
Huek... Huek... Baru saja Deon bisa terpejam matanya, tiba-tiba perutnya serasa diaduk-aduk dan ia langsung muntah, hingga terasa pahit di mulutnya.
"Jec... ini bau apa, kenapa bau tidak enak sekali," bentak Deon, setiap ia masuk ruangannya laki-laki itu mencium bau yang tidak nyaman.
Jec mencoba mengendus bau apa kira-kira yang ada di dalam ruangan bosnya itu. Namun hidung Jec tidak mencium aroma yang aneh-aneh, dan justru Deon mencium bau wangi makanan yang baru di hidangkan oleh p[perawat untuk jatah sarapan Deon.
'Apa mungkin hidung aku sudah tidak berfungsi dengan normal. Apa malah kena virus covid 19, yang katanya salah satu tanda-tandanya adalah kehilangan fungsi penciuman,' batin Deon, hidungnya masih mencoba mengendus ruangan VVIP itu, yang seharusnya dengan biaya yang di keluarkan Deon, dia mendapatkan ruangan yang tergolong super baik dan tidak seperti ini.
"Jec!! Kenapa kamu malah diam saja, bilang sama perawat, petugas rumah sakit atau malah Og dan Ob rumah sakit minta mereka kerja yang benar dan bersihkan ruangan ini sekarang," murka Deon, dan tubuhnya saat ini sudah semakin lemas dan sakit di perutnya terasa nyeri lagi karena dia yang mutah-muntah tadi.
Pranggg... Deon melempar jatah sarapan dari rumah sakit, dan ternyata dari makanan itu Deon merasakan sakit kembali.
"Buang sampah itu Jec, siapa yang meletakan makanan itu di ruangan ini, bikin mood aku hancur ajah." Kedua mata Deon langsung menajam sempurna ketika ia sudah tahu dari mana sumber bau yang membuatnya muntah-muntah di pagi hari hingga jahitan di perutnya terasa nyeri lagi.
Deon bahkan untuk mengurangi bau itu sudah menggunakan masker KN 95, tetapi bau itu serasa masih terasa di ingatannya sehingga Deon sangat tidak nyaman.
Hampir satu jam ruangan Deon di sterilkan lagi, dan kali ini makanan yang masuk tidak sembarangan takut seperti tadi lagi, akibat makanan sialan itu Deon hari ini tidak diizinkan pulang karena jahitannya terasa sakit lagi, bahkan untuk menggerakkan tangan dan mengambil nafas dalam terasa nyeri di bagian luka itu.
Sialan seharusnya gue bisa lihat wanita itu sedang ngapain aja dengan si miskin yang cacat, gara-gara perawat bodoh itu aku harus kembali melanjutkan rawat inap ku," gerutu Deon dengan tidak tahu dirinya. Hampir semua yang datang ke ruangannya kena semprot oleh laki-laki itu, dan yang paling kenyang kena semprot adalah Jec, serba salah panggil ini salah panggil itu salah.
__ADS_1
Ini adalah nasib paling naas buat Jec karena dari pagi sudah kena omel Deon terus.
"Jec, bilang sama Dokter aku mau di rawat di rumah ajah, rumah sakit ini sudah sangat membuat aku kecewa. Pilihkan dokter terbaik untuk merawat ku," pinta Deon lagi.
Jec lagi-lagi menarik nafasnya dengan dalam dan mungkin kalau tidak malu laki-laki itu ingin menangis sesenggukan karena Deon yang tidak ada berhentinya membuat ia kesal. Bahkan dari Deon bangun yang merasa mual Jec terus mengerjakan ini itu memanggil perawat Ob dan juga dokter. Lebih parahnya lagi ketika Deon akan duduk dia sudah di perintah dengan tidak tahu untung oleh Deon lagi.
"Tuan apa tidak lebih baik Anda di rawat di rumah sakit saja, selain fasilitasnya lengkap kalau terjadi dengan Anda juga bisa segera dilakukan tindakan. Saya takut Anda akan mengalami sakit yang lebih parah sehingga perlu penanganan yang lebih," usul Jec, suaranya sangat lembut dan juga pelan agar Deon yang sejak pagi uring-uringan terus tidak tersinggung.
"Jec, kenapa sekarang kamu bawel banget seperti perempuan. Kamu tinggal jalankan apa yang aku bilang jangan banyak nawar, repot banget kamu jadi orang." Kembali Deon untuk kesekian kalinya tidak mau mendengarkan apa yang dikatakan oleh Jec.
Tangan Jec sudah sangat ingin menjambak rambutnya dan berteriak dengan keras. Namun, Jec tahu semuanya tidak akan ada perubahannya.
"Baiklah Tuan, saya akan jalankan sesuai yang Anda mau." Jec akhirnya lagi-lagi mengikuti apa yang Deon katakan. Meninggalkan Deon di ruangan itu sedangkan laki-laki itu mengurus kepulangan Deon, meskipun dokter juga melarang karena luka Deon yang masih basah dan sangat beresiko kalau dirawat di rumah.
'Aduh kenapa perut aku lapar yah, tapi rasanya mulut pait buat menelan dan juga sakit,' gerundel Deon sembari memegangi perutnya yang semakin perih.
"Jadi pengin makan mie celor. Kayaknya kalau makan itu enak deh," batin Deon lagi.
"Jec... Jec..." Deon kembali teriak mencari asistennya yang mana dia baru saja keluar, tetapi justru sudah kembali di panggil oleh Deon. Sedangkan Deon di ruangan sang dokter penanggung jawab yang menangani Deon tidak diizinkan untuk pulang. alias sang dokter masih menahan Deon untuk menjalani pengobatan di rumah sakit ini. Alasannya sama dengan yang Jec berikan, yaitu kesehatan yang menurun takut tiba-tiba Deon alami, dan hal itu akan menyusahkan tenaga medis melakukan pertolongan pertama. Apabila di rumah sakit segala alat ada sehingga bisa langsung mendapatkan penanganan.
__ADS_1
Segala upaya Jec katakan dan memberikan jaminan dan uang untuk semuanya di mudahkan, tetapi sepertinya sang dokter bukan tipe yang bisa di bayar dengan uang, sehingga keputusannya sama yaitu menolak Deon pulang ke rumah setidaknya sampai dua hari ke depan.
Jec membuang nafas kasar ketika baru saja keluar dari ruangan sang dokter yang tidak juga memberikan izin Deon untuk pulang, terlebih pemeriksaan seluruh anggota tubuh baru akan dilakukan. Dokter juga membutuhkan analisis lebih untuk penyebab Deon pagi ini mengalami serangan mual yang berlebih.
Tentu tujuan dokter menolak permintaan Deon adalah demi kebaikan bersama, dari pada karena uang yang tidak seberapa, dan tiba-tiba terjadi apa-apa di luar rumah sakit meskipun mereka berkata tidak akan menuntut, tetapi dokter tahu orang seperti Deon yang uangnya tidak berseri akan sangat mudah membuat seorang yang berprofesi sebagai dokter bisa di buat seolah-olah mereka bersalah, terlebih ada proses uang di bawah tangan.
Jec menghirup nafasnya berat, dia pasti akan dimarahin lagi oleh Deon ketika masuk ke kamarnya tanpa hasil yang memuaskan.
Kaki Jec kembali melangkah keruangan Deon yang sudah sangat harum dan juga bersih. Sebelum membuka pintu lebih dulu Jec menghirup nafasnya dalam dan membuangnya berkali-kali, dengan tujuan kegugupannya hilang dan di gantikan dengan kesiapan kalau Deon akan memarahinya.
Cklekkkk... Jec membuka pintu kamar Deon.
"Jec!!! Kamu dari mana saja sih? Mana lama banget lagi, ponsel kamu kenapa nggak di bawa," oceh Deon begitu Jec masuk keruangan bosnya.
Tubuh Jec kembali lemas.'Kan dia mulai pikun, bukanya tadi dia yang minta aku ngomong ke dokter.' batin Jec kesal sendiri.
"Saya kan habis dari dokter Tuan, Bukankah Anda yang minta," jawab Jec dengan suara yang pasrah.
"Tidak usah urus kayak gituan, kamu carikan aku makanan ajah, aku lapar sekali. Rasanya aku akan mati karena kelaparan," bentak Deon. "Carikan aku Mie Celor yang khas Palembang, dan pastikan enak," ucap Deon.
__ADS_1
Seketika itu juga tubuh Jec serasa akan pingsan.
...****************...