Cinta Berselimut Dendam

Cinta Berselimut Dendam
Cinta Berselimut Dendam #Episode 129


__ADS_3

Alzam melihat ponselnya berkedip, dan ia pun menatap Qari yang sudah pulas tertidur. Dengan hati-hati laki-laki itu melepaskan pelukan Qari dan ia beranjak untuk mengangkat panggilan yang masuk. Ia tahu betul kalau yang memanggilnya adalah dokter Doni. Dengan langkah kaki berjinjit agar tidak menimbulkan bunyi Alzam meninggalkan kamar pribadi mereka dan melakukan sambungan dengan dokter pribadinya.


[Ada apa Al, kenapa kamu tumben tanya tentang Deon lagi? Apa dia melakukan hal yang aneh-aneh lagi, dan mengancam keluarga kamu?] tanya Doni dari tempat yang berbeda.


[Aku tidak tahu betul rencana laki-laki itu apa, aku hanya ingin berbicara empat mata dulu dengan dirinya. Yah, ini menyangkut  istriku. Sebenarnya aku belum bisa menyimpulkan niat dia buruk, hanya saja aku pengin berbicara empat mata dulu, mencoba berbicara dari hati kehati. Aku yakin dia orang baik,] balas Alzam dengan suara lirih. Saat ini ia sedang berada di taman di lantai bawah, agar Qari tidak mendengar obrolan dirinya dan dokter Doni.


Doni dari sebrang telepon hanya bisa menghela nafas panjang. Rasanya baru juga ia merasa tenang dengan hidupnya. 'Aku pikir Deon sudah benar-benar melupakan Qari, tetapi ternyata aku terkecoh, dia masih terus mengganggu Qari ternyata,' batin Deon.


Baru juga ia merasakan ingin tenang setelah lelah mencari keberadaan Gatot yang ternyata sampai detik ini ia tidak bisa menemukanya, kini Doni kembali di ganggu pikiranya dengan Deon yang kembali berulah.


[Baiklah kalau itu memang menjadi keputusan kamu, aku akan kirimkan alamat kantor Deon. Kamu coba berbicara baik-baik dulu, tetapi kalau dia memang tidak bisa diajak berbicara baik-baik kamu katakan saja padaku. Aku akan memaksa dia lagi dengan cara yang dia tidak bisa menolaknya,] ucap Doni.


[Iya Dok, nanti apabila laki-laki itu tetap keras kepala aku akan beritahu Anda, tetapi untuk saat ini biarkan aku mencoba berbicara dengan baik-baik dulu, aku yakin kalau Deon itu sebenarnya orang baik, jadi pasti bisa diajak berbicara dengan hati ke hati,] Entah kenapa Alzam dalam hatinya tetap memiliki penilaian bahwa Deon itu baik, masih bisa diajak bicara dengan baik-baik.


[Yah mudah-mudahan saja Al, aku juga sebenarnya berpikiran seperti itu, tetapi kadang sulit juga nasihati dia. Sepertinya dia memang harus ada wanita yang benar-benar bisa mengetuk hatinya dan mengarahkan dia ke jalan yang benar.] Itu yang Iriana katakan, bahwa biasanya kalau senakal-nakalnya laki-laki akan nurut dengan wanita yang sangat ia cintainya.


[Iya mungkin seperti itu, tetapi masalahnya Deon itu mencintainya Qari, sehingga sulit untuk membuat ia sadar,] kekeh Alzam.


[Ah iya dia mencintainya Qari, apa tidak ada wanita lain yang menyerupai Qari untuk menarik perhatianya? Biar dia tidak hanya memikirkan Qari,] Doni memberikan usulnya.

__ADS_1


[Entahlah Dok, sulit kalau soal hati itu, kadang yang punya orang terlihat menarik, sedangkan yang punya sendiri malah tidak ada menarik-menarinya.] Itulah hati rumus kerjanya tidak ada yang tahu, dan Doni pun membenarkanya. Sebab dirinya juga mengalaminya. Wanita cantik banyak yang mengejar-ngejar dia, tetapi malah dia lebih memilih mengejar Gatot yang entah saat ini ada di mana.


Mereka pun yang awalnya hanya ingin membahas Deon, jadi  berbicara panjang hingga tanpa sadar mereka melakukan sambungan telepon sudah lebih dari satu jam.


Di dalam kamar Qari yang haus dan juga ingin buang air kecil, bangun. Seperti biasa  tanganya meraba-raba tempat tidur, mencari sosok suaminya yang selalu menghangatkan tubuhnya. Kening Qari mengernyit semakin dalam.


"Kemana Alzam, tumben banget dia udah bangun. Apa ini sudah pagi," batin Qari tanganya mencoba meraih ponselnya.


"Baru jam sepuluh, kemana Alzam?" Qari pun langsung bangun dan mencoba mencari Alzam, tidak biasanya suaminya pergi tidak bicara dengan Qari. Pikiran kotor pun kembali menghantui Qari. Antara memikirkan Alzam selingkuh dengan asisten rumah tangganya, atau malah dia sedang selingkuh dengan tetangga, seperti yang ia baca dari novel-novel yang bertema penghianatan, dan perselingkuhan.


Dengan hati-hati Qari mengayunkan kakinya kala mendengar suara Alzam sedang tertawa. Hantinya menclos, membayangkan kalau Alzam sedang membagi kisah lucu dengan wanita lain. Langkah kaki Qari terus menyusuri anak tangga satu per satu untuk menuju lantai bawah, dan memergoki Alzam yang ia duga sedang berselingkuh.


Alzam langsung mengalihkan pandanganya. "Kamu bangun sayang?" tanya Alzam balik, dengan nada santai. Padahal Qari menduga kalau Alzam akan bersikap panik dan bersikap seperti orang-orang ke-gep selingkuh.


"Kamu sedang ngobrol dengan siapa?" tanya Qari ulang, dan Alzam pun menunjukan ponselnya di mana sambungan teleponya belum terputus.


"Dokter Doni, membicarakan hasil check up beberapa waktu lalu," balas Alzam, yah dia memang setiap satu bulan sekali melakukan pemeriksaan untuk memastikan bahwa semuanya baik-baik saja.


"Harus di telepon yah? Kenapa tidak di rumah sakit?" Qari tidak serta merta percaya. Apalagi sejak ia hamil semakin besar dan itu menambah rasa was-wasnya kalau Alzam akan selingkuh, meskipun puluhan kali bahkan ratusan kali kalau otak sebelah kanannya mengatakan kalau Alzam tidak akan pernah selingkuh, tetapi otak sebelah kirinya selalu berkata sebaliknya, cemburuan tingkat dewa.

__ADS_1


"Iya, soalnya kalau aku datang ke rumah sakit hanya untuk mengetahui hasilnya, sangat buang-buang waktu kalau harus datang ke rumah sakit menemui Doni, lagi pula kerjaan kita lagi banyak Sayang, kita bulan depan ada peluncuran prodak baru harus super kerja keras, jadi Doni mengabarkanya lewat telpon." Alzam meng-loadsepeaker agar Qari dengar suara Doni dari sebrang sana.


"Hai Qari... benar apa yang Alzam katakan, aku hanya mengabarkan hasil pemeriksaan dia, tapi malah membahas segala macam. Maaf yah, pasti kamu nyariin Kang Suami," kekeh Doni, meskipun Qari tidak terlaku sering bertemu dengan Doni, tetapi mereka cukup akrab.


"Terus hasil pemeriksaanya gimana? Apa ada sakit lagi di tubuh Alzam?" tanya Qari sebenarnya dari tadi penasaran juga akan hasilnya.


"Kamu tidak usah kawatir, Alzam masih aman, itu semua karena dia orang yang sangat bisa menjaga pola hidup sehat, jadi sejauh ini masih aman. Kalau gitu aku pamit ajah yah, kan sudah selesai juga obrolan kita, padahal sepuluh menit juga selesai, tapi malah bahas yang nggak penting jadi satu jam lebih," kekeh Doni.


"Tumben kamu bangun, apa kamu pikir kalau aku selingkuh?" tanya Alzam dengan nada ejekan. Ia bahkan sudah sangat hafal dengan apa yang Qari cemaskan selama ini.


"kenapaa masih tanya sih?" dengus Qari, dia bukan kesal tetapi lagi-lagi malu kalau tebakanya itu salah, mana yang dia tuduh dokter Doni lagi.


*******


Teman-teman sembari nunggu kisah selanjutnya yuk mampir ke novel bestie othor, dijamin kalian akan suka dan baper...


Kuy ramaikan yah, jangan lupa beti gift, like dan komen.....


__ADS_1


__ADS_2