
Di rumah mewah dan megah.
Menjelang subuh, Deon, Jec dan Cucu baru selesai makan, dan kini mereka beranjak ke kamar masing-masing untuk istirahat, tubuh mereka sudah berasa oleng dengan banyaknya kejadian di hari kemarin, memaksa tubuhnya yang seharusnya sudah istirahat dari sore kemarin terpaksa mereka tahan untuk menjalankan kegiatan yang lebih penting.
"Tuan, ingat Anda harus istirahat, kalau Anda tetap tidak mau istirahat, saya akan panggil Cucu agar tidur dengan Anda." Jec yang mengantar Deon ke kamarnya pun tahu kalau laki-laki yang menyandang sebagai bosnya tentu tidak akan mudah untuk menurut dengan dirinya, sehingga Jec harus menggunakan ancaman agar Deon nurut dengan ucapanya.
"Kenapa kamu sekarang jadi sangat menyebalkan, sedikit-sedikit Cucu, apa kamu tidak ada kerjaan sampai harus Cucu tidur di sini, kenapa tidak sekalian saja aku dinikahkan dengan cewek itu," sungut Deon, yang merasa kalau Jec makin kurang ajar dengan dirinya. Sebentar-bentar menganca, dengan membawa Cucu.
"Oh, baiklah besok saya akan mengatur pernikahan Anda dengan Cucu," balas Jec dengan santai.
Brugg... satu bantal melayang tepat di wajah Jec. "Keluar," berang Deon dengan menujuk ke arah pintu.
Jec pun kalau sudah seperti ini tidak bisa mengelak ia mau tidak mau harus keluar. Sembari berharap kalau Deon tidak akan berbuat macam-macam.
"Ok... Ok saya keluar Tuan, tapi ingat Anda harus istirahat, jangan terlalu banyak bergabung, dan memikirkan sesuatu yang bukan ranah Anda."
"Huhh... akhirnya orang bawel itu keluar juga, kenapa Jec saat ini justru berubah menjadi orang yang sangat menyebalkan," rutuk Deon, begitu Jec sudah hilang di telan pintu.
Sementara Cucu sejak tadi sudah istirahat di kamar Dena, tidur di kasur yang empuk, bahkan di usianya yang sudah dua puluh empat tahu, Cucu baru merasakan tidur di kasur yang seempuk itu.
Lagi dan lagi jiwa penasaranya timbul, kemana pemilik kamar ini? Rasanya sangat tidak mungkin kalau pergi keluar negri atau pergi kemana pun itu, tetapi kondisi kamar masih tertata dengan rapih, harum aroma wewangian ruangan menandakan kalau pemilik kamar ini seperti baru saja pergi dari kamar itu.
__ADS_1
Ingin Cucu bertanya pada Deon maupun Jec, tetapi takut kalau dinilai kurang sopan. Sehingga ia hanya menyimpan rasa penasarannya, mungkin besok ia akan bertanya pada asisten rumah tangga di rumah ini. Agar Cucu tidak mati penasaran.
"Nona Dena, mohon maaf yah, saya Cucu izin istirahat di kamar Anda." Perlahan mata wanita itu pun terpejam secara sempurna, mulai menjemput mimpinya yang indah, rasa cape pada tubuhnya membuat Cucu tidak butuh waktu lama sudah mulai mengarungi mimpinya.
Kembali lagi ke kamar Deon.
Mata Deon yang tidak juga bisa terpejam, setiap mata laki-laki mencoba untuk terpejam saat itu juga bayangan wajah Qari yang penuh dengan alat-alat medis melintas dalam ingatanya, dan juga bayangan buah hatinya yang terpejam sempurna dalam gendonganya yang dia antarkan ke peristirahatan terakhir lagi-lagi datang ke dalam pikiranya sehingga Deon kembali membuka matanya.
Namun, sedetik kemudian pandangan mata Deon tertuju pada ponsel yang berkedip-kedip di atas nakas, menandakan kalau ada yang memanggilnya. Darah langsung berdesir, laki-laki itu membayangkan kalau akan ada kabar buruk yang dibawa bersamaan dengan panggilan masuk itu.
"Oh Tuhan, semoga saja ini bukan kabar buruk selanjutnya." Dengan tubuh lemah dan juga kepala yang berdenyut hebat, Deon kembali mengangkat tubuhnya untuk meraih ponselnya.
Mata Deon melebar, ketika melihat siapa kira-kira yang memanggilnya. Sedetik kemudian laki-laki itu menatap jam di ponselnya, pukul empat pagi tetapi ada nomor asing yang memanggilnya.
Namun, tidak lama setelahnya Deon kembali berpikir. "Tapi, bukanya nomor aku hampir tidak ada yang mengetahuinya selain orang-orang yang sudah aku izinkan."
Dengan berbagai pertimbangan akhirnya laki-laki itu mulai mengangkat panggilan telepon itu.
[Ha... halloh,] ucap Deon dengan terbata sebagai salam sapaan pada si pemanggil, tentu Deon ada rasa takut kalau yang memanggilnya hanyalah orang iseng yang akan berminat untuk berbuat jahat dan mengerjainya.
[Heh, laki-laki jahat, pria jahat, kamu puas sekarang? Setelah apa yang terjadi pada Kakak Qari?] Suara gadis kecil dengan cempreng langsung menerobos gendang telinga Deon.
__ADS_1
Serrr... lagi-lagi Deon merasakan tubuhnya lemas bahkan untuk memegang ponselnya laki-laki itu tidak berdaya. Ponsel yang sebelumnya ada dalam genggamanya dengan kuat pun terjatuh, ketika Deon bisa menyimpulkan suara siapa kira-kira yang berani-beraninya memanggilnya dengan embel-embel 'pria jahat'.
"Siapa lagi kalau bukan Tantri, gadis kecil yang kemarin siang dia temui dengan maksud mengompori agar membenci Qari, tetapi setelah semuanya terjadi, kini hanya tinggal penyesalan yang tersisa.
[Da... dari mana kamu tahu nomor aku gadis kecil?] Pertanyaan yang gila dan konyol. Sudah jelas Tantri tahu dari dirinya yang jelas-jelas memberikan Tantri kartu nama kemarin saat dia menemui gadis kecil itu.
Terdengar isakan samar dari sebrang Deon, membuat hati Deon semakin dihantui dengan perasaan bersalah. Sangat-sangat bersalah.
[Maafkan aku gadis kecil, aku tidak pernah berpikir kalau apa yang terjadi pada Qari dan putrinya akan sefatal ini, aku tidak pernah berpikir kalau apa yang aku lakukan malah membuat aku kehilangan buah hatiku untuk selamanya,] racau Deon.
Sontak saja ucapan Deon itu membuat Tantri langsung syok dengan apa yang Deon katakan. Cukup lama Deon hanya mendengar isakan samar dari bibir Tantri tanpa ada ucapan apapun yang terlontar dari bibir bocah itu. Deon pun memakluminya pasti sedih ketika mengingat kalau Qinar yang sudah tidak ada.
Tanpa Deon tahu bahwa Tantri itu memang belum tahu kalau Qinar itu sudah meninggal. Dengan sengaja Alzam dan yang lainya merahasiakan meninggalnya Qinar, karena tahu kalau Tantri pasti bakal merasa bersalah sekali. Benar saja seperti yang dirasakan Tantri saat ini ia di hantu oleh persaan semakin bersalah. Hingga bocah kecil itu tidak lagi bisa berucap, dan tidak lagi bisa menayakan apa yang terjadi sebenarnya pada ponakan bayi.
Padahal dalam pikiran Tantri sudah sangat banyak pertanyaan-pertanyaan yang sekiranya terjadi, tetapi bibirnya tidak bisa berucap.
"Maafkan aku gadis kecil, aku salah, aku tidak pernah terpikirkan kalau semuanya akan seperti ini. Aku salah dan aku sangat menyesal, dan kini Tuhan telah menghukum aku, buah hati ku diambil lagi oleh Tuhan, aku sangat menyesal." Deon pun kembali terisak sama halnya seperti tadi-tadi dia menangis mengingat tubuh kecil sang buah hati yang perlahan tertimbuh tanah.
"Ja... jadi anak Kakak Qari sudah meninggal?" tanya Tantri dengan ucapan yang terbata, suara parau dan bergetar, menandakan bahwa gadis kecil itu baru saja menangis dengan hebat.
Deg!! Kali ini Deon yang kembali dikagetkan dengan pertanyaan Tantri dengan suara bergetar dan kesedihan yang mendalam, hal itu bisa Deon simpulkan dari tangisan bocah kecil itu, yang terdengar sangat pilu dan menyayat hati.
__ADS_1
"Apa mungkin gadis kecil itu belum tahu apa yang terjadi? "