Cinta Berselimut Dendam

Cinta Berselimut Dendam
Cinta Berselimut Dendam #Episode 123


__ADS_3

"Apa yang kamu laporkan keaku ini sudah diselidiki kebenaranya?" tanya Deon dengan suara tegas, ia tidak mau kalau apa yang info ia dapatkan hanyalah sampah belaka.


"Anda tidak usah bayar upah kerja kami kalau memang info yang kami dapatkan tidak sesuai dengan yang Anda inginkan." Jawaban yang cukup membuat Lucas percaya.


"Anda jaminanya kalau ini semua benar?" cecar Deon, dia benar-benar tidak mau membuang uangnya sia-sia terlebih semua yang ia dapatkan saat ini benar-benar dengan kerja keras sehingga Deon tidak ingin kalau dia akan miskin hanya karena anak buahnya kerja tidak benar.


"Satu minggu Anda bisa awasi wanita itu di alamat yang saya tulis, kalau tidak akurat kami siap tanggung jawab," ucap laki-laki suruhan Deon.


"Ok, aku pegang ucapan kalian, dan kalian tetap awasi wanita itu, dan kalau dia ada keluar seorang diri kalian laporkan sama aku," titah Deon.


"Siap Tuan, semua yang jadi keinginan Anda akan saya lakukan, setelah urusan mereka selesai. Dua orang yang berpenampilan preman pun pergi, dan  Deon sendiri mulai membuka apa yang mereka laporkan, dari mulai foto-foto Alzam dan Qari yang selalu tampil kompak dan juga Alzam yang selalu menemani Qari untuk memeriksakan diri ke dokter kandungan.


Kedua mata Deon pun tidak bisa berpaling dari Qari yang ternyata semakin hari semakin cantik. Bahkan ketika hamil dengan perut buncitnya berhasil membuat Deon semakin dibuat terpukau.


Tangan laki-laki itu terus menggeser foto-foto Qari dan Alzam. Cemburu? Sudah jangan di tanya lagi. Deon sudah jelas-jelas cemburu dengan laki-laki yang selalu ada buat Qari itu. Alzam, yah Deon sangat cemburu dengan laki-laki itu.


"Apa dia tidak pernah ada pekerjaan kenapa setiap saat bisa menemani wanitaku jalan-jalan terus," umpat Deon kesal sendiri dengan Alzam yang selalu ada disetiap foto yang dikirim oleh anak buahnya.


Bahkan saking kesalnya terlalu banyak jepretan kamera yang memperlihatkan Alzam dan Qari yang sedang bergaya alay, Deon pun memutuskan untuk tidak melanjutkan melihat foto-foto itu. Namun, sedetik kemudian pikiranya berubah ketika ada vidio di urutan selanjutnya.


"Vidio apa ini? Apakah vidio ini akan memberikan informasi yang penting?" gumam Deon, ia pun memutar vidio itu.


#Percakapan dalam Vidio...


"Duduk dulu!" Alzam menuntun Qari yang nampak kurang bersemangat. Tangan Alzam membuka air mineral dan menyodorkanya pada Qari. "Minum lah!"


Tidak lama Qari pun mengambil minuman yang Alzam sodorkan.


"Kenapa kamu jadi sedih padahal dokter tadi memberikan kabar yang bahagia," lirih Alzam. Yah, dari vidio itu Alzam dan Qari sedang berada di depan ruang pemeriksaan kandungan.

__ADS_1


"Entahlah, aku merasa takut saja, kalau sampai laki-laki itu datang dan mengakui anaknya." Suara Qari yang lirih  membuat Deon harus memutar beberapa kali vidio itu agar ia tahu apa yang diucapkan oleh Qari.


Deg!!! Setelah Deon memutar hingga tiga kali dadanya mulai bergemuruh.


"Laki-laki itu? Apa maksudnya anak itu bukan anak Alzam... Kalau bukan anak Alzam, berati benar dugaanku kalau Qari hamil anakku," batin Deon, dadanya mulai bergemuruh hebat. Tubuhnya seketika memanas, karena ucapan Qari.


Ini sebenarnya bisa dikatakan kabar yang bagus, dan memang apa yang dia inginkan, tetapi kenapa Deon seperti tidak tega kalau datang dan membut Qari sedih dengan kedatanganya.


"Tapi gimanapun kalau anak itu anak aku itu tandanya aku juga bisa merawatnya bersama," gumam Deon. Setelah dadanya tidak bergemuruh lagi, ia pun kembali memutar vidio itu, kupingnya digunakan dengan sebaik mungkin agar ia tidak terlewatkan barang satu patah kata pun.


"Kamu tenang saja aku tidak akan membiarkan siapun mengambil anak itu," lanjut Alzam.


Deon yang mendengar pun geram dan mengepalkan tanganya.


"Enak ajah dia bilang, anak itu anakku jadi aku boleh mengambilnya," gerutu Deon.


"Bukan masalah laki-laki baji-ngan itu sebenarnya yang membuat aku jadi kepikiran, aku lebih memikirkan gimana jadinya kalau Tantri tahu bahwa anak ini bukan anak kamu. Pasti Tantri akan marah banget ketika kita semua membohonginya." Suara Qari yang berat menandakan kalau dia memang benar-benar ketakutan.


"Kenapa orang-orang itu baru dapat informasi sekarang, mungkin kalau dari dulu aku sudah bisa merebut Qari," gerundel  Deon. Setidaknya ia bisa mulai melakukan misinya. Mumpung semuanya mendukung. Doni sudah bisa percaya denganya, dan Jec juga selama ini tidak tahu kalau dia diam-diam mengawasi Qari.


Bahaya kalau Jec tahu rencana Deon, bisa-bisa lelaki itu berubah jadi ustadz. "Ternyata benarkan apa yang membuat aku selalu aneh beberapa bulan ke belakang, itu semua karena Qari yang hamil anakku, dan aku selama ini yang mengidam, dan bukanya kalau  hamil seperti ini tandanya ikatan batin aku dan calon buah hatiku dekat." Deon tersenyum seorang diri dan juga bergumam sejak tadi berceloteh sendiri.


Bahkan untuk sekedar membayangkan saja Deon sudah sangat bahagia, dia memiliki alasan yang kuat untuk meminta Alzam meninggalkaan Qari, karena adanya anak itu.


"Ok baiklah aku akan menunggu info selanjutnya dari para anak buahku yang pintar itu," gumam Deon dengan yakin. "Kini aku tidak usah cari cara kotor, karena dengan sendirinya keadilan yang datang terhadapku." Deon kembali terkekeh.


#Percakapan Vidio berakhir...


"Sayang aku ingin makan ice cream di cafe sebrang kantor, apa kamu bisa menemani aku?" tanya Qari pada Alzam yang dari raut wajah dan juga dari tumpukan map suaminya itu sedang banyak kerjaan.

__ADS_1


Alzam sendiri mendongakkan kepalanya menatap Qari dengan wajah yang lelah. "Kalau kamu jalan sendiri keberatan tidak?" tanya Alzam, sebelum mengambil keputusannya.


Qari berjalan menghampiri Alzam dan menggantungkan tangnya di leher suaminya bahkan purutnya yang menonjol membuat jarak mereka tidak bisa terlalu dekat, terhalang oleh perut Qari yang sudah semakin buncit dan bulat itu.


"Aku hanya bertanya, barang kali kamu ingin makan es cream, tapi kalau kamu sibuk, kan aku bisa sendiri. Lagian hanya menyebrang jalan. Aku penasaran dengan rasa es cream yang katanya sangat enak di cafe itu," racau Qari.


"Ya udah, aku tidak ikut dulu yah, lagi banyak kerjaan, kalau kamu butuh teman bisa ajak Mirna," balas Alzam.


"Hizzzttt... kamu jangan merasa bersalah seperti itu, Kalau gitu aku jalan sekarang yah dan kamu mau nitip es cream-nya?" tanya Qari  sembari bersiap akan melangkah pergi.


Alzam pun menggelengkan kepalanya. "Tidak usah, aku kan tidak makan-makanan seperti itu," balas Alzam yang sebenarnya Qari hanya basa-basi, sudah jelas dan paham sekali Alzam itu adalah orang dengan pola makan yang sehat. Ia benar-benar menjaga asupan makan yang masuk ke dalam tubuhnya.


"Hisssttt... kamu itu, nanti nyesel loh rasanya kan enak banget," goda Qari dengan sangat yakin, padahal dia sendiri belum mencicipinya.


Alzam yang mendengarnya pun hanya terkekeh, dan menggelengkan kepalanya. "Kalau gitu aku pesankan farian rasa yang paling enak, tapi kamu yang makan."


Qari pun langsung pergi, itu adalah cara Alzam kalau ingin makan-makanan yang dia ingin, tetapi dokter melarangnya. Qari yang akan makan, dan dia bilang sudah bisa merasakan gimana rasanya. Sangat tidak masuk akal kan. Namun itu  terjadi pada Alzam.


Setelah memastikan kalau Alzam tidak bisa  ikut, Qari pun langsung menuju cafe yang ada di sebrang kantornya, yang baru buka beberapa hari yang lalu.


Karyawan kantor mengatakan kalau es cream di sana benar-benar lezat, dan itu membuat Qari ingin segera mencicipinya. Ia pun berjalan seorang diri dengan santai. Terlebih sudah empat bulan ini hidupnya tanpa ganggun dari Deon yang mereka berpikir kalau Deon memang sudah insaf.


[Bos, target keluar menuju cafe yang ada di depan kantornya seorang diri.] Itu adalah laporan yang di kirimkan oleh orang-orang suruhan Deon.


Deon yang memang setiap saat, dan setiap waktu menunggu laporan dari orang-orang kepercayaanya membuat wajahnya tersenyum dengan sangat puas.


[Kalian terus awasi wanitaku, dan aku akan bergegas untuk  menemuinya.] Itu pesan balasan yang  Deon tulis. Deon pun benar-benar benar bergegas, dan meninggalkan setumpuk pekerjaanya untuk sekedar berbicara dengan Qari.


"Tuan, Anda mau ke mana?" cecar Jec yang baru saja masuk ke dalam ruangan Deon untuk melanjutkan pekerjaan yang tertunda.

__ADS_1


Deon yang hampir saja hendak meninggalkan ruangan itu pun memejamkan matanya dengan sempurna, dan menghembuskan nafasnya kasar.


"Si pengacau datang lagi!"


__ADS_2