
Jantung Alzam tiba-tiba bergemuruh hebat ketika dokter diikuti beberapa perawat mengekor di belakangnya. Tubuh laki-laki itu langsung luluh, bersimpuh di atas lantai. Bayangan akan terjadi hal-hal yang buruk terhadap Qari. Membuat dia tidak berdaya bahkan sekedar bangun,. dan. melihat apa yang terjadi.
"Sayang, apa kamu marah sama aku? Apa kamu marah dengan aku yang dulu pernah mengabaikan cinta kamu? Apa kamu marah padaku karena aku pernah menyakiti kamu dengan perbuatan aku yang dulu? Kalau kamu marah, kamu boleh hukum aku. Bangun dan hukum aku sesuka kamu, aku ikhlas, dan aku siap menerima kemarahan kamu, tapi tolong jangan hukum aku dengan kepergiankamu." Alzam tidak kuat membayangkan bahwa ketakutanya akan menjadi kenyataan.
[Yang penasaran kisah Alzam dan Qari sebelumnya, sok melipir ke novel 'Jangan Hina Kekuranganku' Novel yang mengisalkan perjalanan Abang Naqi bisa bersama dengan Cyra, tapi ada selinganya kisah Alzam, dan Om Wawan sama Deon nyempil sedikit di ujung]
"Sayang, bukanya kamu yang selalu bilang sama aku, kalau kamu paling takut hidup di dunia ini, apabila tanpa adanya aku. Aku bahkan rela menjaga pola makan sehat yang kamu katakan tidak enak, agar aku tetap terus bisa menemanikamu untuk melukis banyak kisah. Membikin buku yang mengisahkan perjalanan kita bersama. Sayang, bangun dan berjanjilah, kamu hanya akan tertawa dan menangis bahagia bersama aku." Alzam menangis dengan bersimpuh di depan ruangan Qari.
Entah berapa banyak pasang mata yang menatap aneh, iba dan mencibir atas perbuatan Alzam. Masa bodo dengan mereka, tetapi yang tahu bagaimana takutnya kehilangan hanya Alzam. Segala doa Alzam panjatkan agar Qari bisa mendengar kalau dirinya sangat menyayanginya.
Detik berlalu berganti dengan menit, dan menit berlalu berganti dengan jam, hingga kini sudah lebih dari satu jam dokter dan perawat di dalam sana, sementara Alzam tidak berani melihat apa yang dokter lalukan di dalam sana, hatinya terlalu penakut untuk melihat apa yang terjadi di dalam sana.
Sekuat apapun ia berdoa, sekuat apapun dia belajar ikhlas atas semua kemungkinan yang akan terjadi pada Alzam, tetapi tidak sedikit pun membuat Alzam tenang.
"Tuan Alzam." Suara berat dan tegas terdengar memanggil dirinya yang masih bersimpuh pasrah di atas lantai rumah sakit.
"Dok, apa yang terjadi dengan Qari? Dia baik-baik saja kan." Dengan tertatih Alzam bangkit dan berjalan menghampiri seorang dokter yang berdiri di depan pintu ruangan Qari.
"Untuk memastikan Qari baik-baik atau tidak, silahkan Anda tanyakan langsung pada istri Bapak. Qari mencari Anda." Senyum merekah bahagia dokter Herman tunjukan, sementara Alzam sendiri masih mematung dengan hebat. Kaget dan tidak percaya dengan apa yang barusan dokter katakan.
"Apa Dok?... Qari sudah sadar? Qari sembuh kan Dok? Ini bukan prank? Ini kenyataan?" cecar Alzam saking bahagianya hingga ia tidak perduli, ada yang mengatakan norak dan lain sebagainya, tidak ada bonus seindah ini, sehingga sangat wajar kalau Alzam sangat bahagia.
__ADS_1
Anggukan kepala yang kuat dari dokter Hendra sudah mewakilkan jawaban dari berondongan pertanyaan yang Alzam lontarkan.
"Ahhh... yes.Terima kasih ya Tuhan telah mengabulkan doa hamba. Hamba janji akan menjaga Qari dengan baik, tidak akan ada lagi kejaadian seperti ini terulang kembali." Alzam merentangkan tanganya hendak memeluk dokter Hendra, tetapi buru-buru ditahanya, ia lupa saking senangnya mendengar kabar bahagia ini sehingga dirinya akan kebablasan meneluk dokter Hendra. Apa kata orang-orang nanti, laki-laki berpelukan dengan laki-laki yang ada nanti dikira jeruk makan jeruk.
"Maaf, kalau begitu saya masuk dulu Dok." Alzam pun buru-buru masuk ke dalam, di mana tangsi Alzam kembali pecah ketika melihat sang wanitanya, sudah membuka matanya dengan lebar, serta senyum samar dari wajah pucatnya nampak untuk memberika penyambutan pada Alzam.
"Sayang..." Dengan tertatih Alzam berjalan mengampiri Qari, dan Qari pun mengangkat tanganya, untuk menyambut Alzam. Laki-laki itu meraih tangan Qari dan menciumnya berkali-kali.
"Terima kasih, sudah bertahan untuk aku dan anak kamu," isak Alzam, terus mencium punggung dan telapak tangan Qari bergantian. Lebay? Terserah orang berkata apa, tetapi sebegitu bahagianya Alzam karena Tuhan memberikan kesempatan untuk merawat Qari. Wanita yang sangat ia cintai.
"Di.. ma... na anak aku?" tanya Qari dengan terbata. Alzam kembali mengusap air mata yang keluar dari sudut matanya, dan tidak lupa juga menghapus sudut mata yang keluar dari kelopak mata sang istri.
"Nara ada di ruangan bayi, sedang berkumpul dengan teman-temanya, dan biarkan Nara di ruang bayi dulu berkumpul dengan teman barunya. Membiarkan Bundanya dan papahnya berduaan, melepaskan kanget. Sayang aku kangen banget sama kamu. Aku takut kalau akan terjadi hal yang buruk sama kamu, aku sangat takut hal itu terjadi." Alzam terus mengusap pucuk kepala Qari dengan lembut.
"Tantri mana?" Kini Qari menayakan adik iparnya.
Kali ini Alzam menunjukan wajah yang mengiba, dan bersalah.
"Aku mewakili Tantri meminta maaf atas kesalahan adikku. Tantri sudah mengakui kesalahanya, dan dia juga sudah meminta maaf tolong maafkan kesalahan Tantri, aku berjanji dia tidak akan melakukan kesalahan yang sama lagi. Maaf, aku gagal mendidik adikku. Aku kecolongan dia membahayakan kamu dan Kinara. Meskipun Tuhan masih memberikan kesempatan pada aku dan Tantri untuk menebus kesalahan kami, pada kamu dan Nara." Alzam kembali menunjukan suara serak sebagai tanda bahwa dirinya sangat menyesal.
Qari menggelengkan kepalanya dengan pelan, dan mencoba menarik nafasnya. "Tantri tidak salah Tantri hanya merasa kecewa karena sudah kami bohongi. Aku pun kalau jadi Tantri akan melakukan hal yang sama, kejadian kemarin murni dari aku yang kurang hati-hati dalam menuruni anak tangga, aku berharap agar kamu tidak marah pada Tantri.
__ADS_1
"Kenapa?... Kenapa ada orang yang baik seperti kamu, kamu yang sangat baik dan perduli pada aku, dan adikku. Aku sangat sayang sama kamu," isak Alzam, tidak ada yang membuat ia lebih bahagia selain maaf dari Qari untuk semua kejadian yang telah menimpanya, semua kejadian yang menimpa keluarga kecilnya.
Qari pun tersenyum penuh dengan kemenangan dia tidak pernah terpikirkan akan merasakan bahagia seperti ini.
'Terima kasih Deon, karena rencana kamu yang ingin membuat kami hancur, tetapi justru lagi-lagi kamu bahagia dengan semua yang telah kamu rencanakan atas kehancuraku,' batin Qari dengan tersenyum penuh kemenangan, karena rencana Deon kembali gagal.
Tangan Alzam meraih sakunya di mana dia baru sadar bahwa ada getaran dari saku celanaya, diraihnya benda pipih yang super canggih.
"Siapa?" tanya Qari dengan kepo. Alzam pun menujukan layar ponselnya. Naqi dan Cyra melakukan panggilan grup secara bersamaan.
"Angkat!!" Alzam memberikan ponselnya pada Qari. "Mereka pasti terlalu cemas sama keadaan kamu, terlebih kamu tidak sadar terlalu lama," imbuh Alzam, dan Qari justru mengernyitkan dahinya hingga kedua alisnya hampir bersentuhan.
"Berapa lama aku pingsan?" tanya Qari, prasaan dia seperti biasa bangun tidur. Tidak ada yang sepesial seperti biasanya.
"Hampir satu bulan," jawab Alzam asal, niat hati agar Qari cepat-cepat mengangkat panggilan telepon dari abangnya.
"Hah..serius aku pingsan selama itu?" Qari kali ini melebarkan matanya dengan sempurna.
"Tidak itu bohong."
"Histtt... kenapa kebiasaan kamu berbohong? Bahkan aku baru bangun saja kamu sudah berbohong, dan mengerjaiku," sungut Qari, dan dibalas tawa renyah oleh Alzam. Inilah momen yang ia tunggu, rasanya beban hidup suduh terangkat satu *** satu, dan kini hanya tinggal bahagia.
__ADS_1
Jari telunjut Alzam langsung menekan ikon bergambar gagang telpon berwarna hijau, agar mereka tahu bahwa Qari sudah bangun, dan sekarang sedang menunjukan wajah gemasnya. Wajah yang sudah dirindukan oleh banyak orang.