
"Al, kamu tahu kan kalau aku adalah dokter, aku tidak akan mengurusi urusan pribadi kamu, apabila itu bukan menyangkut dengan kesehatan kamu. Aku wajib melindungi kamu. Dan tujuan aku bertanya tentang Deon bukan untuk konsumsi publik atau pribadi aku sendiri, tetapi untuk keselamatan kamu," ucap Doni, untuk meyakinkan Alzam, yang laki-laki itu tahu kalau Alzam itu sedang tidak baik-baik saja dalam pikirannya, sudah bisa dipastikan Deon memang ada hubungannya dengan masalah pribadinya.
Alzam masih mematung, yang ada di dalam pikirannya satu, aib istrinya. Bagaimana kalau rahasia ini menyebar, sedangkan yang meminta untuk merahasiakan kehamilan Qari adalah dirinya sendiri. Lalu malah ia yang justru menceritakan aib Qari.
Alzam mengangkat wajahnya. "Apa dokter bisa memegang rahasia apapun yang aku katakan," lirih Alzam untuk memastikan bahwa Doni bisa di percaya. Sebenarnya dalam hati Alzam percaya dengan Doni, tetapi untuk menyaksikannya lagi Alzam pun butuh pernyataan yang lebih menguatkan dirinya.
"Apakah dengan aku bersumpah kamu akan percaya dengan apa yang dikatakan oleh aku. Bahkan aku dokter sebelumnya sudah di sumpah, kalau itu perlu aku akan bersumpah untuk tidak membuka apa yang menjadi rahasia kamu," balas Doni dengan meyakinkan Alzam.
"Sebenarnya aku sendiri secara pribadi tidak mengenal Deon. Justru aku sendiri sangat penasaran dengan laki-laki itu," lirih Alzam. Pernyataannya itu membuat Doni kaget.
"Tapi Deon kenal sama kamu Al, dan sepertinya malah dia sangat kenal dengan kamu. Apa kamu yakin tidak mengenal laki-laki itu, atau mengenal Jec mungkin?" cecar Doni, sangat tidak percaya dengan apa yang dikatakan Alzam. Sementara fakta berkata sebaliknya.
Alzam menggeleng. "Aku tahu nama Deon karena istri aku yang tanpa sengaja menyebut namanya, karena dia mengalami trauma dengan laki-laki itu." Alzam mengingat ketika malam dirinya pertama kali akan berhubungan dengan Qari di mana dia menyebut nama Deon, dan teryata setelah di desak, Deon adalah nama laki-laki yang telah menghamili dirinya.
"Istri? Kamu sudah punya istri Al?" tanya Doni semakin bingung dengan Alzam, dia tidak pernah tahu kalau Alzam sudah menikah, dan memang pernikahan Alzam cukup tertutup.
"Sudah, dan...." Alzam menunduk menghentikan kata-katanya tangannya saling membelit membuang kegugupannya.
"Deon adalah laki-laki yang menjebak Qari, wanita yang aku nikahi karena telah hamil anak laki-laki itu. Hanya itu yang aku tahu, selebihnya aku tidak tahu dengan banyak, karena ini masalah istriku. Dan aku tidak ingin membebani istriku dengan masa lalunya." Alzam bahkan tidak berani untuk mengangkat wajahnya, dan menatap Doni.
__ADS_1
Doni pun cukup terkejut dengan ucapan Alzam, dia semakin tidak mengerti apa maksud dari rencana Deon yang pingin menyingkirkan Alzam, sedangkan Alzam bukanya sudah baik menikahi wanita yang jadi korbannya. Laki-laki itu menjambak rambut di kepalanya yang justru semakin pening dengan urusan Doni ini.
"Baiklah Al. Aku sudah sedikit mengerti siapa Deon dan hubungannya dengan kamu, meskipun aku sangat penasaran dengan perjalanan Deon dan istri kamu itu, tetapi aku rasa aku tidak seharusnya tahu lebih detail. Yang jelas aku sudah sedikit mengerti garis besarnya, biarkan nanti aku akan cari tahu sendiri dengan lebih jelas laki-laki itu." Yah, tujuan Doni hanya ingin tahu hubungan Deon dan Alzam, dan saat ini setidaknya Doni sudah tahu garis besarnya.
Kalau Deon saja bisa menekan orang lain maka Doni juga akan melakukan hal yang sama. Seperti itu kira-kira rencana Doni bertanya tentang Deon.
"Baik Dok, saya harap Anda tidak menceritakan masalah ini dengan siapapun. Karena kau tidak ingin aib istriku diketahui oleh siapa pun," lirih Alzam sekali lagi memperingatkan Doni.
"Kamu tenang saja Al, aku tidak akan mengkhianati kata-kata aku sendiri," balas doni. 'Kamu memang orang baik Al, mau menutup aib wanita lain padahal jelas-jelas itu bukan hasil perbuatanmu,' batin Doni menatap Alzam yang masih berada di hadapannya. Doni salut dengan Alzam yang sangat tulus menerima istrinya dengan mau menutup rapat aibnya.
"Kalau tidak ada yang ingin di balas lagi, saya pamit Dok, masih harus bekerja," ucap Alzam dengan beranjak berdiri.
'Mudah-mudahan saja dokter Doni memang bisa dipercaya,' bati Alzam, ia kembali melangkah mencari pesanan sang istri. Sedangkan Qari sendiri dari tadi sudah tidak sabar menunggu sang suami pulang dengan membawa pesanannya.
Setelah menyusuri jalanan dan tukang dagang akhirnya semua permintaan Qari pun sudah di tangan. Itu tandanya Alzam tinggal pulang kembali ke kantornya.
Baru juga ia masuk kedalam mobilnya setelah berpanas-panasan mencari jajanan ala permintaan sang istri. Ponselnya sudah berbunyi dengan nyaring.
Bibir Alzam melengkung dengan sempurna. [Sayang kamu di mana saja kok lama sekali,] lirih Qari dengan suara manjanya, yang sangat menggemaskan itu.
__ADS_1
Tangan Alzam yang sedang memegang pesanan Qari itu pun langsung diangkat dan di tunjukan pada layar kameranya.
[Aduh aku nggak sabar ingin makan itu semua," rengek Qari, dan Alzam semakin terkekeh.
[Tunggu yah, aku akan segera sampai di kantor,] ucap Alzam sebelum memutuskan sambungan teleponnya. Alzam kembali menginjak pedal gasnya dengan dalam, laki-laki itu sudah yakin Qari tidak akan marah setelah ia tahu kalau makanannya sudah di tangan. Setidaknya Alzam sudah menyiapkan alasan untuk dirinya yang mungkin saja Qari akan mencecarnya karena lama untuk mencari makanan itu.
******
Sedangkan Doni sendiri setelah Alzam pulang ia kembali mencari informasi mengenai Deon. Mata laki-laki itu terus mengawasi layar pintarnya mencari tahu semua yang berhubungan dengan laki-laki itu yang dianggapnya sangat mengerikan. Bagi Doni sendiri mencari tahu siapa Deon tidak terlalu sulit, itu semua karena ia masih memiliki hubungan dengan laki-laki itu.
Cukup mencari dari orang-orang yang dikenal nya di masa lalu maka semuanya beres.
Satu, dua informasi Doni catat hingga tidak terasa Doni sudah mengumpulkan banyak mengenai informasi dengan Deon. Sebenarnya ini tidak ada hubungannya dengan Doni, tetapi laki-laki itu tergerak hatinya untuk ikut campur dengan masalah Alzam, dan juga mungkin Doni juga bisa menyadarkan Deon, laki-laki yang sangat berambisi. Semua yang ia inginkan harus tercapai, meskipun harus menyingkirkan orang lain.
Gila? Mungkin laki-laki itu memang sudah gila dengan kehidupannya rumit yang membelitnya.
"Padahal aku sudah berjanji dengan Bunda tidak akan terlibat lagi dengan keluarga Irawan, tapi rasanya aku terlalu kejam apabila mendiamkan masalah ini. Alzam dia tidak tahu menahu tentang kamu, tapi kamu mau buat dia celaka." Doni melemparkan kepalanya kebelakang sandaran kursi kerjanya.
Kepalanya pening memikirkan Deon. Doni juga sedang meminta bantuan temanya untuk mencari tahu apa yang terjadi diantara istri Alzam, wanita yang bernama Qari dengan Deon sendiri. Mungkin setelah tahu permasalahan detailnya Deon bisa menilai siapakah yang salah sesungguhnya.
__ADS_1
Meskipun Doni sudan menduga bahwa yang salah adalah Deon. Bisa disimpulkan dari ucapan Alzam kalau dia tidak ada hubungannya dengan Deon selain menyelamatkan nama baik istrinya.