
Setelah melewati hampir seperempat malam, kini rombongan keluarga besar tuan Latif sudah sampai di rumah mereka masing-masing. Sebenarnya tertua keluarga sudah meminta Qari dan keluarga barunya menginap di rumah beliau. Mungkin laki-laki yang sudah matang itu belum puas dengan kebersamaan mereka, dan meminta mereka menginap lagi, tapi berhubung Tantri harus sekolah, dan semua perlengkapan ada di rumah, mereka pun memutuskan langsung pulang ke rumah sederhana mereka dan menghabiskan sisa malam dengan damai, di rumah yang penuh impian dan kehangatan.
Pagi hari menyapa, kini mereka harus kembali kreativitas semula. Jatah liburan sudah berakhir, dan mungkin akan ada liburan yang lain dengan kisah yang berbeda, dan cerita yang berbeda.
"Sayang, kok tumben kamu belum bangun," lirih Qari, sembari memberikan ciuman selamat pagi buat calon papah yang sangat baik.
Alzam yang sebenarnya sudah bangun dari pagi, hanya tubuhnya masih terasa kelelahan kembali merebahkan tubuhnya dan memulihkan stamina yang banyak terkuras. Menyetir kendaran cukup membuatnya kelelahan. Laki-laki yang masih mengenakan sarung dan bergulung di bawah selimut, membuka sebelah matanya, dan senyum teduh terlihat di wajahnya yang masih mengantuk.
"Berikan aku waktu untuk istirahat lagi Sayang, badanku masih cape dan ingin tidur tiga puluh menit saja," lirih Alzam, dengan suara yang serak khas bangun tidurnya.
Qari terkekeh dengan suara suaminya yang lucu dan juga maja, "Baiklah Pak suami, biar istrimu yang jago memasak yang akan menyiapkan makanan untuk kamu," balas Qari dengan semangat. Wanita itu sangat senang karena ini tandanya ia akan memberikan masakan spesialnya untuk suami tercintanya.
Alzam mengangguk dan tersenyum. "Aku tunggu masakan keistimewaan kamu yang lezat istriku," balas Alzam, kini ia sudah bisa tidur kembali setidaknya sampai setengah atau satu jam ke depan, mengingat adik dan istrinya sudah bisa diandalkan bekerja sama.
Qari pun langsung meninggalkan Alzam yang masih ingin tidur dan kali ini ia akan masak bersama adik iparnya, yang meskipun Tantri menyebalkan kalau soal dapur, biasanya Tantri akan sangat sulit untuk diajak bekerja sama, dan dia akan selalu menjadi yang terunggul atau tersibuk soal masak, dan Qari selalu menjadi pesuruhnya.
Namun, sekarang Qari percaya diri kalau dia akan menjadi teman kerja yang baik dan bisa saling menguntungkan. Qari tersenyum penuh kemenangan ketika membayangkan kalau rencana dia kali ini akan berhasil membuat Tantri mengalah, membiarkan Qari yang masak.
"Pagi Kak," sapa Tantri begitu melihat kakak iparnya keluar dari kamarnya.
__ADS_1
"Pagi calon Tante yang hebat. Pagi ini kita masak bareng yah. Calon ponakan kamu yang pengin diajarin masak oleh Tantenya," ucap Qari mengeluarkan jurus andalannya, agar Tantri mau berbagi dapur memasak bersama.
Tantri langsung melebarkan kedua bola matanya. "Apa itu benar kalau yang ingin diajarin masak oleh Tantri adalah calon ponakan?" tanya gadis kecil itu dengan setengah tidak percaya.
"Tentu iya, bahkan pagi-pagi calon anak Kakak sudah bangun, ingin segera masak bareng Tantenya," balas Qari terus membuat Tantri tidak bisa mecari alasan lain. Dan akhirnya merelakan kakak iparnya yang masak.
"Ok lah kalau begitu Tantri akan ajarkan masak." Gadis kecil itu pun mundur dan membiarkan Qari yang mengantikan posisinya. Kini posisinya berbalik Qari yang masak dan Tantri yang jadi pesuruh Qari, dan tentunya mereka bekerja sangat kompak.
"Kakak, ngomong-ngomong Abang belum bangun?" tanya Tantri, yang takut kalau abangnya sakit, karena Tantri sudah hafal betul kalau abangnya tidak bangun pagi pasti ada yang sedang dirasakannya seperti sakit dan lain sebagainya.
"Belum, tadi katanya pengin tidur lagi setengah sampai satu jam," jawab Qari dengan santai, tidak seperti Tantri yang sudah mulai cemas, takut kalau abangnya sakit.
"Tadi bilang hanya kelelahan karena menyetir, dan Abang kamu bilang masih mengantuk," jawab Qari sama tiba-tiba merasakan cemas kalau memang Alzam sedang tidak enak badan.
"Oh... mudah-mudahan memang hanya kecapean dan setelah istirahat lebih Abang sehat kembali dan segar seperti biasanya," lirih Tantri ada rasa bahagia ketika mendengar ucapan dari Qari, dan memang masuk akal, ketika mengemudi dalam jarak tempuh yang cukup lama.
"Amin. Semoga saja begitu, Kakak tidak akan bisa tenang kalau abang kamu sakit," balas Qari, sama seperti Tantri, kini ketakutannya yang terbesar adalah tiba-tia harus menjalani hidup tanpa Alzam. Mungkin Qari saat itu juga merasakan kiamat sesungguhnya. Raganya hidup tetapi jiwanya sudah mati, tanpa terasa butiran hangat mengalir di pipi Qari ketika membayangkan hal buruk itu terjadi.
Namun, buru-buru Qari menghapus air mata itu dan menarik ujung bibirnya, agar Tantri tidak tahu betapa takutnya Qari dengan bayangan itu.
__ADS_1
Setelah bekerja sama dengan sangat kompak. Kini hidangan ala Qari pun sudah siap untuk di nikmati. Qari berlalu menuju kamarnya dan membangunkan sang suami yang masih terlelap tidur, sebenarnya Qari kasihan dengan melihat Alzam yang sangat kelelahan, tetapi ia juga harus tetap melakukanya kalau tidak malah Alzam yang marah karena ia harus kerja.
Cup... Qari membangunkan dengan cara yang paling ampuh, dan benar saja mata Alzam langsung terbuka, dan senyum terlihat di wajah yang sudah sedikit segar.
"Kenapa kamu nakal sekali sih," bisik Alzam sembari memeluk tubuh Qari. Rasa lelahnya hilang sudah dengan perlakuan Qari yang romantis, memang wanita ini sangat jago membuat semangatnya kembali berkobar.
"Aku nakal karena kamu yang mengajarkannya, aku kira kamu adalah cupu ternyata kamu suhu. Aku dibuat kalah setiapmelayani kamu, Suhu," bisik Qari, dan Alzam dan Qari langsung terkekeh dengan candaan Qari dan pagi ini pun terlewati dengan hangat. Masakan Qari juga sudah lebih baik untuk di nikmati oleh lambung. Meskipun sang juri kecil selalu berkomentar dengan cara yang unik. Seolah sangat juri tidak mau ada masakan yang lebih enak dari dirinya.. Tetap yang terunggul adalah Qari.
Namun, Qari senang karena setidaknya ia akan sering menghabiskan masak bersama dengan adik iparnya, meskipun harus menggunakan alasannya calon anaknya yang ada di perutnya untuk membuat Tantri mau memberikan kesempatannya memasak. Kini Qari sudah tahu kalau Tantri itu paling tidak bisa menolak kalau membawa calon ponakannya, dan dia akan selalu berpikir kalau ponakannya nanti encesan dengan tidak di turutin keinginannya.
*****
Di tempat lain Luson masih belum mengetahui siapa yang melakukan penculikan meskipun kali ini ia sudah dipakaikan pakaian tetapi laki-laki itu masih belum dibuka matanya. Bahkan ia sudah berteriak-dan meraung, mengancam serta mengumpat dengan segala perkataan yang menggambarkan betapa ia sangat marah, tetapi tidak ada sepatah katapun yang menjawabnya.
Luson bahkan berpikir kalau yang melakukan ini adalah pesaing-pesaing bisnis karaokenya, yang sebenarnya bisnis itu hanyalah kedoknya agar bisnis sebagai simpanan istri pejabat dan istri-istri suami kesepian tidak tercium. Namun hingg dihari kedua, Luson tidak mendapatkan jawaban pertanyaan dari pertanyaan itu.
Bahkan perutnya lamar. ia hanya diberi minum dan tanpa adanya makan yang mengganjal perut.
"Siapapun kalian yang melakukan ini, aku pastikan kalian akan mati ditangan," umpat Luson dengan menahan rasa laparnya. Sampai kapan laki-laki itu menahan lapar? Apakah sebanding perbuatanya dengan hukumannya saat ini?
__ADS_1