
"Astaga, Tintin! ini lap kotor, apa kau tidak bisa mencium aroma nya yang tidak sedap" tanya Kira heran lalu mengambil kotak tissue di atas meja makan.
Wanita itu dengan telaten mengelap keringat Justin yang masih keluar walaupun tak sebanyak tadi.
"Ayo duduk di sofa, kakiku gampang keram jika berdiri terlalu lama." Ajak Kira sambil membawa kotak tissue dipelukan nya. Justin hanya menurut saja.
"Duduk sini," titah Kira menggeser duduk nya agar Justin duduk didekat nya.
"Apa kau sakit? aku melihat mu kurang sehat belakangan ini. Jangan memaksakan diri, aku bisa menjaga diriku sendiri." Nasihat Kira menyudahi aktifitas nya.
"Aku baik-baik saja, hanya sedikit lelah. Kemarin aku terlalu asyik mengerjakan kebun di belakang rumah, sampai lupa istirahat. Jangan mencemaskan ku, princess." Justin memberanikan diri mengusap pipi chubby Kira.
"Pipimu sudah seperti donat" kekeh Justin mengalih kan topik.
"Jangan mengalihkan topik pembicaraan, Justin." Justin terkesiap, ini pertama kalinya, sejak 7 bulan tinggal bersama Kira. Wanita itu memanggil namanya dengan benar. Arti nya, Kira sedang sangat serius sekarang.
"Apanya? jangan menatap ku seperti itu, kau membuat ku takut." Ujar Justin pura-pura tidak tahu.
"Kau itu sekarat, Justin! berhentilah berpura-pura didepanku dan dibelakang, kau menahan sakit mu seorang diri. Berbagi lah padaku seperti aku berbagi lukaku padamu" Kira menangis terisak. Untuk pertama kalinya, Justin melihat wanita yang sudah diam-diam mencuri habis hatinya itu, menangis tersedu. Hatinya menghangat.
"Hanya lelah, tidak apa-apa. Kemarilah, peluk aku, beri aku stimulasi agar lelahku menghilang." Justin memeluk Kira dengan sayang. Air matanya menetes tanpa permisi, hatinya berdesir merasa kan perhatian Kira padanya.
"Sudah, jangan menangis lagi. Nanti triplets akan marah padaku, aku takut. Sekutumu banyak, dan aku hanya seorang diri." Kekeh Justin mencairkan suasana.
__ADS_1
Pria itu mengelus punggung Kira dengan penuh perasaan. Dia berharap, jika waktu nya sudah tiba, kira sudah menemukan kebahagiaan nya. Dia khawatir akan meninggalkan wanita itu dalam kesendirian, saat semua orang sudah menganggap nya tiada. Hatinya sakit memikirkan nasib wanita yang di cintai nya itu.
Justin bahkan rela mengakuisisi perusahaan nya pada Bryan, dan membeli sebuah pulau untuk Kira. Semua itu spontan dia lakukan, saat pertama kali bertemu Kira, dalam keadaan wanita itu yang sedang begitu terpuruk dibibir pantai. Saat mengetahui, suaminya menikah bahkan mereka belum resmi bercerai.
Sikap spontannya itu, sempat mendapat penolakan Bryan, pertama karena dia tidak mengenal Justin. Dan kedua dia tidak berencana tinggal di Indonesia untuk waktu yang lama.
Namun Lumina meyakinkan Bryan, agar mau membantu Justin, karena apa yang pria itu lakukan, semuanya untuk Kira. Meski pun Kira tidak mengetahui nya sama sekali. Akhirnya Bryan pun mau melakukan nya, hingga kini mereka menjadi sangat dekat layaknya sahabat yang sudah lama saling mengenal.
Lumina menjalin hubungan dengan Bryan atas desakan Kira, dia tau jika sahabat nya itu jatuh cinta pada Bryan. Namun selalu mengutamakan dirinya, diatas kebahagiaan nya sendiri.
Kira mengusap air matanya, kemudian menatap Justin dengan tatapan tak terbaca.
"Ayo kita menikah" ajakan Kira hampir saja membuat Justin tergigit lidahnya. Mata pria itu membulat tak percaya.
"Apa aku tidak menarik? Kurang cantik? terlalu gemuk? janda? atau ap..." Ucapak Kira terpotong oleh bungkaman bibir tebal Justin.
Setelah beberapa saat, Justin akhirnya melepaskan ciumannya. Pria itu mengelap sisa salivanya dibibir Kira menggunakan ibu jari nya.
"Kau cantik, menarik, aku suka kau yang montok, aku tidak mempermasalahkan status mu. Kau sempurna untuk ku, selalu. Aku mencintaimu dulu juga sekarang, bedanya, sekarang aku ingin mencintaimu dengan cara yang benar" Justin mengungkapkan apa yang ada dihatinya dengan jujur.
"Aku yang tidak sempurna untuk mu, kau itu terlalu sempurna untukku yang bukan apa-apa." Terang Justin sambil mengusap pelan pipi Kira.
"Tidak ada yang sempurna, Justin. Aku hanya bagian kecil dari ribuan umat, yang beruntung karena bisa diberikan kesempatan kedua oleh Tuhan. Dan aku ingin mensyukuri nya, dengan merawatmu. Dalam diriku ada bagian dari dirimu, yang sampai kapanpun tidak akan pernah bisa aku hilangkan." Kira berujar dengan bibir bergetar.
__ADS_1
Justin kembali meraih Kira dalam dekapan nya. Dia tidak suka melihat air mata Kira menetes untuk nya, air mata wanita itu terlalu berharga untuk nya yang bukan siapa-siapa.
"Menikah lah dengan ku, wanita yang penuh kekurangan ini. Mari saling melengkapi, ijin kan aku membuka hatiku untukmu. Walau aku tidak tau, kapan cinta akan tumbuh di sana." Suara serak Kira semakin menambah sesak didada Justin.
"Baiklah, ayo kita menikah. Kapan? besok? lusa, hmm?" jawab Justin akhirnya diakhiri sedikit candaan. Siapa sangka, Kira menanggapi nya serius.
"Ya, besok, kita menikah besok" balas kira mendongak menatap wajah Justin. Justin kembali membelalakkan matanya.
"Jangan bercanda, mana bisa menikah secepat itu. Aku ingin membuat pernikahan yang berkesan untuk mu. Tidak, jangan besok. Minggu depan bagaimana? kita harus mengabari Mina dan Bryan dulu. Aku takut temanmu itu akan membunuhku, jika menikahi sahabat nya dengan tidak layak." Ungkap Justin cepat.
Dia ingin pernikahan nya berkesan, walau cinta Kira belum dia dapatkan. Dan entah waktu nya cukup untuk bisa mendapatkan cinta wanita itu, namun dia sudah cukup bersyukur, disisa hidupnya. Dia merasakan sebuah pernikahan, dengan wanita yang sangat dia cintai.
"Baiklah, aku akan menghubungi Mina nanti. Ini sudah subuh, bukan?" Justin melongok ke jam dinding, benar saja, sudah pukul 4 pagi.
"Astaga, sudah hampir pagi. Istirahat lagi, masih ada waktu untuk tidur. Ayo, aku antar ke kamar." Ajak Justin menuntun Kira hingga ke ranjang nya.
Setelah membenarkan letak selimut Kira, Justin mengecup kening calon istrinya itu dengan perasaan haru.
"Selamat istirahat, bidadari ku. Mimpi indah ya, sayang." Justin begitu fasih melafal kan kata sayang untuk Kira, membuat senyum Kira ikut terkembang mendengar nya. Hati nya ikut menghangat. Justin mencurahkan seluruh hidup dan kasih sayangnya untuk Kira, selama 7 bulan ini, tanpa mengeluh sedikitpun.
Pria itu begitu telaten memenuhi kebutuhan Kira selama di pulau, pulau itu ada beberapa penduduk lokal. Justin membeli nya karena pulau itu yang sedang dalam proses lelang, oleh seorang miliarder. Seminggu sekali Lumina dan Bryan akan datang mengunjungi mereka, membawa beberapa kebutuhan yang tidak mereka temukan di sana. Apa lagi tempat tinggal keduanya yang jauh dari perkampungan penduduk.
Justin berubah menjadi pria yang berbeda, setiap hari dia habiskan dengan membuat kebun kecil, dan mencari ikan di sungai kecil di tengah pulau itu. Sisanya waktu nya, dia habiskan untuk menemani Kira melakukan apa yang wanita itu sukai. Perasaan nya pada Kira semakin besar, sebisa mungkin Justin menekan rasa yang dia miliki, agar tak membebani wanita itu.
__ADS_1
Biarlah dia mencintai dalam diam sebagai hukumannya, karena pernah berbuat kejam pada Kira dimasa lalu.