
Prok... Prok... Prok... Qari berjingkrak gembira ketika gacoannya Tantri bisa naik hingga puncak. "Tantri, kamu hebat," pekik Qari dengan berjingkrak gembira. Setidaknya rasa penasarannya naik panjat tebing sudah diwakilkan oleh Tantri yang ternyata dari keberaniannya adik iparnya itu akan menuruni bakat Qari yaitu suka dengan tantangan , ketinggian dan olah raga yang tergolong ekstrim adalah hobby Qari sejak remaja dulu.
Tantri pun setelah turun langsung berlari kearah Qari yang terus menyemangati dirinya terus menerus tanpa sedikit pun Qari lepas tanggung jawab. Karena memang panjang tebing keinginan Qari
"Gimana kamu suka main kayak gitu?" tanya Alzam begitu sampai menghampiri adiknya yang nafasnya masih tersengal karena sisa tenaga yang ia gunakan cukup menguras tenaganya.
"Suka Bang, bahkan nanti Tantri pengin coba yang lebih tinggi lagi," jawab Tantri semakin tertantang dengan permainan yang direkomendasikan oleh kakak iparnya.
"Kamu emang keren Tantri, setidaknya keinginan Kakak sudah terwakilkan oleh kamu," balas Qari tidak henti-hentinya kakak iparnya memuji kehebatan Qari yang jarang orang miliki, tetapi Tantri sanggup menunjukan pada abangnya kalau dia adalah adik yang pemberani.
Acara jalan-jalan di hari pertama mereka pun berlangsung sangat menyenangkan, dan tentunya masih ada kesempatan satu kali lagi yaitu besok di mana mereka akan bermain air. Yah, setelah melewati perhitungan yang sangat sulit akhirnya Qari memilih bermanja-manjaan dengan suaminya nanti malam, dan panjat tebing ia tetap bisa melakukanya dengan diwakilkan oleh adiknya. Untungnya calon ponakan Tantri tidak rewel alias mau diwakilkan oleh Tantri.
"Tantri baru tahu Kak kalau panjat tebing itu sangat mengasikkan sekali, apalagi pas loncat dari ketinggian rasanya capeknya hilang," jawab Tantri tidak kalah antusias dengan yang ia rasakan karena ketika pertama kalinya menikmati permainan ekstrim itu yang menurut Alzam berbahaya. Alzam pun hanya menjadi pendengar tanpa ingin mengomentarinya karena jelas pandangan dia mengenai olahraga ini sangat tidak sesuai dengan dua cewek dihadapanya.
Setelah jalan-jalan dan berakhir di makan malam ala keluarga kini Alzam dan Qari pun sudah kembali ke kamar masing-masing. Sama seperti sebelumnya Tantri pun kembali tidur bersama Qanita.
"Gimana Sayang apa liburan pertama kita menyenangkan?" tanya Alzam, yang mana Qari tidak jadi panjat tebing itu artinya malam ini adalah mereka bersenang-senang mengulang kegiatan yang mengasikkan seperti yang semalam.
"Senang sayang, tetapi kakinya jadi pada pegal," lirih Qari sembari memijit betisnya yang mulai terasa panas dan pegal. Dengan sigap Alzam meminta minyak urut pada petugas vila, dan melanjutkannya untuk mengurut kaki-kaki Qari yang pegal.
"Sayang maaf yah aku malah jadi merepotkan kamu," lirih Qari sangat merasa bersalah karena dari siang Alzam sudah memperingatkan Qari beberapa kali agar ia tidak terlalu over dalam menikmati wahana, tetapi wanita itu yang merasa tubuhnya baik-baik saja tidak mendengarkan nasihat Alzam alhasil malam ini kakinya terasa sakit dan dia tidak bisa melayani Alzam seperti malam kemarin.
"Santai saja Sayang yang penting kamu sehat, besok-besok kalau dibilang nurut yah," lirih Alzam dan dibalas anggukan oleh Qari, dalam batin Qari ia tidak akan lagi sok jagoan apalagi sampai tidak mau mendengarkan nasihat Alzam, yang akibatnya justru jadi seperti malam ini. Qari merasa sangat merepotkan Alzam yang terus-terusan memijit kakinya, dan membersihkan tubuh Qari bahkan untuk sekedar bangun untuk bergantian rasanya Qari sangat susah dan sakit.
"Sayang aku minta maaf banget yah, karena aku yang sok jagoan malah jadi sangat merepotkan kamu," lirih Qari lagi, bahkan suaranya sudah bergetar akan menangis.
"Tidak apa-apa Sayang, kamu jangan meminta maaf terus, lagian aku ikhlas kok melakukanya, memang ibu hamil itu kadang fisiknya beda-beda sama seperti moodnya kadang baik kadang buruk yan begitu lah, dan jadikan kejadian pagi siang ini sebagai pelajaran untuk kamu," ucap Alzam dengan tangan masih terus mengusap-usap betis kaki Qari.
"Iyah aku janji tidak akan bandel lagi aku janji tidak akan bikin kamu susah lagi," balas Qari dengan menunjukkan wajah menyesal.
"Emang kamu itu istri yang baik," Alzam pun terus memuji istrinya, hingga Qari yang kecapean pun tertidur dalam damai.
__ADS_1
"Selamat tidur istriku mimpi yang indah yah," bisik Alzam sembari menghadiahkan satu kecupan di pucuk kening sang istri yang kecapean. Sementara akhirnya membersihkan diri setelah itu melanjutkan menyusul Qari merangkai mimpi. Malam ini pun tidak ada enak-enak dulu. Apalagi Qari yang lagi hamil harus menjaga stamina dan mood yang baik agar tidak menyesal nantinya.
Yang nungguin part enak-enak kalian bikin sendiri yah. Emot ketawa.
******
Sementara itu di rumah sakit.
"Ini Jec itu cari mie celor di mana sih kok belum datang juga, mana perut sudah perih banget," gerundel Deon yang merasakan perutnya perih hingga nyesek ke dada. Jec pun karena memang mencari mie celor susah ia akhirnya memesan secara online yang mana lokasi pemesanannya yang cukup jauh, itu karena Jec membelinya melihat ratingnya yang bagus dan pembelinya banyak Jec baru berani membelinya dari pada Deon marah-marah.
Setelah hampir satu jam akhirnya pesanan Jec datang dan laki-laki itu langsung membawanya menuju ruangan bosnya.
"Jec kamu itu cari makanan atau ngapain sih kenapa lama sekali," bentak Deon yang sudah hampir pingsan karena rasa laparnya.
"Maaf Tuan, untuk mencari makanan yang Anda minta memang sedikit jauh dan butuh waktu yang cukup lama untuk membelinya," jawab Jec dengan menunduk hormat.
"Alah itu paling alasan kamu aja, kamu sengaja kan kalau kamu ingin membuat aku mati karena kelaparan," balas Deon bukanya langsung meminta makanan yang ia pesan malah laki-laki itu terus menyalahkan Jec.
"Ini Tuan pesanan Anda." Jec menyodorkan satu mangkok makanan sesuai yang Deon minta sebelumnya.
Namun justru Deon hanya mengaduk aduk makanan itu. Seperti orang kebingungan.
"Jec apa ini yang namanya mie celor khas Palembang?" tanya Deon dengan kedua menyipit dan seperti tidak berminat menikmati makanan yang sudah jec cari hampir satu jam lamanya.
"Iya itu Tuan mienya," jawab Jec sembari setengah terbingung juga dengan reaksi Deon.
Laki-laki yang perutnya memang sudah perih pun melepas masker yang sejak tadi menempel di wajahnya.
Satu sendok Deon cicipi makanan yang menurut Jec adalah mie celor yang Deon minta.
Ehmzzz... Deon melepehkan makanan yang ia masukan ke dalam mulutnya. "Jec kenapa makanan ini sangat tidak enak?" protes Deon dengan meletakan makanan yang ia minta di atas nakas dan laki-laki itu kembali memakai maskernya karena bau makanan yang dia minta sama tidak enaknya dengan makanan yang tadi suster antar untuk sarapan dirinya dan berhasil di buang oleh Deon, dan juga menjadikan kehebohan di pagi hari.
__ADS_1
Jec kembali menyipitkan kedua matanya heran dan aneh juga, sangat aneh malah. Di mana biasanya Deon adalah orang yang jarang sekali mau direpotkan dengan pemilihan makanan. Jec yang penasaran pun mengambil satu sendok mie celor itu dan mencicipinya.
Hemz... "Ini rasanya sangat enak Tuan, pantas yang beli mengantri karena memang rasanya seenak ini," ucap Jec, memuji rasa masakan yang bernama mie celor.
Deon mengangkat wajahnya yang sedang murung memikirkan makanan apa yang kira-kira enak untuk ia makan. "Kamu jangan bohongi aku dengan rasa masakan yang tidak enak itu," ujar Deon yang memang dia merasa makanan itu tidak enak.
"Baiklah kalau tidak enak biar saya yang makan apa boleh Tuan, kebetulan saya belum makan," izin Jec dan Deon pun mengizinkannya.
"Makan kalau perlu habiskan dengan mangkoknya." Deon pun kembali memikirkan apa yang ingin ia makan, perutnya semakin perih. Mata Deon menangkap Jec yang sedang memakan satu mangkok mie celor yang Deon katakan tidak enak. Tetapi ketika Jec yang memakannya Deon sampai ikut menelan salivanya.
Yah, Deon melihat Jec makan makanan yang tadi ia rasakan tidak enak sama sekali dengan lahap dan seolah justru rasa yang Jec nikmati jauh lebih lezat.
"Jec apa itu sangat enak?" tanya Deon akhirnya buka suara setelah sekian lama hanya melihat Jec menikmati makanan yang ia minta, dari Jec makan dari jarak jauh karena memang aromanya Deon mengatakan bau tidak enak.
"Enak Tuan, ini adalah mie celor terenak yang pernah aku makan," jawab Jec dengan mengusap sisa keringat yang ada di keningnya dengan selembar tisu.
"Coba bawa kesini Jec aku ingin mencobanya," ucap Deon dan Jec langsung menelan salivanya besar.
Glekkk... "Tapi Tuan ini tinggal sedikit," jawab Jec merasa bersalah telah menghabiskan makanan yang Deon minta.
"Tidak masalah aku hanya ingin mencoba rasanya lagi." Deon kembali memaksa, dan Jec pun akhirnya menyerahkan mangkok yang isinya hampir habis paling sisa dua atau tiga sendok lagi.
Deon membuka maskernya lagi, matanya di pejamkan dan nafasnya ditahan, karena ada trauma dengan bau-bauan itu, tetapi Deon justru heran bau-bauan itu tidak ia cium. dan Deon pun mengambil satu sendok sisa mie celor, dari kejauhan Jec juga merasakan cemas sekaligus kebingungan sangar berbeda biasanya Deon paling tidak mau makanannya di gabung dengan yang lain, tetapi hari ini ia malah memakan makanan sisa Jec.
Jec kembali tercengang ketika dengan lahap Deon menikmati makanan yang tinggal sedikit lagi. Terlihat sangat enak seperti nya.
"Jec, apa tidak ada makanan ini lagi, aku suka makanan ini dan sangat enak," puji Deon dan hal itu berhasil membuat Jec heran dan tersentak kaget.
Uhuk.... uhuk... Jec terbatuk dan kembali dibuat bingung oleh bosnya itu.
"Ada apa yang terjadi dengan Anda Tuan, apa ini yang namanya kesambet?" batin Jec. laki-laki itu sudah menayangkan bakalan direpotkan lagi oleh Deon.
__ADS_1
...****************...