Cinta Berselimut Dendam

Cinta Berselimut Dendam
CBD #Episode 93


__ADS_3

"Qari..."


Qari yang sudah hafal suara siapa yang masuk ke ruang pun langsung melepaskan tautan pipir dengan Alzam. Sebenarnya sah-sah saja apabila ia mau bercum'bu ataupun melakukan hal seperti barusan ini, icip-icip sedikit menghilangkan sisa pedas di bibir Qari. Karena jajanan kuliner yang ia nikmati.


Namun  yang datang saat ini adalah orang paling resek sepanjang sejarah hidupnya sehingga Qari lebih baik tidak mencari gara-gara dari pada urusnya panjang jadi tujuh hari tujuh malam, hanya perkara ciuman juga, dan parahnya ciuman itu dengan suami sahnya.


Qari buru-buru mengusap bibir Alzam. " Al... Aduh Sayang kenapa sih kamu kalau makan belepotan gini," tangan Qari mengusap bibir Alzam yang terkena lipstik yang baru Qari pakai agar penampilanya kembali cetar membahana. Seperti biasanya semenjak hamil Qari harus perfect dan sempurna penampilanya.


Setelah memastikan kalau cap bibirnya tidak meninggalkan bekas Qari pun membalik badannya, dan menyengir kuda. "Kenapa sih Bang?" tanya Qari biasa bersikap polos dan tidak terjadi apa-apa. Sedangkan Naqi yang memergoki aksi adenya yang lebih agresif pun hanya menggeleng-gelengkan kepalanya. Benar-benar adiknya itu memang benar-benar aktif banget, bar-bar itulah sifat adiknya itu.


Ingin sekali Naqi bertanya pada Qanita dulu ngidam Qari itu ingin apa, sampai adiknya benar-benar ajaib.


Naqi tidak tahu kalau ternyata adik iparnya juga lebih agresif, hanya saja Alzam lebih malu-malu, tetapi kalau sudah aman semuanya kalah. Qari saja kalah dengan permainan suaminya itu.


Naqi menatap Qari dengan tajam sedangkan Alzam seperti biasa akan menunduk dengan patuh. "Apa kalian tidak tahu ini kantor?" tanya Naqi dengan suara tegasnya.


"Tau," jawab Qari dengan santai, tetap dengan gayanya. Apalagi ini abangnya meskipun posisi jabatanya lebih tinggi Naqi tetapi untuk pembagian keutungan kakeknya akan membagi dengan adil tanpa adanya dikriminasi si A lebih banyak dan si B lebih banyak lagi semuanya di bagi dengan adil.


"Terus kenapa kalian melakukan hal senonoh seperti tadi?" tanya Naqi seolah laki-laki itu tidak pernah melakukan hal yang barusan dilakukan oleh Qari.


"Khilaf Bang, tapi tadi memang bener kok. Alzam yang makan tidak bener sehingga banyak makanan yang tertinggal dan aku hanya bersikan sisa-sisa makanan yang menempel," jawab Qari masih dengan hal yang polos dan menggemaskan.

__ADS_1


"Kerjakan ini, setengah jam harus selesai." Naqi meletakan map pekerjaan yang harus di kerjakan oleh Qari.


"Hah??? Yang benar saja Bang setengah jam mengerjakan ini semua selesai? selesai dalam bentuk apa?Abu apa laporan? Kalau abu sepuluh menit selesai, di bakar. Kalau laporan bulanan setengah jam mending aku pulang dan silakan Anda potong gajih, Tuan, " balas Qari dengan santai dan secara tidak langsung menolak apa yang diperintahkan oleh Naqi.


"Ok kalau gitu, satu jam," tawar Naqi lagi.


"Dua jam paling cepat," tawar Qari tidak mau kalah saking serunya tawar menawar hingga tidak sadar kalau Alzam sudah kembali ke ruanganya.


"Kamu, memang nggak bisa banget kalau tidak tawar menawar, langsung terima gitu, kayak Alzam kalau dikasih tugas," balas Naqi. "Ya udah dua jam, tapi benaran dikerjain jangan minta Alzam yang ngerjain apalagi Mirna, gunakan otak kamu yang pas-pasan itu," bentak Naqi, sembari meletkan mapnya lumayan kasar.


"Enak ajah kalau ngomong sekate-kate. Otak cerdas gini kok," dengus Qari sembari mengambil mapnya tidak kalah kasar, dan mata nya mengobarkan peperangan.


Naqi yang malas berdebat dengan Qari pun langsung meninggalkan adiknya dengan kerjaanya.


******


Di tempat yang berbeda, Doni pulang dengan wajah yang masih menahan marah dan kesal dengan Deon. Seperti biasa laki-laki itu akan mencari wanitanya. "Mom..." pangil Doni, meskipun laki-laki itu tahu sang momy pasti sedang ada di dapur.


Seorang wanita paruh baya yang masih terlihat cantik membalikan badanya ketika ia mencium parfum anaknya sudah pulang.


"Hay Mom, kenapa masih terus sibuk dengan masakan sih?" protes Doni yang sudah berkali-kali melarang Momynya untuk tidak masak, tetapi sulit sekali untuk meninggalkan aktifitas itu.

__ADS_1


Iriana menatap putranya dengan penuh cinta. "Momy akan sangat sedih dan bosan kalau tidak memasak," ucap Iriana wajah memohonya terlihat sekali dari balik wajah keringat karena memasak itu.


"Ok baiklah lakukan apa yang membuat Momy happy," ucap Doni sembari terus memeluk manusia satu-satunya yang sangat ia cintai.


"Apa ada yang ingin di ceritakan?" tanya Iriana, dengan mengelus rambut putranya. Doni yang memang selalu terbuka pada Momynya pun langsung mengangguk dengan semangat.


"Apa ini soal Deon?" tanya Iriana, yang tempo hari Doni sempat bercerita soal laki-laki itu.


Doni berjalan untuk duduk di meja makan, dan diikuti oleh Iriana dengan membawakan teh hangat yang sudah dibuatkan oleh asisten rumah tangga mereka.


"Aku bingung dengan laki-laki itu semakin menjadi dia, sudah diperingatkan, tetapi keras kepala sekali," adu Doni tanganya menyeruput teh hangat yang momynya berikan. Iriana yang sedang duduk di samping Doni pun menepuk-nepuk pundak putranya.


"Mungkin ini waktunya kamu buka semuanya. Bagaimanapun kamu memiliki hak atas harta itu semua dan mungkin anak itu juga akan sadar posisinya dan tidak lagi arogan." Iriana sudah sejak lama meminta Doni untuk muncul mengatakan siapa dirinya.


Yah Doni adalah anak SAH dari pernikahan Irwan Bellmy dan Diana Javonka (Iriana) nama Iriana adalah singkatan dari Irwan dan Diana. Namun pernikahan itu harus hancur karena adanya Lysa gadis desa yang berhasil memikat sang majikan hingga Diana mengetahui semuanya setelah Lysa sendiri melahirkan anak keduanya yaitu Deon. Iriana  memilih pulang kenegaranya, membiarkan suaminya bahagia dengan selingkuhanya. Eh bukan pulang kenegaranya, tetapi bersembunyi dengan membawa Doni yang kala itu masih di dalam kandungan.


Namun tidak lama Iriana pergi dari rumah itu, Irwan dan Lysa terdengar keributan dan Lysa sendiri di lempar kembali kejalanan dan Irwan merawat anak-anak mereka.


"Ini bukan soal harta Momy, aku tidak ingin harta itu, yang ingin aku bisa menghentikan laki-laki itu untuk tidak bersikap arogan lagi. Tidak mencari masalah. Perbuatanya sangat merugikan orang lain. Mungkin kalau bukan pasienku yang diganggu, Doni tidak akan semarah ini, tetapi ini masalahnya dia membawa pasienku dan itu tandanya dia juga harus berhadapan dengan diriku juga." Doni tidak mungkin masuk begitu saja kalau bukan Deon yang menariknya.


"Tapi, bagaimanapun dia harus tahu kalau dia juga masih punya sodara lain," balas Iriana.  Dia sendiri tidak menginginkan harta Irwan andai ia mau mungkin dia akan betahan dan kembali lagi saat ini untuk mengambil harta-harta itu, di mana setatus hubunganya dari pengacara  keluarga Irwan masih sah suami istri dan istri Irwan yang tercatat di negara hanya Iriana. Tidak ada Lysa atau yang lainya, jadi Iriana andai menginginkan harta-harta itu ia bisa mengeruknya apalagi Iriana memiliki anak yang sah dari hasil pernikahanya dengan Irwan.

__ADS_1


Namun Iriana sama dengan Doni tidak gila dengan harta-harta itu. Dan membiarkan dikuasai oleh Deon. Namun, kalau Deon tidak juga bisa dinasihati mungkin Doni dan Iriana akan mengambil semua haknya. Lalu Deon akan benar-benar tinggal di kolong jembatan.


__ADS_2