
"Duduk Al," ucap Doni, mengulurkan tangan dengan sopan.
"Terima kasih Dok, apa saya mengganggu Anda dengan kedatanganku?" tanya Alzam sebagai basa basi, sebab dia sudah membuat janji terlebih dahulu.
"Jangan sungkan gitu Al, aku sudah menganggap kamu lebih dari sekedar pasien, jadi ayolah katakan apa yang ingin kamu ceritakan. Mengenai sakit? Atau ada hal lain yang mengganjal perasaan kamu? Kamu itu butuh pikiran yang tenang agar sakit kamu tidak kamubuh lagi, kalau kamunya setres kemungkinan sakit itu akan tumbuh itu lebih besar," ucap Doni, suara yang lembut dan sabar terdengar lebih meyakinkan Alzam agar mau menceritakan apa permasalahan dirinya.
Padahal ini mungkin hanya sebatas dugaan semata tetapi hati Alzam benar-benar dibuat tidak tenang, bahkan untuk sekedar makan laki-laki itu sudah kehilangan seleranya. Benar kata Doni, kalau dia stres dan begini terus yang ada sakitnya akan dengan mudah datang kembali.
"Ini bukan soal sakit saya Dok, tapi ini lebih kemasalah pribadi saya, dan istri saya."
Doni menatap tajam mata Alzam yang menyiratkan begitu beratnya masalah yang ia hadapi. "Kataklah, aku bahkan sudah janji sama kamu kalau aku tidak akan bercerita dan membocorkan masalah kamu, Apa aku perlu berjanji lagi? Agar kamu lebih merasa bebas, dan menganggap aku ini bukan orang asing?" tanya Doni, yang melihat masih adanya keraguan di mata Alzam.
"Saya ingin tanya pada Dokter, mengenai pertanyaan Anda yang kemarin-kemarin, soal laki-laki yang bernama Deon, apa yang Anda tahu dengan Deon, Dok? Sebab aku rasa dia itu menyimpan niat tersendiri pada keluarga saya," tanya Alzam, langsung pada inti dirinya menemui Doni. Entah mengapa Alzam juga merasa nyaman dengan Doni, mungkin Doni adalah orang pertama yang bisa membuat Alam curhat, biasanya laki-laki itu akan diam dan mengunci semuanya sendiri tidak ada siapun dari dulu yang bisa membuat Alzam bercerita apalagi menyangkut masalah pribadinya.
__ADS_1
Jantung Doni semakin dibuat berdetak lebih kencang, ini yang dia takutkan kalau Deon akan semakin menjadi, dan mungkin memang benar apa yang dikatakan maomynya dia harus menemui Deon, dan membuat dia merasakan mati kutu, atau setidaknya Deon di sibukan dengan masalah keluarganya sehingga dia tidak terfokus dengan niatnya yang akan menyelakai Alzam.
"Apa yang kamu tahu tenatang Ini Al, kenapa kamu bisa menebak kearah sana?" tanya Doni, lebih memancing Alzam, agar Doni semakin yakin kalau Deon memang benar-benar serius dengan rencana-rencanya, dan mungkin dia akan menggunakan ini semua untuk mengancam Deon.
Kali ini Alzam yang menghirup nafas dalam dan membuangnya dengan perlahan. "Pagi ini laki-laki itu datang ke rumah kami dan membuat keributan, entah ini disengaja agar kami semua keluar rumah termasuk Qari atau memang benar adanya musibah. Tapi saya bisa mengartikan bahwa kedatanganya memang disengaja dan untuk melihat istri saya, dan tatapaan matanya saya bisa pastikan kalau itu bukan tatapan mata biasa, dan saya langsung teringat dengan pertanyaan Anda beberapa waktu lalu, Apa Anda tau sesuatu dengan Deon itu, Dok?" tanya Alzam, ia sangat berharap bahwa kedatanganya menemui Doni akan membuat hatinya tenang.
"Ada lagi yang kamu curiga selain ini? Katakanlah, jujur aku kalau bukan orang Deon yang menemuiku tempo hari, daan dari situ aku memaksakan menayankan pada kamu tentu kamu tahu arti aku menanyakan pada kamu, tanpa aku jelaskan lebih detail," balas Doni yang sudah tahu kalau datangnya Alzam dia juga sudah mengaitkan satu demi satu kejadian yang menimpa dirinya dengan Deon.
"Kamu tenang saja Al, dia sudah menyinggung pasien aku jadi sudah tidak ada salahnya aku masuk dalam masalah kamu bukan. Aku kenal Deon, bahkan sangat kenal, dan masalah Deon biarkan aku yang mengatasinya. Kamu fokus dengan keluargamu dan sakit kamu, jangan sampai masalah ini membuat kamu stres dan jangan sampai kamu gara-gara memikirkan ini kamu jadi sakit, dan kalau itu terjadi tandanya misi dari Deon tercapai," ujar Doni, sangat berharap bahwa Alzam bisa tenang dengan ucapanya, karena semakin Alzam setres semakin senang Deon itu.
"Misi dia tercapai? Berati dugaan aku benar, kalau dia ingin aku sakit dan..." Alzam menunduk menjadikan kedua tanganya sebagai tumpuan kepalanya. Tubuhnya langsung terasa sangat lemas.
"Al... kamu tidak perlu bersedih, dan jangan merasa terancam. Aku berjanji pada kamu, hal itu tidak akan terjadi, aku masih bisa mengendalikan laki-laki psychopat itu. Dan sekarang kamu itu cukup fokus dengan kesembuhan kamu, dan kamu buktikan kalau segala rencana dia apapun itu kamu tidak akan mudah dikalahkan, biarkan dia cape sendiri dan menyesal atas apa yang dia lakukan. Aku kenal kamu adalah pasien yang kuat dan penyemangat, jadi jangan sampai kamu itu kalah, tujukan kalau kamu kuat. Kasihan nanti istri kamu kalau kamu tidak ada tidak ada yang melindunginya dan mungkin malah istri kamu akan menderita ketika dimiliki oleh laki-laki itu." Doni terus memberikan motifasi untuk Alzam.
__ADS_1
Jujur Doni sangat kesal dengan Deon, caranya memang sangat hebat dia bisa membuat Alzam terpecah konsentrasinya dengan aksi-aksinya, dan itu sudah berhasil, kali ini Alzam sudah termakan dengan rencananya.
Azam menatap Doni dengan serius. "Benar apa kata Anda Dok, kalau aku termakan dengan caranya aku akan terfokus dengan dirinya dan bisa saja misi-misinya akan tercapai. Aku akan coba pikiran ini untuk tidak terfokus dengan rencana Deon, biarkan dia cape sendiri dan menyerah tanpa mendapatkan lawan."
"Iya memang orang seperti dia harus dengan seperti itu mengatasinya, dia itu sebenarnya hanya berani menggertak." Doni sangat yakin.
"Kalau gitu saya pamit saja Dok, setidaknya saya sudah tahu tujuan laki-laki itu dan itu tandanya saya bisa bersiap dengan apa yang nanti dia rencanakan. Mungkin dengan saya tahu rencana laki-laki itu saya bisa mempersiapkanya sehingga tidak lagi terkejut dengan rencana-rencana gila dia." Alzam pun beranjak untuk bangun dan kembali ke kantor.
"Aku harus menemui laki-laki gila itu, semakin hari kayaknya otaknya sudah semakin geser" gumam Doni, begitu Alzam sudah keluar dari ruanganya.
"Mungkin karena dia tidak ada yang memperhatikan jadi dia sedikit gangguan jiwa," imbuh Doni, tidak mengerti dengan jalan pikira sodara satu ayahnya.
Sementara Alzam sendiri meskipun tidak dipungkiri dalam hati masih terfikir dengan tujuan Deon melakukan ini semua, tetapi ia juga mengingat pesan Doni dan juga pesan Qari. "Aku harus tetap santai dan tunjukkan kemesraan aku dan Qari, benar kata Qari dia akan semakin sakit dengan menarik dirinya semakin dekat dengan kami." Alzam pun sembari jalan bibirnya melengkung dengan manis.
__ADS_1