Cinta Berselimut Dendam

Cinta Berselimut Dendam
Akhirnya


__ADS_3

Senja berangsur pergi digantika oleh cahaya rembulan yang begitu terang benderang menambah indahnya malam.


Namun sayang, rumah kediaman Widjaya tak seindah rembulan malam ini.


Aaric yang merasa lelah lebih dulu mengayunkan langkah kakinya ke kamar, kepalanya terasa berat namun tubuhnya terasa sedikit memanas. Dia segera membaringkan tubuhnya di atas kasur empuk milik Nola. Kalau boleh jujur sebenarnya, baik Nola maupun Aaric sama – sama tidak memiliki rasa ketertarikan satu sama lain.


Tapi keadaan yang membuat mereka terjebak dalam sebuah pernikahan dengan tujuan dan alasan yang berbeda. Aaric rela menikahi Nola demi menyelamatkan nama baik keluarga, sedangkan Nola pura – pura mencintai demi melancarkan aksinya balas dendam.


“Mas, Kamu sudah tidur?” tanya Nola karena Aaric tidur dalam cahaya kamar yang temaram sembari menahan gejolak yang tiba – tiba muncul dari dalam dirinya.


Aaric hanya berdehem pelan.


‘Ini kesempatan bagus untukku. Aku akan memasang kamera tersembunyi yang akan merekam semua aksi yang akan dilakukan Aaric padaku. Aku hanya butuh sedikit pengorbanan, tapi aku pastikan kau tidak akan pernah mendapatkannya,’ pikir Nola dengan senyuman liciknya.


Nola sengaja memakai baju transparan untuk menggoda Aaric setelah dia memposisikan kamera yang siap merekam adegan mereka yang akan diberikan kepada Reisya.


Perlahan Nola naik ke atas kasur agar tidak mengganggu Aaric lalu merebahkan tubuhnya di sebelah Aaric dan pura – pura memejamkan matanya. Akhirnya pertahanan Aaric runtuh seketika setelah berusaha keras menahannya. Ia menoleh ke sebelahnya, dibawah cahaya yang temaram, Aaric melihat tubuh Nola yang sedikit terbuka pada bagian atas.


Diluar kesadarannya, Aaric mulai melakukan pergerakan demi pergerakan menjelajahi tubuh yang tanpa perlawanan masih tetap berbaring, hanya sesekali menggeliat membuat Aaric semakin bersemangat.


‘Bagus, Aaric! Teruskan! Besok Aku akan melihat kesakitan dimata orang yang sangat Kamu cintai,’ monolog Nola sambil tersenyum puas.


Nola masih membiarkan Aaric mengabsen setiap inci tubuhnya untuk mendapatkan hasil rekaman yang memuaskan, meskipun dia hampir tergoda, namun kebenciaannya mampu mengendalikannya agar tetap sadar dan fokus.


Nola semakin menggiring Aaric agar lebih dekat dengan kamera untuk mendapatkan suara yang lebih jelas bahwa aaric lah yang merayu Nola lebih dulu.


“Sayang, Aku sudah tidak bisa menahannya lagi. Kau sungguh membuatku tergoda,” racau Aaric yang masih tidak sadarkan diri.


“Apa Kau sungguh mencintaiku?” bisik Nola.


“Ya, Aku sungguh jatuh cinta padamu. Dan sekarang Kau adalah milikku selamanya, tidak ada yang bisa merebutmu dariku,” tukas Aaric yang terus menggerayangi Nola.


“Aku akan memuaskanmu, Sayang,” lontar Nola berbisik di telinga Aaric.


Begitu Aaric bersemangat, dan akan melakukan penyerangan. Tiba – tiba Nola mampu menahan Aaric.


“Sayang, bolehkah Aku ke kamar mandi sebentar?”


“Tapi Aku..,”


Tanpa persetujuan Nola sudah beranjak dari ranjang panasnya malam ini, membuat Aaric sedikit kecewa. Namun ia masih berusaha menahan dan menjatuhkan tubuhnya dengan kasar.


Nola yang cerdik tidak menyia – nyiakan kesempatan yang ada, sambil berjalan, tangannya menyambar kameranya dan langsung pergi keluar kamar menuju kamar Reisya dan menguncinya rapat – rapat.

__ADS_1


Aaric pun berteriak sangat frustasi.


“Aaaaaaaaaaakkkkkhhhhhh!!!!” teriaknya seraya menahan sakit dalam tubuhnya akibat obat perangsang yang dicampurkan Nola pada minuman Aaric.


Sementara di kamar sebelah, Nola merasa sangat puas dengan hasil kerjanya malam ini. Dia memutar kembali rekaman dirinya bersama Aaric. Senyum licik kembali terukir di sudut bibir Nola.


“Hmm, apakah setelah melihat ini Kau masih yakin dan berharap Aaric akan mencari lalu menyelamatkanmu?! Jangan harap, Rei. Kau akan mati dengan cara perlahan,” cecar Nola lirih.



Hari ini dengan penuh semangat, Nola akan kembali ke rumah Hutomo untuk menunjukkan rekamannya pada Reisya.


“La, sepertinya Kamu bahagia sekali pagi ini,” tegur Bu Widjaya saat melihat Nola berjalan ke arah luar.


“Oh, tentu dong Ma. Pengantin baru, ‘kan? Masa iya Mama lupa, gimana rasanya tidur bersama suami,” sahut Nola dengan senyum mengejek.


‘Rasanya Aaric tidak akan secepat itu melupakan Reisya. Bagaimana dia..,’


“Nola pergi dulu ya, Ma,” sela Nola sambil berlalu ke luar rumah karena taksi online yang dipesannya sudah menunggu di depan gerbang.


Aaric yang semakin dibuat penasaran oleh Nola sengaja pergi dari rumah namun tidak untuk bekerja, melainkan untuk mengekori kemanapun Nola pergi dan apa yang sedang disembunyikannya.


Aaric merasa curiga terhadap sejak hari pertama pernikahan mereka. Ditambah kejadian malam tadi yang membuatnya semakin yakin ada rahasia besar dibalik hilangnya Reisya.


Nola tidak sadar ada yang mengikutinya dari belakang. Dengan santainya ia turun dari taksi, memakai kacamata hitamnya kemudian mengayunkan langkahnya menuju rumah Hutomo.


Aaric pun mengikuti secara mengendap – endap. Kebetulan hari ini istana kerajaan Hutomo sedikit lengang dari penjagaan. Dikarenakan mereka sedang berpesta de tempat lain, namun Nola sudah meminta izin untuk bertemu dengan Reisya.


Yang ada saat ini hanya penjaga pintu gudang tempat Reisya di sekap.


“Aku ingin bertemu Rei. Jadi bukakan pintunya untukku,” titah Nola pada dua orang penjaga yang siaga di depan pintu.


“Apakah Nona sudah mendapat izin dari Tuan Hutomo?” tanya salah satu penjaga.


“Sudah.”


“Baiklah, kalau begitu.”


Lalu penjaga tersebut membukakan pintunya untuk Nola, dan dengan segera ia melangkah masuk. Sementara Aaric juga sudah berhasil masuk dan hampir mendekati ruangan. Samar terdengar suara berisik dari dalam.


Aaric semakin menajamkan pendengarannya. Kemudian memperhatikan sekelilingnya untuk mengalihkan fokus sang penjaga agar bisa dengan mudah mencapai ambang pintu dan melihat jelas siapa yang ada di dalam.


Klonteeeng……

__ADS_1


Aaric melemparkan sebuah kaleng kecil ke sembarang arah untuk merusak konsentrasi kedua penjaga tersebut untuk memudahkan langkah Aaric.


“Suara apa itu?” tanya salah satu penjaga.


“Liat gih!” perintah penjaga yang berbadan lebih kekar.


Si penjaga pun pergi melihat ke arah sumber suara. Dengan sigap Aaric memukul tengkuk sang penjaga dan membuatnya pingsan. Mendengar suara ribut, penjaga yang satunya pun mendatangi sumber suara tanpa mengkhawatirkan pintu gudang yang sedikit terbuka.


Aaric pun melakukan hal yang sama pada si penjaga kedua dan membuatnya ikut pingsan. Lalu, Aaric langsung melesat ke dalam gudang. Dan mendapati tubuh Reisya yang sangat lusuh dan rambut yang sangat berantakan dengan kedua tangan terikat ke belakang, mulut disumbat dengan kain.


Aaric sempat merekam semua adegan penyiksaan yang dilakukan Nola pada Reisya. Kejam dan seakan tidak ada kasih sayang sedikit pun dihatinya sembari memperlihatkan adengan ranjangnya bersama Aaric malam tadi.


Reisya hanya bisa menangis tanpa perlawanan. Hatinya hancur berkeping – keping saat melihat ganasnya Aaric di ranjang. Kini kebenciannya hadir menyelimuti seluruh ruang hatinya.


Tiba – tiba Aaric masuk ke dalm gudang dan membuat mata Nola melotot dengan nafas yang memburu.


“Ternyata Kamu biangnya selama ini?!!! Berlakon seolah – olah tidak mengetahui apapun tentang hilangnya Reisya. Tapi ternyata, Kamulah Iblis yang bermuka manusia.”


“Bab-bagaimana Kamu bisa tahu aku ada disini, Sayang?”


“Cihh!! Jangan panggil Aku ‘Sayang’ dengan mulut kotormu itu! Aku jijik mendengarnya!”


“Tapi, Aku beneran sayang sama Kamu. Apa Kamu sudah melupakan aksi panas kita tadi malam?”


Nola masih mencoba berbasa – basi.


“Sekarang lepaskan Reisya! CEPAT!!!” bentak Aaric dengan emosi yang sangat membuncah.


Nola yang tidak punya pengalaman dengan dunia kejahatan, nyalinya ikut menciut. Dan dengan segera ia membuka ikatan demi ikatan yang melilit tubuh Reisya.


Aaric segera meraih tubuh Reisya . Lalu bergeser mendekati Nola dengan tatapan sangat tajam dan membunuh. Nola menundukkan kepalanya.


“Mas, ma -mau apa Kamu?” lirih Nola ketakutan.


“Aku akan melakukan hal yang sama seperti yang telah Kamu lakukan pada Reisya – orang yang sangat Aku cintai,” berang Aaric sembari menarik kasar tubuh Nola dan memposisikannya sama seperti posisi Reisya sebelumnya.


Dengan segera Aaric dan penuh hati – hati, ia membawa Reisya keluar dari gudang penyiksaan itu tanpa memperdulikan teriakan Nola. Meskipun mulutnya sudah di sumbat.


Akhirnya mereka berhasil meloloskan diri dari iblis betina yang sangat menakutkan.


Dengan tatapan yang sangat dalam, kedua tangan Aaric menangkup pipi kekasihnya yang hanya diam membeku tanpa kata – kata. Hanya air mata yang terus mengalir di kedua pipinya sebagai ungkapan rasa sakitnya.


“Sayang, maafkan Mas,” ucap Aaric sambil memeluk erat tubuh Reisya.

__ADS_1


__ADS_2