
Perjalanan pagi ini sangat berbeda dengan pagi kemarin di mana kemarin Qari lebih banyak berdiam terjebak dalam pemikiranya yang memikirkan Deon. Kali ini suasana hatinya sedang baik, sehingga apapun yang di lewatinya selalu menjadi bahan obrolan. Bahkan lampu merah yang tugasnya hanya berdiri di pinggir jalan saja kena gibah oleh calon mamud itu.
"His... kok udah merah lagi, kayak tadi barusan udah merah. ini pasti salah pengaturan waktunya." Qari asik mengumpat lampu merah yang ada di sisi jalan.
Alzam hanya terkekeh dengan klakuan istrinya itu. Memang kalau Qari moodnya sedang bagus akan happy bawaannya. Alzam pun ikut-ikut happy.
"Hah... ini benar sayang kita sudah sampai?" tanya Qari nampak tidak percaya bahwa mereka sudah sampai kantor.
Alzam kembali terkekeh, mendengar pertanyaan dari istrinya yang dari tadi berisik terus, padahal Alzam membalas ocehanya hanya deheman, karena bingung juga rame banget calon Mahmud itu (Mamah Muda). Qari berjalan kesamping Alzam hal yang biasa dilakukan oleh suaminya yaitu memasangkan helm dan melepaskannya, dan momen ini adalah yang ditunggu-tunggu oleh Qari, karena bagi dia itu adalah momen paling romantis. Dan yang paling di tunggu-tunggu adalah cubitan mesra di pipi atau tidak di hidungnya yang mungil.
"Sayang tunggu," pekik Qari ketika Alzam sudah berjalan lebih dulu di depan, sedangkan dia keasikan membayangkan sesuatu. Banyak yang terkekeh melihat pasangan suami istri itu, di mana Alzam terlalu pendiam, tetapi romantis, sedangkan Qari terlalu galak dan manja.
"Ingat kerja yang benar Nona," ucap Alzam ketika Qari sudah masuk di ruanganya.
"Ok siap Ayang suami," jawab Qari dengan suara yang manja, dan Mirna selalu jadi saksi ke bucinan pasangan suami istri itu.
"Nona Qari sekarang kayaknya makin cantik dan makin ceria," ungkap Mirna, dan hubungan Mirna dengan Qari saat ini jauh lebih baik, bahkan Mirna sering juga menjadi partner untuk Qari melancarkan curhatannya.
"Oh sudah jelas Mirna, aku makin cantik dan makin ceria karena suami aku pandai memanjakan aku," balas Qari dengan bahagia, dan pekerjaan Qari hari ini pun makin lancar dan tentunya tidak ada seperti kemarin yang kerjaan tidak ada yang beres bahkan Alzam sampai turun tangan.
__ADS_1
Delapan jam kerja di lalui dengan lancar dan sekarang Qari dan Alzam akan kembali melanjutkan perjalanan untuk pulang.
"Dek... ada salam dari Mamih, katanya hari ini di minta menginap di rumah. Kasihan Mamih kangen sama Tantri dan juga Alzam." Naqi yang tiba-tiba datang mengagetkan Qari dan Alzam yang sudah bersiap untuk pulang ke rumah, dan dilanjutkan untuk mulai berlibur. Tidak lupa Qari juga meminta sopir keluarganya mengantarkan kendaraan milik Qari yang akan di pakai untuk berpetualang.
"Hish... Mamih ini pelanggaran banget yah. Yang anaknya Qari, tapi yang di kangenin malah Alzam dan Tantri ini namanya diskriminasi dalam rumah tangga. Tidak ada menginap. Hari ini kita mau jalan-jalan dan berlibur sebagai keluarga cemara," balas Qari dengan bangga. Bahkan Qari yakin kalau keluargaanya mengalahkan bahagianya dengan keluarga abangnya.
"Wah, kalian mau liburan ke mana? Ikut dong, Mamih pasti senang kalau kalian ajak jalan-jalan," balas Naqi, tangannya sudah merogoh benda yang penting, dan akan menghubungi orang rumah untuk siap-siap.
Kedua bola mata Qari langsung melebar, tangannya langsung menutup bibirnya yang lancang. "Ih apaan sih Abang, kenapa ganggu terus sih. Abang kan bisa jalan-jalan sendiri sama kakak ipar, ke kali ciliwung kek, atau ke mana gitu, jangan ganggu Qari dan keluarga bahagia Qari lah," protes sang adik dengan suara yang melengking.
"Udah tidak apa-apa Sayang, malah kalau banyak temanya liburan semakin seru," sela Alzam dan memberi kode pada kakak ipar sekaligus bosnya. Agar mereka siap-siap dan nanti info lebih lanjut di share lewat pesan pribadi.
Naqi pun langsung memberikan simbol ok pada adik iparnya.
"Ya udah tidak marah, tapi nanti boleh panjat tebing yah, enggak yang tinggi kok yang pendek ajah," tawar Qari, di mana dari tadi Alzam tidak memberikan izin pada istrinya untuk petakilan, apalagi Qari sedang hamil. Harusnya diam dan berhati-hati bukan malah ngidam panjat tebing.
"Sayang, aku melakukan ini bukan karena aku jahat sama kamu, tidak mengizinkan apa yang kamu inginkan, tapi aku melakukan ini demi kebaikan kamu," ucap Alzam dengan suara lembut agar Qari tidak tersinggung dengan apa yang dilarang oleh Alzam.
"Ya udah deh aku nurut ajah," balas Qari dengan murung. Mereka pun sekarang kembali melanjutkan perjalanan pulang setelah sebelumnya di ganggu oleh Naqi. Sepanjang perjalanan Qari lebih banyak diam. Alzam jadi merasa sangat bersalah apalagi ini semua karena Alzam.
__ADS_1
"Kamu marah sayang?" tanya Alzam, padahal tadi pagi moodnya sudah sangat baik, bahkan sangat bawel. tetapi kali ini justru kembali murung.
"Tidak kok,"balas Qari singkat. Dan Alzam tahu kalau Qari kecewa dengan keputusannya. Alzam pun akan coba bertanya pada mamih mertuanya dan juga dokter kandungan yang menangani Qari kira-kira boleh atau tidak kalau Qari melakukan olahraga panjat tebing.
Alzam tidak tega juga kalau harus melarang Qari melakukan kesukaannya.
Setibanya di rumah Qari dan Alzam sudah di sambut oleh Tantri yang sudah tidak sabar akan melakukan perjalanan liburan. "Kakak, Abang kita jadi berangkat liburan kan?" tanya Tantri dengan antusias.
"Jadi dong Sayang, saat ini juga kita berangkat," ucap Qari kembali bersikap biasa saja, meskipun dalam hatinya ia masih menginginkan permainan itu. Dia teringat jaman-jaman sekolah yang sering bermain panjat tebing dengan teman-temanya, dan Qari yakin kalau olah raga itu tidak akan membahayakan dia dan kandungannya.
"Horeh... Horeh..." Tantri terlihat sangat antusias sekali dengan liburan ini, biarpun Qari suasana hatinya sedang kurang baik, karena Alzam yang melarang ia melakukan apapun,. Namun demi adik iparnya Qari pun akan terus berpura-pura bahagia.
Alzam pun yang tahu kalau istrinya sedang marah dan kecewa dengan dirinya hanya diam saja, tetapi diam-diam dia juga bertanya-tanya pada yang sudah pernah melahirkan atau hamil. Tanpa tertinggal Fifah pun menjadi sasarannya, dan dokter kandungan tentu tidak salah ketinggalan dan di tambah lagi nanti mamih mertua yang akan jadi orang yang bisa dimintai saran juga.
"Hah... Mamih daan Kakak Cyra juga ikut Kak?" tanya Tantri dengan wajah yang bergembira, dan tentunya semakin bahagia.
Qari hanya mengangguk dengan seulas senyum yang di paksakan. Alzam hanya diam saja biarkan Qari merasakan memainkan peras sebagai kakak.
*****
__ADS_1
Teman-teman sembari menunggu kisah Qari dan keluarganya yang akan liburan, yuk mampir ke karya bestie othor dulu yah, kuy ramaikan jangan kasih kendor yah...