Cinta Berselimut Dendam

Cinta Berselimut Dendam
Cinta Berselimut Dendam #Episode 158


__ADS_3

"Neng, kenapa bilang seperti itu, bagaimana pun Tuan Deon ini juga manusia dia tidak luput dari salah dan dosa. Kita sesama manusia itu wajib memaafkanya," seru bi Sarni dengan hati yang masih tidak percaya kalau Tantri ternyata justru bersikap masa bodo dengan Deon yang sudah jatuh pingsan.


"Terserah Bi yang jelas Tantri tidak sudi kalau harus berurusan dengan orang jahat ini, mau mati pun tidak perduli," balas Tantri sembari wajahnya yang berubah sangat berbeda, bukan Tantri yang dulu yang baik dan perduli. Bi Sarni hanya mengelus dadanya. Wanita paruh baya itu takut kalau Tantri berubah jadi orang yang pendendam. Padahal Qari maupun Alzam belum mengatakan marah dan kecewa pada dirinya, tetapi entah mengapa Tantri justru langsung marah dan kecewa dengan Deon, dan dengan dirinya sendiri. Tantri langsung menghakimi dirinya.


"Neng, mau kemana?" tanya Bi Sarni yang semakin bingung di satu sisi Deon pingsan di sisi lain Tantri justru pergi dan dia yy masih kecil membuat bi Sari harus tetap mengikutinya.


"Pulang malas ngurusin laki-laki jahat itu," balas Tantri masih dengan kemarahanya.


"Neng, tolong jangan kayak gini Neng, bibi mohon tunggu sebentar saja, bibi akan cari bantuan agar membantu Tuan Deon, dia juga manusia butuh ditolong." Bi Sarni dengan langkah kaki terseok berusaha mengimbangi langkah Tantri yang cukup kencang.


"Neng tolonglah belajar dari pengalaman yang sudah-sudah. Bukankah semua yang terjadi pada Non Qari atas kemarahan yang meluap-luap dari Neng Tantri, dan sekarang Neng Tantri lakukan juga pada bibi, dan laki-laki itu yang sudah menyesal. Apa Neng Tantri juga ingin terjadi sesuatu pada laki-laki itu atau justru ingin terjadi sesuatu pada bibi?" Bi Sarni yang sudah tidak kuat mengikuti langkah kaki Tantri pun lebih baik berhenti dan memperingatkan Tantri bahwa cara dia marah itu sudah di luar batas.


Tantri menghentikan langkah kakinya, dan berdiri mematung tanpa melihat pada bi Sarni.


"Bagaimana kalau laki-laki itu saat ini sedang meregang nyawa, dia terkena henti jantung atau serangan jantung dan membutuhkan pertolongan dari kita, apa Non Tantri mau dia meninggal, dan urutan orang yang meninggal karena kemarahan Neng Tantri bertambah? Lalu Neng kembali dilanda penyesalan?"


Mungkin memang sedikit keterlaluan apa yang dikatakan oleh Bi Sarni tetapi itu yang akan terjadi apapbila Tantri terus dengan sifat keras kepalanya ini. Setiap orang memiliki tingkat emosi yang berbeda-beda, dan bahkan orang yang kata orang lain sabar belum tentu ia tetap bisa dalam tahap sabarnya. Mereka hanya berusaha berpikir ulang sebelum meluapkan emosinya. Itu seharusnya yang dilakukan oleh Tantri, mengontrol emosinya dulu sebelum terjadi sesuatu yang tidak diinginkan.


Bi Sarni pun berjalan bernbalik untuk mencari pertolongan di mana ia akan datangi pemukiman, dan membiarkan Tantri untuk intropeksi diri atas apa yang telah ia lakukan. Bi Sarni paham betul bahwa Tantri pasti tidak akan mau melakukan kesalahan untuk yang kesekian kalinya.


Sebagai sesama makluk hidup bi Sarni memilih membantu Deon dan mengabaikan ancaman Tanti dan kemarahanya.


"Mang, tolong, di sana ada orang pingsan apa boleh saya minta bantuan." Bi Sarni setelah berjalan cukup jauh akhirnya sampai di pemukiman warga, dan beruntungnya warga langsung merespon ucapan bi Sarni ada sekitar lima orang lari menuju tubuh Deon yang tergeletak di atas pusaran buah hati.


Wanita paruh baya itu pun mengelus dadanya dengan gerakan yang pelan menandakan harus sabar untuk menghadapi Tantri. "Alhamdulillah." Setelahnya Bi Sarni mengikuti orang-orang itu yang menuju Deon pingsan, tidak lupa wanita paruh baya itu pun melirik pada Tantri yang ternyata masih mematung di tempat tadi. Lega, setidaknya apa yang bi Sarni katakan terbukti keampuhanya.

__ADS_1


"Bi, masih hidup mau di bawa ke rumah sakit atau ke mana?" tanya salah seorang warga yang membantu untuk mengangkat tubuh Deon.


"Ke rumah sakit saja Mang, itu mobil laki-laki itu, tapi kami tidak ada yang bisa mengendarai mobil," ujar Bi Sarni, dia juga tidak tahu siapa kerabat yang harus di hubungi oleh bi Sarni. Wanita paruh baya itu sama sekali tidak tahu menahu apa yang terjadi dengan laki-laki ini dan juga tidak tahu siapa dia sebenarnya.


"Kalau gitu biar saya yang bawa mobilnya Bi, saya bisa menyetir." Laki-laki yang terlihat masih muda pun mulai mencari konci di saku celana Deon dan kunci serta ponsel, dan dompet diambil dan di berikan pada bi Sarni yang mungkin saja, bisa di gunakan untuk menghubungi keluarganya.


Kembali bi Sarni berjalan, dan kali ini menemui Tantri yang masih berdiri mematung.


"Kita antarkan laki-laki ini ke rumah sakit, dan nanti apabila keluaraganya sudah datang kita akan pulang dan membersihkaan diri, Neng Tantri juga harus istrirahat," ucap Bi Sarni dan tanganya menuntun Tantri yang terus melamun, entah marah atau entah dia sedang intropeksi diri.


Di dalam mobil Tantri pun tidak mengucapkan sepatah katapun. Bi Sarni tahu kalau gadis keci itu sedang marah-marah pada dirinya yang tidak mau perduli dengan perasaan Tantri. Namun bi Sarni yang juga memiliki anak tahu betul bagaimana jadinya ketika seorang anak yang apa-apa dituruti dan juga seorang anak yang telalu dimanja, sehingga untuk mengolah emosinya butuh pendamping yang cukup berpengaruh. Sedangkan Tantri bisa dibilng terlalu dimanja oleh Alzam, dia memang menjadi anak yang mandiri dan juga dewasa tetapi, tidak dengan sikapnya yang terkeras kepala, dan emosinya yang buruk.


Tidak lama Deon sampai di rumah sakit, dan bi Sarni yang lagi-lagi mengurus keperluan Deon.


"Neng, bibi mau urus laki-laki itu untuk mengurus perawataanya apa Neng Tantri akan tetap di sini saja atau ikut?" tanya Bi Sarni dengan suara yang lembut, tetapi ternyata Tantri yang masih marah dan kecewa dengan bi Sarni pun tidak membalasnya dan hanya diam saja.


Wanita paruh baya itu meninggalkan Tantri yang masih diam seribu bahasa.


Sementara Tantri dalam batinya marah pada Deon, pada bi Sarni dan juga pada dirinya sendiri. Sehingga dia jadi seperti ini.


"Apa aku ketelaluan kalau aku ingin memberikan pelajaran pada laki-laki itu? Apa aku keterlaluan kalau marah pada dia?" gumam Tantri dia ingin memiliki teman curhat agar dia bisa meluapkan apa yang sedang ia alami. Bagi Tantri bi Sarni sudah tidak asik lagi sebagai teman curhat itu semua karena bi Sarni terlalu banyak membela laki-laki itu.


Mungkin memang Tantri mengira kalau bi Sarni yang terlalu banyak membela laki-laki itu tanpa Tantri ketahui bi Sarni melakukan ini karena dia tidak mau dirinya terikat dalam lembah dendam. Kalau sudah dendam itu akan sangat panjang urusanya dan banyak yang dirugikan, bi Sarni tidak mau hal itu terjadi.


Bi Sarni pun setelah mengurus adminitrasi dan mengucapkan banyak berterima kasih pada warga yang mau membantunya tidak hanya itu Bi Sarni pun mengambil beberapa lembar rupiah dari dompet Deon yang ia ambil dari saku jaketnya, untuk di berikan pada warga yang membantu. Tidak lupa bi Sarni juga mengatakan kalau dia tidak bisa memberikan uang dalam jumlah banyak pasalnya uang itu sendiri bukan miliknya.

__ADS_1


Dengan tubuh yang lemah bi Sarni memilih duduk di depan ruang IGD di mana di dalam sana Deon sedang mendapatkan penanganan. Ponsel di tangan bi Sarni pun di buka niat hati ingin menghubungi orang terdekatnya, tetapi tenyata ponsenya menggunakan sidik jari alias tidak bisa di buka dengan sembarangan.


Wanita paruh baya itu diam sejenak mencari ide untuk mengabari kerabat Deon dan berganjian menjaganya. "Ah, bukanya menggunakan sidik jari bisa digunakan dengan jari laki-laki itu," gumam bi Sarni sembari berdiri dan akan meminta bantuan dokter untuk membukakan ponsel Deon dengan sidik jari laki-laki itu.


Setelah meyakinkan bahwa tujuan membuka ponsel laki-laki yang masih pingsan untuk menghubungi keluarganya. Perawat pun mau membantu menekankan jari jempol Deon pada layar ponselnya, memang beberapa kali gagal, tetapi setelah terus di coba pun akhirnya terbuka juga ponselnya.


"Alhamdulillah. Mudah-mudahan ada titik kabar yang menyenangkan," batin Bi Sarni sembari kembali duduk dengan tangan yang masih bergetar bi Sarni mencari seseorang yang baru di hubungi oleh Deon.


"Jec, mungkin dia adalah orang yang cukup dekat dengan laki-laki ini mengingat paling banyak panggilan itu dengan Jec." Tanpa menunggu lama bi Sarni pun menekan nomor ponsel Jec.


"Apa orang-orang ini pada pingsan semua," gerundel bi Sarni yang sudah lebih dari lima kali mencoba melakukan panggilan tetapi tidak juga ada jawaban. Sementara itu di kamar yang mewah, laki-laki yang masih terhipnotis dalam mimpinya harus terusik oleh bunyi ponselnya.


"Oh Tuhan siapa lagi sih yang ganggu pagi-pagi buta. Tidak tahu apa aku tuh baru tidur di jam subuh," umpat Jec dengan mata yang malas laki-laki itu pun memilih bangun dan mengangkat telepon itu. Tanpa melihat siapa yang memanggil Jec langsung mencecarnya.


"Hay, apa kamu tidak tau ini masih pagi buta dan kamu telah mengganggu tidurku," maki Jec, lagi pula dia tahu paling ini adalah anak buah di kantor, Deon tidak mungkin kan Deon bekerja.


"Tuan maaf kalau saya mengganggu jadwal tidur Anda dan saya hanya ingin mengabarkan bahwa pemilik nomor ponsel ini sekarang ada di rumah sakit, karena pingsan di makam putrinya."


Deg!! Mata Jec langsung melebar sempurna, dan melihat siapa yang menghubunginya.


"Oh YaTuhan, Bos. Ngapaian Anda ke makam." Jec langsung hilang rasa mengantuknya setelah tahu bahwa siapa yang si penelepon maksud.


"Bu, di mana rumah sakitnya tolong share ke nomor saya dan saya akan datang ke sana saat ini juga." Jec langsung mematikan sambungan teleponya, dan langsung bersiap untuk menyusul bosnya.


"Oh Tuhan Bos, kenapa Anda terus saja membuat saja pusing," gerutu Jec dengan langkah kaki panjang hendak meninggalkan rumah mewah dengan tiga lantai itu.

__ADS_1


"Cucu, dia harus ikut, pasti saya butuh peran cucu." Jec pun kembali berbalik dan menuju kamar Dena, untuk membangunkan cucu.


#Wah siap-siap Deon kena marah Cucu. Bandel sih orangnya.


__ADS_2