Cinta Berselimut Dendam

Cinta Berselimut Dendam
Cinta Berselimut Dendam #Episode 169


__ADS_3

"Kemana saja kamu Jec? Apa kamu sudah bosan bekerja?" ucap Deon, begitu melihat Jec yang baru datang, sedangkan dirinya dan Cucu sudah menunggu dari satu jam yang lalu.


#Ya Allah, Jec kalau telat sampai satu jam sih wajar banget Deon marah. Kamu sih mentang-mentang ketemu Qila langsung lupa pada tugasmu.


"Ah, maaf Tuan, saya tadi membantu gadis yang pingsan, dan saat ini gadis itu ada di ruang IGD rumah sakit ini juga," balas Jec, dengan menujukan wajah penyesakan perasaan bersalah. Yah setidaknya dia memiliki alasan untuk mengelak dari kemarahan bosnya.


"Tapi kenapa aku mencium aroma-aroma kebohongan yah," celetuk Cucu dengan wajah yang menujukan kekesalan pada Jec juga, gara-gara Jec perutnya udah mulai protes cacing-cacing untuk mendapatkan jatah makanan.


"Apa aku harus tunjukan gadis yang sudah aku tolong itu," balas Jec dengan wajah yang tidak suka dengan jawaban Cucu sudah jelas dia panik dan cemas, malah di katakan kebohongan.


"Udah-udah, sekarang antar aku ke rumah." Deon pun yang sudah pusing dan juga bosan campur marah mencoba melerai Jec dan Cucu yang malah seolah mereka sangat senang untuk bertengkar.


"Maaf Tuan, apa boleh saya malam ini pulang? Sudah empat hari saya tidak pulang ke rumah, nenek dan kakek saya pasti  cemas memikirkan saya," ucap Cucu dengan perasaan yang bersalah.


"Jangan Cu, aku habis antar kalian mau nemanin gadis tadi soalnya dia tidak ada siapa-siapa di kota besar ini, jadi aku harus memastikan dia baik-baik saja." Jec langsung memotong ucapan Cucu, dan sontak saja Cucu kaget dengan ucapan Jec.


"Loh, kok kamu kaya gitu Jec, ngelarang aku pulang, kan aku juga kagen dengan kakek dan nenek aku sudah empat hari aku kamu tahan terus belum juga aku kurang tidur kalau aku sakit gimana. Kamu enak aku di rumah sakit kamu pulang," protes Cucu dengan wajah yang menujukan kebencian.


"Dari mana kamu tahu kalau aku enak-enak di rumah. Aku tidak datang ke rumah sakit kerja Cucu, menggantikan pekerjaan bos yang lagi di rawat, kok kamu nuduh aku enak-enak?" Suara Jec kembali meninggi. Sedangkan Jec sebenarnya sudah sangat pusing dengan kelakukan orang-orangnya kepercayaannya yang selalu saja iri-irian soal pekerjaan.


"Tanpa kamu ngaku dan tanpa aku lihat, aku sudah tahu kalau kamu memang enak-enak selama tidak datang ke rumah sakit," balas Cucu lagi, gadis itu akan terus berusaha biar tetap pulang, lagi pula setres ngurus Deon itu selalu saja ada perdebatan kecil dan berat seperti yang dia lakukan saat ini dengan Jec. Bagi Cucu baik Deon maupun Jec itu selalu ada saja masalahnya yang mancing dia untuk berdebat.


"Udah-udah, kalian kenapa sih, setiap bertemu pasti ada saja yang di ributin, lama-lama aku kawinin kalian berdua, biar tau rasa tiap hari ketemu tidur pun ketemu, perang-perang kalian." Deon pun akhirnya kehilangan kesab.aranya. Siapa yang  akan tahan bila setiap saat Jec dan Cucu  sebentar-sebentar akan berantem.


Jec pun kali ini menatap Deon dengan tatapan yang tajam. "Terus Anda juga bukanya selalu berantem terus juga dengan Cucu, gimana kalau yang di kawinin intu Anda dan Cucu saja, kan lumayan  biar rumah Anda yang besar itu tidak terlalu sepi." Jec pun menyeringai dengan sempurna.


"Kuci mobil mana?" Deon mengukurkan tanganya meminta kunci mobil pada Jec.

__ADS_1


Jec pun tanpa berpikir panjang langsung memberikan kunci mobil pada bosnya itu. "Tunggu Bos, ngomong-ngomong kunci mobil untuk apa?" tanya Jec dengan mimik wajah yang berubah.


"Aku mau pulang pusing palaku dengar kalian bertengkar terus. Cucu bawa tas ke mobil!!" Deon pun langsung mengayunkan kaki lebih dulu dan membiarkan Jec masih mematung.


"Tuan, kalau mobil saya, Anda bawa nanti saya pulang pakai apa?" protes Jec dengan wajah yang mengiba.


"Mampus, jalan kaki," ledek Cucu sembari segera mengikuti perintah tuanya, membawa tas yang berisi barang-barang pribadinya, dan dengan lantang menertawakan Jec.


"Cu... awas kamu yah, berani ngeledek aku bonus aku potong," pekik Jec dengan suara sedikit meninggi dan tentu Deon maupun Cucu mendengarnya.


"Udah tenang saja, ujung-ujungnya yang beri bonus kan aku, dia hanya sebagai perantara," bela Deon.


Cucu pun bersorak gembira dalam batinya. Tumben mau ngebela, biasanya juga acuh tak acuh, mau dipotong atau tidak uang bonusnya.


Namun, sedetik kemudian Cucu pun bersikap masa bodo toh yang penting cuan, baik dari Jec ataupun dari Deon yang penting bonus dia dapatkan. Ia pun kembali berjalan di belakang Deon tanpa mau perduli ancaman dari Jec. Wanita itu kini juga sudah banyak dekat dengan Deon, sehingga dia bisa memanfaatkanya. Deon juga tidak segan-segan akan membela Cucu, jadi siapapun di yang bisa menguntungkan akan Cucu terima bantuanya. Apalagi kalau dia menghasilkan uang tentu Cucu akan menomor satukanya. Karena semakin banyak dia dapat uang dia akan semakin cepat untuk terbebas dari pinjol yang membelitnya.


"Yes... terima kasih Bos, kemarahan Anda adalah keuntungan untuk saya." Jec dengan kaki ringan kembali ke IGD untuk melihat kondisi wanita yang ia tolong. Tidak hanya itu Jec pun ingin tahu siapa kira-kira suami wanita malang itu yang sedang hamil, tetapi dibiarkan untuk periksa kehamilan sendiri.


"Aku penasaran banget kaya gimana sih suaminya, awas ajah kalau jelek. Nggak pantes banget sudah jelek nggak bertanggung jawab lagi," gerundel Jec. Padahal Jec bisa saja pergi meninggalkaan wanita malang itu, tetapi entah mengapa Jec seperti merasakan kasihan pada  wanita malang itu.


"Tuan, wanita yang Anda tolong tidak mau di lakukan rawat inap, dia tetap meminta kami memulangkanya," ucap perawat begitu Jec kembali ke ruangan IGD, dan wanita itu sudah sadar, dengan wajah pucat menatap pada Jec, dengan tatapan tidak suka, tetapi Jec yang sudah biasa mendaptkan tatapan seperti itu tentu tidak heran. Deon dan Cucu sudah sering sebelumnya memberikan tatapan macam itu.


"Apa kehamilanya baik-baik saja? Aman kalau dipulangkan?" tanya Jec, dia juga tidak mau nanti terlibat masalah dengan suami wanita itu apabila tetap menahanya di rumah sakit, sedangkan suaminya saja tidak menjaganya.


Perawat yang menangani Qila pun mengernyitkan dahinya, ketika Jec bertanya tentang kehamilan. "Apa wanita itu mengatakan kalau dia sedang hamil?" tanya perawat balik.


Seketika Jec langsung memalingkan pandanganya. "Bukanya memang wanita itu sedang hamil? Kalau tidak hamil ngapain di mengantri di poli kandungan?" jawab Jec dengan santai.

__ADS_1


Suster itu pun tertawa dengan renyah. "Poli kandungan tidak selalu menerima pasien yang sedang hamil Tuan, termasuk wanita itu. Dia bukan sedang hamil, tetapi memang ada masalah di rahimnya. Wanita itu menderita Miom, atau biasa orang juga menyebutnya tumor jinak, itu sebabnya wanita itu apabila  datang bulan sangat kesakitan karena benjolan sudah cukup besar, sehingga untuk penanganya harus di operasi. Jadi bukan hamil yah Tuan."


Jec mengangguk anggukan kepalanya. "Harus operasi yah?" tanya Jec, sebab di lihat dari sifat gadis itu pasti bakal sulit untuk di lakukan opearasi.


Perawat itu mengangguk. "Menurut dokter Miom itu sebaiknya dilakukan operasi, karena miom itu tumbuh di sel jaringan, berbeda dengan kista yang tumbuh di dinding rahim, akan ada kemungkinan untuk sembuh dengan cara minum obat-obatan tertentu meskipun tidak memungkiri sakit akan tetap ada. Kalau miom tumbuh di sel jaringan sehingga lebih baik dioperasi karena takutnya berubah jadi ganas dan itu sudah berbahaya karena jatuhnya kangker."


"Ok kalau gitu saya akan coba berbicara dengan gadis keras kepala itu." Jec berjalan pada Qila yang tatapanya sangat tajam menatap dirinya.


"Kenapa menatap aku seperti itu," ucap Jec dengan santai sembari duduk di samping Qila.


"Aku pengin pulang!" dengus Qila dengan menatap dengan sengit pada Jec.


"Bisa tidak kamu tidak keras kepala. Kamu itu sakit, dan sakit yang kamu derita itu bukan sakit yang sebarangan. Perawat tadi mengatakan kalau kamu itu menderita miom, kamu harus menjalani operasi, biar kamu tetap sehat dan tidak sakit-sakitan lagu." Kali ini Jec berbicara dengan sedikit keras. Terlebih Qila yang terlalu keras kepala membuat Jec juga harus tegas dan dia melakukan itu untuk kebaikan Qila juga.


"Aku menyesal memeriksakan diri ke rumah sakit ini," balas Qila dengan suara yang lirih dan pandanganya dia alihkan. Pikiranya berputar-putar bagaimana dia harus mencari ide agar Meta tidak mencemaskanya. Dan juga bagaimana dengan biaya rumah sakit, dan juga  uang yang harus ia kirimkan ke kampung kalau dia saja jadi pesakitan. Tanpa terasa air mata Qila dengan deras mengalir membentuk anak sungai.


Hal terbodoh yang dia ambil adalah memeriksakan diri, sehingga dokter tahu sakitnya dan menakut-nakuti dengan operasi dan efek-efeknya apabila tidak operasi. Sedangkan Qila merasa selama ini dia baik-baik saja, hanya bermasalah di perutnya kalau haid, tetapi malah dokter menganggapnya serius dan paling menyebalkanya lagi ada laki-laki yang bersikap seperti super herro.


"Kenapa kamu menangis?" tanya Jec dengan perasaan bersalah.


...****************...


Teman-teman sembari nunggu kelanjutan Qari, Alzam dan Deon, bantu dukung novel baru othor yah. Jangan lupa Fav, like, komen dan kalau berkenan tabur mawar, kopi atau iklan juga boleh banget...


komen beri masukan yah. Terima kasih yang sudah berkenan mampir., 🙏


Dukungan dari kalian sangat berarti untuk othor yang masih belajar ini🙏

__ADS_1



__ADS_2