Cinta Berselimut Dendam

Cinta Berselimut Dendam
Cinta Berselimut Dendam Bab 196


__ADS_3

Kembali Cukup lama Qila berpikir. "Lalu apakan kalau aku melepaskan diri dari Jec. Kemudian, aku memutuskan bersama kamu. Hidupku sudah pasti bahagia? Tidak kan  Sam? Kamu juga pasti tidak tahu kalau kamu akan membahagiakan aku atau tidak? Sedangkan aku juga tidak tahu kamu apakah Jec yang benar-benar tulus menerimaku."


"Aku akan berusaha terus membuat kamu bahagia, aku akan menebus semua kesalahan aku yang dulu. Qila berikan kesempatan aku untuk memperbaiki semuanya," ucap Sam dengan menggenggam tangan Qila dengan kencang.


Sementara itu di balik pintu tangan Jec sudah mengepal sempurna. Hatinya memanas dengar ucapan Qila dan Sam ketika ia melihat pemandangan yang sangat merendahkan dirinya. Bukan hanya soal cemburu dan perasaan, tetapi soal soapan santun dan menghargai. Kenapa laki-laki itu menemui Qila yang sudah menikah dengan cara sembunyi-sembunyi, lalu apa dia tidak menghargai Jec sebagai suaminya


Jec pun memilih berdiri di samping pintu dengan bersender ke dinding, ia bukan tidak memiliki harga diri dan membiarkan semuanya terjadi, tetapi dia tidak mau berbuat bodoh dengan memperebutkan wanita. Kalau memang Qila merasa laki-laki itu yang terbaik maka Jec tidak akan mempersoalkanya.


"Sam, kamu sebaiknya ke luar, aku takut nanti suami aku tahu malah semakin runyam," usir Qila dengan tatapan yang mengiba, dia juga lelah ingin istirahat bukan justru memikirkan masalah yang tidak penting seperti ini.


"Aku justru ingin bertemu dengan suami kamu, untuk membicarakan hubungan kita." Sam terus merancau, membuat Qila semakin kehilangan akal, kesal dan marah tentunya.


"Sam, ayolah kamu jangan kaya gini membuat aku semakin tersudutkan. Aku cape Sam, baru ke luar dari ruang operasi bukan malah dibuat semacam ini," ucap Qila dengan tatapan yang mengiba.


"Baiklah aku akan ke luar, dan semoga kamu baik-baik saja, dan cepat pulang dan kembali sehat." Kini Sam pun dengan berat hati mulai meninggalkan ruangan Qila.


Ehemzzz... Jec berdehem ketika Sam baru saja membuka pintunya. Sam pun hanya menatap malas pada Jec.


"Apa yang ingin Anda katakan, bukanya tadi Anda bilang ingin bertemu dengan suami Qila. Saya suami Qila, apa yang ingin Anda katakan?" tanya Jec dengan suara yang terdengar santai.

__ADS_1


"Oh jadi Loe suami Qila, laki-laki yang sudah memaksa Qila untuk menikah dengan loe. Gue hanya ingin loe ceraikan Qila, dia hanya cinta sama gue, dan dia hanya tersiksa hidup dengan loe," balas Sam, dengan nada bicara yang setengah mengejek.


"Apa Anda sudah bertanya sama Qila, dia bahagia atau tidak menikah sama saya Tuan Dokter yang terhormat? Sebaiknya Anda bertanya dulu dengan Qila, karena takutnya nanti dia sudah cerai dengan saya, malah Anda sia-siakan lagi. Oh, bukanya Anda itu laki-laki yang sudah pernah selingkuh dengan wanita lain? Terus yakin bisa puas dengan hanya satu cewek kalau nanti Qila kembali dengan Anda, saya hanya takut nanti Qila malah merasakan hal yang sama seperti dulu lagi," balas Jec tetap santai.


"Jangan sok tahu loe, kalau belum tahu kebenaranya," bentak Sam yang sudah terpancing oleh ucapan Jec.


"Ok kalau gitu santai saja Dok, kalau saya salah, tapi masalahnya semuanya berbicaara seperti itu, jadi apa mungkin orang-orang yang bercerita pada saya bohong? Ah, mungkin mereka memang pembohong, dan Anda yang maha benar." Jec pun memilih meninggalkan Sam yang sudah mau membalas ucapan Jec lagi.


Percuma adu pendapat dengan orang yang merasa selalu benar.


"Qila menatap Jec dengan tatapan yang cemas, wanita itu takut kalau  Jec akan marah karena tadi Sam yang ke luar dari kamarnya. Yah, Qila tahu kalau Sam dan Jec barusan terlibat obrolan di luar. Qila bisa menengarnya meskipun tidak jelas apa yang mereka katakan.


"Jec, kamu jangan salah sangka yah, aku dan Sam tidak ngobrol macam-macam kok," ucap Qila yang merasakan tidak enak dengan Jec, apalagi wajah Jec tetap terlihat diam saja, seolah ada rasa kecewa.


"Sam mengatakan kalau aku diminta meninggalkan kamu karena kamu dan dan saling mencintai," balas Sam dengan menyiapkan makanan untuk dirinya dan juga untuk Qila.


Qila menggelengkan kepalanya. "Aku tidak bilang gitu Jec. Aku memang masih memiliki perasaan pada Sam, tapi aku tidak pernah meminta Sam untuk mengatakan seperti itu. Aku masih mencoba menata perasaanku pada kamu." balas Qila dengan menggelengkaan kepalanya dengan lemah, air matanya tidak bisa ia bendung.


"Aku akan urus pada dokter penangung jawab kamu, agar kita bisa pindah rumah sakit," ucap Jec tanpa ingin memperpanjang masalah ini.

__ADS_1


Qila pun hanya bisa pasrah, dia tidak bisa banyak protes, dia memang tidak mencintai Jec, tetapi apa salahnya kalau dia membalas budi atas kebaikan Jec, dengan menjaga kepercayaanya.


"Makan dulu, karena kamu harus tetap sehat untuk adik-adik kamu, jangan pikirkan masalah ini. Aku tidak akan membuat runyam, kalau memang kamu ingin aku menceraikan kamu maka aku akan melakukanya. Yang penting kamu makan, jangan sampai karena masalah ini kamu malah makin sakit." Jec menyodorkan satu sendok makanan yang baru ia beli.


Dengan berderai air mata Qila pun makan. Hatinya semakin diliputi dengan segudang masalah.


"Hapus air mata kamu, aku nggak suka lihat cewek nangis." Jec kembali memberikan tisu agar Qila menghapus air matanya, suara tangisan yang sangat sedih membuat Jec tidak tega dengan keadaan Qila. Namun, Jec juga tidak bisa berbuat banyak ada rasa sakit di dadanya ketika tahu Qila masih mengharapkan Sam.


"Terima kasih, maaf kalau aku cengeng."


Qila dan Jec pun makan dengan kebisuan. Sesuai dengan ucapannya Jec setelah makan dan Qila sudah minum obat dan istirahat dia mengurus izin untuk pindah rumah sakit. Meskipun ribet dan juga butuh banyak yang harus Jec urus, tetapi lebih baik seperti itu dari pada Qila terus terpikirkan oleh masalah masa lalunya sehingga dia akan lama untuk sembuhnya.


Sam pun yang tahu kalau Qila mau di pindahkan dengan alasan  ingin istirahat dengan tenang dan lain sebagainya yang menurut laki-laki itu hanya akal-akalan Jec saja. Sam kembali menghadang Jec.


"Apa lagi?" tanya Jec ketika melihat Sam menghampiri dirinya saat ngantri obat di rumah sakit.


"Kenapa harus pindahkan Qila, apa loe takut kalau loe kalah saing?" tanya Sam dengan nada yang tidak suka.


"Saya dari awal sudah bilang Tuan Dokter, kalau saya tidak akan bersaing dalam urusan percintaan. karena hati yang akan memilih bukan keegoisan. Anda bisa tanya pada Qila apakah dia nyaman dengan saya atau tidak. Dan alasan saya memindah Qila bukan semata urusan persaingan cinta yah. Tetapi saya ingin agar Qila benar-benar istirahat untuk memulihkan kesehatanya. Dia butuh tempat yang tenang, tanpa ada gangguan dari siapa pun," jawab Jec dengan malas dan laki-laki itu kembali meninggalkan Sam, padahal obat belum Jec terima. Laki-laki itu malas berurusan dengan Sam.

__ADS_1


"Heran sama Qila, laki-laki modelan begitu saja bisa jatuh cinta. Ok sih dia menang kalau soal wajah tapi soal perasaan dan pengertian jauh di bawah rata, rata," gumam Jec, dengan berjalan kembali ke ruangan Qila.


__ADS_2