Cinta Berselimut Dendam

Cinta Berselimut Dendam
CBD #Episode 115


__ADS_3

Di tempat penyekapan Luson....


"Hey, kemana laki-laki itu kenapa tidak ada?" tanya laki-laki yang bertugas menjaga Luson panggil saja mereka Gondrong dan Botak.


Si Botak yang masih di atas kuda besi pun langsung lari dan menghampiri si Gondrong.


"Loh, emang gak kamu kunci pintunya, Drong?" tanya Botak dengan penasaran.


Gondrong nampak menggaruk rambutnya dan ia pun mengingat-ingat kembali sebelum berangkat pergi membeli makanan. "Perasaan gue udah kunci kok,"  balas Gondrong dengan ragu-ragu.


"Perasaan mulu, buktinya tuh laki-laki hyper pergi kan. Cari!!!" Botak menoyor kepala temanya dan dua orang itu pun menyebar mencari ke sekitar bangunan. Bahkan mereka mencari hingga kesemak-semak yang tinggi.


"Gimana?" tanya Gondrong, dan Botak hanya menjawab dengan bergidik bahu.


"Bahaya kalau bos tahu, pasti kita akan kena marah," Botak nampak menggaruk kepalanya yang tanpa rambut itu.


"Itu dia, iya kalau kena marah saja, kalau kena pecat juga gimana?" tanya Gondrong dengan wajah nampak terlihat sangat panik.


"Ini pasti kerjaan loe Gondrong, mungkin kamu belum mengunci pintu dengan benar," tuduh Botak terus menerus.


"Tetapi tadi pas kita datang pintunya terkunci." Gondrong menghitung kuncinya.


"Sial laki-laki itu mencuri kunci cadangan," umpat Gondrong yang baru tahu kalau kunci cadanganya tidak ada.


Ahhh... Botak menoyor lagi kepala Gondrol. "Loe memang bodoh," umpat  Botak.

__ADS_1


"Ayo kita cari mungkin saja laki-laki itu belum jauh. Ini semua salah loe Gondrong, coba kalau loe tidak ikut gue cari makan laki-laki itu tidak akan kabur dan kita tidak akan sesusah ini." Botak masih saja menyalahkan Gondrong, dan Gondrong yang memang ditugaskan untuk menjaga gudang itu, tetapi karena sudah beberapa hari ia sering ikut  Botak untuk sekedar cari makan, dan tentunya tujuanya mencari wanita-wanita penjaga  warung makan, dan ketika mereka pulang tidak ada masalah apa-apa sehingga ia pun menjadi ketagihan, dan disangkanya tahananya tidak akan menghilang seperti ini.


Bahkan dua laki-laki itu sudah mengelilingi jalanan, dan juga pemukiman warga, serta bertanya kesana kemari, tetapi tidak ada juga tanda-tanda kalau tahananya ketemu dengan dirinya.


"Sial, kita harus apa, laki-laki Hyper itu tidak ada di sekitar sini, dia pasti sembunyi," umpat Bontak pada Gondrong, dan entah berapa kali Gondrong di  marahinya dan laki-laki yang memiliki rambut panjang sebahu itu pun hanya diam saja, karena memang dia yang bersalah.


*********


"Pakkk... Pakkk... bangun... ini sudah mau magrib." Seorang laki-laki paruh baya membangunkan Luson yang tertidur dengan pulas karena dia terlalu cape berjalan, dan juga ia terlalu lapar dan haus.


"Hauss..." desis Luson, dengan suara yang sangat lemah dan itu menandakan kalau dia memang sangat lemas karena kehausan, dan kelaparan.


"Astaga Bapak teh siapa kenapa ada di sini? Ayo duduk ini ada sisa air sedikit bisa untuk hilangin haus." Laki-laki paruh baya yang baru selesai dari kebun menyodorkan sebotol air minum yang tinggal sedikit. Luson tidak menyia-nyiakan  tawaran itu, dengan tangan bergetar Luson merain botol itu dan meneguknya dengan rakus.


"Bapak teh siapa kenapa bisa ada di sini? Kalau saya namanya Darmo." tanya Mang Darmo, nama laki-laki yang sedang  ada di hadapan Luson.


"Saya Luson, Pak. Saya diculik dan tadi kabur sampai di sini. Apa Bapak bisa bantu saya untuk malam ini saya menumpang di rumah Bapak. Rumah saya di Jakarta dan saya tidak tahu ini di mana," jawab Luson dengan suara yang mengiba.


"Oh boleh Pak, ayo-ayo. Tapi rumah Bapak mah jelek nggak apa-apa?" tanya Pak Darmo dengan berjalan dan Luson mengekor di belakangnya.


"Tidak apa-apa Pak, saya sudah ada yang nolong saja udah seneng banget. Kalau tidak ada Bapak saya tidak tahu mau kemana lagi. Mana haus dan lapar," eluh Luson, tanganya memegangi perutnya yang dari pagi bahkan belum diisi nasi sama sekali.


Lagi-lagi Luson berjalan dengan jarak yang jauh, bahkan kakinya yang tidak biasa berjalan dengan jarak yang jauh, betisnya sudah keras sepeti singkong yang sedang di bawa oleh Pak Darmo.


"Pak, ini rumahnya masih jauh?" tanya Lucas, suaranya terengah-engah nafas yang memburu.

__ADS_1


"Sebentar lagi Pak, itu nanjak ke bukit, lewatin bukit itu sudah masuk pemukiman warga," jawab Pak Darno dengan menunjuk tanggul yang tidak terlalu tinggi.


'Pantas saja dia cari pemukiman tidak ada ternyata memang dia disekap di tengah-tengah hutan. Luson langsung bergidig ngeri membayangkan selama ini ia tinggal di tengah-tengah hutan. Jiwa penasaranya terus meronta-ronta, kira-kira siapa yang berani menculiknya, dan apa tujuan?


"Tunggu saja aku pulang ke Jakarta akan aku selidiki semuanya, dan kalian yang ketahuan telah membuat aku seperti ini tunggu saja pembalasan aku," gumam Luson dalam batinya mengumpat tidak menentu.


Setelah berjalan cukup lama, bahkan keringat pun bercucuran. Luson sampai di rumah yang  sangat sederhana dan terbuat dari anyaman bambu.


"Maaf yah Pak rumah saya hanya seperti ini," ucap Pak Darmo sembari meletakan cangkul dan singkong yang ia pikul.


"Tidak apa-apa Pak, saya tidak masalah kok tinggal hanya seperti ini, yang penting saya bisa tidur dan tentunya saya bisa makan, sudah lapar banget," kekeh Lucas dengan perut yang ia pegangi dari tadi.


"Kalau gitu ayok masuk, Ambu udah masak kayaknya, kita makan dulu baru kita akan bersih-bersih dan istirahat. Kayaknya Pak Luson cape banget." Pak Darmo membuka pintu yang sangat sederhana dan cukup pendek di banding dengan postur tubuh Lucas yang tinggi.


Luson pun bercerita panjang lebar, dan juga menyampaikan rencananya untuk pulang ke Jakarta, tetapi yang jadi kendala lagi-lagi ia tidak memiliki uang, dan barang berharga. Bahkan baju dan sendal hanya barang sisa yang sangat memprihatinkan. Sendalnya jepit yang sudah tipis, sehingga ketika ia berjalan di jalan yang berbatuan, akan terasa sakit karena batu yang menusuk-nusuk ditelapakannya.


"Nanti coba Bapak tanya sama anak pemangku adat di desa ini, dia biasanya bawa hasil kebun ke kota, dan nanti Pak Luson bisa numpang mobil beliau, karena jujur saya tidak punya uang untuk memberikan Pak Luson ongkos. Bapak tahu sendiri keadaan kita sangat pas-pasan seperti ini, makan pun hanya seadanya begini." Pak Darmo menunjuk ruangan rumahnya dan juga menu makan malam untuk mereka yang hanya dari sayur daun singkong dan goreng tempe serta sambal. Bagi mereka itu sudah sangat mewah.


"Tidak apa-apa Pak Darmo, dengan bantuan seperti itu juga saya sangat bersyukur, karena itu tandanya saya tidak jadi mati kelaparan. Tadi saya sempat berpikir kalau saya akan mati kelaparan, tetapi ternyata Tuhan belum mengizinkan saya mati karena mungkin saya harus memberi pelajaran pada penculik-penculik itu," geram Luson ketika mengingat dua laki-laki si Botak dan Gondrong yang sangat menyebalkan.


Di tempat lain....


Plak... Plakkk... Laki-laki yang berpenampilan tanpa rambut dan satu laki-laki yang gondrong, masing-masing mendapatkan satu tamparan yang kuat, dari laki-laki di hadapanya yang berpenampilan rapih.


"Bodoh kalian semua, kenapa bisa kalian menjaga satu laki-laki bodoh saja bisa kecolongan, dan dia kabur. Saya nggak mau tahu, kalian cari laki-laki itu kalau perlu bunuh saat itu juga!"

__ADS_1


__ADS_2