Cinta Berselimut Dendam

Cinta Berselimut Dendam
Cinta Berselimut Dendam #Episode 124


__ADS_3

Qari keluar dari kantor milik kakeknya, dan langsung menatap cafe yang akan ia tuju yang berada di sebrang kantor tempatnya bekerja. Bahkan wanita dengan perut buncit itu sudah  membayangkan gimana lezatnya es cream dengan aneka toping dan juga aneka rasa itu.


JPO (Jembatan pengebrangan orang) menjadi tujuan Qari untuk segera sampai di cafe yang ia tuju. Kakinya melangkah dengan ringan, dan juga hatinya terasa bahagianya, karena akhirnya ia bisa berjalan dengan santai. Setelah sampai di cafe Qari yang sudah mengiler sejak tadi pun langsung memesan hampir semua rasa, disesuaikan dengan toping yang menjadi unggulan mereka.


Mata Qari terpejam sempurna. Ketika satu sendok es cream dengan rasa setrobery masuk ke mulutnya. Rasa yang lembut, manis yang pas, dan benar apa yang karyawan kantor katakan Es cream dari cafe itu memang enak sekali.


Di tempat lain....


Tuan, Anda mau ke mana?" cecar Jec yang baru saja masuk ke dalam ruangan Deon untuk melanjutkan pekerjaan yang tertunda.


Deon yang hampir saja meninggalkan ruangan itu pun memejamkan matanya dengan sempurna, dan menghembuskan nafasnya kasar.


"Si pengacau datang lagi!" dengus Deon, sembari membuang pandanganya.


"Aku ada kerjaan di luar kantor sebentar. Kamu kerjakan kerjaan kantor kita dengan benar jangan sampai anak tengil itu menuduh kerjaan kita yang tidak benar," titah Deon dengan pandangan mata yang masih di palingkan.


Jec justru semakin curiga, kalau memang ada yang bosnya rencanakan. Tidak biasanya ia akan memalingkan wajahnya, kecuali kalau sedang marah teramat marah, dan sedang berbohong.


"Apa Anda butuh saya untuk mengantarkan Anda?" Ini adalah usaha Jec agar tahu apa rencana Deon, meskipun ia sendiri sangat paham kalau Deon tidak akan dengan mudah mengizinkanya.


Dengan gerakan cepat, Deon langsung mengalihkan pandangan matanya untuk menatap Jec yang posisinya di samping Deon. "Apa kamu sekarang kerjaanya berpindah alih menjadi dektetif Jec?" cecar Deon yang tahu tentu maksud dari Jec ingin mengantarkan dirinya.


"Saya hanya takut Anda kenapa-napa Tuan," elak Jec dengan menundukan matanya.


"Kerjakan apa yang jadi kerjaan kamu, jangan pernah urusi apa yang bukan kerjaan kamu apalagi ini tidak ada urusanya dengan kamu." Deon langsung meninggalkan Jec dengan kekesalanya, karena Jec yang terus-terusan membuat dirinya kesal, dengan jiwa kekepoanya.


"Memang ini semua tidak ada urusanya dengan aku, tetapi kalau ada masalah nantinya yang maju paling depan itu aku, Tuan," balas Jec meskipun Deon sudah jelas-jelas tidak mendengarnya, itu semua karena Deon yang memang sudah keluar dari ruanganya.

__ADS_1


"Kalau Anda memang bermain secara sembunyi-sembunyi maka aku juga akan melakukan hal yang sama," dengus Jec, sembari mengambil poselnya, untuk meminta orang-orang suruhanya mengawasi ke mana perginya bosnya itu.


"Apalagi Tuan Doni, dan Nyonya Iriana sudah menitipkan amanah untuk menjaga Deon padaku, rasanya kalau sampai kecolongan aku merasa bersalah sekali." Jec pun kembali teringat apa yang Doni katakan, bahwa apa yang mereka lakukan adalah untuk kebaikan Deon juga, sehingga Jec pun diam-diam mendukung rencana Doni, untuk mengawasi Deon dari kegiatan nyelenehnya.


"Punya asisten makin lama bakin nyebelin, apalagi sejak dikasih kepercayaan oleh Doni, aku perhatikan Jec itu makin ngelawan terus, males banget." Deon pun tidak berbeda dengaan Jec sejak dirinya keluar dari ruangannya ia langsung mengumpat Jec habis-habisan.


Kini Deon sendiri makin sulit untuk menggunakan ancaman pada Jec hal itu karena asistenya itu sudah dilindungi oleh Doni juga, jadi Jec semakin besar kepala itu yang Deon rasakan.


Tidak membutuhkan waktu lama, karena menggunakan ojek Deon pun sudah sampai di cafe tempat Qari menikmati hari santainya. Bibir Deon melengkung dengan sempurna. Jangan ditanya ketampananya, ia adalah laki-laki yang tampan dan juga sempurna dari segi fisiknya, tapi sayang kekuranganya ia selalu membuat hidup orang lain sulit.


"Gimana rasanya enak?" Suara Deon langsung mengagetkan Qari yang sedang menikmati es cream ke tiganya.


Uhuuukkk...Uhuuukkk Qari terbatuh bahkan rasanya hidungnya memanas karena ada air yang tersendak ke hidungnya. Kedua mata Qari melebar setelah ia memastikan bahwa laki-laki yang  menatapnya adalah orang yang paling dibencinya.


Sebenarnya dari suaranya saja Qari masih sangat hafal dengan suara Deon yang berat dan sedikit serat, tetapi rasanya otaknya menepis ketika ia  belum melihat wujud asli sang pemilik suara itu.


Sementara Qari hanya diam saja ia masih syok, masih meraba-raba apakah ini mimpi atau tidak.


"Wawww... Ini Es creamnya enak sekali, aku jadi ingin menikmati yang lainya juga. Baru kali ini aku makan es cream se'enak ini." Deon Pun kembali mengambil cup es cream yang lain dari haadapaan Qari.


"Apa kamu tidak mau merasakan es cream yang ini? Ini rasa kacang hijau enak sekali, dan kamu pasti akan ketagihan." Deon menyodorkan satu sendok es cream yang sebenarnya milik Qari.


Plakkk... Tangan Qari menampik tangan Deon hingga sendok es cream itu jatuh.


"Gila yah, kamu jadi cewek galak banget," dengus Deon, sembari menjilat tanganya yang ada es cream-nya menempel.


"Apa tujuan kamu menemui aku. Katakan karena ku malas berlama lama dengan baji-ngan seperti kamu." Pandangan Qari yang awalnya kosong kini justru menatap Deon dengan tajam.

__ADS_1


"Aku hanya kangen sama kamu," ucap Deon dengan senyum menggoda.


"Jangan gila kamu Deon, aku itu istri orang. Aku sudah memiliki suami dan aku juga sudah bahagia dengan kehidupan aku. Sekarang mau kamu apa?" cecar Qari berusaha bisa menahan emosinya, ia tidak ingin orang-orang di cafe itu tahu ada keributan.


"Aku kagen Qari, masa kamu nggak tahu juga K-A-N-G-E-N." Deon dengan dengan sengaja memenggal kata kangen itu. Sementara Qari yang mendengarnya semakin jijik. Ingin saat ini juga ia menyiramkan air mineral yang ada di hadapanya, dan membuang cup es cream yang tersisa, ke wajah Deon yang menyebalkan.


"Apa sekarang setelah kamu lihat aku, bisa pergi dan tidak ganggu kehidupanku lagi. Kalau pertu kamu MATI sekalian," ucap Qari kali ini ia yang menekankan kata mati agar Deon tahu bahwa ia sangat kesal padanya.


Namun, laki-laki itu malah semakin terkekeh dan semakin santai menyendok es cream, dan melahapnya ke dalam mulut yang seksi.


"Apa kamu tidak meminta pertanggung jawaban atas perbuatanku delapan bulan lalu?" ucap Deon dengan terkekeh sinis.


Deg...!!! Wajah Qari secara sepontan langsung berubah, dan hal itu sudah cukup memberikan jawaban untuk Deon.


"Maksud kamu apa, dan aku tidak tahu  apa yang kamu bicarakan," balas Qari seolah ia tengah menghindar.


"Dari perubahan wajah kamu aku tahu, kalau anak itu adalah darah dagingku."


Byuuuuurrrr... Satu gelas air mineral Qari siramkan tepat di depan wajah Deon, bahkan kalau ada jus cabe mungkin Qari akan memilih jus cabe yang ia siramkan.


Deon tersenyum dengan perbuatan Qari. "Kamu tidaak usah jawab apa-apa karena dari perbuatakamu sudah sangat meyakinkan bahwa memang anak itu, adalah darah dagingku. Anakku." Deon yang memang benar-benar gila tentu akan semakin menjadi ketika ia ditantang seperti ini. Oleh siapa pun dia akan semakin menjadi untuk semakin berbuat gila.


"Anak ini adalah anak aku dan Alzam." Qari berucap dengan sangat lirih dan ia memastikan tidak ada yang mendengarnya, terlebih orang-orang tadi sudah menatap Qari dan Deon semua yang terlibat pertengkaran dengan menyiramkan air.


"Aduh bestie, kenapa kamu menyiram air ke wajah aku sekarang, padahal ulang tahunku baru besok," pekik Deon mengalihkan orang-orang yang menatapnya.


'Qari memang menyebalkan. Gara-gara dia aku jadi objek penglihatan mereka semua. Mungkin mereka mengira kalau aku ini selingkuh,' umpat Deon pada Qari di dalam batinnya.

__ADS_1


Ternyata dia masih punya malu dilihat orang-orang banyak.


__ADS_2