Cinta Berselimut Dendam

Cinta Berselimut Dendam
Cinta Berselimut Dendam #Episode 211


__ADS_3

Gigi-gigi Jec saling beradu ketika membaca pesan dari nomor yang tidak ia kenal. Entah lah nomor dari siapa itu, yang jelas nomor orang-orang yang ingin menghancurkan rumah tangganya di mana dari nomor itu mengirimkan jepretan kamera yang ingin mengbarkan kalau sang istri masih berhubungan dengan sang mantan.


Marah, kesal itu yang saat ini dirasakan oleh Jec, tetapi laki-laki itu tetap berusaha agar tidak terpancing. Ponselnya dia tutup dan di kembalikan ke dalam saku dan setelah mengurus segala keperluan Deon, Jec pun kembali ke ruangan bosnya hanya untuk mengecek apakah sang bos susah sadar atau belum.


Betapa kagetnya Deon ketika tahu kalau Cucu sedang menangis. Yah, wanita itu tengah meracau dan terisak sedih.


[Apa yang sebenarnya terjadi dengan kamu, wahai suamiku. Apa kamu marah denganku dan meghukum dirimu seperti ini? Apa kamu tahu kalau aku marah, kesal dan ingin marah melihat kamu tidak berdaya seperti ini? Ayolah Deon kamu bangun jangan bikin aku sedih seperti ini]


"Dokter bilang Tuan Deon akan baik-baik saja jadi kamu nggak usah terlalu bersedih," ucap Jec ketika mendengar ucapan Cucu dan melihat Cucu menangis. Buru-buru wanita itu memalingkan pandanganya ke lain arah dan menghapus air matanya agar Jec jangan meledeknya terus.


"Kenapa di hapus sih, tidak apa-apa lagi nangisin suami kan sudah sah," goda Jec lagi terlalu bahagia dia melihat wajah Cucu yang galak dan menggemaskan.


"Kamu ngapain lagi ke sini? Bukanya katanya mau kerja tadi," dengus Cucu menatap tajam pada Jec. Yah, tadi memang Jec mengatakan pada Cucu kalau dia akan kerja, tapi untuk memastikan sekali lagi dia ingin melihat bosnya.


"Abis penasaran kamu ngomong apa, udah kalau cinta mah hajar saja. Jangan ditunda-tunda nanti malah nyesel. Jujur lebih menarik." Mana percaya Jec lihat wajah Cucu yang sedih dan juga suara yang serak tidak mau mengatakan cinta. Sudah jelas cinta hanya gengsi.


"Udah sana kamu pergi kerja aja! Bos kamu akan baik-baik saja kok, aku akan jaga dengan baik," dengus Cucu sembari mendorong tubuh Jec pergi menjauh dari dirinya.


"Ya udah iya-iya aku pergi nih, kamu jaga diri jangan terlalu cape jaga Bos. Kalau Bos belum bangun kamu jaga diri saja yah. Jangan ditungguin terus apa lagi di tangisin nanti malah nggak bangun bangun." Jec pun tanpa tunggu lama langsung pergi dan juga langsung kabur apalagi melihat wajah Cucu yang sangat kesal.


Huhhh... Jec membuang nafas kasar setidaknya sedikit saja dia merasakan terhibur dengan kedekatanya dengan Cucu. Namun, ketika sendiri seperti sekarang ini Jec kembali teringat akan foto-foto itu sang istri dengan mantannya. Bahkan ada keterangan dalam foto itu.

__ADS_1


[Lebih baik lepaskan Qila, karena dia masih mencintai San. Nih buktinya dalam diam-diamnya dia masih menyempatkan diri untuk bertemu dengan mantannya] Itu adalah caption yang di tulis dari foto-foto yang di kiri oleh orang misterius yang Jec yakin kalau dia adalah orang-orang suruhan Sam.


Namun, Jec tetap bersikap santai dan kembali ke kantor untuk bekerja. Pekerjaanya sudah menumpuk apalagi selama hampir satu minggu ini Deon juga tidak bisa diandalkan yang dalam kata lain hanya Jec yang bekerja dengan berat.


Kembali ke rumah sakit.


Tangan Deon yang di pegang Cucu bergerak dengan lemah di mana kata Jec, kalau Deon belum bangun maka dia boleh tidur. Seperti sekarang dia tidur ketika Deon sudah mulai sadar.


Dengan mata yang terasa berat dan juga kepala yang seperti mau pecah. Deon pun beberapa kali menarik bibirnya, merasakan sakit yang teramat bahkan tubuhnya seperti kaku. Hanya ruangan putuh yang ada dalam penglihatanya.


"Aku ada di mana?" Bukanya aku  sedang tidur di kamar. Tapi ini bukan kamarku deh," gumam Deon dengan mata yang terus mengenali ruangan itu. Pandangan yang remang-remang membuat dia sulit untuk mengenari  ruangan asing itu.


Setelah laki-laki itu yakin kalau dia saat ini ada di ruangan rumah sakit. Deon pun menatap sampingnya. Kembali keningnya mengernyit dengan sempurna ketika di sampingnya ada orang yang sangat d kenali. Yah, Deon bisa kenali dari rambutnya.


"Cucu, apakah itu kamu? Kamu ada di sini?" batin Deon. Hatinya sangat nyaman ketika mengetahui kalau Cucu masih perhatian dengan dirinya. Deon pun membiarkan Cucu istirahat yang tampaknya sangat lelah. Lagi tubuhnya sangat sakit semua sehingga tidak bisa menggerakan tubuhnya untuk mengusap rambut Cucu. Padahal dia ingin mengusap rambut wanita itu biar kaya orang-orang yang di film-film menguap rambut orang yang menjaganya agar romantis. Namun apa daya fisiknya sangat lemah bahkan untuk mengerjapkan mata juga rasanya berat.


Cucu sendiri pun yang tidak biasa tidur dengan duduk menggeliatkan tubuhnya dan memegang tengkuk lehernya yang terasa nyeri. Setelah merasa tubuhnya nyaman dan enak dia pun mengecek Deon takut terjadi apa-apa. Namun, betapa terkejutnya Cucu ketika dia tahu kalau Deon itu sedang menatapnya dengan sadar.


"Astaga, kamu sudah sadar? Kenapa diam saja? Kenapa tidak bangunkan aku," pekik Cucu dengan sangat kaget. "Apa ada yang dirasakan, sakit atau bagaimana? Aku harus panggil dokter tidak?" cecar Cucu sangat terlihat kalau dia sangat khawatir dengan keadaan Deon.


"Cu... A...ku baik-baik saja. Kamu jangan pergi lagi yah," balas Deon dengan setengah terbata dan juga dia yang terlihat sangat lemah.

__ADS_1


Cucu sendiri pun langsung tersentak kaget ketika mendengar ucapan Deon. Tubuh Cucu kembali Duduk. Namun bibirnya kelu ketika mendengar ucapan Deon yang terlihat sangat mengiba. Dilema mungkin itu yang Cucu rasakan karena dia tidak tahu apakah Deon serius dlam ucapanya atau justru itu hanya rayuanya saja.


"Udahlah, kamu saat ini lebih baik fokus dengan kesehatan kamu saja jangan berpiikir yang tidak-tidak dulu. Kalau kamu sudah sembuh benar baru kita bahas ucapan kamu tadi. Aku akan panggil dokter untuk memeriksa kamu," ucap Cucu tanpa menunggu jawaban dari Deon, wanita itu pun pergi meninggalkan Deon untuk memanggil Dokter.


Ah, itu hanya akal-akalan Cucu saja nyatanya dia terlalu gugup berada di samping Deon. Hatinya masih bimbang antara dia kembali sama Deon atau dia akan meminta pisah sesuai yang kemari-kemarin dia pikirkan.


Kini wanita itu justru berada di balik pintu untuk menenangkan perasaanya. Mungkin dia lupa kalau dia ke luar dari ruangan Deon itu dia ingin memanggil dokter. Bukan melamun memikirkan ucapan Deon yang meminta dia tetap berada di samping sang suami. Seharusnya Cucu bahagia karena itu tandanya Deon sudah berubah demi masa depanya, tetapi malah Cucu masih merasa kalau ini rasanya mustahil.


Entah apa yang membuat Cucu ragu sedangkan tadi saja dia menginginkan kembali pada Deon. Giliran sekarang Deon sadar dan menginginkan dia seolah dia malah ragu. Plin-plan memang wanita itu.


...****************...


#Sembari Nunggu kelanjutan Qila mampir yuk ke novel Othor yang baru.



Rahasia Kebaikan Ibu Mertua


Pembantu Spesial Om Duda (Religi Romantis)


__ADS_1


__ADS_2