
Alzam membaca catatan yang Qari tulis dan ia terkekeh dengan sempurna. "Apa ada lagi yang ingin kamu beli, istriku?" tanya Alzam memastikan sebelum ia pergi dan dia berubah pikiran.
Qari mencoba berpikir dengan ulang, "Tidak sayang hanya itu aja," ujar Qari sudah sangat yakin kalau tidak ada lagi yang dia inginkan.
"Rujak bebek dengan bumbu cinta, cilok dengan bumbu sayang, tahu petis dengan bumbu rindu, dan lumpia dengan bumbu, cepatlah pulang." Alzam membaca pesanan sang istri dengan terkekeh dan Qari pun hanya tersenyum kuda.
"Ok kalau gitu aku berangkat dulu yah." Alzam pun akhirnya berangka mencari apa yang Qari minta, dan tentu sebelumnya ia akan menemui dokter Doni dulu. Jantungnya sudah sangat tidak tenang. Meskipun Alzam sudah menyiapkan mental dengan apa yang sekiranya akan terjadi, tetapi Alzam masih tidak tenang sepanjang perjalanan ia tidak bisa tenang sama sekali membayangkan kalau memang di tubuhnya ada penyakit yang bersemayam.
Alzam berjalan dengan lesu ke ruangan Doni. Padahal jarak kantor dan rumah sakit tempatnya check up hanya butuh waktu lima belas menit, tetapi karena perasaanya yang tidak tenang sehingga ia merasa kalau rumah sakitnya pindah sehingga sangat lama sekali sampai ke rumah sakit itu.
Setelah sebelumnya mengetuk pintu Alzam masuk keruangan Doni. "Kamu udah datang Al?" ujar Doni sembari duduk di depan Alzam.
"Jadi hasilnya gimana Dok, apa ada hal yang tidak beres dari tubuh saya?" tanya Alzam dengan raut wajah yang tegang.
"Tenang Al, sejauh ini semuanya baik-baik saja, dan soal fisik kamu yang gampang lelah mungkin karena kamu yang kelelahan atau mungkin kamu yang sedang memikirkan sesuatu sehingga berpengaruh ke fisik kamu?" Doni tidak mau mematahkan semangat Alzam dan terus memberikan semangat untuk pasiennya, yang paling semangat.
Selama dirinya menjadi dokter, Alzam lah satu-satunya pasien yang paling semangat untuk sembuh, sekali pun ia tidak pernah melewatkan jadwal terapi dan juga jadwal kemo terapi ia jalani dengan sangat baik dan juga laki-laki itu tidak pernah sekali pun mengeluh. Padahal Doni tahu sekali pengobatan kanker itu sangat melelahkan. Hormon yang naik turun membuat tubuhnya sensitif, tetapi Alzam, tetapi menunjukan pada orang lain kalau dia itu kuat dan sanggup.
Sehingga Doni tidak ingin mematahkan semangat Alzam dengan rencana Deon dan Jec yang tidak memiliki hati itu.
__ADS_1
"Ini serius Dok? Sampai saat ini saya masih bersih dari sakit yang mengerikan itu?" lirih Alzam dengan suara yang bergetar.
Doni mengangguk. "Sampai saat ini hasilnya masih ok, tapi bukan berati kamu tidak menjalankan terapi yah, harus terus menjalankan semua yang aku katakan."
"Baik Dok, aku akan terus menjaga agar aku tetap sehat," balas Alzam dengan sangat gembira. Bahagia itu sederhana, di saat yang lain mungkin pencapaian bahagianya tinggi dan sulit. Alzam mendengar hasil check up nya bagus sudah sangat bahagia dan terharu hingga dalam hatinya ia tengah menangis bahagia.
"Apa kamu sedang memikirkan sesuatu belakangan ini kenapa daya tahan tubuh kamu kurang bagus akhir-akhir ini?" Deon berusaha memancing Alzam mungkin Doni bisa mengorek ada hubungan apa Alzam dengan Deon, seperti tujuan memanggil Alzam adalah ingin membahas mengenai Deon.
Doni ingin tahu ada hubungan apa mereka berdua sampai-sampai Deon ingin melakukan pembunuhan berencana. Yah Doni sebut ini adalah rencana pembunuhan berencana yang secara tidak langsung. Ide yang cemerlang sih membuat mental down dengan sakit mematikan itu. Membunuh dengan perlahan.
Bahkan karena memikirkan masalah Deon dan Alzam. Semalaman Doni tidak bisa tidur, dia terpikirkan terus keselamatan Alzam yang mana tahu Deon mengajak dokter lain untuk bekerja sama, dan naasnya sang dokter itu terpancing dengan iming-iming uang yang Doni akui uang itu tidaklah sedikit.
Alzam yang sebenarnya ingin sekali bercerita dengan masalahnya, tetapi diurungkannya karena hal itu menyinggung aib Qari. Alzam sudah berjanji kalau dia tidak akan membuka aib istrinya.
"Baiklah kalau kamu tidak mau mengatakannya, mungkin itu privasi kamu, tetapi aku sebenarnya memanggil kamu itu ada maksud lain Al. Sebenarnya ada yang ingin aku tanyakan sama kamu. Tapi ini tidak ada hubungannya dengan sakit kamu melainkan mungkin ada hubungannya dengan masalah pribadi kamu. Apa kamu tidak keberatan?" tanya Doni dengan sangat sopan.
"Mau tanya apa Dok? Rasanya kau tidak ada yang istimewa dengan kehidupan pribadi aku sendiri." Alzam semakin serius dengan apa yang akan ditanyakan oleh Doni.
"Sebenarnya sampai kemarin saya juga menganggap seperti itu, tetapi tiba tiba ada seseorang yang membuat saya ingin tahu dengan kehidupan kamu. Apa kamu kenal Deon atau mungkin Jec?" tanya Doni. Tubuhnya disandarkan ke sandaran kursi yang ada di belakangnya.
__ADS_1
"Deon? Jec? Rasanya akau justru baru mendengarnya." Alzam mencoba berpikir lagi, karena dalam hatinya ia seperti tidak asing dengan nama Deon.
"Kamu yakin Al? karena ini ada hubungannya dengan kesehatan kamu. Deon Irwan Chakrabellamy. Mungkin kamu kenal dia atau biasa disebut Deon." Doni berusaha mengingatkan Alzam, karena rasanya tidak mungkin Deon akan mencelakakan Alzam sedangkan Alzam tidak mengenal Deon.
Alzam masih mencoba untuk mengenalinya. "Aku seperti pernah kenal dengan nama itu tetapi di mana yah?" Alzam seperti bertanya pada diri sendiri dengan terus mengingat-ingat nama itu.
"Kamu coba ingat-ingat Al, karena buat aku informasi itu cukup penting," ujar Doni, agar Alzam mencoba mengingatnya lagi.
"Tunggu, kayaknya aku kenal nama itu. Aku kayak kenal nama Deon." Alzam diam sejenak. "Yah, tidak salah lagi aku pernah mendengarnya dari Qari, dan kalau tidak salah laki-laki yang bernama Deon itu yang sudah menjebak Qari sampai ham..." Alzam tidak melanjutkan ucapannya karena dia tahu ini adalah aib Qari di mana ia sudah berjanji tidak akan membicarakan aib istrinya.
"Kenapa Al, apa ada yang sedang kamu tutupi? siapa Deon dan hubungannya dengan kamu apa?" tanya Doni.
Doni semakin dibuat dilema antara dirinya yang harus mengatakan kalau nyawa Alzam saat ini terancam oleh laki-laki bernama Deon agar Alzam waspada. Atau Doni diam saja karena takutnya Alzam justru merasa tidak tenang dan akan berefek dengan pikirannya dan kesehatannya bisa menurun.
Alzam menggelengkan kepalanya, terlihat sekali dari wajah yang Doni lihat kalau Alam itu sedang menyembunyikan sesuatu.
"Al aku mohon kamu ceritakan, karena ini menyangkut sakit dan keselamatan kamu. Aku berjanji akan merahasiakan sesuatu yang berhubungan dengan wanita itu. Aku berjanji," imbuh Doni. Memang gampang-gampang susah membuat Alzam bercerita dengan masalah pribadinya, karena kalau dia cerita tentang Deon. Aib istrinya yang akan terbuka.
Alzam nampak diam berpikir, satu sisi ia juga percaya dengan apa yang Doni katakan kalau dia adalah seorang dokter tidak akan mungkin bergosip apalagi dokter itu tidak kenal Qari. Namun Alzam juga memikirkan nasib kehormatan Qari, meskipun ia hamil karena di jebak oleh laki-laki itu. Tapi Alzam takut kalau Doni akan berpikir lain.
__ADS_1