
Cucu meninggalkan Deon, tidak perduli Deon ingin ikut, wanita itu tidak menggubris ucapan bosnya itu. Dia langsung menuju pangkalan becak biasa kakeknya mangkal.
"Dasar keras kepala, awas saja nanti aku hukum dia," gerutu Deon, tetapi laki-laki itu segera masuk ke dalam mobil, bingung juga berdiri di depan rumah orang. Hingga baru saja Deon masuk ke dalam mobilnya dua orang berperawakan tegap dan satu lagi gempal, rambut gondrong wajah seperti tidak mandi cukup lama, datang dan menghampiri rumah Cucu. Deon yang merasa bukan urusannya pun hanya diam di dalam mobil dengan mendengarkan musik padahal di luar sana terjadi ketegangan di antara dua orang itu dengan wanita tua.
Hingga tidak lama Cucu pun datang dengan laki-laki yang lagi-lagi sudah tua. Dari dalam mobil Deon masih melihat ketegangan itu, bahkan dua orang itu sampai memegang tubuh Cucu, tetapi wanita itu buru-buru menepisnya. Hingga tangan salah satu menarik rambut Cucu dengan kasar.
"Auhhh... lepas, kamu menyakiti aku," jerit Cucu dengan tangan kecilnya mencoba memukul tangan yang menjambak Cucu.
"Lepas!" Deon yang awalnya pura-pura acuh pun akhirnya ke luar dari mobilnya.
"Ada apa ini Cu?" tanya Deon dengan menatap laki-laki yang wajahnya lusuh itu.
"Dia punya utang tidak mau bayar dan sampai sekarang utangnya belum sedikit pun di bayar," jawab laki-laki bertubuh gempal, dengan perut maju ke depan.
"Hay, kalian mengfitnah aku, utang itu bukan aku yang makan uangnya, itu teman laknat itu yang kurang ajar utang dengan nama aku dan memakan uangnya lalu kabur, kenapa kalian menagih pada aku," protes Cucu dari awal kesaksianya selalu seperti itu dan memang Cucu tidak memakan uang itu, dia juga sedang memperjuangkan untuk membayar utang itu, tetapi laki-laki dua itu saja yang tidak sabar.
"Berapa utang dia?" tanya Deon tanpa mendengarkan ucapan Cucu.
"Lima puluh juta," jawab laki-laki rambut gondrong dengan tubuh tegap.
"Berikan nomer rekening kalian." Tangan Deon terulur, dan satu dari dua orang itu memberikan nomor rekeningnya, tidak menunggu lama uang lima puluh juta berpindah rekening.
"Utang wanita ini sudah lunas, awas kalau kalian datang untung menagih dengan alasan yang ngada-ngada. Aku tidak akan segan membuat usaha bos kalian gulung tikar dalam waktu semalam." Deon menatap tajam pada laki-laki dua yang wajahnya kusut itu.
Sesuai harapan Deon, mereka pun tanpa basa basi langsung kabur. Cucu pun hanya diam mematung begitupun dengan kakek dan neneknya yang mereka semua bingung dengan kelakuan Deon.
"Tuan, saya ucapkan terima kasih, saya akan mencicil uang Anda," ucap Cucu dengan menuduk, merasa bersalah sekali pada Deon.
__ADS_1
"Hemzz... apa kamu masih lama?" tanya Deon setelah memperkenalkan diri pada pasangan suami istri yang tidak lagi muda.
"Tidak." Cucu langsung menghadap kakek dan neneknya.
"Kek, Nek, Cucu tidak bisa lama di rumah, karena Cucu harus kerja ini adalah Tuan Deon, bos Cucu. Dan Kakek jangan lagi narik becak yah, utang-utang pada pinjol sudah lunas dan itu tandanya Kakek dan Nenek jangan kerja keras lagi. Nanti Cucu pasti akan sering pulang dan kirim uang untuk kakek dan nenek lagi." Cucu meraih tasnya dan mengambil tiga lembar uang berwarna merah.
"Ini untuk kalian pegangan selama Cucu belum pulang, dan belum gajihan. Nanti kalau Cucu sudah gajihan akan pulang dan kasih uang untuk kalian lagi." Cucu memeluk kakek dan neneknya.
"Terima kasih Cu, kamu kerja yang benar yah," ucap Nenek dan kakek yang tidak henti-hentinya mengucapkan terima kasih pada Deon dan tidak ada hentinya juga menasihati cucu mereka.
"Ayuk Tuan, kita pulang Anda baru pulang dari rumah sakit nanti malah tambah sakit lagi."
Deon tanpa sepengetahuan Cucu memberikan sepuluh lembar uang berwarna merah untuk nenek dan kakeknya.
"Gunakan untuk keperluan kalian." Deon lalu meletakan jari telunjuknya di depan bibirnyanya yang dimonyongkan sebagai tanda kalau mereka harus diam jangan berisik. Dua pasangan suami istri itu pun hanya mengangukan sebagai tanda terima kasih. Dan kini Deon dan Cucu sudah ada di dalam mobil.
"Kakek juga berharap seperti itu."
Sementara Cucu di dalam mobil pun tidak ada henti-hentinya mengucapkan terima kasih. "Terima kasi Tuan, nanti saya akan potong gajih setiap gajihan untuk bayar hutang saya yang lima puluh juta."
"Apa aku minta kamu potong gajih?" tanya Deon balik, dan sontak saja Cucu langsung terkejut dengan ucapan Deon.
"Terus kalau tidak potong gajih harus bayar dengan apa Tuan?" tanya Cucu dengan bingung.
"Nanti aku pikirkan, sekarang tubuh aku sangat lelah dan kepala aku pusing tidak bisa berpikir dengan normal," balas Deon. Baik Cucu maupun Deon pun langsung saling diam dan tidak lagi ada obrolan lain.
Setalah memakan waktu yang cukup lama, karena rumah Cucu yang jauh, lewati perkampungan dan kini Deon dan Cucu sudah sampai di rumah mereka.
__ADS_1
"Cu, nanti kamu antarkan makan malam ke kamar, aku sangat cape ingin cepat istirahat," ucap Deon dan Cucu pun langsung mengagguk tanpa protes lagi. Wanita itu berjanji akan jadi asisten pribadi yang baik itu karena Deon sudah membantunya untuk melunasi hutang pinjol.
Deon begitu masuk ke kamarnya langsung membersihkaan tubuh, memang kepalanya pusing, tapi bukan pusing efek sakitnya, tetapi memang karena dia yang ingin di manjakan seperti dulu oleh Qari. Setelah tubuhnya segar Deon duduk di atas kasur sembari menunggu Cucu mengantarkan makan malamnya.
Tepat pukul tujuh Cucu masuk dengan satu nampan terdiri satu piring menu makan malam dengan lengkap.
"Tuan, ini makan malam Anda." Cucu nampak ceria dan cantik dengan pakaian Dena. Mata Deon pun semakin mendamba Cucu hingga otak kotornya pun mencari ide agar Cucu mau untuk melayaninya.
"Kamu suapi aku Cu!" Deon menujukan wajah capenya. Cucu pun yang berpikir kalau Deon sedang tidak enak badan langsung mengikuti perintah Deon. Satu piring menu makan malam sudah berpindah ke perut Deon.
"Minum Tuan." Cucu menyodorkan satu gelas besar air putih Deon kembali bertingkah manis minum tanpa banyak bicara.
"Cu..." Deon memberikan lima ikat lembaran uang berwarna merah yang nomonalnya dalam satu ikat adalah sepuluh juta.
"Apa ini Tuan?" tanya Cucu yang heran ketika dia mau beranjak kembali ke dapur malah Deon menahanya dan memberikan 5 ikat uang berwarna merah yang berati totalnya lima puluh juta.
"Ambil uang ini dan layani aku! Aku sedang ingin." Deon menatap Cucu dengan tajam.
Plakkk... Cucu justru menghadiahkan satu tamparan tepat di pipi kanan Deon. Panas itu yang Deon rasakan.
"Anda pikir saya cewek murahan, yang dengan lembaran uang mau melayani Anda." Cucu menatap Deon dengan jijik.
"Ini uang bukan sedikit Cu, lima puluh juta dan itu tandanya bisa kamu gunakan untuk melunasi hutang-hutang kamu," ucap Deon dengan meninggi juga.
"Pantas saja anak Anda diambil oleh Tuhan, karena dia malu punya papah berengs*k seperti Anda"
Pranggg... nampan yang Cucu pegang pun terjatuh.
__ADS_1
#Hayoh ada apa itu?