
"Kak... Kakak..." Tantri dan yang lain sudah pulang jalan-jalan dari pantai di pagi hari. Mereka pulang sudah pukul sepuluh pagi di mana sinar matahari sudah mulai terasa panas.
Qari langsung mendorong Alzam yang berada di atas tubuhnya. "Ada adik kamu, sedang berjalan kesini," bisik Qari, dan kedua pengantin baru itu langsung kalang kabut, seperti orang yang telah digerebek oleh warga karena ketahuan berbuat asusila.
Qari dan Alzam langsung menghentikan aktifitasnya di pagi hari dan memakai kembali pakaiannya. Dengan sisa nafas yang memburu mereka berpura-pura tidak terjadi apa-apa.
"Kakak... Tantri bawa oleh-oleh buat Kakak, Tantri dapat sendiri," pekik Qari dari balik pintu kamar mereka dan Alzam bersama Qari pun langsung menghampirinya.
Kreeekeet... suara pintu yang di buka oleh Qari. Senyum manis terpaksa Qari berikan pada adik iparnya, beserta Alzam yang ada di belakang Qari, seolah-olah dua pasangan pengantin baru itu tidak terjadi apa-apa. Sedangkan yang lain duduk di meja makan dengan pandangan rata-rata menatap pada Qari dan Alzam. Yang sudah berpengalaman tentu tahu apa yang barusan terjadi di dalam kamar Qari.
"Hadiah apa Sayang?" tanya Qari dengan suara masih sedikit tersengal.
Tarah... Tantri menyodorkan beberapa klomang yang ia dapat dengan berjalan-jalan di bibir pantai, bahkan ada yang berukuran besar. "Ini klomang, Tantri yang cari dan buat Kakak, tapi di pelihara yah, biar nggak mati, nanti kalau mati Tantri sedih," lirih Tantri dengan wajah yang bahagia karena berhasil memberikan tanda baikan mereka untuk kakak iparnya.
"Wah ini cantik sekali, kamu yakin kalau ini kamu yang ambil sendiri dari pinggir pantai sana?" Qari nampak antusias dengan hewan laut yang sedang berjalan-jalan di atas bok kaca yang sengaja diisi pasir dan ada batu-batu untuk tempat persembunyiannya, karena hewan itu cukup pemalu. Berbeda jauh dengan pemiliknya yang tidak memiliki rasa malu.
Sedangkan Alzam yang justru tidak diberikan hadiah oleh adiknya memilik bergabung dengan yang lain, yang sedang menikmati kuliner, jajanan yang sudah mereka kumpulkan sejak berjalan-jalan di pesisir pantai.
"Apa kamu sudah makan Al?" tanya Naqi yang mana di atas meja makan ada banyak kuliner dan makanan-makanan ringan yang dibeli, dan kalau Alzam mau ia bisa memakannya bersama-sama dengan mereka. Sedangkan untuk sarapan keluarga besar Qari juga sudah makan di pesisir pantai dengan menu yang tentu olahan laut.
__ADS_1
"Oh terima kasih Bang, ini masih kenyang, tandi Qari masakin nasi goreng," jawab Alzam dengan wajah datar, bercampur dongkol, gondok dan membuat kepalanya pening. Gimana tidak pening sedang enak-enaknya harus hentikan dan di tari mundur karena ada adiknya yang saat ini sedang bermain dengan klomang-klomangnya.
Yah, Qari dan Tantri sedang asik balapan klomang, hingga tawa keduanya terdengar memenuhi seisi ruangan, apalagi kalau salah satu jagoannya sudah ada yang menang, mereka akan berjingkrak dengan sangat senang.
"Udah jangan di tekuk terus wajahnya makan aja biar yang gagal pagi ini bisa di lanjut malam nanti," Tuan Latif dengan senyum mengejeknya menyodorkan makanan yang bernama cenil (Makanan khas daerah jawa yang terbuat dari aci dan di kukus dimakan dengan taburan parutan kelapa, rasanya kenyal-kenyal dan gurih ada manisnya)
Alzam tersentak kaget kenapa orang-orang tahu kalau ia sedang mengajak bermain anak sambungnya itu, "Terima kasih Kek, Kakek ngomong apa sih," Alzam pura-pura tidak tahu dengan apa yang dikatakan oleh tertua di rumah ini.
"Udah jangan malu. Makanya biar nggak ketahuan kamu pakai bajunya jangan kebalik, buru-buru jadi pakai bajunya kebalik kan. Tidak apa-apa, normal kok," bisik Naqi yang kebetulan duduknya berdekatan dengan Alzam.
Bushhh... Wajah Alzam langsung memerah seolah ia telah menghabiskan satu kilo cabe setan. Buru-buru ia mengamati pakaiannya yang ternyata memang benar kalau ia salah memakai baju, alias terbalik.
'Aduh kenapa aku bisa salah pakai baju gini sih," lirih Alzam di dalam kamar mandi. Setelah membenarkan pakaiannya Alzam mencuci wajahnya dan Alzam baru tahu tenyata Qari juga meninggalkan tanda cintanya di leher Alzam hal itu bisa dilihat dengan jelas dari balik cermin, sontak saja orang-orang makin tidak bisa di bohongin oleh Alzam, karena tanda-tanda cinta Qari sudah mewakilkan pertanyaan dari mereka.
'Emang kamu itu jahil banget Sayang.' Alzam mengusap bekas tanda cinta yang Qari tinggalkan merah kecil dileher Alzam, tetapi bisa dilihat dengan jelas.
"Kakak sini Tantri juga tadi belikan banyak jajanan buat Kakak, mungkin ponakan Tantri lapar." Tantri mengajak Qari agar bergabung untuk makan bersama jajanan yang beraneka ragam.
"Waw, ini sih namanya kesukaan Qari semua," lirih Qari sembari tangannya mengambil beberapa makanan yang ada di atas meja, dengan tampilan yang menggugah selera itu.
__ADS_1
"Sayang adik kamu romantis banget," bisik Qari pada Alzam yang baru kembali dari kamar mandi dengan penampilan yang lebih segar.
"Dia memang seperti itu kalau sudah kenal akan sangat manis, bahkan nanti kamu akan mendapatkan kemanisan yang lebih dari ini semua," balas Alzam dan jawaban dari suami itu membuat Qari semakin meleleh dengan sikap Tantri yang menurutnya sangat unik itu.
"Kakak, nanti kita akan jalan-jalan lagi di sore hari setelah waktu sholat Dzuhur, dan kita akan bermain air, dengan Kakak Naqi dan juga Kakak Cyra. Kakak Qari kalau mau main sesuatu katakan pada Tantri saja nanti Tantri yang akan mewakilkan untuk ponakan Tantri," ujar Tantri dengan sangat-sangat antusias, dan hal itu kembali membuat Qari tersanjung dengan apa yang terjadi dengannya.
Seolah Tuhan sangat menyayanginya sehingga setelah badai kini terbitlah pelangi yang indah. Qari membalas ucapan Tantri dengan seulas senyum yang menyejukkan.
"Apa nanti kamu tidak cape?" tanya Qari, sebenarnya ia juga ingin bermain air seperti jet ski, banana boat, rolling donut, seperti biasanya yaang menantang pasti ingin Qari coba, tetapi saat ini ia sedang hamil dan benar kata Alzam kalau memang fisik orang hamil sangat berbeda dengan orang yang tidak hamil.
Qari takut kalau nanti ia justru akan kembali merepotkan Alzam di malam hari, karena ia yang sakit kaki dan lain sebagainya.
"Tantri suka kok, kalau Kakak suka," balas Tantri dengan sangat manis.
"Baiklah kalau gitu, nanti kalau Kakak ingin naik wahana air akan bisikan kamu untuk mencobanya dan Kakak akan sangat senang." Qari juga tidak kalah antusias dari Tantri.
Alzam sangat bersyukur karena akhirnya dengan adanya liburan ini ia bisa melihat kedekatan Tantri dan Qari. Hal yang sebelumnya terlihat sangat sulit di wujudkan oleh Alzam terlebih Qari dan Tantri sama-sama keras kepala. Namun, berkat kekuatan Tuhan semua yang terasa sulit jadi mudah. Justru saat ini Qari dan Tantri lebih kompak.
...****************...
__ADS_1