
Qari dan Alzam, serta buah hatinya Nara, hari ini mereka pulang ke rumah mereka setelah tiga hari tinggal di rumah keluarganya. Hubunganya dengan Tantri semakin hari pun semakin baik. Begitupun Tantri dengan keluarga Qari sudah semakin membaik. Tidak ada lagi ketegangan, semua yay pernah terjadi sudah dimaafkan satu sama lain.
Tantri bahkan sudah menyambut di depan rumah dengan wajahnya yang ceria ketika keluarga abangnya akan kembali ke rumah ini lagi. Niatanya untuk pergi ikut ke kampung bi Sarni pun belum diutarakan karena gadis kecil itu ingin menunggu waktu yang tepat.
"Nara..." Pekik Tantri ketika Qari ke luar dari dalam mobil dengan menggendong bayi yang masih merah.
"Hay Tante, ayo kita masuk, Dede Nara kepanasan," ucap Qari sembari berlari kecil, karena cuaca di luar rumah yang panas sekali.
"Oh astaga Kakak, kenapa ponakan Nara menggemaskan sekali," seru Qari ketika melihat pipi Nara yang semerah tomat, belum matanya yang biru pudar, kulit tubuh yang putih menambah kecantikan bayi usia dua minggu itu.
"Iya Tante, apa kamu mau gendong ponakan bayi, Sayang?" tanya Qari dan Tantri pun langsung menatap kakak iparnya dengan tatapan yang iba.
"Apa Tantri boleh menggendongnya?" tanya Tantri dengan tatapan yang mengiba.
"Boleh dong, ponakan bayi kan ponakan Tantri juga," ucap Qari dengan memberika Nara untuk di gendong Tantri, awalnya tentu gadis usia dua belas tahun itu sangat kaku dan terlihat sekali kalau ketakutan, tetapi lama kelamaan bisa mengimbangi Nara yang semakin aktif.
Alzam pun tersenyum ketika dia baru masuk dengan tas perlengkapan Nara di tanganya. Ia pernah mebuat kesalahan hingga ia hampir mengakibatkan keluarganya hancur, kali ini Alzam akan bersikap sebaik mungkin menjadi kakak yang baik dan juga suami yang baik untuk Qari.
"Wah, kayaknya Papah bakal tergeser ini,sama Tante Tantri yang udah jago gendong," ucap Alzam mengagetkan Tantri yang maih fokus dengan bayi mungil di tanganya.
"Astaga Abang, Tantri sampai kaget, bahkan ponakan bayi juga kaget tau," dengus Tantri dengan melayangkan tatapan yang tajam.
"Oh maaf Sayang Abang tidak tahu." Alzam memeluk Tantri dengan kuat dan menciumnya berkali-kali.
"Nanti malam kamu tidur kamar abang yah, temanin ponakan bayi dan kita. Abang pengin tidur dengan kalian," ucap Alzam dengan merangkul pundak adik kecilnya.
__ADS_1
"Abang tidak sedang sakit kan?" tanya Tantri dengan tatapan yang bingung.
"Tidak abang sehat, abang hanya ingin kamu tidur di kamar abang saja apa abang salah?" tanya Alzam dengan wajah yang memelas.
"Tidak salah, kan Tantri juga hanya bertanya," balas Tantri dengan memanyukan bibirnya.
"Jadi maukan tidur dengan kita?" tanya Qari kali ini mengambil jatah bicara juga.
Tantri nampak berpikir. "Mau nggak yah?"
"Mau lah, kan itu permintaan ponakan bayi," imbuh Qari membawa-bawa Nara agar Tantri mau tidur denganya lagi.
"Ok baiklah, Tantri juga ingin berbicara dengan kakak dan abang," ucap Tantri pasrah, dan mungkin memang ini juga kesempatan dirinya untuk mengutarakan apa yang selama ini dia inginkan, tetapi kalau kedua kakaknya tidak mengizinkan Tantri sudah belajar ikhlas.
Saking serunya bermain dengan ponakan bayi Tantri sampai lupa bahwa ia belum makan siang.
"Neng, bibi suapin makan siangnya yah," ucap Bi Sarni yang selalu perhatian dengan majikan kecilnya.
Tantri pun menatap bi Sarni. "Boleh deh Bi, tapi sekali ini saja yah, besok-besok tidak lagi," ucap Tantri, mungkin gadis kecil itu sudah memiliki rasa malu.
Gegas bi Sarni pun mengambil makanan siang untuk Tantri dan menyuapinya, sementara Tantri sendiri sedang asik bermain dengan ponakan bayinya.
"Dih, udah besar juga tetap disuapin, malu dong," ucap Alzam yang baru saja turun dari kamarnya dengan penampilan yang lebih segar.
"Apaan kan cuma sekali, nggak apa-apa lah, iya kan Bi" bela Tantri, dengan meminta bantuan bi Sarni yang terlihat sayang dengan Tantri. Apalagi sekarang untuk tidur saja Tantri selalu meminta bi Sarni untuk menemaninya. Sehingga hubungan Tantri dan bi Sarni terlihat semakin hanyat.
__ADS_1
"Iya nggak apa-apa bilang ajah Abang Al cemburu tuh, karena sekarang nggak ada yang suapin," bela bi Sarni benar-benar membuat Tantri besar kepala, karena sekarang sudah ada pembelanya.
"Abang... Soal Tantri yang ingin ikut ke kampung halaman Bi Sarni boleh kan? Tantri ingin merasakan hidup mandiri dan menikmati suasana yang baru Bang, janji deh tidak akan lama," ucap Tantri yang tidak memiliki kesempatan lain selain saat ini.
"Tunggu Kakak Qari yah, dia sedang mandi, nanti kita bahas bersama karena kamu sekarang juga sudah jadi adik dari kakak Qari jadi suara dari kakak juga butuh untuk kamu," ucap Alzam dengan mengusap rambut Tantri. Gadis kecil itu pun mengangguk dengan semangat.
"Kalau kakak mana yang membuat hati Tantri bahagia, insyaAllah kakak setuju." Suara Qari yang datang tiba-tiba membuat Tantri langsung mengangkat wajahnya. Dengan tatapan yang mengiba.
Tantri pun mengembangkan senyumnya, "Kakak Qari serius?" tanya Tantri seolah ucapan Qari kurang jelas untuk di terima akal pikir bocah kecil itu.
Qari pun mengangguk dengan kuat. "Kakak tidak ingin memaksakan lagi, kala kamu merasa nyaman di rumah rumah Bibi Sarni nantinya, Kakak tidak akan memaksa kamu untuk tetap tinggal di sini karena masa remaja seperti kamu sedang ingin tahu dengan banyak kegiatan, tapi ngomong-ngomong Bi Sarni sendiri gimana? Apa Bi Sarni mengizinkan kalau Tantri tinggal di rumah Bibi?" tanya Qari, kali ini pandangan matanya dialihkan pada bi Sarni yang sedang menunduk.
"Bibi tidak keberatan Non, justru Bibi senang, kalau Neng Tantri ingin mencobain tinggal di kampung," balas Bi Sarni dengan tegas ini bukan sekedar ucapan saja tetapi memang bi Sarni kalau ada temanya dan ada penghasilan yang pasti pasti lebih nyaman tinggal di kampung halaman, selain karena nyaman, tinggal dikampung halaman pun semakin terlihat bahagia pastinya.
Anak bi Sarni dua sudah menikah dan ikut dengan suaminya, sedangkan bi Sarni sendiri adalah orang tua tunggal setelah suaminya bercerai. Dan kini ada Tantri yang sudah ia anggap seperti anaknya sendiri.
"Ya udah kalau memang Bi Sarni tidak keberatan Qari tidak bisa berbuat apa-apa selain mengizinkan Tantri ikut pulang kampung dengan bi Sarni, tapi ingat, semuanya boleh pulang kampung kalau sudah lulus, jadi sekarang belajar dulu yang pintar agar lulus baru nanti boleh pulang kampung," ucap Qari, kali ini menatap pada adik kecilnya.
Tantri sendiri pun terlihat sangat bahagia. "Ok Kak Tantri pasti belajar lebih baik lagi dan terima kasih untuk izinya," balas Tantri terlihat sekali bahagia dari gadis kecil itu.
Alzam pun tidak ketinggalan ikut bahagia dengan kebahagiaan yang ditunjukan oleh Tantri. Kini gadis kecil itu pun terlihat sangat gembira dengan kebahagiaan Tantri. Selama ini Alzam merasa salah karena ia berpikir Tantri bahagia kalau bersama dengan dia terus, tetapi Alzam lupa setandar bahagia seseorang itu berbeda-beda termasuk Tantri yang ingin memanfatkan waktu remajanya dengan meraih apa yang belum pernah dia rasakan.
Qari, Tantri pun saat ini terlihat sekali kebahagiaanya. Alzam pun sama ketika dua wanitanya bahagia maka dia akan ikut bahagia.
TAMAT...(Untuk kisah Qari dan Alzam sudah sampai di sini saja dulu yah. Mungkin Othor akan lanjutkan tetapi fokus ke Deon dan Jec saja dulu!)
__ADS_1