Cinta Berselimut Dendam

Cinta Berselimut Dendam
Cinta Berselimut Dendam Episode 243


__ADS_3

Dengan tangan bergetar Cucu pun membuka amplop yang di berikan oleh Iriana.


Kedua mata Cucu melebar sempurna ketika membaca hasil dari pemeriksaanya.


"Mom... Ini artinya apa?" tanya Cucu dengan bingung.


Iriana pun langsung tersenyum ketika Cucu bertanya maksud dari hasil pemeriksaanya. Yah, sebenarnya Cucu sudah sangat paham dengan apa yang dia maksud dari amplop itu tetapi mungkin untuk memastikan lagi sehingga Cucu pun bertanya pada Iriana. Apakah dugaannya benar atau salah.


"Kamu hamil Sayang," jawab Iriana dengan suara yang lembut tetapi justru Cucu menggelengkan kepalanya seolah wanita itu tidak yakin kalau dirinya hamil.


"Tidak mungkin Mom, kemarin saya masih haid," jawab Cucu dengan setengah bingung, dan alhasil bukan Cucu saja yang bingung tetapi Iriana juga bingung.


"Bukan haid kali Sayang mungkin itu seperti flex yang menandakan kalau kamu kecapean, nanti kamu konsultasi lagi saja dengan dokter agar  bisa memeriksa kondisi janin kamu," balas Iriana mencoba menenangkan Cucu yang mana dari wajah Cucu sudah bisa ditebak kalau wanita itu cukup cemas dan bingung. Benar saja Cucu pun mengangguk dengan lemah.


"Mom, apa Cucu harus kasih tahu pada Deon?" tanya Cucu, yang masih ada gurat kesedihan di wajah pucat nya. Yah sebenarnya ini adalah kabar bahagia, tetapi entah mengapa Cucu justru kurang bersemangat untuk menyambutnya hal itu karena tidak adanya suami di sampingnya. Di saat pasangan lain apabila mengetahui kalau dirinya hamil akan menjadi momen yang sangat ditunggu, tetapi justru Cucu malah dilanda ketakutan, dan juga kegundahan.


"Kamu boleh kabarkan pada Deon setelah dokter memeriksa kamu sekali lagi, Momy juga takut ada kesalahan dalam pemeriksaan ini, kalau memang sudah pasti kalau kamu hamil, kamu boleh kabarkan pada Deon," ucap Iriana dengan mengusap punggung tangan Cucu, dan Cucu pun membalas dengan anggukan kepala yang lemah.


Sementara Iriana saat ini bisa dibilang lolos dari cara  kecemasan karena Cucu tidak jadi menghubungi Deon, yah Iriana takut kalau Cucu tahu nomor ponsel Deon tidak bisa di hubungi sehingga Cucu akan tambah bingung dengan nomor Deon yang tak kunjungi aktif. Pasti bisa saja Cucu berpikir macam-macam, dan berefek buruk pada kandungannya.


"Lebih baik kamu istirahat lagi yah ini sudah larut malam, dan besok Momy akan minta dokter untuk mengecek kamu lagi, dan mudah-mudahan kamu memang benar hamil," jawab Iriana, dan di balas anggukan kepala oleh Cucu.


Sesuai yang dikatakan oleh Iriana, Cucu pun kembali istirahat dan begitupun dengan Iriana yang mana dia juga ikut istirahat ini sudah larut malam sehingga rasa kantuk pun menyelimuti wanita paruh baya itu, dengan berharap kalau besok begitu ia bangun sudah bisa dengan kabar kalau Deon sudah bisa dihubungi nomornya.

__ADS_1


Malam berlalu, dan siang pun datang, Deon yang dalam perjalanan udaranya  sudah tidur dengan sangat puas akhirnya di detik-detik terakhir penerbangan pun dia bangun, yah Deon bangun karena dia merasakan lapar. Mungkin kalau bukan karena lapar Deon tidak akan bangun dan juga lebih memilih menghabiskan perjam-jam perjalanan nya untuk tidur.


"Ngomong-ngomong Cucu nyariin tidak yah," batin Deon, tetapi ia sudah bertekad tidak akan mengabarkan pada Cucu kalau dia akan pulang secepat ini. Yah, Deon sangat yakin kalau Cucu pasti senang dengan dirinya yang tiba-tiba pulang.


Setelah makan dan juga kenyang lalu tidur lagi dan bangun, Deon pun akhirnya sampai juga di tanah air tanpa menunggu lama Deon langsung naik taxi untuk menuju rumahnya yang mana saat ini kalau tidak ada halangan Cucu juga masih tidur dan itu tandanya dia bisa memberikan kejutan untuk sang istri. Namun, justru sepertinya Deon yang akan dikejutkan oleh Cucu.


"Loh, Tuan Deon sudah pulang? Terus Neng Cucu berati sama Tuan Deon?" tanya asisten rumah tangga yang membukakan pintu untuk Deon dengan pandangan mata menatap awas ke belakang Deon, seolah tengah mencari seseorang.


"Maksud Bibi gimana?" tanya Deon dengan bingung, apalagi ketika melihat gelagat sang asisten rumah tangga yang juga terlihat bingung juga.


"Neng Cucu dari semalam tidak pulang Tuan, dan Bibi pikir malah pulang barengan Tuan Deon," jawab Bi Sarni.


"Jadi Cucu dari semalam tidak pulang?" tanya Deon dengan kedua bola mata yang melebar sempurna, bahkan koper yang berisi pakaian dia sudah terjatuh. Dia sudah membayangkan kalau pulang bahkan disambut oleh sang istri dan nyatanya Cucu justru belum pulang dari semalam.


Tidak menunggu lama Deon pun sudah berada di depan rumah kakek dan nenek dari sang istri.


"Loh Nak Deon sudah pulang?" Sama dengan Bi Sarni, Nenek dari sang istri juga kaget ketika tiba-tiba ada cucu menantunya di depan rumahnya.


"Iya Nek, Cucu ada di sini?" tanya Deon, dengan suara yang bergetar menandakan kalau dia sangat cemas.


"Cucu? Bukanya sudah satu minggu tidak ke sini," jawab sang Nenek, yang langsung membuat Deon semakin panik.


"Tidak ke sini,.tetapi di rumah juga tidak ada, terus Cucu ke mana?" gumam Deon yang masih bisa di dengar oleh wanita yang sudah tidak muda lagi.

__ADS_1


"Sudah di telpon?" tanya Nenek dengan suara yang lirih.


"Oh ya Tuhan, bahkan aku lupa menyalakan telpon," ucap Deon dan bodohnya lagi telepon ada di tas dan tasnya ketinggalan di rumah.


"Sial! Apes sekali aku," ucap Deon dengan suara yang  tertahan dan dia menatap mobilnya, yang artinya mau tidak mau dia harus kembali ke rumahnya.


"Kenapa Nak Deon?" tanya Nenek dengan bingung juga.


"Nek, saya pulang dulu yah, ponsel saya ketinggalan di rumah dan  nanti kalau Cucu ke sini. Tolong katakan Deon sudah pulang," ucap Deon yang tanpa menunggu jawaban dari sang nenek, laki-laki yang sedang panik langsung kembali meninggalkan rumah sederhana itu dan menuju rumahnya.


"Aduh, kenapa malah jadi berabe gini sih, padahal kan niatnya aku mau memberikan kejutan, tapi kenapa malah aku yang dapat kejutan gini," pekik Deon, tidak henti-hentinya laki-laki itu mengutuk dirinya sendiri yang bisa-bisanya ponsel juga ketinggalan. Itu saking ia sepanjang perjalanan tidur dan ponsel juga tidak dia otak atik sehingga dia lupa mengambil di tas ranselnya.


Setelah menempuh perjalanan yang cukup macet dan bahkan di hampir menghabiskan waktu dua jam untuk muter-muter pada akhirnya dia pulang lagi.


"Tuan, Neng Cucu belum ke temu juga?" tanya Bi Sarni ketika dia melihat sang majikan kembali lagi ke rumahnya tanpa bersama dengan Cucu.


"Aduh Bi, gimana mau bersama dengan Cucu, ponsel asah ketinggalan," eluh Deon sembari mengayunkan kakinya untuk mengambil ponselnya. Dan begitu ponsel di nyalakan betapa kagetnya dia banyak skali panggilan dari Jec dan juga Doni. Tangan Deon terus menggulir layar pintarnya, mencari nama Cucu, tetapi Deon kembali sedih ketika nama Cucu tidak menghubunginya, jangankan menghubungi berkirim pesan pun tidak.


"Cu, kamu sebenarnya di mana?"


Bersambung...


...****************...

__ADS_1


__ADS_2