
Pria tampan bertubuh atletis itu terlihat sibuk dengan ponselnya sembari berjalan kesana - kemari di dalam kamarnya. Dia sedang berbicara denga Irfan - asisten kantornya.
“Hallo, Fan. Aku minta Kamu bisa meng_handle pekerjaan kita disini. Aku masih harus menyelesaikan masalahku sekarang,” titah Aaric pada Irfan.
“Oh, baik Pak,” jawab Irfan.
Setelah selesai dengan Irfan, Aaric kembali mencoba menelepon Max dan membuat janji bertemu dengannya beberapa menit ke depan.
Akhirnya mereka bertemu di sebuah tempat yang telah mereka sepakati di salah satu cafe yang sedikit privasi, tidak banyak orang yang lalu lalang disana.
“Max, Aku sangat berharap padamu untuk mencari tahu siapa pria itu,” mohon Aaric.
“Yes! And I got it. Nama sebenarnya adalah Darrel Steven biasa dipanggil Steve. Anak tunggal salah seorang crazy rich. Dan foto – foto itu adalah sebuah jebakan. Saya dan Reisya terperangkap dalam jebakannya.”
“Maksud Kamu, Reisya tidak mengenal laki – laki itu?” tanya Aaric. Max mengangguk.
“Benar! Steve mengaku sebagai Martin orang yang saya suruh untuk menggantikan tugas saya. Dan pada saat yang sama sebelumnya Dia mengaku teman baik Reisya, untuk menyampaikan pesan ke pada saya jika Reisya sedang ada tugas tambahn.”
“Dan Kamu megikutinya, begitu? sambar Aaric yang sudah tidak sabar mendengar penjelasan Max.
“Stevel memberi saya sebuah alamat agar saya bisa menjemput Rei disana,” terang Max.
“Why don’t you called her?”
“Her phone is not active,” sahut Max.
“Setelah itu saya tidak tahu lagi mencari Reisya kemana, setelah tempat – tempat yang biasa dikunjungi Reisya saya datangi, tapi saya tidak menemukannya juga,” imbuh Max menjelaskan.
“Oh Rei! Kalau begitu aku sudah menuduh kamu yang bukan – bukan,” sesal Aaric.
“Selama ini, apa Kamu pernah melihat Rei bersama dengan laki – laki lain? Ya.. seperti dating begitu,” selidik Aaric lebih jauh.
Max tersenyum lalu berkata,” No! Reisya tidak pernah dating dengan siapapun. Bahkan untuk jalan beriringan juga tidak. Dia selalu pergi berjalan seorang diri. Karena dia adalah tipe orang yang sangat setia menjaga cintanya.”
“Dari mana Kamu tahu?” tanya Aaric kembali.
“Dia pernah bercerita, bahwa Tuan adalah cinta pertamanya dan berharap akan menjadi yang terakhir. Orang pertama yang akan menyentuhnya, bahkan menjadi ayah dari anak – anaknya kelak,” papar Max.
“Ya Allah! Ternyata dia begitu sempurna. Tapi kenapa justru Aku yang menyakitinya. Kenapa Aku tidak mau mendengarkan penjelasan darinya. Dan bodohnya Aku membawa Melinda dan melakukan... Rei! I’m so sorry,” sesal Aaric yang luar biasa pada dirinya sendiri.
***
__ADS_1
Pada hari berikutnya Aaric berusaha mendatangi rumah Reisya dan berharap bisa berbaikan lagi dengannya.
Berharap Reisya memberinya kesempatan untuk memperbaiki segala salah dan silapnya, atas tudahan dan makian yang sempat terlontar dari mulutnya.
Tok.. Tok.. Tok..!
“Rei! Reisya! Tolong buka pintunya, Aku ingin bicara sama Kamu Rei!” teriak Aaric dari balik pintu.
Reisya perlahan berjalan dan dengan rasa kesal, marah, benci, namun dia masih mau membuka pintunya.
“Rei!.. Aku..”
“Mau Apa lagi Kamu kesini, Mas? Apa Kamu tidak malu bertamu ke rumah PEREMPUAN MURAHAN seperti Aku??” sindir Reisya dengan tatapan penuh kebencian.
Aaric sudah tidak memperdulikan apapun yang akan diucapkan Reisya kepadanya. Apapun sumpah serapah yang akan diucapkan Reisya, Aaric akan menerimanya.
“Rei! Aku mohon, maafkan Aku. Aku tahu Aku bersalah, tapi..,”
“Sudahlah Mas, Aku tidak ingin melihat kamu lagi. Aku sudah menghapus namamu dari hatiku. Jadi sekarang pergilah, Dan jangan pernah ganggu Aku lagi!”
Reisya langsung menutup pintu rumahnya dan menguncinya rapat – rapat. Meski hatinya terasa begitu sakit, namun dia merasa harus melakukan itu agar hatinya tidak bertambah sakit.
“Rei! Aku mohon. Beri Aku kesempatan sekali saja untuk memperbaiki kesalahanku padamu. Aku tahu Aku sudah menyakiti Kamu. Tapi sungguh itu semua di luar kemauan Aku, Rei!”
Namun Reisya masih tak menjawabnya, kedua manik matanya sudah dipenuhi oleh air mata yang siap melaju kencang. Hatinya terenyuh saat kata – kata Aaric kembali terngiang di telinganya.
“Sekarang kamu datang Mas. Dan dengan mudahnya kamu meminta maaf setelah apa yang telah kamu lakukan padaku, jahat kamu Mas, sungguh kamu orang yang sangat egois,” ucap Reisya dalam hatinya.
Perlahan ia berjalan melihat keluar dari balik kain jendela. Ia masih mendapati Aaric yang masih berdiri di pintu mobilnya. Dia masih sangat berharap Reisya akan memberinya kesempatan untuk memperbaiki segala kesilapannya.
Tak lama ponsel Aaric berdering, diambilnya benda kecil pipih itu dari dalam saku celanaya. Aaric langsung menjawab panggilan masuk dari asistennya yang sengaja ia bawa untuk membantunya menyelesaikan pekerjaannya di sini.
“Irfan, Kamu yang handle semuanya, jika ada kesulitan segera kabari aku!” titah Aaric pada bawahannya.
“Oke siap boss!” sahut Irfan dari balik telepon.
Karena sepertinya tidak ada tanda – tanda kebaikan dari Reisya maka Aaric segera pergi melajukan mobilnya ke suatu tempat.
Aaric berpikir bahwa masalahnya dengan Reisya harus segera berakhir dan hubungannya kembali seperti semula. Maka ia pun melakukan segala sesuatunya seorang diri demi hubungannya.
Sementara setelah kejadian malam itu Steve terus menghilang tanpa kabar apapun, Dona semakin prustasi. Namun Melindaa masih berusaha membantu menghibur Dona.
__ADS_1
Saat ini keduaya sedang makan pada salahsatu rumah makan kesukaan mereka. Dan tanpa mereka sadari ternyata Aaric juga berada ditempat yang sama dengan mereka bahkan jarak duduk mereka pun berdekatan.
“Dona! Sudahlah, jangan terlalu lama bersedih. Bukankah loe yang bilang ke gue, ini bukan Indonesia! So kita bebas ngelakuin apa saja yang kita mau,” tegasMelinda yang duduk bersebrangan dengan Aaric namun saling membelakangi.
Karena ada nama Indonesia di sebut – sebut, Aaric semakin menajamkan pendengarannya.
“Hei! Come on girl. Loe bisa dapetin yang lebih ganteng, lebih kaya dan lebih macho dari si Steve psyco itu,” tandas Melinda menyemangati Dona yang masih bersedih.
“Loe mudah bicara seperti itu, Mel. Loe nggak ngerasain apa yang gue rasain. Gue udah kasih semua – semuanya sama dia, termasuk virgin gue! Tapi sekarang.. semua nomor teleponnya tidak ada yang bisa di hubungi, bahkan batang hidung atau bayangannya sekalipun tidak dapat di jumpai,” sesal Dona.
“Ya gue ngerti gimana perasaan loe. Tapi kita juga harus puas dengan hasil kerja Steve. Dia telah berhasil membalaskan dendam kita pada Reisya. Sekarang Kak Aaric sudah kembali ke pelukan gue,” ungkap Melinda dengan bangganya.
“Maksud loe?” tanya Dona antusias.
“Ya, semalam Kak Aaric dan gue ke rumah Reisya, loe tahu apa yang dia lakuin ke doi?”
“Apa?”
“Dia memaki perempuan kampung itu lalu ******* bibir gue di depannya,” cicit Melinda kegirangan.
“Sumpah loe?!”
Sambil mengangguk dia menjawab, “Sumpah! Dan loe pasti bisa bayangin gimana ekspresi wajah perempuan kampung itu, kan? Dia pun menangis sejadi – jadinya, hahaha,”
Dona juga ikut merasakan kebahagiaanMelinda karena akhirnya dendamnya dapat terbalaskan.
“Ternyata bagus juga hasil kerja Steve. Pasti sekarang perempuan kampung itu berpikir bahwa Steve sudah merenggut keperawanannya, hahaa..”
Mereka kembali tertawa terkekeh. Sementara Aaric semakin berasap mendengar cerita mereka berdua sambil mengepalkan kedua tangannya.
“Jadi kalian berdua biang dari semua masalah ini? Baiklah, aku akan memberi pelajaran sama kalian berdua!” batin Aaric dengan mata yang melotot dan rahang pipi yang mengeras.
Aaric langsung berdiri dan menghampiri keduanya yang masih tertawa karena kebodohan Reisya.
Tiba – tiba mereka diam tak bergeming ketika Aaric sudah berdiri tegap di hadapan mereka.
“K- kak.. k-kak sudah dari tadi di sini?” tanya Melinda dengan wajah yang memerah dan ketakutan.
“Hebat ternyata permainan kalian ya..? Sekarang ceritakan padaku yang sebenarnya terjadi jika tidak aku akan melaporkan kalian, karena ini adalah salah satu bentuk kejahatan,” desak Aaric dengan tegas pada Melinda.
Keduanya saling berpandangan, karena takut.
__ADS_1