
"Aku pengin pulang!" dengus Qila dengan menatap dengan sengit pada Jec.
"Bisa tidak kamu tidak keras kepala. Kamu itu sakit, dan sakit yang kamu derita itu bukan sakit yang sebarangan. Perawat tadi mengatakan kalau kamu itu menderita miom, kamu harus menjalani operasi, biar kamu tetap sehat dan tidak sakit-sakitan lagi." Kali ini Jec berbicara dengan sedikit keras. Terlebih Qila yang terlalu keras kepala membuat Jec juga harus tegas dan dia melakukan itu untuk kebaikan Qila juga.
"Aku menyesal memeriksakan diri ke rumah sakit ini," balas Qila dengan suara yang lirih dan pandanganya dia alihkan. Pikiranya berputar-putar bagaimana dia harus mencari ide agar Meta tidak mencemaskanya. Dan juga bagaimana dengan biaya rumah sakit, dan juga uang yang harus ia kirimkan ke kampung kalau dia saja jadi pesakitan. Tanpa terasa air mata Qila dengan deras mengalir membentuk anak sungai.
Hal terbodoh yang dia ambil adalah memeriksakan diri, sehingga dokter tahu sakitnya dan menakut-nakuti dengan operasi dan efek-efeknya apabila tidak operasi. Sedangkan Qila merasa selama ini dia baik-baik saja, hanya bermasalah di perutnya kalau haid, tetapi malah dokter menganggapnya serius dan paling menyebalkanya lagi ada laki-laki yang bersikap seperti super herro.
"Kenapa kamu menangis?" tanya Jec dengan perasaan bersalah.
Wanita yang bernama lengkap Zafa Aqila Maulidya pun memalingkan wajahnya dan terisak, ia menangis membayaangkan kalau ternyata sakitnya cukup parah. Ia juga tidak menyangka niatnya hanya iseng ingin tahu apa penyebab ketika ia datang bulan bisa sangat sakit, ternyata memang dia memiliki sakit yang cukup membahayakan.
Qila nangis bukan hanya takut akan sakitnya yang semakin parah dan dia tidak memiliki kesempatan untuk membahagiankan keluarganya, dia juga kesal dengan laki-laki yang ada di sampingnya yang selalu ikut campur, dan berkuasa terus, udah gitu Qila juga takut nanti Wawan marah karena sakitnya yang dia rahasiakan. Dalam pikirannya justru bertebaran ketakutan.
__ADS_1
"Hay Nona, kenapa kamu malah nangis sih, aku melakukan ini juga untuk kebaikan kamu Qila. Apa kamu mau sakit itu menyebar kesekujur tubuh kamu. Miom dan kista itu beda Qila. (Nada bicara Jec sudah sangat putus asa menjelaskan bahaya sakit Miom) Miom itu tubuh di sel jaringan yang kalau tidak diangkat bisa saja dari yang jinak berubah jadi ganas belum kemungkinan menyebar akan sangat besar. Sedangkan kista dia hanya daging tumbuh yang berisi air dan menempel di dinding rahim, kalau rutin berobat ada kemungkinan mengecil dan ke luar sendiri bersama darah haid, meskipun sebaiknya dioperasi, karena penyembuhan kista juga pasti akan sakit sekali," jelas Jec yang dengan sabar, berharap agar Qila tidak keras kepala.
"Aku hanya takut, kalau aku hanya hidup sebagai pesakitan, dan cita-cita aku tidak bisa terwujud malah aku hanya jadi beban orang tua aku. Lagi pula aku tidak ada ansuransi. Aku belum sempat membuatnya," ucap Qila meskipun pandanganya masih dibuang ke samping agar tidak melihat Jec.
#Kalian jangan saranin bikin BPJS ke kelurahan atau apalah, agar biaya berobat gratis yah yah, Novel othor tidak ada layanan BPJS!
"Apa cita-cita kamu? Kamu jangan anggap aku sebagai orang yang sok tahu, tetapi kamu anggap aku sebagai teman kamu." Jec berusaha mendekatkan diri pada Qila, yang entah mengapa Jec meskipun berkali-kali perlakuan Qila yang sangat keras kepala, tetapi dalam hati Jec dia seolah ingin terus berada di samping Qila.
"Membahagiakan orang tua aku, hanya itu," jawab Qila, dengan punggung tanganya mengusap air mata yang menetes. Akhir-akhir ini Qila memang cengeng, seolah ia tidak akan bisa membuat keluarganya bahagia lagi.
"Materi." Qila lagi-lagi mengusap air matanya yang terus mengalir. "Aku anak pertama dua adik-adiku masih sekolah, ibuku hanya ibu rumah tangga biasa, sedangkan Bapak, beliau buruh tani yang kadang ada panggilan untuk ke sawah dengan upah tidak sampai seratus rebu per hari, dan itu pun tidak setiap hari bekerja, kadang kalau tidak ada panggilan kerja Bapak hanya merawat kambing milik tetangga yang di titpkan pada kami dan nanti bagi hasil, adik terakhirku mengidap sakit asma bawaan yang secara rutin harus ada uang untuk berobat. Dan mereka hanya mengandalkan aku sebagai orang yang akan memberikan uang setiap bulan," jawab Qila dengan lancar. Malu sih dia berceria seperti itu seolah dia sedang meminta belas kasih. Eh, tapi memang Qila sedang meminta belas kasihan dari laki-laki yang menolongnya, mungkin saja dia mengizinkan agar Qila tetap berobat jalan dan bukan operasi seperti saran laki-laki itu di awal.
Lagi Jec hanya mengaangguk-anggukan kepalanya tanda paham beban wanita yang masih menangis itu sangat berat wajar dia bekerja dengan keras dan perhitungan dengan uang.
__ADS_1
"Gajih kamu tiap bulan berap?" tanya Jec agar sensitif memang, tetapi bukanya Qila diawal yang membahas ekonomi bahkan menjabarkan dengan jelas perekonomian keluarganya.
"Lima juta," jawab Qila terlihat sedikit ketus memang, "Lima juta, aku pegang dua juta, setiap bulan selebihnya aku kirimkan untuk keluargaku di kampung," imbuh Qila.
"Lalu laki-laki yang saat kamu' menabrak aku itu siapa kamu?" tanya Jec lagi semua yang membuat dia ragu ditanyakan.
"Dia Meta, Bos, Abang dan juga orang yang paling peduli dengan aku, tanpa bantuan dia aku tidak akan bekerja dengan gaji besar seperti saat ini," jelas Qila. Sementara Jec justru merasa kasihan uang lima juta yang bagi Jec kecil dimata Qila besar. Lalu berapa gajih dia sebelumnya?
"Sebelumnya aku hanya pembantu gaji aku hanya dua juta, aku hanya lulus SMP sejak usia lima belas tahun aku sudah bekerja membantu keluarga, " jelas Qila yang seolah tahun isi hati Jec. Padahal Jec tidak bertanya sedetel itu.
Jec pun bisa merasakan berada di posisi Qila.
"Aku akan memberikan kamu setiap bulan lima juta untuk di berikan pada orang tua kamu, tetapi kamu nikah dengan aku." Jec tahu pasti Qila tidak akan setuju. Benar saja Qila langsung memalingkan pandanganya.
__ADS_1
"Gila kamu yah, aku tidak mau! Aku masih bisa bekerja sendiri jadi jangan mimpi kamu nikah sama aku, lagi pula kita tidak saling kenal."
#Woaaa.... Jec hebat. 👍👏