
"Assalamualaikum?..."
"Eh, tuan Wijaya. Masuk masuk, aduh maaf ini berantakan. Mau di keluarin semua biar sedikit luas, katanya ada keluarga mas Jason mau datang dari kota." Ujarnya tak enak, dengan cekatan pria itu menyingkirkan barang-barang itu ke belakang.
Sementara ketiga tamu tersebut hanya mematung, ketiganya larut dalam pikiran masing-masing.
"Silahkan duduk maaf, gak ada kursi." Ujar lagi dengan nada sungkan. Di ruang tamu yang merangkap ruang keluarga itu, hanya di alasai karpet yang sudah cidera dimana-mana. Terlihat dari banyaknya perban, yang menempel untuk membuat karpet itu tetap menyambung satu dengan yang lainnya.
"Ada apa ini pak, tumben? Anak saya ada salah antar pesanan atau bagaimana, nanti saya kasih tau langsung, mohon jangan di aduin ke bos Miun, takutnya dipecat." Pria itu terlihat cemas, jika putrinya tidak bekerja, maka adiknya yang akan masuk SMA tahun ini di kota kabupaten, terancam tidak akan bisa mendaftar sekolah.
"Gak pak, bukan itu. Ini soal berita yang saya dengar. Kalo si Mina di lamar sama orang kota, apa benar begitu?" Kini Arkhan yang mewakili kedua sahabat nya untuk bertanya.
"Oh itu, ya benar pak. Sudah saya tolak dengan berbagai alasan, kami ini hanya orang kampung, Mina anak kami juga hanya lulusan SMP. Kami merasa tidak layak." Pak Madun menjeda ucapannya kala teringat sikap ngotot pria muda itu 3 hari yang lalu.
"Namun nak Jason ngancem, akan tinggal dirumah saya sampe saya menerima lamaran nya. Teman-teman nya juga memohon pada saya agar menerima saja lamaran itu, karena temannya itu juga ngancem bakal bunuh diri. Kalau ada apa-apa sama teman mereka, nanti saya yang akan di tuntut. Saya jadi takut pak, ngeri bayangangin nya, anak istri saya bagaimana kalau saya di penjara." Jelas pria itu panjang lebar disertai helaan napas panjang, terlihat bahwa pria itu juga sebenarnya terpaksa menerima lamaran dadakan tersebut, namun tidak bisa berbuat apa-apa.
__ADS_1
"Kalau boleh tau, mereka nginap di villa yang mana ya pak, nanti kita coba bantu pak madun untuk bicara sama orang kota itu. Saya kasian sama Mina, kita menjaga kemungkinan bersama. Ya kalau orang baik-baik, syukur. Kalau tidak, itu yang kita khawatir kan." Jelas tuan Wardhani menimpali ucapan pria paruh baya itu.
"Di villa nya pak Burhan pak, kalo mau kesana belokan kanan pertama dari sini. Aduh, saya terima kasih banyak loh ini pak, saya juga agak pusing mikirin nya ini. Mana tekanan keluarga saya juga, Mereka menyalahkan saya, karena menerima lamaran tanpa rembuk dulu sama keluarga besar." Jelas pria itu dengan wajah lelah, sekaligus lega.
"Oh villa itu. Tau pak, nanti pulang dari sini kita mampir. Semoga saja memang calonnya Mina adalah pemuda baik-baik. Kita doakan saja yang terbaik nya. Bapak jangan merasa sungkan, minta tolong saja sama saya juga saudara saya ini. Kami semua siap bantu sebisanya." Ujar Wijaya pada pria paruh baya tersebut. Dia tau, bahwasanya pria itu sedang butuh bantuan pendapat dari orang sekitar, tapi malah mendapatkan tekanan dari keluarga sendiri.
"Terimakasih banyak sekali lagi pak, saya bener bener gak enak hati. Bapak-bapak semua sudah banyak bantu desa ini selama tiga tahun terakhir, kami semua berhutang banyak terimakasih untuk itu." Ujarnya semakin sungkan. Walau sebenarnya bantuan untuk desa itu adalah atas ide Varel dan kawan-kawan. Namun mengatasnamakan mereka bertiga, maka dari itu warga desa begitu sungkan sekaligus berterima kasih pada Ketiga nya.
"Tidak masalah pak Madun, kita sebagai sesama manusia memang sudah kodrat nya saling membantu. Kalau begitu kami pamit dulu, ini terima kasih atas minuman nya. Mari pak." Jelas tuan Arkhan agar pria itu tidak perlu sungkan lagi pada mereka. Kemudian ketiganya pamit dari sana.
"Simpangan kanan pertama kan?" Tanya Arkhan, entah kenapa jika membahas tentang belokan kanan, membuat nya sedikit trauma. Masa lalu itu masih membekas lekat diingatan nya.
"Ya, bener ini. Katanya gitu tadi." Ujar Wijaya dengan wajah yang terlihat yakin namun menyimpan kecemasan.
"Kok aku kaya ngerasa Dejavu gini ya. Kalian gak ngerasa gimana gitu?" Sela Wardhani sedikit gelisah.
__ADS_1
"Ck, gak usah mikir macam-macam. Ganggu konsentrasi aja, tu liat di depan, jalannya licin banget, pasti lama gak di lewati ini, semenisasi nya aja sampe belumut gitu." Ujar Arkhan mengalih kan topik pembicaraan mereka. Dia tidak ingin larut lada masa lalu mengerikan yang berusaha keras dia lupakan. Terutama jika mengingat putri nya, dia bersyukur gadis itu tak mengingat apapun. Berdosa kah dia jika berharap putri nya tidak bisa mengingat untuk selamanya, dengan begitu tidak ada kecemasan lagi yang perlu Mereka khawatir kan kedepannya nanti.
Akhirnya mereka sampai di sebuah villa dua lantai yang tidak terlalu besar. Ketiga turun dari mobil lalu saling menatap satu sama lain. Ada perasaan aneh yang mereka semua rasakan, perasaan yang, entahlah. Namun berusaha mereka tutupi.
"Loh, pak Wardhani, pak Arkhan sama pak Wijaya kemari ada apa ya pak?" Pak Supri tergopoh-gopoh dadi arah samping villa tersebut dengan tangan yang penuh tanah dan potongan rumput. Seperti nya pria itu tengah membersihkan taman samping.
"Maaf ganggu kerjaan nya pak Supri, ini kami mau ketemu sama anak-anak kota yang nginep di sini, tadi abis dari rumahnya pak Madun. Mau ada urusan dikit, soal lamaran kemarin. bukan gimana-gimana. Cuma mau mastiin aja, sekaligus mewakili pak Madun, beliau pasti banyak gak enaknya kalau mau menyampaikan pendapatnya langsung pada anak-anak kota itu." Jelas Wardhani mewakili para sahabatnya, yang di desa itu tau, mereka bertiga bersaudara.
"Oh, itu. Mari pak masuk aja duluan. Saya mau nyuci tangan dulu, nanti saya masuk lewat belakang. Masuk aja, anak-anak kota itu tadi keluar sebentar, pergi foto-foto katanya gitu tapi paling bentar lagi balik, belum pada sarapan tadi pas keluar, itu sarapannya baru diantar tadi sama Juned." Jelasnya lalu bergegas menuju kearah belakang villa. Ketiga sahabat itu masuk meski tanpa penghuni nya, paling tidak penjaga rumahnya sudah mengijinkan.
Saat mereka masuk terlihat begitu banyak sembako diruang tamu tersebut, dan ada beberapa bingkisan hantaran. Seperti nya anak muda itu benar benar serius pada Mina. Dalam waktu tiga hari saja sudah menyiapkan persiapan itu sendiri hingga sedemikian rupa. Apalagi mengingat perjalanan yang tidak mudah, bisa dipastikan, niat itu sudah bulat dengan tekad yang luar biasa.
"Maaf pak, mari duduk di sana saja, ini anak-anak pake untuk naruh barang, buat persiapan nya mereka sudah urus sendiri. dua hari kemaren bolak balik ke kabupaten buat belanja ini semua. Anak itu benar-benar sudah kebelet kawin kayanya." Ujar pria itu terkekeh pelan. Dia ingat saat pemuda itu membawa melamar Mina, hanya dengan bermodalkan uang 2,1jt, KTP dan kartu-kartu yang tidak dia pahami, kunci mobil dan beberapa sembako yang mereka beli di warung kelontong di desa.
Dan bagaimana pria itu ngotot tidak mau pulang jika lamaran nya di tolak oleh pak Madun. Bahkan memaksa Mina, untuk menerima pinangannya yang sangat mendadak itu dengan merengek pada gadis itu.
__ADS_1