Cinta Berselimut Dendam

Cinta Berselimut Dendam
Cinta Berselimut Dendam #Episode 185


__ADS_3

Akkhhh... Deon menjabak rambutnya ketika dia belum bisa melupakan Cucu, dia seolah dihantui dengan perasan yang bersalah. Laki-laki itu sudah membuang berjuta calon buah hatinya ke dalam kloset, tetapi rasa pusinya tidak juga hilang, dan justru kali ini laki-laki yang memiliki nama lengkaap Deon Kaesa Cakrabellamy justru saat ini terus dibayang-bayangi dengan wajah Cucu yang marah.


Laki-laki itu melirik jam di pergelangan tanganya. "Pukul sebelas, apa aku temui Cucu yah," gerundel Deon, dengan pandangan menatap keluar, malam hari yang cukup cerah. Tanpa pikir lama Deon pun langsung menyambar kunci mobil dan entah apa yang ada dalam pikiranya dia langsung menuju rumah Cucu Untuk apa? Entahlah Deon sendiri juga tidak  tahu dan bingung dengan niatnya datang ke rumah Cucu. yang terpenting dia datang udah entah apa niatnya  nanti dia bisa pikirkan nanti.


Sama halnya Deon yang sedang menuju rumah Cucu, kali ini Cucu juga sedang dalam perjalanan pulang dengan diantar oleh Jec.


"Ngomong-ngomong kamu dapat duit banyak dari mana Jec?" tanya Cucu, yang dia tahu Jec adalah asisten pribadi dari Deon paling mentok gajih sepuluh juta, belum dari pakaian, parfum dan barang-barang yang Jec pakai cukup berkelas pasti uangnya habis untuk kebutuhan sehari-hari, tetapi nyatanya Jec bisa  mengumpulkan uang dengan sangat banyak.


"Kamu jangan bilang-bilang yah," ucap Jec dengan meletakan jari telunjuknya di depan bibirnya. Yah, aku janji aku tidak akan  bocor, kamu bisa percaya padaku Jec," jawab Cucu dengan sangat meyakinkan.


"Baiklah, aku akan jujur sama kamu. Kalau uang itu adalah uang yang aku dapat karena aku telah menilap uang perusahaan, dengan kata lain itu uang Bos Deon," jawab Jec dengan setengah berbisik.


Bruuggh... Cucu reflek memukul pundak Jec dengan keras, dan akibatnya Jec meringis dengan kesakitan.


"Ya Tuhan, Cucu kamu kenapa seperti ini, ini sangat sakit," ucap Jec dengan mengusap pundak bekas Cucu yang  memukul itu.

__ADS_1


"Abisan kamu itu sangat aneh-aneh saja," ucap Cucu dengan tatapan yang terlihat sangat sengit. "Kamu KO-RUP-SI?" tanya Cucu dengan melebarkan kedua matanya dengan tajam.


"Hussttt... kan aku sudah bilang ini rahasia kita. Uang itu juga nantinya balik lagi ke Bos Deon kan," ucap Jec dengan gaya yang meyerupai maling yang akan ketahuan hendak mencuri.


Untuk sesaat Cucu diam dan mengangguk-anggukan kepalanya. "Ok, kalau gitu besok-besok kamu kalau mau menilap uang perusahaan lagi, nominalnya yang cukup besar lah, dan nanti kita bagi dua untuk uang tutup mulut," ucap Cucu dengan menyengir kuda.


Sontak Jec yang hanya bercanda langsung melebarkan kedua matanya, Jec berpikir kalau dia akan mendengarkan ceramah, versi ustadzah  dadakan, tetapi justru Cucu memerintahkan untuk kembali melakukan kejahatan.


"Cu, kamu memang gila," umpat Jec dengan menggeleng-gelengkan kepalanya kelakuan wanita yang duduk di sampingnya memang tidak ada obat.


Kini Jec dan Cucu terus mengobrol dari yang serius hingga yang candaan mereka tanpa terasa sudah sampai di depan rumah kakek dan neneknya Cucu.


Tanpa Cucu tahu Deon sudah datang lebih dari dua puluh menit menunggu Cucu, tadi sempat bertemu dengan nenek dan kakeknya Cucu, tetapi kata mereka Cucu sedang ke luar, dan ternyata datang dengan wajah yang ceria dan yang membuat Deon marah dan kesal adalah Jec. Asistenya yang justru mengantar Cucu pulang dan terlihat dua orang ini sangat bahagia.


Dalam hitungan detik wajah Cucu langsung berubah ketika Deon terlihat di depan rumahnya dengan wajah yang terlihat muram, dan bisa Cucu simpulkan kalau Deon sedang sangat marah.

__ADS_1


"Dari mana saja kamu Cucu?" tanya Deon dengan suara yang dingin.


"Maaf Tuan, Cucu dan saya..." ucapan Jec di potong oleh Deon.


"Diam!! Aku tidak bertanya dengan kamu penghianat!" Deon terlihat sangat murka pada Jec, yang sedang mencoba menjelaskan akan dia dan Cucu agar tidak salah paham, tetapi rasanya percuma karena Deon memang sudah salah paham.


"Maksud Anda apa yah? Aku dan Cucu hanya..."


Bruggg.... Bruggg... Deon yang terbakar api cemburu pun langsung meninju Jec, hingga laki-laki itu tersungkur. Cucu yang panik pun langsung membantu Jec untuk mencoba berdiri.


"Terus aja kamu bela Cucu, aku tidak mengira kalau ternyata kamu serendah ini, berlaga tidak mau melayani aku, tapi apa kenyataanya, kamu malah melayani, laki-laki b*rengsek ini." Deon dengan suara meninggi menuduh Cucu yang tidak-tidak dan menunjuk Jec dengan sangat hina.


Cucu yang kesal pun langsung berjalan ke depan Deon dan ... Plakkk... Plakkkk... Cucu menampar Deon dengan sangat keras, bahkan pipinya sangat merah.


"Jaga mulut kamu Deon, kalau tidak kamu akan menyesal seumur hidup," ucap Cucu dengan tatapan yang membunuh. "Aku tidak pernah main-main dengan ucapanku, kamu tidak tahu tentang ku, jangan bangunkan macan yang sedang tidur, karena sekalinya mengusik bukan hanya kamu yang celaka tetapi semuanya," imbuh Cucu, dengan tatapan yang membunuh. Apalagi hinaan ini bukan sekali Cucu dengar. Sangat sakit ketika wanita baik-baik dituduh dengan tuduhan yang sangat hina.

__ADS_1


__ADS_2