
Setelah memastikan Qari dan Alzam serta adiknya masuk ke dalam rumahnya, dan Meta sudah pergi kembali melanjutkan buruanya mencari bakmie sesuai riquest sang nyonyah besar. Serta Jec dan Qila yang sudah naik taxi untuk ke rumah sakit. Deon pun berpindah duduknya dan melajukan kendaraan roda empatnya.
Perjalanan awal cukup lancar, tetapi karena jarak yang harus ditempuh Deon cukup jauh, lama kelamaan kepala Deon berdenyut dan jalanan serasa maju mundur. Laki-laki itu menepikan mobilnya, dan tanganya langsung mengambil benda pipih yang ada di dalam saku celananya.
[Jec apa urusan kamu suda selesai?] tanya Deon dengan tidak tahu diri, padahal Jec saja baru pergi beberapa menit yang lalu.
Mata Jec dipejamkan dengan sedikit keras. [Belum Tuan, bahkan wanita itu baru saja masuk IGD, ada apa Tuan?] tanya Jec, meskipun laki-laki itu sudah tahu, pasti bosnya tidak mau menyupir. Ini adalah kebiasaan Deon sangat tidak mau untuk menyupir kendaraanya dan selalu mengandalkan jasa orang lain, salah satunya Jec, Deon tidak mau yang menyupir mobilnya sembarangan, harus orang terpercaya dan pastinya menguasai kendaraan roda empat dan jalanan.
[Aku tidak bisa melanjutkan untuk menyupir, kepalaku pening, dan jalanan seperti berputar,] adu Deon dengan suara yang terdengar sangat berat.
'Hemzzz... sesuai dugaanku,' batin Jec dengan menggaruk-garuk kepalanya, matanya menatap Qila yang sedang dalam pengobatan, dan juga menatap layar telponya yang mana bosnya juga membutuhkan dirinya. Jec pun untuk sejenak berpikir.
[Tuan, Anda kirimkan alamat Anda ada di mana, biar nanti saya kirimkan Gatot (Gadis Berotot) untuk menjemput Anda,] ucap Jec, ia tidak tega meninggalkan Qila pulang dan mengurus apa-apa seorang diri, terlebih ketika mata Jec melihat beberapa kali Qila menghapus air matanya ketika dokter melakukan pertolongan pertama pada tangan yang terkilir, sangat terlihat sekali kalau itu sangat menyakitkan.
Deon di sebrang telpon pun cukup tercengang, ketika mendengar kata Gatot. {Kenapa meski Gatot sih Jec, dia itu orang paling bodoh yang pernah aku kenal, pilih yang lain tapi jangan Gatot,] tawar Deon dia untuk melihat saja sudah geli dengan melihat wanita yang penampilanya seperti pria. Bahkan Deon tidak percaya, bawa gadis yang dipanggil dan terkenal dengan nama Gatot adalah benar adanya cewek.
[Hanya Gatot yang bisa di percayaTuan, selama ini tidak ada yang bisa saya percaya untuk menyetir selain dia, terlebih untuk mengemudi di jalanan Jakarta yang sudah makin ramai, Gatot sudah teruji dengan aman. Kalau yang lain saya tidak yakin Tuan." Jec tetap mencoba memberikan pengertian pada Deon, kalau Gatot adalah orang sangat bisa diandalkan, selain dia bisa digunakan untuk menyupir, Gatot juga bisa digunakan sebagai bodyguard, sehingga kalau ada yang macam-macam dengan Deon, maka dia akan bertindak.
"Kalau begitu terserah kamu saja yang penting tuh Gatot cepat datang kesini, sampai telat satu detik saja gue pecat," ucap Deon meskipun mungkin yang diucapkanya hanya sebatas gertakan, Jec tahu kalau Deon itu tidak mungkin macam-macam pada bawahanya.
"Baik Tua, Gatot akan segera datang menemui Anda." Jec pun langsung menghubungi Gatot, nama pangilan Gadis Berotot.
__ADS_1
Setelah memastikan kalau urusan tuanya selesai, Jec pun kembali mengawasi gadis yang disebutnya bodoh itu. "Dia bilang nggak kenapa-kenapa, tapi ujungnya di gips juga,' dengus Jec setelah melihat tangan Qila yang dipasang gips dan di sangga dengan alat penyangga, Arm Sling.
Jec, mengayunkan kakinya mendekat ke Qila yang masih diobati kakinya terutama lututnya yang keduanya lecet.
Qila melirik dengan ekor matanya, laki-laki yang ada di sampingnya itu. Dalam pikiran Qila cuma satu, kalau tanganya digantung-gantung gini, dan ada alat yang menyangganya, gimana dia akan kerja. Yah, di dalam otak gadis itu hanya ada kerja dan kerja, hidupnya hanya satu tujuanya mengangkat derajat keluarganya itulah tujuanya merantau. Ingin gadis itu merubah nasib keluarganya, setidaknya setara dengan tetangganya, dan keluarganya tidak dihina lagi karena berada di bawah garis kemiskinan.
"Ini tidak harus dirawat kan Dok?" tanya Jec dengan santai. Kedua mata Qila langsung melebar sempurna. Dia saja baru mati-matian meyakinkan dokter dan perawat agar tidak di opname, meskipun hanya sehari, tetapi malah laki-laki yang berdiri di sampingnya dengan santai menanyakan hal itu.
Gigi-gigi Qila saling beradu, mungkin kalau laki-laki itu makanan sudah dikunyah dengan lahap, dan ditelanya dengan enak agar tidak bertanya macam-macam.
"Sebenarnya lebih baik dilakukan opname Tuan, takutnya ada infeksi atau masalah lainya agar segera ditangani, tetapi Nona ini tidak mau," jawab sang dokter, mengatakan hasil debatan barusan dengan gadis yang masih terbaring dengan menyedihkan.
"Kalau gitu opnam dia hingga benar-benar semuanya aman baru dipulangkan, Dok. Bilang sama gadis ini semua biaya aku yang tanggung," ucap Jec, pandangan matanya dengan santai menatap Qila yang dalam hatinya sedang mengumpat dirinya. Jec terkekeh melihat reaksi Qila, yang sangat jelas tidak setuju dengan keputusan Jec. Namun, dia juga tidak bisa berdebat dengan Jec karena masih banyak perawat dan juga dokter.
Setelah semuanya beres dan kini Qila dipindahkan kerawat inap dengan tangan dan kaki yang banyak perban putih.
"Kenapa keras kepala untuk aku di opnam sih, dan gara-gara aku ke rumah sakit, tangan aku sekarang jadi kaya gini. Coba kamu nurut saja biarkan aku pulang tadi pasti aku tidak akan seperti ini. Alat ini hanya membuat aku semakin susah untuk beraktifitas. Lagian tangan aku cuma kekilir, bukan patah," sergah Qila, ketika Jec laki-laki yang super sok berkuasa masuk keruanganya, dengan menenteng kantong, yang Qila bisa tebak kalau itu adalah obat-obatan.
"Ini obat-obatan untuk kamu minum dan ingat, jangan macam-macam kalau kamu ingin segera sembuh dan pulang," ancam Jec dengan meletakan bungkusan obat di atas nakas itu. Qila sendiri hanya diam saja, percuma dia protes, meraung dan menangis agar dipulangkan. Keputusan ia pulang atau tidaknya semuanya ditentukan oleh Jec, itu yang ia tahu dari perawat.
"Aku akan pergi ke kantor, tapi nanti aku sempatkan untuk datang menjenguk kamu, dan untuk semua kebutuhan kamu aku serahkan pada perawat. Kalau kamu ingin sesuatu bilanglah dengan perawat nanti kamu akan dibantu untuk melakukanya," ucap Jec dengan duduk di samping Qila, sementara Qila masih menunduk dengan tatapan yang samar, di kedua bola matanya sudah diselimuti selaput bening dan itu sudah saangat ingin tumpah. Bahkan di dalam dadanya sudah sangat sesak.
__ADS_1
"Kamu bicaralah biar aku tahu apa yang kamu rasakan, jangan sampai kamu ada di rumah sakit malah pulang-pulang jadi gila dan masuk rumah sakit jiwa, karena setres," dengus Jec, nada bicara yang dingin sudah sangat menggatakan bahwa dirinya sangat kesal dengan yang Qila lakukan.
"Aku nggak mau tinggal di rumah sakit ini, aku ingin pulang dan kerja. Kalau aku kelamaan di rumah sakit lalu gimana dengan kerjaan aku. Nanti aku dipecat," ungkap Qila, mungkin dengan dia mengungkapkan apa isi hatinya laki-laki yang saat ini sedang duduk di sampingnya tergerak hatinya dan membiarkan Qila pulang, meskipun hal itu sangat mustahil terjadi.
Jec membuang nafas kasar berkali-kali. "Apa di otak kamu hanya ada kerja-kerja dan uang?" tanya Jec. Bahkan baru kali ini dia menemui gadis sekeras kepala Qila.
"Kamu tidak tahu jadi tulang punggung keluarga. Itu sebabnya di otakku hanya ada kerja-kerja dan uang, karena hanya itu sumber harapan keluargaku. Ada cita-cita dan harapan yang aku pikul di pundak ini, tidak mungkin aku segila ini dengan kerjaan andai adik-adiku sudah besar dan bisa mencari uang sendiri, dua adikku masih sekolah dan kedua orang tuaku juga hanya orang biasa yang bekerja untuk kehidupan sehari-hari saja kadang tidak cukup. Lalu tidak mungkin aku anak tertua tega melihat kondisi mereka yang seperti itu," lirih Qila, bukan bermaksud meminta belas kasih untuk mengemis, tapi ini adalah alasannya yang gila kerja.
Namun Qila mengatakan seperti agar Jec tahu kalau dia itu tidak mungkin melakukan semua ini kalau bukan harapan yang dia pikul di pundaknya. Masa depan yang cerah untuk kedua hatinya, setidaknya tidak seperti dirinya dulu, yang hanya bisa bekerja sebagai asisten rumah tangga sudah berbangga hati, karena yang terpenting ia bisa menghasilkan pundi-pundi rupiah.
"Kalau gitu berapa gajih loe, biar gue yang ganti, jadi loe bisa istirahat dengan tenang sebulan atau tiga bulan," balas Jec dengan santai. Hal itu justru menjadi Qila semakin malas dengan Jec, dia sama saja seperti orang kaya pada umumnya yang semuanya diselesaikan dengan lembaran rupiah.
"Saya mengantuk Tuan, bisa Anda segera pergi," lirih Qila, mengusir laki-laki itu, dia sudah sangat malas menanggapi ocehan tidak bermutu yang Jec katakan.
"Kamu sebutkan berapa gajih kamu dan nomor rekening kamu biar aku transfer kerekening kamu setiap bulan." Jec menyodorkan ponselnya agar Qila menulisnyaa di memo.
Wanita itu melirik dengan ekor matanya. "Tuan, tolong tinggalkan saya sendiri saya bisa benar-benar gila. Dan soal gajih dan pekerjaan saya, lupakanlah.Saya hanya ingin hidup tenang," lirih Qila dengan tatapan yang sangat mengiba dan memohon.
Jec pun tanpa berucap sekali lagi langsung meninggalkan Qila seorang diri. "Gadis yang aneh, gimana kalau dia nanti gila benaran dan itu semua karena dia tidak bisa bekerja," kekeh Jec, bibirnya tersenyum dengar samar mengejek ucapan Qila tadi.
Sementara Qila menatap pungguk Jec yang sudah hilang ditelan daun pintu. "Dasar laki-laki sangat menyebalkan. Sok kaya, dan bisa-bisa aku setres kalau dia datang lagi nanti," dengus Qila, pandanganya sinis, dan menyebalkan.
__ADS_1