
Asha nampak bingung, saat dia bangun tak mendapati kedua orang tua nya di dalam kamar. Bahkan kamar mandi pun kosong. Asha bergegas naik ke lantai atas menuju kamarnya. Gadis itu membersihkan diri, setelah itu dia akan menanyakan kepada Kakak -kakaknya. Begitulah pikir nya.
Asha celingukan mencari orang di ruang makan, namun tidak ada siapapun juga. Tak lama wanita paruh baya datang membawa nampan berisi makanan ditangannya.
"Bi Surti kan? " Asha memastikan kembali ingatan nya. Bi Surti hanya mengangguk pelan seraya tersenyum ke arah nona muda nya.
"Ayah sama bunda kemana bi? Kok pagi-pagi bangun udah gak nemu di mana-mana." Asha mendudukkan dirinya di kursi yang dulu memang milik nya. BI Surti tertegun, kemudian tersenyum samar. Akhirnya, setelah sekian lama kursi itu di biarkan kosong. Kini pemilik nya sudah kembali pulang dan menempati nya lagi.
"Itu dek, bunda masuk rumah sakit semalam. Mimisan, trus pingsan. Tapi sekarang udah gak apa-apa, udah siuman kok. Tadi bibi udah di telpon sama bapak, Asha nya biar di rumah aja, pasti cape abis perjalanan kemaren. Gitu dek." Asha tertegun, bagaimana dia bisa tidak menyadari jika sang ibu sejak semalam sudah tidak ada di samping nya. Mungkin karena dirinya sudah sangat lelah menempuh perjalanan jauh untuk pertama kalinya.
"Kalo gitu, Asha nyusul aja ya bi. Ini sarapannya di masukin kotak makan aja. Asha sarapan sama bunda." Asha beranjak dari kursinya, namun sebelum sempat dia kemana-mana. Suara Keyra yang baru datang menghentikan langkahnya.
"Loh? Mau kemana dek? Ayo sarapan dulu. Ini kakak juga mau ke rumah sakit. Kita sama-sama, duduk sini. Bi, susu coklat Asha mana?"
"Ini teh, tadi bibi sampe lupa narok" Bi Surti segera meletakkan gelas susu di atas meja, dia sampai hampir lupa karena panik melihat nona mudanya beranjak dari kursinya. Dan beruntung kehadiran Keyra mampu mencegah nya, bi Surti Sangat lega.
"Ayo dek, duduk. Kok malah melamun. Sini, kakak juga gak sempet Sarapan tadi." Keyra mengisi piring nya dengan nasi goreng dan perintilannya. Sebenarnya dia sudah sarapan roti, hanya saja melihat adiknya yang terlihat tidak berselera. Lebih baik dia menemani nya dulu sebelum mereka ke rumah sakit.
"Tapi bunda udah gak apa-apa kan teh ?" Akhirnya gadis itu mengalah kemudian duduk kembali.
"Udah gak apa-apa, bunda cuma kelelahan akibat perjalanan yang jauh. Maklumlah, faktor U juga." Kekeh Keyra seraya menaruh makanan di piring sang adik.
"Cukup teh. Emang kalo kecapean bisa sampe mimisan juga ya teh?" Asha mulai menyendok nasi goreng tersebut ke mulutnya.
Keyra hanya melirik ke arah bi Surti, kemudian kembali menatap sang adik yang terlihat bersemangat menghabiskan sarapannya. Pasti adiknya itu sangat merindukan masakan rumah, walaupun dirinya sendiri tidak menyadari nya.
__ADS_1
Senyum bahagia terukir di bibir sang kakak. Sudah lama sekali dia tidak berkunjung ke rumah ini. Dan sekarang dia akan pasti kan, setiap saat dirinya akan sering-sering berkunjung kemari. Ke rumah di mana dirinya dibesarkan.
Merasa tak mendapat kan jawaban dari pertanyaan nya, Asha menyudahi Sarapan nya dengan meneguk habis susu coklat kesukaan nya.
"Yuk kak, aku udah selesai. Enak banget, makasih ya bi." Seru Asha pada ART nya yang berada di dapur, ruang makan tersebut hanya di batasi oleh Lemari kaca besar sebagai penyekat.
"Ya dek. Syukur kalo masih suka masakan bibik. Bibik senang, nanti siang mau di masakin apa. Biar bibik masak sama mbok Darmi juga Si Atun." Balas wanita itu seraya menghampiri meja makan untuk menyimpun kembali piring kotor.
"Liat nanti aja bi, ini aku mau ikut teteh ke rumah sakit dulu."
"Baik dek, hati-hati di jalan sama teteh." Keduanya pun pergi setelah berpamitan pada bi Surti.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Suara pintu terbuka, membuat andangan semua orang di dalam ruangan rawat inap Sarah tertuju ke arah pintu tersebut.
"Bunda?" Asha menatap sang ibu dengan mata berkaca-kaca.
"Loh? Kok di situ aja. Gak mau hampirin bunda nih, hmmm?" Asha tersentak kemudian berjalan cepat mengahampiri brankar sang ibu.
"Bunda sakit apa? semalam kenapa gak bangunin Asha? Bunda udah gak apa-apa kan sekarang?" Hadis itu duduk di sisi ranjang sang ibu dengan air mata yang sudah mengalir deras.
"Hei, bunda gak apa-apa. Cuma kecapean aja kata dokternya. Udah, gak usah khawatirin bunda. Besok mungkin udah boleh pulang." Sarah kini kembali merasakan perhatian sang buah hati yang sudah lama tidak dia rasakan. Hati nya tersentuh penuh kehangatan yang mengalir di setiap aliran darah nya.
"Kesininya udah sarapan belum?" Sarah mengusap air mata sang anak penuh kasih sayang.
__ADS_1
"Udah, tadi sarapan sama teteh. Nasi goreng buatan bi Surti enak banget, aku sampe abisin sepiring penuh." Asha bercerita dengan senyum sumringah, kemudian melirik sang kakak yang tadi menumpuk begitu banyak makanan di piring nya.
"Kenapa lirikan matanya gitu amat liatin teteh. Mau bilang makasih ya, udah di tarokin makanan porsi kuli. Udah gak apa-apa, santuy aja. Gak usah sungkan." Ujar sang kakak terkekeh lucu melihat wajah bulat sang adik yang manyun gara-gara ulahnya.
Reegan yang baru keluar dari kamar mandi menatap heran pada kedua anak perempuan nya.
"Ini anak-anak cantik ayah pada kenapa sih, kok ini bibirnya di manyunin gitu dek?" Ujar Reegan seraya mengusap pelan rambut sang anak.
" Teteh tu yah, masa aku sarapan di kasih porsi kuli bangunan. Kalo aku gendut tanggung jawab loh ya, tetehnya." Adu Asha pada sang ayah sambil bersungut pada sang kakak.
"Loh? Kok teteh. Kan yang makan kamu dek, teteh kan cuma narok aja." Bela sang kakak sambil tertawa pelan.
"Udah, gak apa-apa gendut. Adik kakak ini tetap cantik kok. Kalo Daniel gak mau karena kamu gendut, nanti kakak cariin kamu cowok yang lebih ganteng dari kudanil itu." Ucap Keenan seraya merangkul bahu sang adik. Membuat Asha semakin cemberut.
"Enak aja mau cariin cowok lain. Awas aja kalo berani." Daniel yang tiba-tiba bersuara membuat atensi semua orang tertuju ke arah nya.
"Kok? Sejak kapan kamu datang?" Tanya keenan heran.
"Sejak ada yang bilang mau nyariin calon istri aku calon baru, trus aku nya di katain kudanil." Dengus Daniel kesal. Enak aja dirinya di sebut kudanil, tentu saja Dirinya tak terima.
Perkataan Daniel sontak membuat seisi ruangan tertawa, semakin membuat Daniel melipat wajahnya sempurna.
"Bunda gimana, udah ngerasa enakan belum?" Daniel memilih mengabaikan tertawaan keluarga nya itu di melangkah menuju brankar Sarah, kemudian menggeser posisi Keenan dari sisi Asha dengan sengaja.
"Ck, gak sopan banget sama calon kakak ipar." Decak Keenan sebal, karena di geser paksa oleh si kudanil tersebut.
__ADS_1