
[Jec, informasi apa yang kamu dapatkan dari laki-laki cacat itu?] cecar Deon, dari sebrang telpon dengan nada bicara yang tidak tenang,seolah laki-laki itu tidak sabar untuk mendengarkan laporan dari Jec, bahkan Jec belum datang saja Deon sudah meneleponnya.
Bukankah nanti Jec juga akan kembali ke ruangannya dan akan segera melaporkan apa yang terjadi dengan Alzam, dan rencananya untuk bernegosiasi dengan dokter Doni. (Dokter yang menangani sakit Deon selama dua tahun ini).
Jec di sebrang telpon membuang nafas kasar. [Tuan, saya belum bisa bertemu dengan dokter itu, karenanya saat ini Alzam juga masih berada di dalam ruangannya,] jawab Jec, padahal saat ini Deon masih mengamati Alzam yang terlihat sekali sedang bersedih, dan Jec yakin kalau semuanya itu dari sakit yang ia deritanya.
Jec bahkan tidak tega rasanya kalau harus menambah lagi derita Alzam. Bahkan Jec tidak mengerti lagi jalan pikiran Deon itu seperti apa. Luson sudah diamankan, sampai laki-laki itu ingin membu-nuhnya juga Luson sudah tidak akan berkutik lagi, tetapi kenapa ia terus membuat masalah-masalah yang baru, dengan menyeret-nyeret Alzam kedalam kehidupannya.
"Apa kalau Alzam meninggal pun Qari mau menerima Deon?" guman Jec, sembari matanya tidak lepas dari gerak gerik Alzam, yang saat ini sedang diawasi nya.
[Aku tidak mau tahu Jec, kamu datang padaku dengan membawa kabar gembira aku mau laki-laki itu cepat meninggal, agar aku bisa merebut wanitanya,] bisik Deon dari tempat yang berbeda dengan tersenyum sinis.
"Per-setan dengan dendam, bukanya wanita itu yang mengatakan kalau aku sudah mencintainya. Dan cinta itu harus diperjuangkan. Sekarang aku akan memperjuangkan kamu Qari. Kamu tunggu aku, hingga kita akan berjalan bersama menuju pelaminan yang megah dan mewah, bukan seperti pernikahan kamu dengan laki-laki miskin itu," batin Deon. "Ini adalah impian yang sempurna."
Laki-laki itu kini memiliki tujuan lain dalam hidupnya, dan seolah ia sudah menemukan warna yang indah dalam kehidupan dirinya yang selama ini gelap, dan itu semua berkat Qari wanita yang ia anggap musuhnya juga, karena terlahir dari darah pembunuh.
Deon pun memutuskan sambung telepon setelah memastikan kalau Jec paham dengan ucapannya. Sementara Jec sendiri kembali fokus memperhatikan Alzam.
__ADS_1
Sedangkan Alzam yang sudah merasakan kalau dirinya lebih tenang, kini ia kembali melanjutkan acara selanjutnya yaitu kembali melanjutkan pekerjaannya, membuat janji untuk klien yang sudah berjanji dengannya.
Sesuai yang dikatakan oleh Alzam pukul setengah tiga acara baru selesai, dan dia kembali melajukan dirinya ke kantor Ralf Grup.
"Setop... setop Pak!" Alzam meminta sang sopir kantor yang mengantarnya. "Tunggu di sini yah Pak," ucap Alzam, lalu laki-laki itu keluar mobil dan menghampiri tukang rujak bebek yang ada di sebrang jalan. Ia keinget istrinya yang sedang hamil, di saat cuaca panas seperti ini makan rujak pasti akan sangat segar, selain rujak bebek Alzam juga membeli jajanan lainya seperti cilok dan juga jajanan yang lain di mana Qari dan Cyra adalah satu selera yang sama. Meskipun uang mereka tidak berseri, tetapi mereka masih suka menikmati makanan yang seperti itu. Tidak lupa terakhir minuman wajib para ciwi-ciwi dijaman now yaitu es boba.
Beberapa kantong makanan sudah Alzam jinjing. Ini sebagai hadiah karena Qari sudah mengizinkannya untuk meeting di luar kantor. "Ini buat cemilan biar nggak ngantuk Pak." Alzam menyodorkan satu plastik gorengan, sedangkan dirinya adalah orang yang tidak pernah jajan makanan seperti itu, terutama semenjak sakit. Alzam adalah orang yang paling taat dengan makanan, sehingga Alzam dan Tantri sedikit heran kenapa sel kangker bisa tubuh di tubuh laki-laki itu, sedangkan dirinya adalah orang yang sangat patrang dengan makanan yang seperti jajanan yang saat ini di bawanya untuk sang istri.
Tidak lama menempuh perjalanan yang masih tergolong lenggang, kini Alzam sudah sampai di kantor tempatnya bekerja. Ruangan pertama yang dituju adalah ruangan sang istri. Jajanan yang ia beli harus segera di berikan agar istrinya makin semangat kerjanya dan tentu hati gembira.
"Assalamualaikum," lirih Alzam, sembari membuka ruangan, di mana ada dua wanita sedang serius dengan tumpukan pekerjaannya. Qari tentu yang sudah sangat mengenali suara Alzam langsung mengangkat wajahnya, tidak perduli pekerjaannya sedang tanggung, dan kalau dia tinggalkan bisa mengulang dari awal lagi.
Alzam hanya terkekeh samar. Baru juga di tinggal paling tiga jam, istrinya itu sudah bilang kangen. Kedua bola mata Qari langsung berbinar bahagia ketika ia melihat tangan suaminya tidak kosong. Makanan yang sejak tadi ada di dalam pikiranya tiba-tiba ada di hadapannya dan ini adalah sang suaminya yang berinisiatif untuk membelikannya. Memang Alzam ini adalah laki-laki yang sangat peka.
"Sayang, buruan sini! Itu makanan itu aku mau banget." Qari sudah tidak sabar untuk menikmatinya. Bahkan rasanya setok makan dalam perutnya yang siang tadi dimakanya sudah habis. Cacing-cacing dalam perutnya langsung berdemo minta jatah.
Alzam berjalan menghampiri istrinya. "Aku akan kasih makanan ini, tapi jawab dulu salam aku tadi," ujar Alzam, tangannya menyembunyikan kantong makanan yang ada di tangannya.
__ADS_1
Qari langsung menunjukan wajah masamnya. "Bukanya aku tadi sudah membalas salam," lirih Qari, mungkin dia lupa, saking senangnya Alzam datang hingga lupa membalas salam dari sang suami.
"Belum, Sayang," balas Alzam tangannya tidak bisa diam, kebiasaanya menjawil pipi yang sudah mulai terlihat seperti bakpao, putih mulus dan montok.
"Waalaikumsallam," balas Qari sembari nyengir kuda. Lalu buru-buru tangannya diulurkan untuk meminta makanan yang Alzam belikan. Tidak lupa Alzam juga membagi Mirna.
Qari terlihat sangat menikmati makanan yang Alzam bawakan khusus untuknya, terlebih rujak bebeknya Qari sampai berkeringat memakainya. Padahal ruangannya ber AC.
"Sayang, ini enak banget, kamu beli di mana? Kenapa kamu bisa tahu banget kalau aku sedang ingin makan yang asem, pedas dan segar," ucap Qari, dengan mulut yang masih terus mengunyah. Hingga Alzam dari tadi senang sekali melihatnya. Memang membuat bahagia Qari itu tidak perlu makanan yang mahal, cukup seratus rebu sudah bahagia banget, bagi-bagi juga sama sopir dan Mirna, kan sangat hemat bikin Qari bahagia.
"Ini karena kita ada ikatan batinya yang kuat. Aku seolah dapat bisikan kalau kamu pengin makanan itu semua," jawab Alzam dengan bangga. Padahal itu sudah jelas hanya jawaban ngawur. Laki-laki itu tentu tahu kebiasaan Qari dan dia juga tahu sekali pun Alzam membelikan asal. Qari akan tetap menghargainya.
"Uh... kamu manis banget si Pak suami. Sayang apa kamu tidak mau mencoba makanan ini. Ini enak banget SUMPAH, sampai aku nggak tahu mau nilai dengan nilai berapa saking enaknya." Qari mengulurkan satu sendok rujak yang sedang ia nikmatnya. Namun, buru-buru Alzam menolaknya dengan halus.
"Untuk kamu saja Sayang, perut aku tidak biasa makan yang seperti itu, takut malah nanti sakit," lirih Alzam agar Qari tidak tersinggung. Dan sang wanita itu pun tidak merasa tersinggung Qari kembali menghabiskan sisa makanan yang Alzam belikan. Hingga habis tanpa sisa.
"Terima kasih yah Sayang, aku jadi kenyang banget, dan rasanya jadi malas bekerja," cicit Qari, yang seketika itu jug matanya jadi berat dan pusing melihat tumpukan map laporan yang harus ia cek dan tanda tangani.
__ADS_1
"Aduh rasa jam pulang kenapa jadi lama banget yah." Qari menatap jam yang seolah mundur.