
"Kakak, Abang, kalian mau ke mana?" tanya Tantri yang ternyata bocah kecil itu sedang memasak membantu asisten rumah tangga di dapur.
"Loh kamu sudah bangun Sayang?" tanya Qari kaget, padahal dia sengaja membiarkan adik iparnya untuk istirahat lebih lama, dan bangun lebih siang, tetapi justru bocah kecil itu sudah bangun lebih dulu.
"Sudah dari tadi, Tantri tidak biasa kalau harus tidur terus, makanya Tantri bantu Bibi. Sekarang Kakak mau kemana?" tanya Tantri ulang.
"Ke taman, apa kamu mau ikut, jalan kaki biar sehat," jawab Qari sembari menunjuk taman yang cukup lusa, tiga kali keliling rumahnya pun Qari yakin akan cape.
"Tidak ah, mending juga masak. Masak juga termasuk olah raga dan sehat," bela Tantri, kembali menyiapkan sayur yang akan dia masak.
"Baiklah, ayok Sayang, biarkan adik kamu memang lebih suka memasak." Qari pun menggandeng tangan suaminya dengan romantis. Harapannya hanya satu ia tetap bisa bersama dengan Alzam untuk selamanya, dan tidak lagi di ganggu oleh Deon. Biarkan Deon dengan kesibukanya.
Dua pasangan suami istri yang tengah berbahagia pun menyusur taman dengan telanjang kaki, terutam Qari yang usia kandunganya sudah menginjak empat bulan harus banyak-banyak berjalan, agar peredaran daranya lancar.
"Sayang, kapan jatah kamu kontrol ke dokter kandungan?" tanya Alzam, yang sedang duduk, karena sudah cape sedangkan Qari masih jalan-jalan dengan santai.
Calon ibu itu diam, dan nampak dia berhitung, "Sepertinya akhir pekan ini, kenapa Sayang, apa kamu sudah tidak sabar ingin ketemu dengan anak ku?" tanya Qari, yah memang yang lebih antusias terlihat Alzam dari pada dirinya sendiri yang merupakan darah dagingnya.
__ADS_1
"Iya, aku kangen, dan sudah tidak sabar ingin tahu dia cewek apa cowok, dan kenapa rasanya cepat sekali yah dia udah besar dan sebentar lagi lahiran, dan yang bikin kangen itu pasti celotehnya, dan lari-lari apalagi kalau mau kerja nggak di bolehin." Alzam terlihat sudah sangat jauh membayangkanya.
Qari hanya terkekeh, dia sendiri belum membyangkan sejauh mungyki, lebih menikmati hamil, yang kata orang akan mual, pusing dan makan tidak nafsu, sampai tidur susah dan masih banyak cerita-cerita horor yang lainya, tetapi Qari justru tidak merasakan itu, dia sangat enjoy dengan kehamilanya. Bahkan wanita itu sendiri sampai bertanya ngidam itu seperti apa, karena dia sendiri tidak merasakanya. Qari merasa dia biasa saja seperti orang normal tanpa hamil.
Setelah cukup jalan-jalan pagi Qari pun kembali masuk ke dalam rumahnya, dan langsung bersih-bersih dan bersiap untuk kerja kembali.
"Sayang nanti pulang kerja kita ke rumah Mamih yah, kangen," lirih Qari pada Alzam di tengah-tengah sarapan.
"Boleh, Tantri nanti pulang langsung ke rumah Mamih Qanita saja yah biar nanti Kakak jemput di sana," ucap Alzam yang mana di rumah ini mereka sekarng trampotasinya bukan sepeda motor melainkan mobil dan mobil mereka justru ada dua, untuk Tantri sekolah dan untuk Alzam dan Qari yang di peruntukan untuk bekerja.
Setelah sarapan mereka pun langsung menuju tempat tujuanya masing-masing, kali ini baik Tantri dan kedua kakaknya sangat tertutup, seperti seorang buruan polisi mereka tidak sembarangan membuka jendela mobil, karena takut kalau orang-orang suruhan Deon mengetahui di mana tempat tinggal Qari saat ini, yang Qari yakini pasti Deon akan kalang kabut kalau tahu Qari dan Alzam sudah pindah dari rumah itu.
"Sayang gimana kalau pagi ini kita belangkat lewat rumah kita yang lama, apa kira-kira di rumah itu ada orang-orang yang kita curigai kalau dia adalah suruha Deon," usul Qari, dengan senyum jahilnya, ia ingin tahu orang-orang itu apakah akan terus betah di rumah itu, dan sampai kapan orang-orang itu akan curiga, kalau ternyata mereka hanya mengawasi rumah yang kosong.
Alzam menatap Qari dengan tatapan yang tajam. "Kamu yakin Sayang, nanti kalau mereka curiga gimana?" tanya Alzam, tidak ingin mengambil resiko.
"Tidak Sayang, kan kita tidak berhenti hanya lewat saja, aku hanya ingin memastikan kalau orang-orang bodoh itu masih mengintai rumah kita, dan kira-kira sampai kapan mereka sadar kalau rumah yang mereka awasi itu adalah hanya rumah kosong yang tidak ada penunggunya," kekeh Qari, dia terkekeh, ketika membayangkan betapa kesalnya orang-orang bodoh itu ketika sadar kalau rumah itu sudah kosong.
__ADS_1
"Tapi janji yah jangan terlalu sering lewat rumah itu, nanti malah orang-orang itu akan curiga dan malah pada akhirnya tahu juga rumah persembunyian kita," balas Alzam, pada akhirnya Alzam mengikuti apa keinginan Qari.
Benar saja dugaan Qari ada dua orang laki-laki di sebrang jalan, yang sedang mengawasi rumah mereka. "Coba Sayang kamu perhatikan orang itu, itu yang mengawasi rumah kita. Aku akui mereka memang pintar sekali, sampai hampir setiap hari berganti-ganti orang yang mengawasi rumah kita agar tidak terendus oleh kita," gumam Qari, ketika dia baru kali ini menyadarinya, padahal mungkin saja orang-orang itu mengawasi rumah mereka sudah sejak lama.
"Lagian aneh ngapain juga diawasi terus, bukanya dia sudah tahu kalau kita sudah suami istri, tidak ada kerjaan," dengus Alzam melihat kelakuan orang-orang suruhan Deon.
"Aku pun heran kenapa bisa mereka mau saja dibayar untuk pekerjaan yang tidak masuk akal, dan lagian mereka juga pasti sudah tahu kalau, kegiatan kita hanya berangkat kerja dan pulang kerja, ngapain diawasin, gunanya untuk apa?" tanya Qari bingung sendiri pada Deon, untuk apa harus diawasi bukanya dia sudah tahu kalau kegiatan Qari itu hanya berangkat dan pualng kerja dengan Alzam.
"Apa mereka akan kena marah, kalau Deon tahu kita sudah pindah dari rumah itu?" tanya Alzam, dia tidak begitu kenal laki-laki yang mempunyai nama Deon, tetapi apabila dilihat dari sifatnya Alzam bisa menyimpulkan kalau laki-laki itu sangat berkuasa dan pastinya tidak akan segan-segan untuk menghukum orang-orang yang bekerja dengan tidak benar.
"Nah, aku pun pengin tahu, pasti Deon akan murka sekali," imbuh Qari, membayangkan wajah garang Deon yang sedang marah, bahkan Qari sudah sangat hafal wajah seperti itu.
"Sayang Deon itu orangnya seperti apa sih? Apa dia sangat mengerikan?" tanya Alzam pada Qari yang laki-laki itu yakini kalau Qari itu sangat tahu betul dengan Deon.
Deg!!!!
Qari cukup terkejut sejak kapan Alzam ingin tahu tentang Deon. "Apa maksudnya Alzam bertanya seperti itu, apa dia kembali cemburu dengan laki-laki gila itu?"
__ADS_1