Cinta Berselimut Dendam

Cinta Berselimut Dendam
Cinta Berselimut Dendam #Episode 210


__ADS_3

Cucu langsung lemas ketika mendengar penjelasan dari Jec. "Deon, masih kritis, dia mengalami hipotermia yang cukup parah dan kekurangan cairan serta tubuh yang lemah jadi butuh waktu untuk masa pemulihanya," ucap Jec sedikit bisa berbicara dengar normal setelah Cucu menepuk pundaknya.


"Jec, apa semua yang terjadi pada Deon itu gara-gara aku? Apa nanti kalau Deon mati aku akan di cap sebagai seorang pembunuh?" tanya Cucu setengah terbata. Bahkan Cucu sendiri tidak tahu dia harus berbuat apa, kalau memang pikiran buruknya benar-benar terjadi.


"Hust kamu ngomong apa sih Cu. Kamu jangan berpikir macam-macam Bos Deon pasti akan sembuh dia hanya butuh istirahat sampai semuanya pulih, dan akan kembali baik-baik saja," balas Jec mengingatkan Cucu kembali.


Ada secercah bahagia di wajah Cucu ketika mendengar ucapan Jec. "Kamu nggak lagi bikin aku senengkan Jec. Ini memang Deon akan baik-baik saja kan?" tanya Cucu yang terlihat cemas itu.


"Kamu lihat saja di ruang VIP nanti Tuan Deon pasti bakal bangun, lagian kayaknya kamu sudah jatuh cinta yah sama Tuan Deon, cemas banget perasaan," kelakar Jec dengan bibir tersenyum melihat kepanikan Cucu. Jangan panggil Jec kalau dia juga tidak jahil sama kayak Cucu.


"Apaan sih Jec aku murni kasihan sama bos kamu yah, apalagi dia tidak ada siapa-siapa kalau dia tidak tertolong pasti aku merasa bersalah banget, kamu pasti tahu Jec," ucap Cucu dengan mendengus sempurna serta menatap Jec dengan jengah.


"Iya-iya aku tahu kok Cu, aku hanya bercanda saja yakin bercanda kok." Jec kembali menatap Cucu denganĀ  tawa ditahan karena agar Cucu tidak marah.


Sedangkan Cucu yang tahu kalau Jec sedang meledeknya habis-habisan pun kesal dan meninggalkan laki-laki itu untuk menemui Deon. Hatinya bergemuruh tidak menentu ketika akan bertemu dengan sang suami. Hingga di depan pintu berwarna putih yang di dalamnya ada sang suami yang Jec katakan kondisinya sedang kritis. Cucu pun memegang dadanya yang jantungnya seolah tengah mengejeknya.


Bahkan Cucu kurang begitu mengerti dengan apa yang terjadi dengan dirinya mengingat dia masih mengingat kejadian Deon yang membuat dia meriang dan sakit bagian pangkal pahanya, tetapi hatinya terus berdesir seolah wanita itu memendam kerinduan yang begitu dalam. Setelah menghirup nafasnya beberapa kali Cucu pun sedikit tenang dan dengan tangan yang sedikit bergetar Cucu pun membuka pintu berwarna putih itu.

__ADS_1


Pandangan mata Cucu langsung tertuju pada Deon yang terbaring lemah di atas bed pasien dengan beberapa alat bedis di tangan mulut dan juga dadanya. Hingga tanpa terasa kedua kelopak mata Cucu memanas ada rasa yang tidak pernah dia mengerti. Air mata pun jatuh perlahan.


Dengan kaki yang berat dan juga tubuh yang terasa lemas Cucu pun berjalan ke smping ranjang Deon. Wajah yang pucat sampai-sampai Cucu memastikan beberapa kali kalau yang ada di hadapanya memang Deon, sang suami. Cucu takut kalau dia salah masuk ruangan.


Namun Cucu yakin badan dan potongan rambut serta bulu-bulu halus di wajahnya adalah suaminya. Sehingga Cucu pun yakin bahwa laki-laki yang berwajah pucat itu memang Deon bukan laki-laki lain.


Tangan Cucu meraih tangan Deon yang tampak pucat juga. "Apa yang sebenarnya terjadi dengan kamu, wahai suamiku. Apa kamu marah denganku dan meghukum dirimu seperti ini? Apa kamu tahu kalau aku marah, kesal dan ingin marah melihat kamu tidak berdaya seperti ini?" tanya Cucu, dengan tangan mengusap-usap telapak tangan sang suami dengan harapan kalau laki-laki yang kemarin di benci saat ini sadar.


Namun, nampaknya usaha Cucu sia-sia. Deon tidak juga merespon usappan tanganya. Cucu pun terus menunggu Deon hingga sadar dan memastika kalau laki-laki yang ingin dia lupakan baik-baik saja. Cucu tidak mau di cap sebagai penjahat. Apalagi ini dengan suami sendiri.


**********


"Sam kamu ngapain ke sini?" tanya Qila ketika dia baru saja sampai di kantor tempatnya bekerja. Sementara Sam sudah ada menunggu di depan kantor dengan memakai topi dan juga masker. Yah, rupanya Sam masih takut dengan ancaman Meta. Dia masih ingat betul ucapan Meta, kalau dirinya berani ganggu Qila dia bakal di sunat lagi.


"Aku hanya mastiin kamu baik-baik saja. Kenapa sih kamu tidak tinggalkan laki-laki itu saja, bukanya kamu dan dia juga tidak saling mencintai, yang tersiksa kamu juga Qila kalau tetap bertahan. Kamu nanti malah rugi kalau laki-laki berbuat kurang ajar sama kamu sedangkan dia saja tidak perduli dengan kamu," cerocos Sam dengan menahan Qila agar tidak masuk dulu. Lagian Qila datang juga masih terlalu pagi. Sedangkan untuk masuk ke kantor itu masih satu jam lagi.


"Kalau kamu datang untuk memastikan aku baik-baik saja atau tidak? Jawabannya aku baik-baik saja Sam, dan kamu tahu dari mana kalau aku tersiksa. Aku dan Jec memang belum saling mencintai karena pertemuan kami yang singkat.Tapi bukan tidak mungkin aku dan Jec suatu saat nanti akan saling jatuh cinta dan saling melengkapi. Apalagi Jec itu orang yang baik, tidak ada alasan aku untuk meninggalkan Jec sedangkan dia itu sangat menghargai aku sebagai wanita," jawab Qila cukup tegas, berharap Sam tidak mengganggunya lagi.

__ADS_1


Qila malah merasa semakin risih ketika Sam dengan terang-terangan menemuinya. Sedangkan Qila sebenarnya dalam hatinya sedang belajar untuk menerima Jec. Apalagi Jec itu baik, Qila bisa lihat dari cara di memperlakukan Cucu. Qila juga tidak cemburu ketika Jec lebih mementingkan Cucu karena memang Qila juga tahu kalau Cucu sudah menikah dengan bosnya Jec.


Wajah Sam pun nampak terlihat berubah. Ketika mendengar ucapan Qila. "Aku datang jauh-jauh dari Singapur, dan menerima kerja di Jakarta yang jujur dari gajih saja jauh di bawah gajih akau di Singapur. Semata aku hanya ingin memperbaiki hubungan kita Qila. Selama satu tahun lebih aku di rundung dengan penyesalan yang tidak ada hentinya. Aku menyesal semua perbuatan aku tempo dulu, dan aku ingin menembusnya dan menjadikan kamu orang paling bahagia di dunia ini," ucap Sam dengan wajah mengiba dan tentu berharap kalau Qila bisa mempertimbangkan keputusanya sekali lagi.


Qila pun menatap jam di pegelangan tanganya. "Maaf Sam, aku harus masuk ke dalam kantor. Sudah cukup lama aku meninggalkan pekerjaan aku jadi aku harus kembali bekerja lebih awal untuk mengganti waktuku yang terlalu lama libur," ucap Qila, mencoba menghindar karena kalau dilayani juga tidak akan ada ujungnya.


Tanpa menunggu jawaban dari Sam wanita yang sudah menyandang setatus istri itu pun pergi. Sedangkan Sam terus menatap punggung Qila.


...****************...


#Sembari Nunggu kelanjutan Qila mampir yuk ke novel Othor yang baru.



Rahasia Kebaikan Ibu Mertua


Pembantu Spesial Om Duda (Religi Romantis)

__ADS_1



__ADS_2