Cinta Berselimut Dendam

Cinta Berselimut Dendam
Cinta Berselimut Dendam #Episode 165


__ADS_3

Luson berjalan tertatih dengan di bantu oleh sopir masuk ke dalam mobil. Bau badan dari laki-laki itu cukup membuat Rania ingin muntah, bukan Rania saja tentunya banyak yang melihat juga menutup Indra penciuman mereka. Bahkan Rania yang tidak mau merapihkan kontrakan kumuh itu memilih memberikan beberapa lembar rupiah untuk biaya pemilik kontrakan merapihkan kontrakan yang kotor dan bau itu.


Rania juga harus mengeluarkan uang lebih untuk biaya kontrakan yang ternyata tidak di bayar oleh papahnya. Dalam batin Rania tentu takut kalau nanti Adam akan menanyakan pengeluaranya yang bulan ini membengkak.


Bukan karena Adam pelit, tetapi memang suaminya yang bekerja sebagai dokter dan gajihnya juga sebagian untuk di kirimkan pada keluarganya dan juga pengobatan Rania yang masih rutin hingga detik ini.


Rania cukup diam di dalam mobilnya karena memang pikiranya masih terus berusaha mencari akal untuk penanganan papahnya yang sakit parah itu bukan hanya itu Rania pun belum izin pada suaminya akan membawa Luson tinggal bersama dengan dirinya.


"Pah, untuk sementara tinggal di rumah Nia dulu yah. Ke rumah sakit akan dipertimbangkan lagi nanti," Akhirnya Rania pun mengeluarkan suaranya.


Luson nampak mengela nafas panjang. "Papah pengin diobati," jawab Luson dengan suara yang lirih.


"Iya nanti diobati oleh Adam, jangan ke rumah sakit dulu, soalnya Nia belum izin pada Mas Adam soal sakit Papah dan soal Papah juga, takutnya Mas Adam keberatan, soalnya penghasilan kita tidak banyak seperti...." Rania tidak melanjutkan ucapanya tentu Luson tahu siapa yang Rani maksud.


Benar saja Luson pun diam saja karena sudah tahu betul siapa yang Rania maksud yaitu putri dan putranya Naqi dan Qari.


Kini gantian Rania yang terlihat beberapa kali menghirup nafasnya dalam. Sesak belum membiayayi pengobatan papahnya wanita itu juga sudah merasakan sesak, terlebih Rania juga masih rutin terapi dengan rahimnya dan biayanya itu cukup membuat Adam bekerja keras.


"Pah, apa Papah mau memberitahu dua anak papah yang lain, mungkin mereka bisa bantu. Sakit Papah bukan sankit ringan dan untuk pengobatnya bukan butuh uang yang banyak. Papah akan sangat butuh bantuan dari anak-anak Papah yang lain. Kalau Rania jujur tidak akan sanggup memberikan pengobatan yang terbaik untuk Papah, hidup Rania dengan Mas Adam saja bisa dibilang sangat pas-pasan dan apabila ditambah dengan pengobatan Papah, Rania jujur tidak sanggup."

__ADS_1


Rania rasa harus jujur di awal soal perekonomian keluarganya, apalagi sakit papahnya benar-benar sakit yang sangat membutuhkan materi yang banyak untuk penyembuhanya. Bukan dia yang durhaka, tetapi memang kondisi perekonomian dirinya yang tidak seberuntung ke dua sodara tirinya.


"Papah, malu kalau harus datang pada mereka, Papah sadar Papah sangat bersalah dengan mereka," ucap Luson dengan penuh penyesalan.


Bahkan laki-laki dengan badan kurus dan bau itu masih sangat ingat bagaimana perlakuanya dulu pada Qari dan juga pada Naqi, bukan dengan kedua putra dan putrinya, tentu laki-laki itu masih mengingat juga bagaimana perlakuanya pada istrinya.


Kembali Rania juga membuang nafasnya kasar, ingin ia menasihati papahnya yang terlalu memikirkan gengsi, kenapa tidak menyesal dan perbaiki hubungan  yang udah rusak itu. Namun, buru-buru Rania tahan karena ia tahu ada Adam yang bisa nasihati mereka nantinya.


Adam tentu tahu bagimana cara agar menasihati mertuanya. Secara Adam adalah anak dari pemilik pesantren. Namun, meskipun dia adalah anak dari pemilik pesantren Rania masih merasakan ketidak adilan. Di mana sampai pernikahan mereka yang sudah hampir berumur lebih dari satu tahun, tetapi mereka masih belum bisa menerima Rania sebagai menantu mereka.


Lalu apa yang mereka lakukan dulu pada saat Rania dan Adam menikah? Yang mereka lakukan dulu tentu karena permintaan kakek Latif, tuan Latif yang meminta mereka menghadiri pernikah putra mereka sehingga  terlihat mereka merestui, pada kenyataanya mereka tetap dengan pendirianya yaitu meminta Adam menikah dengan wanita baik-baik yang bisa memberikan keturunan, bukan Rania yang bermasalah dirahimnya, dan pandangan pada Rania masih sama seperti pertama mereka bertemu dengan Rania.


Setelah menempuh perjalanan yang cukup jauh dan memakan waktu, Kini Rania dan Luson sudah sampai di rumahnya, seperti yang sudah ia rencanakan selama di dalam mobil, begitu sampai rumah Rania dibantu dengan sopir kembali membersihkan tubuh Luson. Dia memang masih kuat untuk berjalan, tetapi harus di bantu untuk kegiatan yang lainya seperti membuka baju dan yang lainya. Lagi, setelah hampir satu jam mandi kini Luson sudah bersih, wangi dan segar.


Rania sangat tidak menyangka bahwa laki-laki yang dulunya tampan dan tubuh perfeksionis dengan tubuh yang atletis bahkan jadi bahan idola perempuan saat ini hampir menyerupai tengkorak, hanya tinggal tulang berbalut kulit.


"Nia, Papah lapar," ucap Luson, setelah badanya terasa segar.


Rania pun memberikan makan untuk Luson, ia sebelumnya sudah memberikan kabar pada suaminya yang saat ini sedang bekerja, dan berharap dengan bantuan Adam dia bisa membawa papahnya berobat ke rumah sakit.

__ADS_1


*******


Sementara itu di temapt lain Alzam kembali ke kamarnya dengan perasaan yang sedikit lega, biarpun dia masih merasakan rasa bersalah yang luar biasa telebih melihat tubuh Tantri yang semakin kurus dan kusam. Ia merasa sudah menelantarkan adiknya sendiri. Melupakan Janji-janjinya dulu pada Tantri.


Dalam otaknya berpikir bagaimana ia akan mencoba memperbaiki kesalahanya. Alzam benar-benar sibuk dengan Qari, sehingga melupakan adik kecilnya.


Di kamar Tantri gadis kecil itu pun ke luar kamar mandi setelah membersihkan badanya. Memang ia saat ini sudah sedikit merasakan bahagia ternyata abangnya masih memperdulikan dirinya. Tidak hanya kakak ipar dan anknya.


"Maaf Abang, kalau Tantri terlalu manja dan egois, Tantri janji akan menjadi gadis yang mandiri dan tidak egois dan manja lagi," gumam Tantri ketika ia melihat tautan dirinya di depan cermin. Setelah cukup puas memandang wajah dirinya yang cantik kini Tantri pun turun ke bawah sesuai dengan permintaan Alzam bahwa ia akan makan yang banyak.


Perutnya yang beberapa hari ini kosong bahkan makan pun hanya beberapa suap dan itu pun karena bi Sarni yang selalu memperingatkanya terus, sehingga Tantri mau tidak mau harus makan agar tidak sakit, itu kata-kata yang selalu diucapkan oleh bi Sarni.


Kini wajah Tantri pun terlihat lebih ceria dan sangat terlihat gembira, dan bersemangat sangat jauh dengan hari-hari biasanya.


"Neng Tantri, bibi senang lihat Neng bahagia lagi," ucap bi Sarni yang melihat wajah ceria majikan kecilnya.


"Iya bi ternyata Abang dan Kakak Qari tidak marah dengan Tantri." Tantri menjawab dengan suara yang terdengar sangat bahagia dan senyum tersungging di wajahnya dengan sempurna.


Bi Sarni pun ikut mengembangkan senyumnya, ikut merasakan bahagia dengan kabar bahagia ini.

__ADS_1


__ADS_2