
"Berikan obat penunda kehamilan yang kamu katakan karena ku nggak mau sampai aku hamil anak laki-laki brengsek seperti kamu."
Deon justru mengusap perut ramping Cucu dengan gerakan lembut. "Aku sepertinya akan menarik ucapanku itu, berikan anak untuk aku dan aku akan menganggap hutang-hutang kamu lunas," racau Deon dengan senyum kemenangan, dan juga terus menatap Cucu dengan lapar.
"Aku nggak sudi punya anak dari laki-laki seperti kamu. Aku nggak ingin anakku nanti bernasib seperti Qinar," balas Cucu dengan suara yang dingin dan tidak ada ketakutan sama sekali dari wanita itu, meskipun Deon saat ini sedang menatapnya dengan tatapan membunuh.
"Kamu jangan bawa-bawa Qinar dalam masalah kita, anakku sudah di surga, kamu jangan mengatakan sesuatu yang buruk mengenai anakku," ucap Deon dengan gigi saling beradu, ingin kembali menghukum Cucu, yang keras kepala dan pembangkang itu.
"Kenapa kamu takut? Aku kan cuma bilang kalau aku nggak sudi punya keturunan dengan kamu Deon, kamu adalah laki-laki paling aku benci di dunia ini, aku nggak akan pernah lupa kalau kamu pernah merendahkanku seperti ini," ucap Cucu dengan menatap Deon seolah wanita itu sedang menginginkan kemarahan Deon benar-benar meledak.
"Anggap saja kamu memang menginginkanya." Deon kembali mencengkram tangan Cucu ke atas, dengan bringas laki-laki itu kembali memulai cerita baru untuk kedua kalilinya, Bahkan kali ini Cucu benar-benar tidak dibiarkan menghirup nafas kebebasan. Di bawah sana terus di paksa untuk melayaninya. Malam ini adalah malam terburuk dalam hidup Cucu. Tidak akan wanita itu melupakan malam buruk ini.
Andai dia boleh menyesal, ia sangat menyesal karena menerima tawaran pekerjaan dari Jec dulu. Dalam otak wanita yang setengah sadar dengan tubuh bagian atas merah-merah karena bekas bercinta laki-laki berengsek yang telah menikahinya.
"Jec, sudikah kamu menolong aku?" batin Cucu menjerit memanggil nama laki-laki yang dia kenal paling baik, yaitu Jec.
Arkkkh... kembali Deon mengerang sempurna setelah beberapa kali Cucu mencapai pelampiasanya. Cucu pun masa bodo sudah berapa kali laki-laki berengsek itu menabur benih-benih-nya. Yang ada dalam pikirannya ia ingin kabur dari laki-laki jahat itu.
Cuppp... Deon mencium perut Cucu yang datar. "Cepat jadi yah Sayang, aku sangat menginginkan anak untuk menemaniku," ucap Deon sembari mencium dan mengusap-usap perut Cucu, sedangkan wanita itu justru sangat jijik mendengarnya. Dan tentu dalam batinnya Cucu berdoa sebaliknya, jangan sampai dia terikat lebih dengan laki-laki bernama Deon itu.
"Istirahatlah, malam ini sampai di sini senang-senang kita. Kita akanĀ bikin cerita baru besok pagi," ucap Deon dengan mencium pucuk kepala Cucu.
__ADS_1
Dalam hati Cucu tidak henti-hentinya dia menyumpahi Deon, wanita itu memang memejamkan kedua kelopak matanya yang tubuhnya dipeluk dengan posesif oleh Deon, seolah laki-laki itu tahu kalau Cucu sedang merencanakan untuk kabur.
Yah, Cucu memang memejamkan matanya dengan sempurna, tetapi dia tidak tertidur. Setelah memastikan Deon pulas dalam tidurnya, dengan gerakan perlahan Cucu pun menyingkirkan tangan Deon yang memeluk perutnya dengan posesif.
"Ya Tuhan, kenapa tubuhku sakit semua," keluh Cucu ketika ia bangun dan seolah tulang belulangnya lepas semua. Tidak hanya itu rasanya di bawah sana sangat sakit dan seolah ada benda yang mengganjal sehingga untuk berjalan dia seperti tengah menahan sesuatu yang menyakitkan.
Pandangan mata Cucu menatap sengit Deon yang sedang pulas tertidur dengan tubuh telanjangnya setengat tertutupp selimut.
Tidak bisa Cucu pungkiri Deon memang laki-laki idaman wanita, dari harta yang kaya raya, belum tampang yang tampan dan tubuhnya sangat menggoda iman, tetapi ketika melihat prilakunya Cucu kembali teringat betapa bejadnya Deon itu.
Setelah puas menatap setan berwujud manusia pandangan mata Cucu menuju kamar mandi. Kini dia akan membersihkan tubuhnya. Sebelumnya tentu dia akan meminta bantuan pada Jec untuk membantunya kabur dari Deon. Dia nggak sudi menjadi wanita mainanya laki-laki itu. Lebih baik ia hidup sengsara dari pada begelimang harta, tapi hidup dalam tekanan batin.
Deon Yang sedang tertidur pulas.
Setelah berkirim pesan pada Jec, dan sudah memastikan bahwa Jec membacanya, kini Cucu mulai membersihkan tubuhnya dari sentuhan laki-laki jahanam itu seolah tidak ingin ada jejak dari Deon, Cucu menggosok dengan kasar setiap inci tubuhnya yang di sentuh oleh Deon.
Setelah merasa bersih Cucu ke luar dengan berjijit, ia memunguti pakaianya, dan memilih memakai kemeja Deon dan juga celana laki-laki itu, meskipun kedodoran seperti orang-orangan sawah. Cucu merasa itu lebih baik dari pada memakai pakaaian minim yang mengumbar tubuhnya.
[Apa yang Deon lakukaan pada kamu?] Itu balasan pesan dari Jec.
__ADS_1
[Nanti aku bakal ceritakan, sekarang tolong bebaskan aku dari laki-laki jahanam itu. Sekarang aku akan turun ke bawah,] Itu balasan yang Cucu kirimkan pada Jec. Dengan langkah berhati-hati Cucu meninggalkan Deon yang sudah pulas tertidur bahkan sepertinya ada badai dan tornado atau bahkan gempa sekali pun laki-laki itu tidak akan bangun. Sehingga itu kesempatan untuk Cucu kabur.
********
Sedangkan di tempat lain Jec yang sedang pulas tertidur pun terbangun ketika ada pesan masuk tidak lama ada panggilan masuk, di mana itu dari Cucu.
Dengan mata yang masih mengantuk Jec pun membaca pesan dari Cucu. Terkejut, pasti apalagi pesan yang Cucu kirimkan sepertinya kode kalau Cucu sedang tidak baik-baik saja. Setelah balasan pesan terakhir Jec pun tanpa pikir panjang, langsung meraih jaketnya. Apalagi melihat jam menunjukan pukul tiga pagi. Qila juga sudah tertidur.
Tidak mungkin Cucu mengirimkan pesan yang meminta bantuan di jam sepagi itu, tanpa ada hal yang berbahaya. Jec semakin di buat penasaran dengan kondisi Cucu.
Tanpa pikir panjang Jec langsung menuju hotel yang Cucu sebutkan.
"Kamu ada apa sih Cu, kenapa kamu seperti sedang dalam keadaan darurat, apa yang Bos lakukan pada kamu?" ucap Jec dalam batinya berkali-kali laki-laki itu mengumpat Deon yang kadang benar-benar buruk prilakunya kalau sudah berurusan dengan nafsu duniawinya.
Apalagi sifat Cucu yang keras sangat memancing Deon.
Sementara Cucu sendiri berkali-kali melihat kearah belakang guna memastikan bahwa Deon tidak bangun dan mengejarnya. Mengingat wanita itu tidak bisa berjalan dengan kencang. Rasa sakit dibagian bawah membuat Cucu harus berjalan dengan tertatih.
"Ya Tuhan, semoga aku jangan dipertemukan lagi dengan laki-laki berengsek itu." Doa Cucu dalam batinnya.
Cucu pakai kemeja Deon...
__ADS_1