Di Ujung Lelahku!

Di Ujung Lelahku!
Part XVII


__ADS_3

"Astaga, sampe sakit perut, gue ketawa." Ucap Bintang setelah puas mentertawakan kesialan sahabat nya itu.


"Lo lupa apa gimana? Kantor gue berada persis di seberang jalan di mana lo lagi ngegembel."


"Sialan lo, Bintang tujuh masuk angin!" Seru Bastian, tak terima diirinya di sebut gembel, Dia melempar gulungan tisu ke arah bintang.


"Siapa suruh lo sok-sokan naek ojek segala."


"Gue jamin, kalau pas si Monalisa lewat. Auto pasti pura pura nggak kenal sama lo, mas Babas Basuki." Ucap Revan lagi sambil terkekeh


Revan dan Bintang, tak henti-henti nya mengolok-olok sahabat mereka itu.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Nyokap lo gimana kabar nya Gan?".. Tanya Bastian pada Reegan, setelah kedua sahabat tak berakhlak nya kembali terdiam. Sudah puas merek a mentertawai nya.


"Baik, belakangan ini semakin membaik. Lo ingat waktu gue bilang nyokap gue di jambret waktu itu. Nah, abis itu keadaan nyokap gue malah semakin membaik."

__ADS_1


"Bahkan nyokap udah nggak minum obat yang di resep kan sama psikiater nya. Belakangan sibuk sama toko roti yang selama ini di kelola sama orang kepercayaan nyokap."


"Syukurlah, nyokap gue sering cerita kalo abis ketemu sama nyokap lo. Masih suka bahas soal bokap lo, kalo ketemu. Sekembali nya dari jerman nyokap bilang, tante Maya bakal nyari informasi lagi tentang bokap lo." Papar Bastian panjang lebar.


"Kalo menurut gue, ni ya. Biar lah Tante Maya ngelakuin apa yang dia mau, selama itu berpengaruh baik untuk kesehatan psikis nya. Toh, selama ini, tante Maya udah nurut sama semua keinginan kakek lo. Di pindahin keluar negeri, oke. Nggak pernah berontak kan, sekarang giliran beliau lagi untuk mengobati diri nya dengan cara nya sendiri." Jelas Revan mengutarakan pendapat pribadi nya.


"Gue setuju! Kalo menurut pandangan gue ya, tante Maya itu hanya butuh me time, untuk menyembuhkan luka hati nya sendiri. Hanya saja, karena tante Maya orang yang penurut, sehingga apa pun beliau inginkan hanya bisa beliau pendam. Lo tau kan seberapa diktator nya, kakek lo itu." Ucap Bintang menimpali.


"Dan karena sifat yang memendam itulah, akhir nya nyokap lo jadi depresi. Dan itu bukan murni karna kesalahan bokap lo, tapi juga ada campur tangan kakek lo di dalam nya. Hanya saja, nyokap lo depresi sejak bokap lo menghilang. Walau sebenarnya itu hanya pemicunya saja, bukan sumber mutlaknya. Lanjut Bastian menimpali fakta yang di ucapkan oleh kedua sahabat nya itu.


Reegan terdiam, selama ini dia tidak berpikir sampai sejauh itu. Bagi nya, penderitaan sang ibu karena di sebab kan oleh ayah nya, yang tiba-tiba menghilang tanpa kabar berita hingga sekarang. Fakta itu sudah cukup bagi Reegan, sehingga kebencian pada sang ayah semakin bertambah setiap hari nya.


"Gue percaya apa yang gue ingat, gimana dengan tanpa hati nurani, bokap gue tiba-tiba menghilang entah kemana, di saat nyokap gue sedang berjuang antara hidup dan mati di ruang operasi."


"Waktu itu gue baru 12 tahun, tapi gue sudah di paksa keadaan untuk memikul tanggung jawab yang seharus nya bokap gue tanggung." Bagi Reegan, ayah nya sudah tiada. Dia tidak ingin mengingat nya lagi, sudah cukup bagi nya, ingatan pedih yang di toreh kan oleh sang ayah di masa lalu.


"Kalo itu kita no comment bro, karena hanya lo yang bisa ngerasain apa yang terjadi di masa lalu. Kita di sini hanya bisa mendukung, apa pun yang terbaik buat lo." Ucap Revan sebijak mungkin. Dia tau, sahabat nya itu sangat sensitif jika membahas sesuatu, yang berhubungan dengan perbuatan sang ayah di masa lalu.

__ADS_1


"Eh, lo pada dapat undangan reunian, nggak?" Tanya bintang, berusaha untuk mengalih kan topik pembicaraan mereka.


"Gue dapet. Lo Gan, Babas?".. Tanya Revan pada ke dua sahabat nya.


"Dapet, tapi kaya nya gue nggak bakal dateng." Ucap Reegan


"Eh, jangan dong. Lo harus datang, gua nggak mau tau." Ucap Bastian memaksa.


"Loh, kok lo maksa sih. Suka-suka guel lah, mau dateng apa nggak. Kok lo yang sewot sih." Balas Reegan kesal, dirinya paling tidak suka di paksa.


"Poko nya lo harus dateng, Juragan. Nasib percintaan gue bakal mandek di sini sini aja kalo lo nggak dateng. Nasib gue kali ini ada di tangan lo, jadi lo harus bantuin gue." Paksa Bastian dengan wajah yang memelas.


"Emang kenapa lo sama si Monalisa? Harus banget bawa-bawa Reegan, segala. Lo mau di poliandri sama si monalisa? Wah, jangan sama Reegan juga dong, sahabat kita ini. Gila lo!" Seru Bintang sok tau.


"Lo yang gila, asal mangap aja tu mulut kaya ikan mas kekurangan oksigen." Sentak Bastian kesal.


"Lah, salah sendiri omongan lo ambigu gitu. Orang lain lasti salah paham kalo denger." Ucap Bintang membela diri.

__ADS_1


"Iya kalo orang lain itu, lo. Pasti salah bakal salah paham, secara otak lo kan rada-rada." Ucap Bastian tak mau kalah.


__ADS_2