
Alzam melihat layar monitor ponselnya di mana ia baru saja membuat janji dengan dokter yang biasa menanganinya. Di mana di jam setelah makan siang ia akan mengunjunginya, hanya sekedar berkonsultasi dengan apa yang ia akhir-akhir ini rasakan. Laki-laki itu sudah banyak berjanji sehingga ia akan selalu sehat untuk semuanya, dan itu tandanya ia harus sehat-sehat untuk terus.
"Sayang, aku ada janji dengan rekan bisnis mungkin sampai kembali ke kantor sekitar jam tiga, nanti kamu makan siang sendiri yah," ucap Alzam begitu ia masuk ke ruangan sang istri. Benar memang Alzam ada janji dengan rekan bisnis maka dari itu ia sekalian menyempatkan diri meluangkan waktu untuk menemui dokter pribadinya, Doni, agar Qari tidak cemas.
Sudah bisa dipastikan kalau Alzam tidak melakukan pemeriksaan secara diam-diam pasti kedua wanitanya akan panik dan mungkin sudah akan menangis dengan tersedu-sedu, ketakutan duluan padahal Alzam hanya melakukan check up rutin.
Qari menatap tajam pada Alzam seolah wanita itu sedang tidak terima dengan apa yang ia dengar. "Kenapa bukan Abang saja?" lirih Qari protes, bahkan wanita itu sudah menduga kalau ini adalah upaya abangnya yang ingin membalas dendam kejahilannya saat liburan kemarin, padahal acara liburan sudah berakhir dan Naqi masih aja membuat Qari kesal dan ingin marah dengan abangnya.
"Abang saat ini juga ada pertemuan dengan investor yang ingin melakukan kerja sama, dan itu juga demi kemajuan perusahaan kita. Kan kalau kita banyak untung dan bisa makin sukses. Kakek bilang kalau kita akan liburan bersama lagi, mungkin nanti kalau anak kita sudah lahiran," rayu Alzam sembari mengusap-usap perut Qari yang sudah mulai buncit, bahkan seolah cepat sekali tumbuhnya, dan mungkin sebentar lagi anaknya akan keluar dan bermain bersama dan berceloteh menghilangkan rasa lelah di setiap harinya.
Qari pada akhirnya pun mau membiarkan Alzam untuk bertemu dengan rekan kerjanya. "Tapi awas yah jangan jelalatan matanya, dan jangan beri kesempatan cewek buat dekat, kalau berani macam-macam, pistol ini (Qari menunjuk isi tasnya) pertama kali aku gunakan untuk memberi pelajaran pada wanita gatal itu," ancam Qari, yah Qari sih yakin seratus persen pada suaminya, tapi kadang-kadang para betina yang tidak tahu diri. Sudah ada tulisannya sudah ada yang punya tetap aja di pepet, katanya yang punya orang lebih menantang. Kan memang rada gila-gila cewek-cewek modelan sekarang.
Alzam terkekeh mendengar ancaman Qari. "Sayang yang mau dekati aku juga liat-liat pawang aku bukan cewek sembarangan, sekali senggol langsung diajak naik ring kan bahaya. Udah yah aku pergi dulu, takut ditungguin dengan rekan bisnis kan enggak enak," pamit Alzam sekali lagi, kalau terlalu menanggapi istrinya nanti malam nggak jadi pergi.
__ADS_1
Qari mengangguk, dan tangannya memberi kode jari telunjuknya menepuk-nepuk pada pipinya yang mulus, dan Lagi, Alzam hanya terkekeh, tapi tidak lama memberikan kecupan juga pada calon mahmud itu, untuk Mirna sedang tidak ada di ruangan sehingga aman untuk memberikan apa yang Qari inginkan.
Setelah semuanya aman Alzam pun benar-benar pergi, dan paling pertama adalah menuju rumah sakit di mana ia sebelumnya sudah membuat janji dengan sang dokter. untuk melakukan check up keseluruhan takut kalau tubuhnya mulai menandakan ada satu pernyakit yang akan tubuh. Ia tidak mau seperti dulu yang diagnosanya sedikit terlambat sehingga ia harus kehilangan sebelah kakinya.
"Dari pengalaman itu kini Alzam begitu tubuhnya mengatakan ada yang tidak beres ia langsung saja memeriksakan diri seperti saat ini yang sedang merasakan tidak enak dan ia langsung kontrol, dan konsultasi dengan sang dokter pribadinya.
"Apa hasilnya bisa keluar hari ini Dok?" lirih Alzam, ketika tubuhnya baru saja ia dudukan di hadapan sang dokter.
"Hasil seperti biasa besok akan saya kirimkan hasilnya," jawab dokter sembari menunggu Alzam duduk di kursi kebesaranya.
Dokter pun nampak sesak dengan apa yang ia harus sampaikan pada Alzam, di mana orang yang sudah terkena kangker, sekali pun sudah melakukan amputasi tetap kemungkinan ada, dan Alzam sudah tahu hal itu, tetapi laki-laki itu lagi-lagi dibuat tidak bisa berpikir dengan apa yang terjadi. Padahal yang ingin Alzam dengar adalah bukan atau tidak akan terjadi alias dia tidak akan bisa sakit lagi, meskipun kata-kata itu akan sangat mustahil.
"Jawabannya sama seperti dulu Al, sel kangker baru akan ada saja kesempatannya untuk tubuh. Saran saya kamu jangan stres dan juga jangan kelelahan. Kalau kamu sudah merasakan tubuh kamu tidak enak, kamu ambil cuti, aku rasa Naqi dan kakek mertua kamu tidak akan keberatan apabila memberikan kamu waktu satu minggu untuk cuti," jawab sang dokter, dan memang tuan Latif tidak akan pernah melarang kalau Alzam mau cuti terlebih ini menyangkut kesehatannya, tetapi lagi-lagi Alzam memikirkan perasaan sang wanitanya.
__ADS_1
Setelah mendapatkan penjelasan Alzam kembali melangkah meninggalkan ruangan sang dokter yang sudah hampir dua tahun menjadi dokter pribadinya, sudah tidak ada rahasia apapun diantara sang dokter dan Alzam. Semua yang mengganggu Alzam disampaikan dengan baik pada sang dokter.
Alzam duduk di bangku taman sebelum kembali melanjutkan pergi bertemu dengan klien. Di bawah pohon ketapang yang daunnya rindang dan di bawahnya daun yang menguning kering banyak berjatuhan. Alzam mengistirahatkan tubuhnya dibukanya botol mineral yang sengaja dia beli dan di teguknya dalam tegukan yang besar, setengah botol air mineral berhasil mengobati rasa dahaganya.
"Sejauh apapun aku mencoba lari, sekeras apapun aku berkata baik-baik saja, pada kenyataanya takdirku tetaplah akan berakhir di perjuangan yang sia-sia." Alzam merasakan perjuangannya semakin tidak ada artinya setelah mendengar penjelasan dokter akan adanya kemungkinan sakit itu lagi.
Rasa perjuangan selama dua tahun ini masih sangat jelas dalam ingatan Alzam, dan saat ini andai dugaan dokter benar adanya ia harus berjuang lagi. Bukan rasa yang ia lalui yang membuat sakit, tetapi harus memberikan rasa trauma pada orang yang dicintainya, bahkan Alzam masih melihat trauma itu di wajah Tantri. Gadis kecil itu pasti akan ketakutan yang luar biasa ketika melihat Alzam sakit padahal hanya batuk dan meriang yang sering terjadi ketika perubahan musim, tetapi Tantri akan merasakan cemas yang berlebih. Lalu bagaimana kalau nanti dia harus berjuang kembali dengan alat-alat medis yang memenuhi tubuhnya apa gadis kecilnya itu akan tetap kuat dan berpura-pura kuat? Lalu Qari wanita yang saat ini menjadi jantung hatinya, apa Qari akan bisa melewati ini semua? Lalu calon buah hati Qari, apa Alzam bisa melibatkan anak kecil ini untuk ikut menjadi saksi perjalanan ia untuk berjuang melawan sakit yang istimewa ini.
Kembali Alzam meneguk air mineralnya hingga tandas, terlihat sekali ke kegundahan dalam wajahnya, dari sebrang tempat yang saat ini Alzam tengah duduk termenung, sepasang mata mengatasinya dengan iba.
...****************...
#Buat Teman-teman yang mungkin baru gabung dikisahkan Qari. Dan mungkin bertanya Alzam sakit apa? Boleh dibaca di Novel "JANGAN HINA KEKURANGANKU" bab (93 sampai 114) disana kisah perjuangannya Alzam ketika melawan sakit kangker sacoma (Kangker tulang kaki kering). Pasti setelah baca itu akan paham gimana beratnya jadi Alzam dan Tantri kala itu.
__ADS_1
Atau ada yang penasaran pertemuan Qari dengan Deon yang super ngeselin bisa baca di novel yang sama JANGAN HINA KEKURANGKU bab (222 smp 256) ada kisah yg geremet-gremet bikin emosi dan pasti seru.