
Dengan langkah kaki setengah di sentak, Cucu langsung meninggalkan kamar Deon, ia sudah yakin lebih baik mengundurkan diri saat ini juga, wanita mana yang mau dicap sebagai wanita murahan? Terlebih Deon itu laki-laki yang cukup sulit untuk dimengerti, gimana kalau nanti dia akan melakukan hal yang aneh-aneh. Uang lima juta bisa dicari dari pekerjaan yang lain, keselamatan lebih penting. Itu prinsip Cucu.
Kekesalan Cucu semakin meningkat, ketika ia justru melihat Jec sedang bermain ponselnya dengan santai
"Jec, aku mau mengundurkan diri dari pekerjaan ini. Pekerjaan ini tidak cocok dengan aku." Cucu langsung berbicara dengan tegas, dan berkacak pinggang, sontak saja Jec cukup terkejut dengan apa yang diucapkan oleh Cucu. Buru-buru Jec meletakan ponselnya ke dalam sakunya kembali.
"Duduk dulu Cu! Alasanya kamu mau berenti kerja apa? Tidak mungkin kan asal berhenti saja." Jec menatap Cucu dengan serius terlebih wajah Cucu cukup merah dan Jec bisa mengartikan bawa Deon memang berbuat sesuatu agar Cucu tidak betah menjadi asistennya.
Wanita itu pun menceritakan apa yang membuat dirinya memilih berhenti dari pekerjaan ini, yang mana gajihnya cukup lumayan membuat hutang-hutangnya segera lunas, tetapi Deon tidak bisa diajak bekerja sama.
Jec sendiri cukup kecewa dengan sikap Deon. "Kamu tolong tetap di sini, dan aku akan bicara dengan Bos secara baik-baik dan setidaknya dia bisa menghargai kamu." Baru beberapa langkah, tetapi Cucu buru-buru menahanya.
"Tidak perlu Jec, karena aku pun tidak mau sebenarnya untuk menerima pekerjaan ini. Jatuhnya saya terpaksa dan tidak nyaman." Cucu tentu berharap agar Jec bisa mengerti apa yang Cucu rasakan.
Jec memang kembali lagi ke tempat duduk tadi ia bersantai, dan memberikan tatapan yang memohon. "Cucu, aku tidak serta merta memilih kamu menjadi asisten pribadi Tuan Deon, memang ada harapan kalau Tuan Deon itu bisa menyesuaikan dengan kamu. Itu karena aku akan mengundurkan diri dari pekerjaan ini. Buka karena tidak betah atau apalah, tetapi karena aku ada usaha yang semakin butuh pengawasan dari aku."
Sengaja memang Jec berbicara seperti itu agar Cucu mau mempertimbangkan keputusanya.
"Kenapa meski aku Jec, diluaran sana masih banyak yang mau dan pastinya cocok mendapatkan pekerjaan ini. Bukan aku Jec. Aku tidak suka dengan laki-laki yang mesum." Sama halnya dengan Jec, Cucu pun bersikeras agar Jec mau membebaskanya dari pekerjaan ini.
Namun ternyata apa yang Cucu harapkan tidak semudah itu. Jec tetap menahanya, dan tidak mengizinkan Cucu untuk keluar dari pekerjaan ini.
"Karena kamu orang baik, dan aku akan terus berusaha agar kamu tetap nyaman kerja di sini dan tentunya aman. Kamu tunggu di sini aku akan berbicara dengan Tuan Deon." Tanpa menunggu persetujuan dari Cucu, Jec langsung berlalu meninggalkannya.
__ADS_1
Jec langsung masuk ke dalam kamar bosnya di mana di dalam sana Deon baru selesai mandi. Deon yang tahu bahwa Jec akan protes atas perlakuanya pada Cucu pun hanya menatapnya dengan jengah.
"Apa lagi yang akan kamu katakan? Protes kalau apa yang aku lakukan itu keterlaluan?" Deon langsung mencecar Jec dengan pertanyaan yang seharusnya Jec lontarkan untuk memakinya.
"Dan memang yang dilakukan Anda itu keterlaluan," beber Jec dengan menatap Deon dengan sengit. Entah hari ini Jec merasa Deon itu sangat menyebalkan.
"Ok, aku menyebalkan. Apa kamu dan wanita itu tidak menyebalkan. Aku tidak suka ada yang mengganggu kehidupanku." Deon terus menolak Cucu untuk menjadi asistenya.
"Jadi sekarang mau Anda apa? Cucu tidak jadi aisten Anda? Kalau gitu saya juga akan berhenti jadi sekretaris dan asisten Anda saat ini juga." Jec dengan serius pun langsung meninggalkan Deon.
"Baiklah, aku ngaku kalah, dan antarkan wanita itu ke sini, aku akan menghormatinya seperti ibuku." Deon pun mengalah. Dia akui tidak bisa hidup tanpa Jec, dan mungkin memang Cucu tidak seperti yang dia bayangkan. Mau atau tidak dia akan tetap menerima wanita itu sebagai asisten pribadinya, itu semua demi Jec agar tidak berhenti kerja.
Senyum tersungging dari bibir Jec. "Yah, seharusnya aku melakukanya sejak lama," batin Jec sembari meninggalkan kamar Deon. Cucu pun nampak cemas ketika Jec turun kembali, padahal baru beberpa menit dia masuk ke dalam kamar Deon.
#Kembali ini mah...
"Kamu masuklah, sudah di tunggu oleh Tuan Deon," seru Deon dengan suara lirihnya. Cucu justru tersentak kaget. Harapanya ia akan bisa berhenti kerja, tetapi malah sebaliknya.
"Jec, apa ini artinya aku sudah tidak bisa mencanbut ucapaku untuk tidak kerja dengan kalian?" tanya Cucu dengan tatapan yang memohon.
"Yah, anggap saja seperti itu, kalau sudah berkata ia artinya perjanjian seumur hidup." Jec yang tidak mau berdebat pun kembali duduk dengan menyeruput kopinya yang sudah dingin.
Cucu pun tanpa sadar meneteskan air matanya. Dia salah berurusan dengan orang, ia pikir Jec adalah laki-laki yang baik, tetapi pada kenyataanya baik Jec maupun Deon bukanlah orang yang baik. Sama-sama jahat, dan sama-sama suka menekan.
__ADS_1
"Kalau aku tetap tidak mau bekerja di tempat ini, apa konsekuensinya?" tanya Cucu, ia sudah siap kalau harus menerima hukumannya apabila ia kabur dari rumah rasa neraka ini.
"Hutang-hutang kamu akan makin naik, dan nenek kamu akan tahu, dan mereka bisa-bisa kehilangan tempat tinggalnya. Bukanya harta satu-satunya yang kalian miliki itu adalah rumah yang saat ini sedang di tempati oleh nenek kamu," jawab Jec tanpa melihat Cucu.
"Jahat kalian. Aku doakan kalian mendapatkan karmanya. Aku berdoa agar apa yang aku rasakan, kalian rasakan juga." Dengan menghentakan kakinya, Cucu pun kembali ke dalam kamar Deon. Entah apa yang akan terjadi di dalam sana Cucu sudah pasrah.
'Maafkan aku Cu, aku hanya ingin kamu tetap bekerja dengan aku, tanpa melakukan protes apapun,' batin Jec, ekor matanya tetap menatap Cucu hingga hilang ditelan kamar Deon. Jec yakin Deon itu tidak akan macam-macam itu sebabnya Jec tetap mempertahankan Cucu.
Brakkkk... Cucu menutup pintu cukup kencang, emosinya sedang menjadi, dan di tambah pemandangan yang kurang mengenakan. Deon dengan santainya duduk di atas ranjang dengan sehelai handuk yang masih melilitnya seolah ia sedang menunggu mangsanya.
"Cepat ambilkan aku baju, aku sudah kedinginan," ucap Deon dengan menatap Cucu dengan tajam. Lagi Cucu berdecak dengan keras.
"Buruan, jangan banyak protes." Deon yang tahu kalau Cucu akan protes pun langsung membungkamnya.
Dengan menghentakan kakinya Cucu meninggalkan Deon dan mencarikan pakaian santai sesuai yang Jec katakan.
"Umur Anda berapa Tuan Muda? Kenapa hanya mengambil pakaian saja tidak bisa. Apa aku harus memakaianya pada Anda dan saat ini saya sedang menjadi babysitter untuk Anda?" oceh Cucu sembari meletakan pakaian yang baru diambilnya di atas kasur. Dengan sengaja Cucu meletakanya sedikit jauh dari Deon duduk agar laki-laki itu bergerak tidak seperti Tuan Muda yang apa-apa harus dilayani.
"Oh, sepertinya ide kamu bagus, Nona. Ambil pakaian itu dan pakaikan pada saya." Deon justru menantang Cucu, dan Cucu yang sudah terlanjut basah pun mending mandi sekalian. Ingin tahu juga gimana reaksi Deon kalau dia menerima tantanganya.
"Cucu mengambil pakaian Deon dan mengambil pakaian dalamnya. Lalu merentangkanya agar dan berjongkok dehadapanya. (Seperti seorang ibu memakaikan pakaian pada anak-anaknya)
"Dasar wanita mesum." Deon justru meninggalkan Cucu yang sudah berjongkok dengan pakaian dalam di tanganya. Seharusnya Deon tinggal diam dan Cucu yang melayaninya. Namun, laki-laki itu masuk ke dalam ruang ganti untuk mengambil pakaian yang lain dan memakaikanya sendiri.
__ADS_1
Cucu pun tertawa punuh kemenangan. "Aku kira suhu, ternyata cupu."