
"Harus nya mas nggak usah ikut menjenguk ayah, jika hanya untuk menyakiti hati ayah ku." Ucap Sarah terlihat marah.
"Memang nya apa yang aku lakukan?.. Bukan kah keadaan ayah sudah terlihat baik baik saja, menurut ku ayah sudah bisa keluar dari rumah sakit sekarang. Bukan nya ayah sudah terlihat sehat." Bela Angga tak mau di salah kan.
"Otak sama mata kamu itu benar benar nggak bisa kamu pakai dengan baik, mas." Ucap Sarah dengan suara sedikit meninggi. Dia sudah tidak tahan lagi, menghadapi keegoisan suami nya yang tidak pernah mau mengakui kesalahan nya.
"Jaga ucapan kamu, Sarah!.." Seru Angga, marah sambil mengangkat tangan nya hendak menampar istri nya.
"Wow wow, kalem bro. Sama perempuan nggak boleh main tangan, nggak malu?.." Entah darimana, tiba tiba dokter Reza sudah berada di sana, sambil menggenggam kuat tangan Angga.
Angga menepis tangan dokter Reza dengan kasar.
"Lo siapa? nggak usah ikut campur urusan gue?".. Ucap Angga Marah.
"Lo nggak liat baju sama name tag gue? Gue dokter, kalau lo mau tau. Nama gue, Fahreza Adnan Prasetyo, dokter spesialis jantung dan pembuluh darah." Jelas Reza, pura pura bodoh dengan maksud pertanyaan Angga.
"Gue juga dokter pribadi yang khusus merawat pak Ramdhan, ayah nya Sarah. Dan Sarah, juga merupakan teman gue. Yang syukur syukur kalau bisa naik tingkat jadi, pacar. Ucap nya melirik Sarah sambil mengerling kan mata nya, membuat Sarah semakin cemas. Dia bahkan tidak merasa tertolong oleh kehadiran dokter itu, yang bak pahlawan kesiangan.
"Apa lo bilang!? Gue nggak nanya, profesi lo apa bego! Seru Angga tak terima, jika dokter itu mengharap kan sarah menjadi kekasih nya.
"Dia itu istri gue, brengsek!.." Bugh.. Tanpa tendeng aling, Angga memberi kan bogem mentah ke wajah dokter Reza. Membuat dokter itu terhuyung ke belakang, karena tidak siap dengan pukulan yang tiba tiba itu.
__ADS_1
Dokter Reza mengusap sudut bibir nya yang pecah mengeluarkan darah segar. Lalu berdecih meremehkan.
"Cuma segitu, kemampuan lo?".. Dengan senyum mengejek.
"Brengsek lo!.." Seru Angga sambil menyerang dokter Reza, seperti orang kesehatan.
"Sudah, cukup! Berhenti mas! Dokter, tolong berhenti! Siapapun tolong!".. Seru Sarah, pada dua manusia yang tengah berkelahi itu dengan wajah ketakutan.
"Ada apa ini bu?.. Entah siapa yang sudah memanggil petugas keamanan, itu membuat Sarah lega.
"Tolong pak, di pisahin dulu itu." Ucap Sarah, menunjuk kedua pria yang sudah sama sama babak belur itu.
Keamanan itu langsung bergegas, melerai pertikaian kedua pria tersebut.
"Bubar, bubar! Ini bukan tontonan! Ada ada saja, orang kelahi bukan nya di larai, malah di videoin".. Seru petugas keamanan, sambil menggerutu pada orang orang yang masih berkerumun, untuk menyaksikan duel maut antara Angga dan dokter Reza.
"Maaf, pak dokter, ini ada apa ya?.." Tanya salah seorang petugas keamanan itu, setelah suasana kembali tenang.
"Hanya salah paham, pak. Bukan masalah serius." Jelas dokter Reza, sembari melirik sinis pada Angga.
"Lo mau pacarin istri gue, lo bilang itu hanya salah paham!".. Angga berseru tidak terima.
__ADS_1
"Emang gue bilang gitu?".. Tantang dokter Reza santai. "Lagian kalau Sarah emang istri lo, kenapa dia mau lo gampar, brengsek. Banci lo!".. Ucap dokter Reza tak mau kalah.
"Eh, sudah sudah! Ini kita mau menyelesaikan masalah, bukan malah menambah masalah." Seru petugas keamanan itu pada mereka.
"Jadi gimana ini, mau damai atau lanjut ke kantor polisi saja, biar masalah nya cepat kelar." Lanjut petugas itu lagi.
"Ehh, jangan pak, jangan. Ini udah mau damai kok, ya kan mas?".. Ucap Sarah sedikit panik, lalu menatap ke arah suami nya dengan tatapan penuh permohonan.
Angga langsung melengos tidak suka, mendengar kata-kata istri nya.
"Jadi, gimana pak dokter? Mau damai aja apa gimana?".. Tanya petugas itu lagi.
"Damai aja pak, walaupun saya tidak salah, malah saya korban nya di sini." Ucap dokter Reza sambil melirik Angga.
"Baiklah, berarti sudah selesai ya, ini masalah nya. Silah kan pak dokter dan pak.....? Siapa nama nya pak?"
"Angga. Nama suami saya, Angga." Ucap Sarah menjawab petugas itu, karena suami nya hanya diam saja.
"Owh, baiklah. Jadi pak dokter dan pak Angga, masalah ini sudah selesai sampai di sini saja. Silahkan berjabat tangan, sebagai tanda damai nya." Ucap petugas itu pada Angga dan dokter Reza, namun kedua nya sama sama diam. Tidak ada satupun yang berinisiatif untuk memulai jabat tangan tersebut.
"Saya aja pak, yang mewakili." Ucap Sarah mengulur kan tangan nya pada dokter Reza, namun sebelum tangan nya di sambut oleh dokter Reza yang tersenyum cerah pada nya. Angga lebih dulu menyambar tangan dokter itu, lalu menghempas pelan kemudian menarik tangan Sarah menjauh dari tempat itu.
__ADS_1
Dokter Reza hanya bisa mendengus kesal, karena gagal merasakan kulit mulus tangan Sarah.