Cinta Berselimut Dendam

Cinta Berselimut Dendam
CBD #Episode 105


__ADS_3

"Bukanya kamu  pengin tahu siapa Lysa, lalu kalau kamu panggil security itu dan mengusirku, kamu akan kehilangan kesempatan kedua untuk tahu siapa Lysa. Lebih baik kamu biarkan aku ikut denganmu dan kamu tidak usah mencari tahu lagi dengan orang-orang suruhan kamu," ucap  Doni dengan mengambil duduk santai punggungnya di sandarkan ke headrest dan tangan disilangkan di depan dadanya dan kaki yang disilangkan membuat dia terlihat santai dan lebih terlihat seperti bos yang sesungguhnya.


Deon yang memang tadinya akan beranjak  bangun dan meminta security untuk mengusir laki-laki yang ada di dalam mobilnya, tetapi setelah  mendengar nama Lysa, laki-laki itu langsung kembali meletakan bokongnya di atas kursi, dan Deon pun bisa menebak siapa gerangan laki-laki yang duduk di sampingnya dengan gaya yang berkuasa.


Dari tatapan Deon sudah mengatakan bahwa ia tidak menyuka laki-laki di sebelahnya, dari gaya duduknya yang sangat tidak menghargai dirinya, tetapi dia sendiri juga kebiasaan selalu merendahkan orang lain bukan?


"Anda tidak usah takut Nona, saya bukan orang jahat, yang seharusnya Anda waspada pada laki-laki yang ada di samping saya. Dia adalah orang terjahat yang penah saya kenal," ucap Doni pada wanita yang ada di balik kemudi. Doni bisa melihat kalau wanita itu sedang mengawasinya seolah ia sedang mencari kelemahan Doni untuk melumpuhkannya.


"Anda tetap fokus pada jalanan saja, karena kalau mobil ini sampai lecet saya yakin, laki-laki yang ada di samping saya akan memecat Anda, Nona," imbuh Doni tanpa melirik reaksi Deon yang ia tahu pasti dalam hatinya sedang mengumpat dirinya.


Gatot pun mendengarkan ucapan laki-laki yang saat ini sedang duduk bersebelahan dengan bosnya itu. Ia tetap fokus pada jalanan.


"Apa yang kamu ketahui tentang Lysa?" tanya Deon, dengan nada yang dingin dan tatapan lurus kedepan.


"Semuanya tinggal Anda katakan mau tahu dari yang mana? Akan saya ceritakan semuanya, tapi dengan satu syarat." Doni tahu kalau Deon itu bukan orang yang gampang di gertak, tetapi bukanya tidak ada salahnya dirinya mencoba.


Hahahah... Deon terkekeh dengan renyah. "Aku pikir loe orang yang pintar, tetapi ternyata loe tidak ubahnya seperti preman jalanan yang hanya bisa mengancam," balas Deon, tanpa ingin melihat wajah Doni yang pada kenyataanya mereka memiliki garis wajah, yang hampir mirip.


"Syaranya, Anda jangan lagi ganggu Alzam, dan juga Qari. Gampang bukan?" tanya Doni tidak kalah santai dari Deon.

__ADS_1


"Kalau gue tidak mau?" tanya Deon balik.


"Keputusan ada di tangan Anda Tuan Deon Bellamy, saya hanya memberikan tawaran, dan saya tidak akan memberikan ancaman ataupun imbalan yang tidak setimpal," papar Doni, sebenarnya tanpa ia jelaskan Doni yakin kalau Deon tahu bahwa ini semu sangat setimpal, sebab ia mau mencari tahu kemana pun tidak akan mendapatkan informasi yang detail sedetail dirinya memberikan info-info itu.


"Apa loe tidak menginginkan uang dua kali lipat dari yang gue tawarkan kemarin," tawar Deon, meskipun ia tahu kalau Doni tidak akan mau dengan mudah di sogok dengan uang.


"Saya bisa mendapakan  lebih dari yang Anda tawarkan, bahkan saya kalau mau sangat mudah membuat Anda jadi manusia paling miskin," sahut Doni, dan seketika itu juga Deon semakin penasaran dengan siapa gerangan laki-laki yang berada di sampingnya.


"Siapa loe sebenarnya?" tanya Deon dengan memalingkan pandanganya menatap Doni yang dia akui tubuihnya bagus dan yah hampir mirip dengan dirinya.


"Jawabanya ada pada Anda Tuan, apakah Anda mau mengikuti apa kemauan saya atau Anda tidak mau, dan apabila tidak mau saya tidak akan memaksa Tuan, tetapi jangan salahkan saya apabila Anda tiba-tiba tinggal di kolong jembatan," balas Doni dengan senyum menyeringai, dan tatapan yang penuh arti.


"Ok baiklah, besok pukul sepuluh bakal ada pengacara Tuan Irwan Bellamy yang  menghubungi Anda dan jangan memohon apapun pada saya karena sekali yang melakukan sesuatu saya tidak akan menariknya kembali." Doni pun kembali diam, obrolanya dengan Deon sudah berakhir. Keputusanya dia tidak menemukan titik kesepakatan dari yang dia lakukan hari ini.


Cukup lama mereka saling diam dan kedua mata Doni sejak tadi tidak berhenti memandang pada sosok sopir yang sejak tadi diam tidak ada komunikasi apapun.


"Nona siapa nama Anda?" tanya Doni, dia tidak biasa terlibat kebisuan seperti ini, dan juga dia tidak mau terlibat komunikasi dengan abang tirinya itu.


"Nama saya Gatot, Tuan," jawabnya dengan sopan.

__ADS_1


"Jangan panggil Tuan, saya tidak gila jabatan Mbak. Panggil jada Doni, tapi kenapa aku rasa nama aku kalah maco dengan nama kamu yah," balas Doni, membangun suasana di dalam mobil, sedangkan Deon sudah sangat  kesal dengan yang dilakukan oleh laki-laki yang ada di sampingnya itu sanggat mengganggu.


Yah, Doni sengaja membuat Deon semakin ingin pecah kepalanya, dengan mengajak ngobrol sang sopir yang memiliki nama Macho itu, entah apa pikiran orang tuanya hingga memberikan nama perempuan dengan nama Gatot yang dalam suku Jawa Gatot adalah sosok pahlawan laki-laki berbadan kekar dan kuat (Itu yang ada dalam pikiran Doni). Namun, Gatot justru balasnya hanya seperlunya saja. Padahal Doni ingin kalau dia dan Gatot terlibat komunikasi yang seru agar Lucas semakin kepanasan.


Deon juga tidak bisa melarangnya Doni untuk mengobrol dengan Gatot, dalam pikiranya justru ia terfokuskan dengan yang Doni katakan kalau jam sepuluh esok hari akan ada pengacara papahnya. Deon sebenarnya sangat penasaran dengan apa yang Doni katkan, tetapi gengsi mengalahkan semuanya. Deon gengsi apabila mau memulai obrolan dengan Doni lagi.


Hingga tanpa sadar kini ia sudah sampai di kediaman Deon. Laki-laki itu nampak bergegas untuk bangun  dan juga masuk ke dalam rumahnya.


"Apa Anda tidak ingin mengajak saya masuk ke dalam Tuan Deon?" tanya Doni sembari wajahnya keluar dari kaca jendela mobil. Deon yang sudah berjalan beberpa langkah pun menghentikan langkahnya.


"Gue tidak sudi rumah ini menerima loe," balas Deon dengan ketus tanpa memanlingkan wajahnya, dan dia buru-buru bergegas meninggalkan Doni.


"Baiklah Deon, saya semakin tertarik dengan kehidupan Anda, apa Anda akan mohon-mohon nantinya meminta hartanya saya kembalikan atau justru Anda akan tetap seperti ini dengan gengsi yang tinggi," ucap Doni, dan pastinya Gatot yang masih dalam satu kendaraan mendengar apa yang dia katakan.


Wanita berotot itu pun mengawasi Doni yang memang sangat mirip dengan Deon dari wajah dan bentuk tubuhnya mirip dengan Tuanya itu.


"Antar saya ke alamat ini Nona." Doni memberikan kartu namanya, yang tertera amat rumahnya. Namun, Gatot lagi-lagi hanya diam.


"Maaf Tuan saya bukan sopir Anda, lebih baik Anda naik kendaraan lain saja," balas Gatot tegas, sangat berbeda dengan Gatot yang tadi, berbicara sopan dan lemah lembut.

__ADS_1


"Menarik sekali gadis ini, sama seperti namanya menarik, GATOT."


__ADS_2