
Alzam dan Qari berjalan bersama masuk ke dalam kamarnya di mana di atas ranjang king size sudah ada Nara yang sedang pulas tertidur. Alzam dan Qari kembali saling tatap dengan tatapan yang penuh tanda sayang.
"Nara adalah anak kita, dia datang di saat Qinar dipanggil oleh Tuhan," ucap Alzam dengan pandangan mata yang masih menatap penuh cinta pada Qari, dan wanita yang wajahnya masih pucat pun langsung mengembangkan senyumnya dan mengangguk dengan yakin. Qari berjalan menghampiri Nara.
"Kamu istirahat juga Sayang, mumpung Nara bobo, kamu juga bobo, kasihan wajah kamu sangat lelah," ucap Alzam.
Laki-laki itu pun meraih ponselnya, ia teringat Tantri yang pasti sedih dengan kejadian tadi Alzam akan menghubunginya untuk meminta maaf. Dan menjelaskan apa yang terjadi pada keluarganya tidak ada yang marah pada Tantri. Jangankan pada Tantri pada Deon saja Qari masih bisa menahanya. Itu semua karet nasihat dari dirinya yang tidak pernah lelah menyadarkan agar Tantri tidak marah dengan kejadian ini, dan Alzam menimbulkan dendam yang baru.
Namun, kedua kelopak mata Alzam langsung memanas ketika membaca pesan yang tertulis dari bi Sarni.
[Tuan, maaf kalau bibi terlalu ikut campur dengan urusan Anda, tapi kalau bibi boleh memberikan masukan. Luangkan waktu sebentar untuk Tantri. Dia butuh teman untuk bercerita. Bibi takut Neng Tantri berbuat nekat. Jangan sampai ada penyesalan yang lain lagi.] "Tantri maafkan abang. Lagi-lagi abang lalai."
Alzam langsung menatap Qari yang matanya sudah mulai terpejam. "Sayang aku izin pulang dulu untuk melihat Tantri kamu tidak kerepotan kan mengurus Nara?" tanya Alzam dengan berhati-hati.
Qari membuka matanya kembali. "Pergilah katakan pada Tantri kalau aku tidak marah pada dia," balas Qari dengan mengembangkan senyumnya.
Alzam pun menghembuskan nafas kasarnya menadakan bahwa dirinya cukup lega dengan apa yang Qari katakan barusan. Setidaknya Tantri tidak harus merasa bersalah terus menerus.
Sementara itu bi Sarni sedang mengompres tubuh Tantri yang tiba-tiba demam. Belum Tantri yang terus mengiggo.
"Maaf... maafkan Tantri." Itu adalah kata yang selalu diucapkan oleh gadis kecil itu. Padahal udah bi Sarni katakan bahwa abang dan kakak iparnya tidak marah, tetapi rasa bersalahnya terus menghantui alam bawah sadar gadis kecil itu.
Pandangan mata bi Sarni menatap ke arah pintu yang tiba-tiba di buka. Alzam yang masuk dengan setengah tergesa.
__ADS_1
"Bi, Tantri kenapa?" tanya Alzam dengan suara yang langsung bergetar.
Bi Sarni beranjak dari duduknya, dan membiarkan Alzam menggantikan duduk di samping Tantri.
"Tuan, Neng Tantri sangat tertekan dengan kejadian ini, bahkan bibi sampai tidak mengenali sifat Neng Tantri. Dia butuh teman untuk bercerita. Neng Tantri tidak punya siapa-siapa lagi, hanya Anda yang dia punya, dan dengan kejadian beberapa hari kebelakang membuat dia merasa kehilangan Anda. Bibi sebenarnya tidak berhak berbicara seperti ini pada Anda dan Tantri, tetapi bibi hanya takut Neng Tantri akan berbuat di luar nalar, karena merasa di dunia ini semuanya menyalahkan dia." Bi Sarni bahkan sampai terisak bercerita tentang kondisi Tantri.
Sama halnya dengan bi Sarni, Alzam pun hanya menunduk, perasaan bersalah membuat dadanya sesak dan tenggorokanya sakit.
"Kalau begitu bibi keluar dulu." Tanpa menunggu persetujuan dari Alzam, bi Sarni langsung keluar, mengerjakan pekerjaan yang terbengkalai
Begitu bi Sarni keluar tangis Alzam pun pecah ketika melihat kondisi adiknya. Bayangan ketika Tantri masih kecil dan hanya mau dengan dirinya teringat kembali. Janji dirinya saat akan menikah dengan Qari teringat kembali, tetapi karena kelalaianya, kini Tantri seolah kehilangan arah dan merasa tidak memiliki siapa-siapa yang melindungi dirinya.
"Kamu pasti ketakutan sekali, abang lalai sama janji abang, apa abang pantas di sebut kakak sedangkan menjaga kamu saja tidak bisa." Alzam mengusap pucuk kepala Tantri dan merebahkan diri memeluk adiknya.
"Maafkan abang, abang lalai dengan kewajiban abang pada kamu, silahkan kamu marah dan hukum abang, tapi kamu harus janji setelah ini kamu akan jadi Tantri yang seperti dulu. Tantri adalah gadis yang bawel dan galak serta manja. Abang kangen kamu yang dulu." Alzam pun memeluk Tantri yang bagi dia, Tantri tetap sama dengan adik yang usianya lima tahu dulu pertama dia ditinggalkan orang tuanya meninggal dunia.
Tanpa sadar saking rindu dengan momen tidur bersama dengan adiknya. Alzam pun tertidur dengan memeluk tubuh adik kecilnya, meskipun dia sudah beranjak remaja, bagi Alzam tetap Tantri adalah adik yang sama seperti usia lima tahun, yang selalu nagis meminta tidur bersama dengan abangnya.
Sama halnya dengan Alzam yang langsung pulas dan nyenyak tidur dengan Tantri, adik kecilnya. Tantri pun sama langsung nyenyak dan tidak langi mengigo, seolah apa yang ia cari sudah ditemukanya lega dan bisa tertidur dengan nyenyak.
Uhhh... Tantri mulai menggeliatkan tubuhnya ketika ia merasakan berat pada tubuhnya. Matanya menyipit, hidungnya sudah mengenali aroma parfum abangnya.
"Abang..." Dengan mengerjap berkali-kali Tantri mencoba meyakinkan apa yang ia rasakan memang nyata bukan mimpi, karena saking kangennya dengan dengan momen ini. Alzam pun yang berasa telinganya terusik kembali mengerjapkan matanya menyipitkan matanya dan menarik bibinya.
__ADS_1
Tantri yang masih tidak percaya pun meraba wajah Alzam. "Abang... kenapa Abang ada di sini?" gumam Tantri, tetapi wajah gadis kecil itu tidak henti hentinya tersenyum.
"Abang kangen banget sama kamu," balas Alzam, dengan suara yang serak khas bangun tidur.
"Tantri juga kangen sama Abang, tapi..." gadis kecil itu kembali murung.
"Kenapa tapi? Tapi Kakak Qari tidak marah kok. Maafkan abang yah, karena abang yang terlalu fokus sama Kakak Qari kamu sampai tidak abang prioritaskan. Abang menyesal, lain kali abang janji kalau abang akan membagi kasih sayang abang dan kamu serta kakak dan anak abang dengan adil." Alzam yang merasa bersalah pun tidak ada bedanya meminta maaf terus menerus sama halnya dengan Tantri tadi yang meminta maaf terus menerus atas apa yang terjadi dengan Qari dan buah hatinya.
Ini adalah kabar gembira seharusnya Tantri bahagia dengan apa yang di katakan oleh Alzam, tetapi justru bocah kecil itu menunduk dengan wajah lesunya.
"Kenapa Sayang apa kamu tidak bahagia dengan apa yang abang katakan? Apa kamu justru menganggap kalau abang hanya berbohong?" cecar Alzam yang saat ini mereka duduk bersebelahan. Tantri sendiri duduk dengan wajah diletakan di antara dua kakinya yang ditekuk.
"Abang, apa kalau Tantri memilih tinggal sendiri bersama dengan bi Sarni, apa Abang akan mengizinkanya?" ucap Tantri dengan suara yang lirih dan setengah berbisik, sebenarnya Tantri ada rasa takut kalau Alzam tidak mengizinkanya, tetapi demi kebaikan bersama Tantri lebih baik hidup seorang diri hanya dengan bi Sarni agar ia bisa mandiri dan tidak berbuat kesalahan lagi.
Alzam langsung memalingkan wajahnya pada Tantri yang masih menunduk dengan wajah yang sedih. "Abang tidak akan membiarkan kamu hidup seorang diri tidak akan, kamu akan terus menjadi adik abang sampai kapanpun, kamu akan terus menjadi anggota keluarga abang."
Kini Tantri bergantian menatap Alzam, adik kakak itu saling pandang dengan tatapan yang tajam. "Tantri melakukan ini demi kebaikan bersama, Tantri hanya ingin merasakan hidup jauh dari Abang, karena kalau Tantri dekat dengan Abang, yang ada Tantri akan membuat Abang dalam situasi yang sulit. Tantri itu manja, keras kepala, dan akan selalu Tantri yang egois dan ingin menang sendiri."
"Kamu adik abang, sampai kapanpun akan bersama dengan abang, kecuali ada laki-laki yang datang melamar kamu dan menikahi kamu, maka abang tidak akan bertanggung jawab lagi atas semua yang terjadi dengan kamu, tetapi selama kamu itu masih sekolah dan belum menikah maka kamu akan jadi tanggung jawab abang. Tidak ada protes." Alzam menujukan wajah seriusnya.
"Tapi Tantri juga berhak menentukan pilihan Bang. Tantri bukan anak kecil lagi yang harus terus-terusan diatur oleh kakak dan abangnya."
"Tidak, kamu bagi abang, tetap jadi anak kecil yang sama seperti yang lainnya tetap menjadi adik kecil abang. Kamu adalah adik abang selamanya akan bersama dengan abang.'
__ADS_1
Tantri pun hanya bisa diam dengan wajah kembali masam. Padahal ia sangat ingin bisa mengontrol emosinya, dan yang ada dalam pikiranya adalah dengan cara hidup mandiri hanya dengan bi Sarni. Kalau sama Alzam pasti Tantri akan sering iri dengan kakak ipar dan ponakannya. Kecuali Alzam bisa membagi kasih sayang dengan adil. Namun namanya juga manusia akan ada saja lalainya. Sama seperti Alzam lakukan akhir-akhir ini.