Cinta Berselimut Dendam

Cinta Berselimut Dendam
Oh NO!


__ADS_3

Pria berambut blonde bertubuh tegap yang mengenakan setelan jeans berwarna light black dan di padukan dengan kaos hitam yang di tutupi jaket kulit berwarna coklat di luarnya, terus menggiring Reisya menuju ke mobil miliknya yang terparkir tidak jauh dari tempatnya berjalan.


Kali ini Melinda, Dona, dan Steve saling bekerjasama dengan baik menjalankan tugasnya masing – masing.


Sambil berjalan mendampingi Reisya sesekali Steve terlihat seolah sedang melingkarkan tangannya di pinggang Reisya sehingga membuat Reisya merasa risih. Namun dia masih trus mengikuti petunjuk Steve.


Sementara Melinda selalu siaga dengan kameranya untuk mengambil foto di setiap pergerakan Reisya dan Steve yang mengaku sebagai Martin. Di bagian lain Dona sudah bersiaga dengan sapu tangannya yang sudah diberi alkohol untuk melumpuhkan Reisya.


Reisya dan Steve terus melangkah menuju mobil, lalu Steve membukakan pintu mobilnya untuk Reisya, dan pada kesempatan itulah Dona beraksi menutup hidung Reisya dengan sapu tangan beralkohol sehingga Reisya tidak sadarkan diri.


Rencana mereka berjalan dengan baik sampai tahap ini. Mereka berhasil membuat Reisya pingsan, sehingga memudahkan perkerjaan mereka.


Steve tersenyum jahat, kali ini dia berfikir bahwa dia akan menang banyak setelah menyetujui kerjasama dengan Dona.


“Thank you Dona. You’re my angle, you’ll give a lot of joy of me,” ujar Steve dalam pikiran kotornya.


Dona dan Melinda harus bersusah payah memasukkan Reisya ke dalam mobil Steve.


“Dasar perempuan kampung! Dalam keadaan pingsan aja loe nyusahin apalagi lo sadar,” cibir Dona sambil terus berusaha menarik tubuh Reisya.


Akhirnya mereka ikut kemana Steve akan membawa mereka. Steve pun melajukan mobil mewah berwarna hitam dengan kecepatan tinggi, khawatir jika obat pingsan Reisya tidak akan bertahan lebih lama.


Decit suara rem mobil terdengar saat Steve menghentikan mobilnya di sebuah bangunan dengan desain yang cukup mewah. Mata Dona dan Melinda melebar dengan sempurna menyaksikan pemandangan sangat luar biasa.


Mereka terpelongo melihat bangunan rumah Steve yang cukup megah membuat Dona merasa bangga menjadi perempuan Steve.

__ADS_1


“Ternyata Aku tidak salah memilih lelaki, meskipun semua telah Aku berikan untuknya tapi Aku akan mendapatkan apa yang selama ini Aku impi – impikan. Aku akan menjadi satu – satunya perempuan yang sangat beruntung,” gumam Dona dalam hatinya sambil tersenyum bahagia.


Sementara Melinda hanya bisa mengiri dengan Dona, “Beruntung sekali kamu Dona, bisa menjadi kekasih Steve yang tajir melintir seperti ini, kalah dengan kekayaan Kak Aaric. Ah..seandainya saja Aku yang ada di posisi Kamu Don, Aku akan jadi satu – satunya penguasa istana mewah ini,” lamunan Melinda melambung tinggi.


Namun lamunannya terhenti saat Steve membuka pintu mobilnya untuk mengeluarkan Reisya dan segera membawanya masuk ke istananya.


“Comon, girls!! Hurry Up!!” pekik Steve.


Dona dan Melinda tampak gelagapan mendengar suara tenor Steve. Mereka segera keluar dan membopong Reisya keluar dari mobil. Karena tidak sabar Steve akhirnya menaikkan Reisya ke atas pundaknya seperti orang yang sedang memikul sekarung beras atau semen.


Dona dan Melinda mengikuti jejak langkah kaki Steve yang panjang sehingga mereka harus sedikit berlari untuk mengimbangi langkahnya.


Tampak beberapa orang pelayan yang langsung menyapa Steve setelah membukakan pintu rumahnya yang cukup megah. Mereka pun menundukkan kepalanya saat Steve melewati mereka.


Dona dan Melinda bertanya – tanya dalam hatinya tentang siapa Steve sebenarnya, dan rumah megah ini milik siapa. Karena rasa penasaran yang sudah mencapai puncaknya, akhirnya Dona memberanikan diri untuk bertanya langsung kepada Steve sambil terus mengikuti Steve dari belakang.


Sampai mereka tiba di dalam ruangan yang lumayan luas untuk ukuran sebuah kamar yang luasnya sudah seperti satu apartemen tempat Dona tinggal.


Dona dan Melinda langsung menghambur ke setiap sisi bagian ruang kamar itu, mereka terkagum – kagum melihat interior yang sangat memanjakan netra mereka, dengan view alam yang sangat menyegarkan. Dan mereka lupa akan tujuan utama mereka.


Steve membiarkan mereka menikmati suasana yang mungkin baru pertama kali mereka sarakan. Kali ini Steve menambahkan alkohol kembali ke hidung Reisya. Lalu dia berdiri sambil memperhatikan Reisya.


Pikiran kotornya kembali menyelimuti seluruh isi kepalanya, memandangi tubuh Reisya dari atas hingga ke bawah sambil menyunggingkan salah satu sudut bibirnya dengan satu alis yang naik keatas.


Kemudian perlahan dia melucuti pakaian Reisya satu persatu. Lalu Melinda yang melihat tindakan yang dilakukan Steve segera berlari mendekati Steve.

__ADS_1


“Hei! What shall you do?!” sergah Melinda yang tidak mengatahui dengan pasti apa yang telah Steve dan Dona rencanakan.


Dona yang mendengar pekikan Melinda segera berlari mendekat ke tempat tidur tempat Reisya berbaring dengan tubuh yang hampir tak berbaju.


“Beb! What are you doing? I’m here!” protes Dona datar, merasa Steve telah mengabaikan perasaannya.


“Hei.. bukankah kalian ingin menyingkirkan perempuan ini dari hidup kalian?!” ungkap Steve. Mereka pun mengangguk bersamaan.


“So, tunggu apalagi?! Do it now!!” titah Steve kesal karena ternyata mereka berdua tidak dapat menangkap sinyal dari Steve apa yang seharusnya mereka lakukan.


Steve pun melanjutkan melucuti pakaian Reisya dan yang tersisa hanya tinggal pakaian dalamnya saja. Kemudian Steve pun ikut menanggalkan pakaiannya dan hanya menyisakan boxer yang dipakainya.


Hati Dona merasa terbakar dengan tindakan kekasihnya yang seakan tidak menghargai dirinya. Dengan sorot mata yang tajam, hidungnya yang kembang kempis ia menahan rasa cemburu yang teramat sangat.


“Sialan Kamu Steve! Kamu tidak memikirkan perasaanku sama sekali. Bagaimana kamu bisa melakukan ini semua di depan mataku tanpa rasa malu sedikitpun!” rutuk Dona dalam hatinya sambil mematung.


“Mel! Ambil posisi Kamu dan usahakan agar wajahku tidak terlihat jelas dalam bidik kameramu,” perintah Steve yang akhirnya membuat Melinda sadar dan mengerti apa yang sedang di rencanakan Steve.


Sementara Dona masih diam mematung dan masih dengan pemikirannya sendiri, memandangi Steve yang sedang bergonta - ganti posisi bak seorang model yang sedang melakukan foto shoot dan Melinda sebagai kameramennya.


“Oke, enough!” ucap Steve setelah beberapa kali take. Melinda pun tersenyum puas dengan hasil bidikannya menunjukkan pada Dona.


Kemudian Steve beranjak dari sisi Reisya yang masih pingsan dan menyempatkan diri memberi tanda merah tepat di bagian atas dada Reisya.


“Sekarang silahkan kalian pakaikan kembali bajunya,” ujar Steve sambil mengenakan pakainnya kembali.

__ADS_1


Selanjutnya Steve menyuruh pelayan untuk membawakan minuman kesukaannya. Steve berjalan ke arah balkon sambil menyalakan mancisnya untuk membakar ujung rokok disudut bibirnya.


Melinda pun mengekori Steve berjalan ke balkon seraya memujinya, “Good job Steve! You are so smart, thank you.”


__ADS_2