Cinta Berselimut Dendam

Cinta Berselimut Dendam
CBD #Episode 116


__ADS_3

Sesuai yang Qari dan Alzam rencanakan, bahwa ia setelah pulang kerja langsung mengunjungi rumah keluarganya, dan tentunya Tantri juga pasti sudah ada di rumah itu. Tanpa sepengetahuan Qari dan Alzam, di rumah itu juga ada Rania dan juga Adam, yang sering mengunjungi keluarganya.


Meskipun mereka sering mengunjungi keluarga papahnya, tetapi hubungan dengan Qari maupun dengan Naqi masih belum membaik.


"Sayang apa kita datang ke rumah Kakek tidak membawa apa-apa? Kira-kira apa yang Mamih dan  Kakek suka? Kita beli dulu sebagai buah tangan. Agar terlihat sebagai menantu dan cucu menantu yang baik," tanya Alzam sembari masuk ke dalam mobilnya yang sangat tertutup dengan rapat.


"Mamih adalah pemakan segalanya, apa yang di bawa mereka tidak akan menolak," balas Qari dengan yakin dan setelah memikirkan secara matang, Qari dan Alzam pun mampir ke sebuah toko kue yang terkenal dari kota Bandung dengan balutan pastry dan cake lembut di dalamnya, membuat makanan itu sangat cocok untuk tuan Latif yang sudah cukup umur, sehingga gigi-giginya tidak sekuat dulu. Makanan dengan tekstur lembut adalah solusi terbaik.


Dua kantong besar sudah Qari bawa sebagai buah tangan untuk mamihnya, wanita itu justru baru tahu, ketika datang ke rumah orang yang lebih tua disarankan untuk membawa buah tangan sebagai tanda menghormati. Ia yang sebelumnya tidak pernah datang ke rumah siapa pun kecuali temanya, tidak pernah melakukan itu.


Namun berkat suaminya, ia menjadi tahu kalau disarankan apabila mau datang ke rumah orang yang lebih tua membawa buah tangan.


"Sayang ini mobil siapa kenapa tumben rame banget, apa mungkin di dalam sana sedang ada rapat," gumam Qari sembari tubuhnya turun dari mobil yang Azam belikan untuknya. Yah, laki-laki itu memang untuk kebutuhan sehari-hari ia memilih membeli dua unit mobil untuk dirinya dan Qari ketika berangkat kerja, serta untuk adiknya satu ketika harus berangkat sekolah, tentuTantri sekolah diantarkan oleh sopirnya.


Alzam pun menatap mobil yang berjejer dengan rapih, yang ujung sudah jelas mobilnya, karena memang dia yang beli untuk adiknya, tentu Alzam hafal, tetapi yang tengah ia tidak tahu mobil siapa. Yang pinggir lagi dia tahu mobil Naqi, karena memang dulu ia sering menggunakanya untuk mengantar jemput Naqi, sebelum menikah.


Namun, sejak keduanya menikah mereka pun lebih nyaman berangak ke mana-mana sendiri ataupun sama pasangan.

__ADS_1


"Enggak tahu, mungkin memang di dalam sana sedang ada tamu, Ya udah yuk masuk, biar tahu siapa gerangan yang  datang," ucap Alzam dengan menggandeng tangan istrinya itu, dan Qari pun langsung mengikuti apa yang diucapkan oleh Alzam.


Wajah Qari langsung berubah ketika yang datang adalah Rania. Yah, wanita itu sepertinya masih tidak menyukai dengan sosok Rania. Qari masih tetap menganggap Rania adalah biang masalah.


"Hay Sayang, Mamih udah tunggu dari tadi loh." Qanita yang lebih dulu datang untuk menghampiri Qari yang mematung.


"Tumben Mih rame?" tanya Qari dengan menyodorkan apa yang ia bawa sebagai buah tangan.


"Iya Adam dan Rania sedang bermain di sini. Ayok kita kumpul." Qanita menarik tangan Qari. "Padahal kalian tidak perlu repot-repot bawa semacam ini." Qanita mengeluarkan kue yang Qari bawa.


"Alzam yang bilang katanya kalau mau mampir ke rumah orang tua kita dibiasakan bawa buah tangan," jawab Qari sembari melirih ke Rania yang nampak makin segar.


"Tantri ke mana Mih?" tanya Qari sembari mencari sosok adik iparnya.


"Tantri sedang tidur, kecapean dia baru datang sekolah saja langsung berenang, padahal cuaca masih cukup panas, jadi sekarang sedang tidur," balas Qanita, sembari tanganya mengulurkan tas kue kepada asisten rumah tangganya akan mereka membawanya ke dapur dan menyuguhkanya untuk mereka yang sedang berkumpul.


"Ah anak itu memang tidak bisa melihat air, bawaanya selalu ingin menyelam, udah berasa punya putri duyung kayak gini," kekeh Qari.

__ADS_1


"Qari aku dengar kamu sudah hamil selamat yah." Rania yang biasanya selalu diam ketika bertemu dengan Qari pun kali ini angkat bicara dan mencoba memperbaiki hubungan yang renggang. Qanita yang memang kebetulan duduk bersebelahan dengan Qari pun mencolek punggung putrinya agar menjawab ucapan Rania. Wanita paruh baya itu tahu kalau Qari memang masih kurang menyukain Rania, sebenarnya bukan kasus Naqi saja yang membuat Qari masih membenci kakak tirinya, melainkan lebih ke kasus Luson yang terus menerus membandingkan dirinya dengan Rania sedhingga Qari merasa risih dengan Rania, yang menurutnya sok baik.


"Ah iya, terima kasih," balas Qari dengan nada yang dingin.


"Ngomong-ngomong usia kandunganya berapa bulan?" tanya Rania lagi, dan wajah Qari pun langsung memerah, udah dia tidak suka dengan Rania, malah wanita itu seolah memancingnya. Yah, bagaimana Qari tidak merasa kesal dengan pertanyaan Rania, sama ajah kalau ia jawab makan Rania akan tahu kalau dirinya hamil di luar nikah, di mana usia pernikahan mereka baru jalan tinga bulan, tetapi kehamilan Qari sudah menginjak empat bulan.


"Udah sih, nggak usah kepoin urusan orang," jawab Qari dengan ketes. Bagi Qari, Rania itu selalu cari gara-gara. Bahkan sampai saat ini Naqi pun dengan Rania masih tidak ingin bertemu, bukan karena dia masih ada perasaan, tetapi karena menjaga perasaan Cyra.


Saat ini tim laki-laki memang sedang berada di taman belakang seperti Alzam, Adam, dan Tuan Latif, sementara Naqi memilih di kamarnya untuk mengerjakan pekerjaan kantor. Mereka selalu seperti itu. Meskipun kasus Rania dan Naqi sudah selesai, bahkan Cyra nampak tetap berusaha biasa saja, tetapi nampaknya tidak dengan Naqi, ia masih enggan untuk bertemu dan gabung mengobrol dengan Rania maupun Adam.


"Oh, maaf kalau pertanyaanku mengganggu untuk kamu," balas Rania, bersikap mengerti dengan perasan adik tirinya. Sedangkan Cyra dan Qanita yang duduk tidak teralu jauh pun sama bingung mau memulai obrolan dari mana.


'Niatnya datang ke rumah ini untuk ngilangin setres, malah tambah setres,' dengus Qari dengan bangkir dari duduknya.


"Kamu mau kemana Sayang?" tanya Qanita yang tahu kalau Qari sedang kurang baik moodnya terutama setelah mendengar pertanyaan dari Rania,


Salah mereka juga tidak mengatakan pada Rania untuk bertanya hal yang sensitif, sehingga Rania yang tidak tahu pun jadi membuat Qari kurang menyukai caranya yang melemparkan pertanyaan seperti itu.

__ADS_1


"Qari pengin istirahat," balas Qari dengan jutek. Meskipun dia belum ada yang mengintraksinya tetapi dia yakin kalau dirinya akan lancar jalunya.


__ADS_2