
,"Pak?" suara rengekan Joi membuyarkan lamunan kotor Jovan.
"Hah?" cengo Jovan masih belum sepenuhnya sadar.
"Aku mau pulang" wajah Joi semakin memelas, membuat Jovan sadar sepenuhnya. Rupanya, pikiran nya terlalu juah merantau. Hampir saja dia lupa jalan pulang.
"Baiklah, kau memang harus segera pulang" 'atau aku akan memakanmu saat ini juga' lanjut Jovan dalam hati. Joi mengernyit heran, namun juga senang. Dia buru-buru mengirimkan pesan pada sahabat nya yang sedang kencan di bioskop dengan Siren, anak IPS.
"Ayo!" Joi sampai tidak sadar kapan pria sangar itu membuka pintu.
"Ayo pak!" lanjut Joi penuh semangat, sabitu nya sedang otw menjemput nya di tempat yang sudah di sepakati bersama.
Selama dalam elevator, Jovan sesekali melirik kearah seragam putih Joi. Astaga! Jovan benar-benar kesal dengan ukuran seragam gadis itu.
"Besok ganti seragam mu, yang kau pakai itu sudah kesempitan dan tengkes." Ujar Jovan tiba-tiba. Joi menoleh, menatap horor pada pria disamping nya. Jovan masih belum sadar, jika kata-katanya menyentil sisi sensitif seorang Joi. Yaitu berat badannya.
"Bapak mau bilang kalau saya gemuk, begitu!" balas Joi tiba-tiba ngegas, Jovan langsung terkesiap, pria itu jadi salah tingkah sendiri. Bukan itu yang dia maksud, Jovan mengusap kasar wajahnya. Pria itu frustasi.
Jovan berbalik menatap Joi yang masih menatap dengan tatapan galak.
"Joi.. kau tidak gemuk, kau itu montok. Tau bedanya? badanmu itu sebenarnya kecil. Hanya saja kau punya ukuran dada dan bokong yang melebihi dari usia mu dan teman-teman sebayamu." Jelas Jovan susah payah mengalihkan pandangannya ke sembarang arah.
Pipi Joi memerah seperti kepiting rebus dan terasa panas, kata-kata vulgar gurunya tersebut membuat nya ingin menghilangkan dirinya dari sana.
"Untuk itu aku ingin kau mengganti baju dan rok mu, agar tidak memakai pakaian yang press body. Itu akan menimbulkan pikiran liar para pria padamu, termasuk aku." Jujur Jovan tak ingin mengelak lagi. Dia tidak ingin jadi pria naif.
"Ck! dasar bapak saja yang buaya rawa. Berbalik sana, jangan menatap ku begitu. Dasar mata keranjang" Gerutu Joi kesal. Dia malu, teman-teman nya juga sering mengatakan jika ukuran dadanya melebihi usianya. Mau bagaimana lagi, sudah turunan. Bahkan ibunya yang sudah berusia setengah abad saja, bentuk dadanya masih bagus dan.... besar.
ting
"Sampai sini saja, temanku sudah menunggu di depan." Joi segera berlari dari hadapan Jovan, yang terus memandangi bokong semok Joi.
"Kalau begini bisa-bisa aku jadi pedofil benaran" gumam Jovan frustasi.
"Jadi apa mas?" tanya seorang wanita yang baru masuk ke dalam elevator dan berdiri disamping Jovan.
__ADS_1
Membuat Jovan kaget bukan main, sekilas Jovan menoleh lalu memencet tombol unitnya. Pria itu tidak menjawab apapun.
"Kita satu lantai berarti, kok jarang lihat. Sibuk kerja ya, mas nya." Ujar wanita itu basa basi.
"Ya, saya kerja buruh bangunan, jadi jarang terlihat. Ini juga bukan apartemen saya, punya teman, minjam. Sayang tak di tempati." Jelas Jovan tanpa di minta. Dapat Jovan lihat, perubahan raut wajah wanita di samping nya melalui pantulan.
"Oo" hanya itu yang terucap dari mulut merah merekah wanita menor itu.
Keduanya sama-sama terdiam, hingga sampai ke unit yang di tuju. Jovan bergegas keluar dengan langkah lebar. Aroma parfum wanita itu membuat nya mual. Apa wanita itu menuangkan semua parfum ke badannya apa gimana.
Kepalanya mendadak sakit, ada yang harus dia tuntaskan ke kamar mandi. Segera Jovan masuk kedalam kamar dan menuju kamar mandinya.
Denyut kepala bawahnya sudah tak bisa di ajak berkompromi. Selang beberapa menit, Jovan terlihat lebih segar. Pria itu rupanya langsung mandi, dia memang belum mandi sejak pulang bersama Joi tadi siang.
ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ
Kelas XI IPA paling terkenal berisik, meski begitu, anak-anak di kelas itu memiliki otak yang patut di acungi jempol. Meski ada beberapa yang lemah di bidang studi tertentu.
"Selamat pagi anak-anak" seorang wanita yang menjadi wali kelas itu masuk dengan di dampingi seorang pria tampan.
"Tampanya, adek meleleh bang. Colek dikit boleh" sahut seorang remaja lainnya tak kalah genit.
Masih banyak suara-suara genit lainnya memenuhi kelas tersebut, juga memenuhi pendengaran seorang gadis yang masih nampak cuek, dengan novel di balik buku mapel bahasa Indonesia ditangannya.
Jovan memperhatikan seisi ruangan yang akan menjadi kelas asuhannya. Kelas itu di dominasi oleh kaum hawa, kepalanya mendadak pusing, asam lambung nya juga naik hingga tenggorokan.
Namun matanya menangkap satu siluet remaja yang nampak cuek dan sibuk belajar. Jovan yang dingin dan datar mendadak kepo maksimal. Apa pesona nya kurang menyihir, sehingga gadis itu bahkan tidak menoleh sedikit pun padanya.
"Anak-anak, tenang, oke. Mari pak kita lanjutkan dengan perkenalan diri, silahkan" ujar guru wanita itu sedikit menaikkan volume suara nya.
"Selamat pagi anak-anak," sapa Jovan mencoba seramah mungkin, bagaimana pun, kelas ini akan menjadi kelas yang di ampu nya nanti.
"Pagi bapak ganteng," suara sumbang bersahutan kembali, Jovan ingin kabur sekarang juga. Namun gadis di kursi paling belakang itu membuat nya bertahan.
"Diam anak-anak, beri pak Jovano waktu sebentar. Lanjutkan pak"
__ADS_1
Perkenalan singkat itu akhirnya tuntas, Jovan langsung mengemban tugas pertama nya hari itu juga. Tadinya dia ingin mulai besok saja, namun rasa penasaran nya pada salah satu anak didiknya. Membuat nya urung.
Sejak hari itu, Jovan selalu mencari kesalahan Joi, dan hukumannya adalah membawa kan buku ke kantor, atau memeriksa tugas. Karena dirinya bukan hanya wali kelas, namun juga guru mapel fisika, jadi kelas lain pun dia ajar. Sehingga tugas yang di periksa pun bejibun.
Rasa penasaran Jovan semakin dalam, rasa ingin dekat dengan Joi pun semakin besar. Jovan telah jatuh dalam jeratnya sendiri, niat hati membuat Joi bertekuk lutut dan mengagumi pesona nya, seperti wanita yang selama ini mengejar nya. Ambyar sudah! Kini Jovan lah yang terpikat pesona remaja seorang Joi.
Gadis yang dulu tomboi, kini berubah menjadi sangat feminim dan suka pernak pernik wanita. Jovano kalah, apalagi hidung tak ada akhlak nya pernah menyentuh dada Joi. Jovan semakin berdebar setiap menatap gadis itu.
ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ
"Huuffzz!! sial, kenapa bisa jatuh pada pesona anak kecil sih. Seperti nya aku sudah tidak waras," rutuk Jovan menggeplak kepalanya sendiri.
3 bulan menjadi wali kelas Joi, telah tanpa sadar, memupuk rasa yang ada di dalam hatinya. Joi bahkan baru akan naik kelas 3 sebulan lagi. Perjalanan nya masih panjang, Jovan kembali menyugar rambutnya kasar.
"Aku harus cari pelampiasan kalau begini caranya, gadis kecil sialan itu sudah berani memporak porandakan hidup tenangku." Jovan meraih kunci mobilnya, tujuannya adalah club. Teman-teman nya sudah ada di sana.
ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ
"Woi! lihat, ada cik gu.." Ledek Steven pada sahabat nya.
"Wah, anda tidak salah tempat nongkrong, pak guru?" Andi pun ikut menimpali ledekan temannya.
"Sialan kalian! Awas saja jika hukuman ku sudah berakhir, aku balas kalian semua." Jovan meninju bahu Andi hingga pria itu meringis kesakitan.
"Anjiiir! Niat banget sih mukulnya, sakit tau!" sungut Andi tak terima, pria itu mengusap-usap bahunya yang sakit dengan wajah ditekuk.
"Ck! cemen amat, yang gini yang katanya Casanova" gantian Jovan punya bahan ledekan.
"Eitts! kalau urusan yang satu itu, jangan di ragukan. Bambang tampan ini bisa tegak berkali-kali tanpa bantuan penguat." Pamer Andi mengelus benda pusaka miliknya dari balik jeans.
"Jijik!" ujar Seno mencibir.
"Ladies nya gak ada ini?" mata elang Jovan menatap kearah pintu masuk.
"Dasar otak se*lang*ka*ngan!" seru Seno melempar gulungan tisu.
__ADS_1
"Jadi batangan semua kita? tau gini aku di apartemen aja, lanjut main solo sambil ngayalin muridku yang montok atas bawah." Lanjut Jovan mendesah kecewa. Dia ingin bermain malam ini, agar otaknya kembali sehat. Bayangan tubuh polos Joi terus menari-nari di otaknya. Jovan ingin kembali waras, agar tidak khilaf dengan melahap anak di bawah umur.