan lalu mengarahkan pandangannya ke wajah Aaric yang sudah mengerucutkan kedua bibirnya.
“Kok gitu?!” tanya sang Mommy.
“My, please. Anak Mommy tuh cukup Aaric seorang, gimana Aaric nikahnya kalau Reisya.. Mommy angkat jadi adik Aaric,” jelas Aaric sambil menyengir kuda.
“Hmm... Kamu ini bisa aja,” sahut sang Mommy seraya melayangkan pukulan pelan di lengan Aaric.
Mereka pun tertawa bersama. Kini bahagia itu kembali menyelimuti semuanya.
“Ya sudah sekarang kita makan yuk, Mommy laper,” ajak Bu Kusuma sembari beranjak dari tempat duduknya.
Akhirnya perbincangan mereka pun berakhir di meja makan. Suasana telah kembali hangat seperti semula. Kini bias – bias keceriaan kembali bersinar di wajah cantik Reisya sambil menikmati makanan di hadapannya.
Reisya merasa tenang. Akhirnya kejahatan pun terkalahkan. Saat merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur, seulas senyum terukir di bibir merahnya. Sorot matanya berbinar menatap langit – langit atap kamarnya.
“Alhamdulillah ya Allah. Engkau telah menunjukkan keadilian Mu. Sekarang Aku dapat bermimpi indah,” gumamnya pelan.
Lalu Reisya teringat dengan Max. Dia juga merasa bersalah padanya. Karena dia juga merupakan korban dari kejahatan Dona dan Melinda.
“Oh, Max.. I’ve hurt you. I’m so sorry,” ucap Reisya sambil meraih ponselnya yang terletak di atas nakas dekat tempat tidurnya.
Reisya mencari nomor kontak Maxmara di ponselnya. Berkali – kali Reisya mencari nama Max namun tidak menemukannya.
__ADS_1
“Astagfirullah, apa Aku telah menghapusnya pada saat Aku tengah emosi?! Max maafkan Aku,” sesal Reisya sambil menghempaskan tubuhnya kembali seraya memejamkan matanya.