
Manik mata Reisya mengekori kemana tubuh Nola pergi. Reisya hanya melongo.
“Kenapa Kak Nola seperti itu? Ini bukan Kak Nola yang Aku kenal dulu. Kakak yang lembut dan selalu menjaga sopan santunnya pada orang yang lebih tua terlebih lagi orang itu adalah orang yang telah merawatnya sejak ia masuk ke keluarga Widjaya,” monolog Reisya yang terlihat berpikir begitu keras.
Dengan wajah sedih Mbok Ana mengelus tangan Reisya dan mengerjapkan matanya berpamitan. Reisya pun mengerti lalu menganggukkan kepalanya pelan.
Kini tinggal Reisya sendiri. Tak berapa lama Nola menghampiri Reisya yang masih duduk terdiam.
“Rei! Jika Kamu ingin tahu sesuatu tentang Kakak selama Kamu tidak di rumah, alangkah baiknya Kamu bertanya langsung sama orang yang bersangkutan agar lebih jelas dan pastinya lebih akurat, tidak perlu melalui orang lain,” ketus Nola dengan suara datar.
“Kak! Mbok Ana itu bukan orang lain. Mbok Ana itu sudah seperti ibu kedua bagi Kita, karena Mbok Ana yang menjaga kita. Tapi.. ada apa sebenarnya dengan Kakak? Ini bukan Kak Nola yang Rei kenal,” cetus Reisya kecewa dengan sikap yang ditunjukkan Nola.
“Mungkin bagi Kamu iya, tapi bagi Kakak.. Mbok Ana tetaplah orang lain. Lebih tepatnya dia tetaplah seorang pembantu!” tandas Nola sambil berlalu meninggalkan Reisya.
“Astaghfirullah, Kak! Kakak sadar dengan ucapan Kakak barusan?!” pekik Reisya sambil mengimbangi langkah kaki Nola.
“Sudahlah Rei, jangan terlalu jauh ikut campur urusan orang lain. Belum tentu orang itu mau urusannya kamu campuri!” ketus Nola dengan tatapan jengah, masuk lalu menutup pintu kamarnya.
Reisya terpelongo mendengar kata – kata yang di ucapkan Kakaknya. Pupil matanya membesar menahan emosi. Kemudian Reisya menggiring tubuhnya masuk kembali ke kamarnya dengan perasaan sedih.
Reisya perlahan naik ke tempat tidurnya, duduk sambil menyandarkan kepalanya pada dipan tempat tidurnya. Rasa lelah dan kantuk yang menyerang sebelumnya terasa hilang besama dengan pemikiran – pemikirannya sendiri.
Kini banyak teka – teki bermain dalam kepalanya. Resah mulai datang menyergah hatinya. Apa sebenarnya yang telah membuat Kakaknya begitu berubah.
“Apakah dr.Fakhri membawa pengaruh buruk dan perlahan mengubah Kak Nola? Ah, kenapa Aku berprasangka buruk pada orang yang belum tentu orang itu melakukannya,” racau Reisya dalam hatinya.
Jauh Reisya berpikir, namun masih belum menemukan jawaban atas pertanyaan – pertanyaan yang menari – nari di kepalanya. Akhirnya ia memutuskan untuk mengistirahatkan kedua mata dan anggota tubuh lainnya beristirahat.
Meskipun kedua manik matanya terpejam namun pikiran – pikirannya masih terus bermain dalam ingatannya. Hingga butuh waktu yang panjang untuk dapat tidur nyenyak seperti yang diharapkan sebelumnya hingga fajar hadir menghiasi sebagian muka bumi.
Seperti kebiasaan Reisya yang dulu, dia selalu menyempatkan diri untuk olahraga pagi setelah sholat subuh. Meskipun kali ini hanya sekedar jalan santai mengelilingi taman bunga mini milik sang Mama.
__ADS_1
"Wah kebiasaan Non Reisya ndak berubah sejak dulu, Si Mbok seneng liatnya," kata Mbok Ana saat menghantarkan jus apel kesukaan Reisya.
"Iya dong, Mbok. Olahraga itu penting lho meskipun kita melakukannya hanya sebentar tapi manfaatnya untuk tubuh dan pikiran itu sangat luar biasa, Mbok," papar Reisya menjelaskan pada Mbok Ana.
"Iya Non, Si Mbok juga olahraga setiap hari," kata Mbok Ana yang nggak mau kalah.
"Oh ya! Bagus dong, tapi..kapan Si Mbok melakukannya?" telisik Reisya sambil tersenyum.
"Lah! Wong setiap hari tuh Si Mbok sudah menyapu rumah, jalan mondar - mandir di dapur. Kan sama toh, jalan - jalan seperti Non Reisya juga," ucap Mbok Ana.
"Hahaha, Mbok.. Mbok.., itu mah bukan olahraga. Tapi sebenernya kalau dipikir - pikir iya juga sih Mbok. Tapi tetep bukan olahraga hanya hampir sama," ulas Reisya diiringi dengan tawa kecil.
"Yo wes, ini jus apelnya Non. Si Mbok tak ke dapur lagi nyiapkan sarapan," pamit Mbok Ana setelah meletakkan segelas jus yang di minta Reisya.
Reisya kembali melanjutkan gerakan - gerakan kecil untuk membakar lemak tubuhnya. Dia terlihat sangat bersemangat. Setelah beberapa menit berlalu akhirnya Naya beristirahat sejenak sambil menikmati jus yang sudah dibuatkan Mbok Ana.
Dari balik punggungnya Sang Mama menyapa dirinya.
"Ternyata anak Mama selalu konsisten dengan olahraganya, ya?" sapa Bu Widjaya dengan senyuman manis.
"Mama juga olahraga kok Rei, hanya Mama melakukannya setiap sore bersama temen - temen Mama. Seminggu tuh dua kali. Ya senam - senam orang tua lah," terang Bu widjaya.
"Nggak apapa, Ma. Yang penting tetap olahraga rutin. Kalau Kak Nola?" tanya Reisya.
"Kalau Kakak Kamu tuh jangan ditanya, mana mau dia olahraga kayak kamu. Nggak punya waktu kali, Kakak Kamu tuh orangnya sangat sibuk. Banyak pekerjaan yang di lakukannya," papar Bu Widjaya.
Ternyata Nola mendengar obrolan ibu dan anak yang sedang membicarakan dirinya. Nola langsung menimpali obrolan mereka.
"Sepertinya ada yang sedang membicarakan Nola, ya?" ucap Nola menimpali obrolan Reisya dan Sang Mama.
"Iya nih, sedang membicarakan Bu pengacara yang malas berolahraga," sahut Reisya dengan tawa kecil.
__ADS_1
"Meskipun malas berolahraga tapi tetap sehat lho," sahut Nola membela diri.
"Iya, deh. Kakak ‘kan punya trik sendiri agar tubuhnya selalu sehat tanpa harus capek - capek berolahraga," tukas Reisya. Disambut anggukkan oleh Fia.
"Eh Kak! hari ini jadwal padat nggak?" tanya Reisya.
"Enggak," jawab Nola.
"Oh ya! Salut - salut, by the way congratulation for your achievment, sist. I'm so proud of you," ucap Reisya memberikan ucapan selamat pada sang Kakak. Dan Nola menaikkan kedua alisnya secara bersamaan.
"Memangnya kenapa tanya - tanya jadwal Kakak?" selidik Fia.
"Ya kalau Kakak nggak sibuk, nge-Mall yuk. Dah lama kan kita nggak hangout bareng? kangen tahu!" ujar Reisya.
"Mmm, gimana ya?"
"Ayolah Kak, sebentar doang. Emangnya Kakak nggak kangen masa - masa bahagia kita dulu?" ucap Naya mencoba merayu sang Kakak yang masih berpikir untuk jalan bersama sang adik yang saat ini mulai dibencinya.
"Kak! Kakak juga perlu refreshing, jangan belajar mulu, kerja mulu. Pergilah dengan adik mu," saran Bu Widjaya pada Nola.
"Oke, kali ini biar Reisya yang bayarin semuanya, makan dan minumnya," ungkap Reisya.
"Oke, nanti setelah Kakak pulang dari pekerjaan Kakak, Kakak akan susul Kamu. Kita ketemu dilokasi aja ya," kata Fia memenuhi permintaan sang Adik.
"Okay, thank you Kakakku yang cantik dan baik hati," sambut Reisya dengan sumringah dan mata berbinar.
"Ya sudah Kakak mau mandi," lanjut Nola sambil membalikkan tubuhnya dan pergi meninggalkan Ibu dan Adiknya.
"Mama ikut juga ya?" ajak Reisya.
"Sudah kalian saja yang pergi, lagian hari ini jadwal Mama kunjungan ke rumah jompo bersama temen - temen arisan Mama," tolak Bu Widjaya pada sang anak.
__ADS_1
"Oh gitu, tapi kan Ma..," Reisya menghentikan ucapannya.
"Tapi apa?" selidik sang Mama.