Cinta Berselimut Dendam

Cinta Berselimut Dendam
Cinta Berselimut Dendam Bab 41


__ADS_3

Malam ini Deon pun langsung melakukan perjalanan Jerman- Indonesia yang memakan belasan jam di atas awan. Tidak perduli bagaimana capeknya tubuh laki-laki itu, setelah seharian bekerja dan langsung melakukan perjalanan udara yang tidaklah sebentar. Dengan segara pertimbangan Deon juga tidak mengabarkan pada Cucu, karena ia ingin memberikan kejutan untuk sang istri.


Rasanya Deon ingin memberikan kejutan yang indah pada sang mentari istri, dalam pikiran dia juga ingin membuat kejutan yang dia lakukan adalah kejutan terindah yang tidak akan pernah Cucu lupakan.


Justru malah laki-laki itu mematikan ponselnya agar Cucu tidak menghubunginya, dan bisa-bisa justru Cucu bisa tahu kalau dia akan segera pulang. Itu sebabnya Deon mematikan ponselnya itu semua ia lakukan agar bisa memberikan kejutan yang romantis untuk sang istri tercinta.


Laki-laki itu pun heran dengan dirinya yang sangat berbeda jauh dengan dirinya yang dulu. Saat ini justru Deon sangat romantis. Ingin memberikan yang terbaik untuk wanitanya.


Di tempat yang berbeda....


"Cu, kamu kenapa?" pekik Doni ketika tiba-tiba Cucu tersungkur lemas.


Bukanya menjawab Cucu yang tubuhnya tiba-tiba lemas pun langsung jatuh dalam pelukan Doni. Sang ipar pun langsung membawa Cucu ke rumah sakit tempatnya bekerja. Yah Doni tahu kalau Cucu memang akhir-akhir ini tidak enak badan bahkan Cucu sudah terlihat sangat pucat sejak tadi Doni mengajaknya pulang. Oleh sebab itu Doni tidak tega meninggalkan sang ipar sendirian. menyelesaikan tugas-tugasnya.


Benar saja apa yang Doni takutkan kalau Cucu pingsan, dan kalau dia tadi meninggalkan Cucu seorang diri bukanya sangat berbahaya sekali, tidak ada yang menolong Cucu, untuk laki itu peka dengan kondisi Cucu.


Malam ini Doni pun menghubungi sang Momy untuk membantu menjaga Cucu yang langsung dilarikan ke rumah sakit. Doni tidak mau nanti hubunganya dengan Cucu disalah artikan oleh Deon di mana laki-laki itu sangat sensitif kalau kepunyaannya di usik oleh orang lain. Dan Doni pun tidak ingin menambah masalah baru dengan saudara tirinya itu. Sudah cukup peperangan selama ini hingga berakhir saling diam.


Sesuai permintaan Doni, Iriana pun langsung datang untuk membantu menjaga Cucu, yah meskipun Doni juga tetap berada di rumah sakit untuk membantu menjaga sang ipar takut terjadi apa-apa tetapi demi menghindari fitnah Doni pun meminta sang Momy menginap juga di rumah sakit.


"Cucu kenapa Don?" tanya Iriana ketika melihat Cucu sangat pucat wajahnya bahkan belum sadar juga. Eh, lebih tepatnya memang Cucu tengah tertidur karena efek obat yang disuntikan pada ingusnya.


"Kurang tahu Mom, mungkin kecapean, maklum satu minggu ini kerjaan sangat banyak, dan pulang pun di atas jam kerja terus dan mungkin juga makan Cucu berantakan. Dokter sedang mengecek, dan hasilnya belum ketahuan," jawab Doni dengan lengkap.


Iriana pun hanya mengangguk dan langsung menghampiri Cucu yang masih tidur dengan nyenyak. Tangan Iriana memeriksa Cucu. Dan seolah wanita paruh baya itu tengah mendiagnosa sesuatu.

__ADS_1


"Kayaknya Momy bakal jadi nenek," ucap Iriana dengan meletakan tangan Cucu kembali dengan pelan.


"Hah... ma... maksud Momy Cucu akan memberikan cucu untuk Momy?" tanya Dony dengan melebarkan kedua bola matanya.


"Yah, kalau dari yang Momy lihat Cucu kayaknya hamil," jawab Iriana, dari bicaranya sih ada kata kayaknya, tetapi Iriana yakin kalau tebakan dia itu sangat benar kalau Cucu memang hamil sungguhan.


"Yang benar Mom, bukanya yang menjadi dokter itu Doni, tapi kenapa momy yang sangat yakin kalau Cucu hamil, dari mana Momy tahu kalau Cucu hamil?" tanya Doni dengan penasaran.


"Kamu mana tahu kalau soal itu, yang tahu hanya kaum cewek. Kamu tahunya sel kangker dan lain-lain," balas Iriana dengan tatapan yang meremehkan. Dan Doni pun lebih baik diam kalau memang momy-nya sudah berbicara seperti itu. Karena memang pada kenyataan sang Momy mungkin lebih tahu dari yang dia tidak tah.


"Mom, kira-kira kita hubungi Deon tidak yah, bukanya kalau memang Cucu hamil pelakunya adalah Deon, rasanya kalau tidak diberitahu, kita jahat banget," ucap Doni meminta solusi dari sang momy.


Iriana pun langsung menatap tajam pada Doni yang mana anaknya itu memang kadang-kadang yang bodoh soal seperti ini tetapi kalau sol sel-sel kangker dia akan paling unggul.


"Ya, terus kalau tidak di beritahu kamu pikir Deon akan tahu dari siapa. Kamu kasih tahu lah, dia kan abang kamu juga," ucap Iriana. Yah, meskipun ia dulu sangat sebal dengan ibu laki-laki itu, tetapi pada kenyataanya, sekarang Doni dan Deon memiliki darah dari papah yang sama sehingga mau tidak mau maka Iriana pun harus mulai menerima keadaan Deon sebagai anak tirinya dan Cucu juga sebagai menantunya. Kalau Cucu sih sudah jelas dari awal Iriana menerimanya.


Iriana pun kembali menatap Doni dengan tersenyum sinis. "Kalian itu makin hari makin kelihatan sifat samanya."


Doni yang tidak terima disama-samakanĀ  dengan Deon pun langsung melayang kan protes. "Momy kenapa makin ke sini makin usil sih. Segala menyamakan Doni dengan laki-laki itu. Sudah jelas Doni jauh lebih baik dar dia," balas Doni yang memang merasa kalau dirinya juah lebih baik dari Deon.


"Deon kemarin itu seperti itu karena dia belum menemukan tempat yang nyaman untuk mengadu dan membagi lelahnya, sehingga seperti itu. Tetapi kalau dia sudah menemukan orang itu bukan tidak mungkin Deon akan jauh lebih baik dari kamu," balas Iriana dengan suara yang lembut, dan tersenyum sinis seolah tengah meledek sang putra.


Doni yang malas menanggapi ucapan momy-nya pun lebih baik mengambil ponselnya. Biarkan apa kata sang wanita yang telah melahirkannya. Yang terpenting bagi Doni, dirinyalah yang jauh lebih baik dari pada Deon yang keras kepala dan juga terobsesi yang aneh-aneh itu. Apalagi sejak dia meminta menyuntikkan sel kanker pada Alam rasanya sampai saat ini Doni masih sangat kesal.


Wajah Doni pun mengerut sempurna ketika sudah beberapa kali ia menghubungi nomor sang abang tiri, tetapi nomor yang dia hubungi selalu dalam luar jangkauan. Doni kembali memastikan kalau nomor Deon memang masih sama. Bahkan laki-laki berusia tiga puluh tiga tahun itu sempat meminta Jec memastikan kalau nomor bosnya memang tidak aktif.

__ADS_1


Dan hasilnya pun sama baik Doni maupun Jec tidak juga bisa menghubungi Deon. Hingga Iriana curiga melihat wajah sang putra yang terlihat sangat berat itu.


"Don, apa yang terjadi dengan Deon?" tanya Iriana, wanita paruh baya itu pun tidak kalah cemas takut kalau terjadi sesuatu dengan putra tirinya. Sebelum menjawab pertanyaan sang Momy, Doni pun lebih dulu memastikan kalau Cucu belum bangun. Takut kalau sudah sadar malah membuat Cucu semakin cemas dengan apa yang terjadi dengan sang suami.


"Nomor Deon tidak aktif," jawab Doni dengan suara pelan, dan benar saja Iriana juga langsung terkejut mendengar jawaban dari sang putra.


"Kamu yakin kalau itu nomor Deon. Mungkin abang kamu sudah ganti nomor, atau mungkin kamu di blokir," balas Iriana dengan suara yang terdengar lirih. Doni pun kembali menatap tajam pada sang Momy yang kalau ngomong itu cukup membuat ucapan yang sadis. Masa nomornya di block.


"Udah, bahkan Jec saja menghubungi sama hasilnya tidak aktif," balas Doni lagi. Dan kali ini baru Iriana sedikit percaya dengan apa yang anaknya katakan.


"Kalau gitu kamu tunggu beberapa menit lagi mungkin dia sedang di jalan dan kehabisan daya baterainya," balas Iriana dengan memijit tangan Cucu yang memang dokter memberikan obat untuk istirahat sehingga belum sadar juga.


Sesuai yang disarankan oleh sang ibu kandung, Doni pun untuk beberapa menit sekali kembali menghubungi Deon, tetapi hasilnya tetap sama yaitu sanga saudara tiri tidak juga aktif ponselnya. Hingga rasanya Doni yang memiliki kesabaran setipis kulit bawang pun mulai malas untuk mencoba lagi.


Namun, dalam hatinya Doni juga tidak bisa berpura-pura cuek, karena pada kenyataanya Doni juga mulai bingung dan juga cemas takut terjadi sesuatu dengan sang kakak tiri.


"Apa Deon belum bisa dihubungi juga?" tanya Iriana yang mana malam makin larut, tetapi wajah Doni masih terlihat sangat tegang.


Lagi, Doni menatap Cucu yang masih pulas tertidur. Deon memberikan jawaban dengan menggelengkan pelan kepalanya sebagai tanda bahwa sang abang belum ada kabar apa-apa.


"Apa kamu tidak ada nomor kontak yang bisa kamu hubungi?" tanya Iriana lagi, dan jawaban Doni pun sama, jangankan orang-orang di negara yang berbeda. Di negaranya sendiri saja Doni hanya kenal Jec dan Cucu.


Bersambung....


Kenalan yuk sama Mbak Tia dan Pak Gala...

__ADS_1



__ADS_2